NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Puncak Alpen

Pesawat jet pribadi Arkan membelah awan kelabu di atas langit Eropa dengan keheningan yang mencekam. Di dalam kabin yang mewah, Alana tidak bisa menikmati sampanye atau hidangan gourmet yang tersaji. Pikirannya tertinggal ribuan mil jauhnya di paviliun yang dingin, pada bayi mungil yang bahkan belum sempat diberi nama itu. Namun, setiap kali ia menoleh ke arah Arkan, ia melihat pria itu sedang menatap monitor satelit dengan rahang yang mengeras.

"Kita akan mendarat di bandara privat dekat perbatasan Prancis-Swiss," kata Arkan tanpa mengalihkan pandangan. "Dari sana, kita akan menempuh jalur darat melalui pegunungan menuju Jenewa. Kevin telah menempatkan orang di bandara utama Cointrin. Dia ingin menjebak kita sebelum kita sempat menginjakkan kaki di bank."

Alana mengangguk, mencoba menekan rasa takutnya. "Anda yakin brankas itu masih aman?"

"Brankas itu menggunakan sistem Dead Man’s Switch," jawab Arkan dingin. "Jika ada yang mencoba membukanya secara paksa tanpa kunci fisik dan verifikasi biometrik yang tepat, seluruh isinya akan dimusnahkan oleh asam kimia dalam hitungan detik. Kevin tahu itu. Itulah sebabnya dia menunggu kita untuk 'membukakan pintu' baginya."

Perjalanan Maut di Jalur Salju

Setelah mendarat, sebuah SUV lapis baja hitam telah menunggu mereka. Udara Alpen yang membeku menusuk hingga ke tulang saat mereka berpindah kendaraan. Arkan sendiri yang mengambil alih kemudi, sementara dua pengawal elit mengikuti dengan mobil lain di belakang.

Pemandangan di luar jendela sangat indah namun mematikan—tebing-tebing curam yang tertutup salju dan jalanan berkelok yang licin. Alana menggenggam kotak musik kayu di pangkuannya, benda kecil yang kini terasa seberat bongkahan logam.

"Tuan, ada kendaraan yang mengikuti kita sejak kita melewati terowongan terakhir," suara pengawal terdengar melalui radio panggil.

Arkan melirik spion. Dua SUV perak muncul dari balik kabut, melaju dengan kecepatan yang tidak wajar di medan seperti ini. "Kevin tidak membuang waktu," geram Arkan. Ia menginjak pedal gas, membuat mesin mobil menderu keras di kesunyian gunung.

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar. Salah satu SUV perak itu mencoba menabrak mobil pengawal Arkan. Di jalanan yang sempit dan bersalju, satu kesalahan kecil berarti jatuh ke jurang sedalam ratusan meter.

"Alana, merunduk!" teriak Arkan.

Bunyi tembakan memecah kesunyian Alpen. Kaca belakang mobil mereka retak, namun tidak hancur berkat lapisan antipeluru. Alana meringkuk di bawah kursi, jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Namun, di tengah ketakutan itu, ia melihat profil samping Arkan. Pria itu tampak sangat fokus, tangannya stabil di atas kemudi meskipun mobil mereka berguncang hebat akibat benturan.

"Mereka tidak mencoba membunuh kita," gumam Arkan di tengah deru angin. "Mereka mencoba menghentikan mobil ini untuk merebut kotak musik itu. Mereka tahu mereka butuh kau—atau setidaknya wajahmu—untuk melewati protokol keamanan bank."

Arkan memutar kemudi dengan tajam, melakukan manuver drift yang berbahaya di tikungan tajam, membuat salah satu mobil pengejar kehilangan keseimbangan dan menghantam dinding tebing. Ledakan kecil terjadi, menciptakan asap hitam yang kontras dengan salju putih.

Pertemuan di Tepi Jurang

Namun, pengejaran belum berakhir. SUV perak kedua berhasil menyalip dan memotong jalan Arkan tepat di sebuah jembatan tua yang melintasi jurang dalam. Arkan terpaksa menginjak rem dalam-dalam, membuat mobil mereka berputar 180 derajat sebelum berhenti tepat di tepi pembatas jembatan.

Pintu mobil pengejar terbuka. Empat pria berpakaian taktis hitam keluar dengan senjata laras pendek. Namun, yang membuat napas Alana tertahan adalah pria yang keluar terakhir.

Bukan Kevin, melainkan Marco, tangan kanan Kakek Arkananta yang paling setia.

"Tuan Muda Arkan," suara Marco menggema di antara tebing. "Tuan Besar memerintahkan saya untuk membawa kotak itu kembali ke Jakarta. Beliau berkata, rahasia keluarga harus tetap menjadi rahasia keluarga. Jangan biarkan orang luar... atau sekretaris pengganti ini, ikut campur lebih jauh."

Arkan keluar dari mobil, berdiri tegak menghadapi moncong senjata. "Kakek mengirimmu? Jadi dia lebih memilih melindungi dosanya daripada membiarkan kebenaran tentang Adrian terungkap?"

"Tuan Besar hanya melindungi Arkananta Group," jawab Marco datar. "Berikan kotak itu, dan Anda bisa kembali ke Jakarta dengan selamat. Tapi gadis itu... dia sudah tahu terlalu banyak. Perintahnya adalah untuk menyelesaikannya di sini."

