"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelahiran di Balik Kabut Rahasia
Suasana di paviliun rahasia malam itu lebih menyerupai ruang operasi darurat daripada sebuah hunian mewah. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidung, mengalahkan aroma kayu cendana yang biasanya menenangkan. Di luar, hujan belum juga reda, justru semakin deras seolah langit ikut meratapi kekacauan yang sedang terjadi di dalam dinding-dinding beton yang tersembunyi ini.
Alana berdiri mematung di sudut koridor yang remang-remang. Matanya tak lepas dari pintu kayu ek besar yang tertutup rapat, di mana di baliknya, Elena sedang bertaruh nyawa. Suara teriakan Elena yang tadinya melengking kini berubah menjadi rintihan pendek yang putus-putus—sebuah tanda bahwa tenaga wanita itu hampir habis.
Di sampingnya, Arkananta berdiri seperti patung es yang mulai retak. Pria itu tidak duduk, tidak juga bicara. Ia hanya menatap lantai dengan tatapan kosong, namun urat-urat di lehernya menegang setiap kali suara rintihan dari dalam kamar terdengar. Alana bisa melihat guncangan hebat di balik punggung tegap itu. Bagi Arkan, Elena adalah satu-satunya tautan hidup yang tersisa pada Adrian. Jika Elena pergi, maka bagian terakhir dari saudaranya pun akan lenyap selamanya.
"Tuan, duduklah sebentar. Anda sudah berdiri hampir dua jam," bisik Alana lembut. Ia memberanikan diri menyentuh lengan Arkan, merasakan otot pria itu yang sekeras batu.
Arkan tidak bergerak. "Jika sesuatu terjadi padanya... jika bayi itu tidak selamat... kakek akan menganggap ini sebagai kegagalan total. Dia akan menghapus paviliun ini seolah tidak pernah ada. Termasuk Elena."
Alana merinding mendengar nada bicara Arkan yang begitu fatalistik. "Dokter Bram adalah yang terbaik di bidangnya. Mereka akan menyelamatkan keduanya."
Tepat saat itu, pintu terbuka. Dokter Bram keluar dengan peluh membanjiri dahi. Wajahnya tidak menunjukkan kelegaan.
"Tuan Arkan, ini persalinan prematur yang sangat berisiko. Usia kandungan baru memasuki minggu ke-28. Terjadi solusio plasenta sebagian. Kita tidak bisa menunggu lebih lama atau kita akan kehilangan ibu dan bayinya. Saya harus melakukan tindakan C-section (sesar) sekarang juga di sini. Memindahkannya ke rumah sakit terlalu berisiko, Kevin mungkin sudah menempatkan mata-mata di setiap koridor rumah sakit kota."
Arkan mengangguk kaku. "Lakukan apa pun. Selamatkan mereka."
"Satu hal lagi," Dokter Bram menatap Alana sejenak sebelum kembali pada Arkan. "Kita kekurangan tenaga perawat yang memiliki akses rahasia ini. Saya butuh seseorang untuk membantu membersihkan bayi dan memantau tanda vital ibu sementara saya menjahit luka operasi. Nyonya... Alana, apakah Anda sanggup?"
Alana tersentak. Jantungnya berpacu. Ia bukan perawat, ia hanya seorang sekretaris yang terjebak dalam sandiwara besar. Namun, melihat mata Arkan yang menatapnya dengan penuh permohonan—sesuatu yang sangat langka bagi seorang Arkananta—Alana menguatkan hati.
"Saya akan melakukannya," jawab Alana tegas.
Ruang Persalinan: Pertemuan Dua Wajah
Masuk ke dalam ruangan itu terasa seperti melangkah ke dimensi lain. Cahaya lampu operasi yang terang benderang menyilaukan mata. Elena terbaring di sana, wajahnya pucat pasi, hampir transparan. Saat melihat Alana masuk dengan pakaian steril, mata Elena yang sayu terbuka sedikit.
"Kau..." bisik Elena parau. "Jangan... jangan biarkan kakek mengambilnya..."
"Ssst, diamlah. Fokus pada napasmu," Alana menggenggam tangan Elena. Untuk pertama kalinya, Alana tidak merasakan kebencian atau rasa takut pada wanita ini. Yang ia rasakan hanyalah empati mendalam antara dua wanita yang sama-sama menjadi korban ambisi keluarga Arkananta.
Proses operasi berlangsung dalam keheningan yang mencekam, hanya diiringi bunyi monitor jantung yang berpip-pip monoton. Alana membantu sebisanya, menyiapkan peralatan dan menyeka keringat di dahi Dokter Bram.
Hingga kemudian, sebuah tangisan kecil—sangat kecil dan lemah, hampir seperti suara anak kucing—memecah keheningan.
"Bayinya laki-laki," gumam Dokter Bram. "Sangat kecil. Dia butuh inkubator segera."
Alana menerima bayi mungil yang kemerahan itu ke dalam dekapan kain hangat. Saat ia menatap wajah bayi itu, napasnya tertahan. Meski masih sangat kecil, ada kemiripan yang luar biasa pada garis rahangnya dengan Arkan. Inilah darah daging Adrian. Inilah rahasia terbesar yang harus mereka lindungi dengan nyawa.
Namun, drama belum berakhir. Detak jantung Elena di monitor tiba-tiba melambat. Beep... Beep... Beeeeeeeep.
"Henti jantung!" seru Dokter Bram. "Alana, bawa bayinya ke inkubator di sudut ruangan! Jangan melihat ke sini!"
Alana berbalik dengan tangan gemetar, meletakkan bayi itu ke dalam kotak kaca hangat yang sudah disiapkan. Di belakangnya, ia mendengar suara alat pacu jantung dan perintah-perintah cepat Dokter Bram. Air mata Alana jatuh mengenai dinding kaca inkubator. Ia berdoa, sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan dengan sungguh-sungguh. Jangan biarkan bayi ini kehilangan ibunya di hari ia lahir. Jangan biarkan Arkan kehilangan satu-satunya saksi sejarahnya.
Setelah sepuluh menit yang terasa seperti selamanya, garis di monitor kembali bergelombang. Lemah, tapi ada.
"Dia stabil. Untuk saat ini," napas Dokter Bram terdengar lega namun berat.
Keputusan Sang Penguasa
Alana keluar dari kamar dengan pakaian yang ternoda sedikit darah. Arkan langsung berdiri, matanya menuntut penjelasan.
"Bayinya selamat. Laki-laki," kata Alana dengan suara bergetar. "Elena juga bertahan, meski kondisinya kritis."
Arkan merosot duduk di kursi koridor, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang. Untuk pertama kalinya, Alana melihat Arkan menangis—tanpa suara, hanya tetesan air mata yang jatuh di antara sela jarinya. Alana duduk di sampingnya, tidak mengatakan apa pun, hanya membiarkan pria itu melepaskan beban yang selama ini ia kunci rapat.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Tuan?" tanya Alana setelah beberapa saat. "Kakek akan segera tahu. Kevin sudah mulai bicara soal paviliun."
Arkan mendongak, matanya kini kembali tajam, meski masih merah. Mode bertahannya telah kembali. "Kita tidak punya pilihan. Kita harus memainkan kartu yang paling berbahaya."
"Maksud Anda?"
"Bayi itu tidak boleh diketahui sebagai anak Elena dan Adrian. Jika kakek tahu itu adalah anak Adrian, dia akan menganggapnya sebagai ancaman bagi kemurnian garis suksesi yang sudah ia rancang. Atau lebih buruk, dia akan mengambil bayi itu dan membuang Elena selamanya." Arkan menatap Alana dalam-dalam. "Dunia harus tahu bahwa bayi itu adalah anak asuh yang aku adopsi dari sebuah panti asuhan yang didanai Arkananta Group. Sebuah tindakan amal untuk memperbaiki citra perusahaan setelah rumor yang disebarkan Kevin."
Alana terperangah. "Anak asuh? Tapi Kevin tidak akan percaya begitu saja."
"Biarkan dia tidak percaya. Selama dokumen hukumnya sah, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dan kau, Alana..." Arkan memegang tangan Alana erat. "Kau harus berperan sebagai 'ibu' bagi bayi ini di depan publik. Kita akan membesarkannya di mansion utama sebagai bagian dari keluarga kita."
Bayang-Bayang di Balik Jendela
Pagi mulai menyingsing saat Alana berjalan kembali menuju mansion utama untuk berganti pakaian sebelum pelayan lain bangun. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat sosok tinggi berdiri di balkon lantai dua, menatap ke arah paviliun dengan teropong di tangannya.
Kevin.
Sepupu Arkan itu menurunkan teropongnya dan melihat Alana di bawah sana. Ia tidak berteriak, tidak juga turun. Ia hanya mengangkat gelas kopinya ke arah Alana dengan senyum kemenangan yang dingin. Ia telah melihat ambulans pribadi dan peralatan medis yang masuk semalam. Ia tahu ada sesuatu yang lahir di paviliun itu.
Alana mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah. Ia tahu, Bagian 1 dari kontrak ini telah berakhir. Sekarang, mereka memasuki babak baru yang lebih mematikan. Bukan lagi soal harta atau posisi sekretaris, tapi soal melindungi seorang bayi yang tidak berdosa dari serigala-serigala Arkananta.
Di kamarnya, Alana menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tampak lebih dewasa, lebih keras. Ia bukan lagi Alana, gadis miskin yang ketakutan. Ia adalah pelindung rahasia Arkananta.
"Selamat datang di neraka, kecil," bisiknya pada bayangan bayi yang masih melekat di ingatannya. "Aku akan memastikkan kau tidak berakhir seperti ayahmu."
Tanpa Alana sadari, di ruang kerjanya, Arkan sedang menatap monitor CCTV yang memperlihatkan Kevin di balkon. Jari Arkan bergerak di atas meja, menekan sebuah tombol yang menghubungkannya dengan informan di Swiss.
"Siapkan keberangkatan ke Jenewa dalam tiga hari," perintah Arkan pada teleponnya. "Kita harus mengambil isi brankas itu sebelum Kevin atau Kakek mencapainya. Dan pastikan Alana mendapatkan pengawalan tingkat tertinggi. Dia bukan lagi sekadar sekretaris. Dia adalah kunci segalanya."
Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.