Mendengar itu, kemarahan yang murni meledak di dalam diri Arkan. Ia menarik pistol dari balik mantelnya, namun tidak mengarahkannya pada Marco, melainkan ke arah tangki bensin mobil pengejar yang tadi menabrak tebing, yang kebetulan berada dekat dengan posisi mereka.

"Jika kau melangkah satu senti lagi menuju Alana," suara Arkan rendah namun mematikan, "aku akan meledakkan jembatan ini. Kita semua akan jatuh ke danau di bawah sana, sama seperti Adrian. Dan kau akan pulang ke Kakek dengan tangan kosong."

Keberanian Alana

Di dalam mobil, Alana melihat tangan Arkan yang sedikit gemetar. Bukan karena takut, tapi karena rasa sakit yang mendalam. Ia sadar, Arkan siap mati demi melindunginya—bukan karena kontrak, tapi karena sesuatu yang lebih nyata.

Alana membuka pintu mobil dan keluar, berdiri di samping Arkan. Ia memegang kotak musik itu tinggi-tinggi.

"Marco!" teriak Alana. "Lihat kotak ini! Di dalamnya bukan hanya bukti kejahatan Kakek, tapi juga kunci menuju dana abadi yang Adrian siapkan untuk Elena dan bayinya. Jika Anda membunuh kami, kunci ini akan ikut hancur. Kakek mungkin akan senang rahasianya terkubur, tapi dia akan kehilangan akses ke miliaran dolar yang disembunyikan Adrian untuk meruntuhkan ekonomi Arkananta!"

Marco ragu sejenak. Keserakahan adalah satu-satunya hal yang bisa menandingi loyalitas dalam keluarga Arkananta.

"Tuan Arkan," bisik Alana. "Percayalah padaku."

Alana tiba-tiba melemparkan kotak itu ke arah jurang. Sontak, perhatian semua orang teralih ke arah benda terbang tersebut. Marco dan anak buahnya secara insting bergerak ke arah tepi jembatan. Saat itulah, pengawal Arkan yang tersisa melepaskan tembakan gas air mata.

Dalam kekacauan asap dan kepanikan, Arkan menyambar tangan Alana. Namun, kotak itu tidak benar-benar jatuh ke jurang. Alana telah mengikatnya dengan tali sutra dari gaunnya ke pengait di bawah jembatan saat ia berpura-pura keluar mobil.

"Masuk ke mobil! Sekarang!" perintah Arkan.

Mereka memacu kendaraan melewati celah sempit di antara mobil pengejar yang terhalang asap. Arkan berhasil membawa mereka menjauh dari jembatan, menuju jalan setapak hutan yang hanya diketahui oleh penduduk lokal.

Di Bawah Langit Jenewa

Dua jam kemudian, mereka tiba di sebuah kabin tersembunyi di pinggiran Jenewa yang menghadap ke danau. Napas mereka masih memburu. Alana duduk di lantai kabin, memeluk lututnya, sementara Arkan memeriksa setiap sudut ruangan untuk memastikan keamanan.

Arkan mendekati Alana dan berlutut di depannya. Ia mengambil kotak musik yang berhasil mereka tarik kembali sebelum melarikan diri tadi.

"Kau gila," bisik Arkan, namun ada nada kekaguman yang tak tertutup dalam suaranya. "Kau hampir membuat jantungku berhenti saat melemparkannya."

"Saya belajar dari yang terbaik, Tuan," sahut Alana dengan senyum lemah. "Lagipula, saya tahu Anda tidak akan membiarkan saya jatuh."

Arkan menatap Alana lama. Di dalam kabin yang temaram itu, identitas mereka sebagai CEO dan sekretaris seolah melebur. Arkan mengulurkan tangan, mengusap noda salju di pipi Alana.

"Alana, jika kita berhasil membuka brankas ini besok... hidupmu tidak akan pernah sama lagi. Kau akan menjadi saksi mahkota dalam kasus yang bisa menjatuhkan salah satu dinasti terbesar di Asia. Kau bisa memilih untuk pergi sekarang. Aku akan memberimu identitas baru, uang yang cukup untuk tujuh turunan, dan kau bisa hidup tenang dengan keluargamu."

Alana menggeleng pelan. Ia menggenggam tangan Arkan yang kasar. "Saya sudah memilih pihak sejak saya menandatangani kontrak itu, Tuan. Dan sekarang, ini bukan lagi soal uang. Ini soal bayi itu, soal Adrian, dan... soal Anda."

Arkan menarik Alana ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya, tidak ada tembok es. Hanya dua manusia yang saling menguatkan di tengah badai. Namun, jauh di Jakarta, Kevin baru saja menerima kabar kegagalan Marco. Ia tersenyum sinis sambil menatap layar monitor yang menampilkan foto Alana.

"Jika aku tidak bisa mendapatkan kotaknya, maka aku akan menghancurkan 'isinya' di Jakarta," gumam Kevin. Ia menekan tombol panggil. "Bawa Elena dan bayinya keluar dari paviliun malam ini. Kita akan mengadakan pertunjukan besar untuk Kakek."

1
Dwi Winarni Wina
Arkan tahu gadis itu bukan elena sangat beda sekali dengan elena asli, sekali sangat jeli sekali tidak bisa ditipu😀
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!