Dunia terlalu kejam untuk dia yang hanya terus menangis.
Bumi ini sangat jahat untuk wanita yang hanya mengandalkan dirinya sendiri, berbekalkan keberanian dan tekad untuk bisa bertahan hidup di tengah tengah gempuran kesulitan.
Haeyla Seraphine layak mendapatkan kemenangan atas hidup nya, cinta dan ketulusan layak untuk dia menangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pupybear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 16.
Setelah kejadian malam tadi Haeyla terus berpikir bagaimana cara menghadapi Arbian kedepannya nanti. Apa Haeyla bisa menerima semua hal yang baru dari Arbian semenjak pernyataan perasaan nya kemarin malam.
Telpon Haeyla berdering.
Cilia
" Haii haiii, gimana tadi malam nih?. "
" Apanya?, aneh kamu. "
" Loh, bukan nya Arbian katanya mau nemuin lo ya?. "
" Kok kamu tau Cil?. "
" Iya, soalnya gue yang suruh dia buat ketemu lo dan nyatain perasaan nya. "
" Oh gitu, ya, dia udah bilang. "
" Terus gimana?. "
" Gimana apa nya Cila?. "
" Ya lo jawab apa?. "
" Udah ya Cil, apa yang kamu harepin itu sama sekali gak terjadi, udah ah, aku mau mandi dulu mau siap siap, byee. " Haeyla mematikan telpon dari Cilia.
' Ternyata Arbian datang dan ungkapin itu semua karena di suruh Cilia. ' gumam Haeyla.
Pernyataan Cilia tadi bisa saja membuat Haeyla salah paham dan berpikir kalau tanpa Cilia suruh Arbian gak akan jujur soal perasaan nya untuk Haeyla.
Tok tok tok. Pintu di ketuk.
" Sebentar. " Haeyla buru buru membuka pintu.
" Morning Haeyla Seraphine. " Haeyla terkejut karena orang yang ada di depan nya adalah Bumi.
" Jangan kaget gitu dong. " Bumi menyolek hidung Haeyla.
" Kamu, kamu tau rumah aku darimana?." Bingung Haeyla.
" Punya mulut, tinggal bertanya. " jawab Bumi singkat. Bumi duduk di bangku teras Haeyla tanpa di suruh.
" Kita ke sekolah bareng, aku tunggu. "
" Engga usah, aku bisa sendiri kok. "
" Aku udah keburu ada disini. "
" Yaudah, tunggu sebentar. " Haeyla langsung masuk untuk bersiap siap. Sementara di ujung jalan Arbian melihat ada seseorang yang menjemput Haeyla pagi ini, dan dia mengurungkan niatnya untuk menjemput Haeyla.
" Haeyla Seraphine, kita bisa terlambat. " teriak Bumi
" Iya iya, ayo aku udah siap. "
" Rambut kamu ikat aja. " ucap Bumi
" Kenapa?, aku baru basah rambut baru di keringin juga, nanti lepek dong. "
" Yaudah, ayo naik. " Haeyla naik motor Bumi untuk pertama kalinya, dan ini juga pertama kalinya Bumi membawa seorang wanita di atas motornya.
" Udah sarapan?." tanya Bumi lagi
" Belum, nanti aja di kantin, udah mau telat. " jawab Haeyla, mendengar itu Bumi semakin mengencangkan motor nya. Haeyla yang takut pun berpegangan pada bahu Bumi namun Bumi yang melihat itu memindahkan tangan Haeyla melingkar di pinggang nya.
" Pegangan disini aja, lebih aman. "
" Oke. " sahut Haeyla tanpa basa basi.
Antara Arbian dan Bumi, terlihat kalau Bumi adalah tipe cowo yang lebih dominant dan agresif, tidak heran kalau pergerakan Bumi selalu jauh lebih cepat di bandingkan Arbian.
Bumi dan Haeyla sampai di area sekolah, dan kedatangan mereka membuat perhatian murid murid teralihkan. Bagaimana tidak, entah Haeyla yang lupa atau Bumi yang sengaja melajukan motornya agar Haeyla tetap berpegangan pada nya. Cilia yang melihat itu benar benar merasa syok.
" Whatt!, itu Haeyla sama siapa?, sama siapa?. " Cilia benar benar ingin tahu saat itu juga.
" Haeylaaa!!!!, apa apaan ini. " Cilia menghampiri Haeyla dan Bumi yang baru saja turun dari motor.
" Cila, kenapa Cil?. "
" Kenapa?, lo bilang kenapa?, ini siapa?." Bumi membuka helm milik nya.
" Berisik lo ya. " ucap Bumi pada Cilia.
" Lo?, dia kan temen sebangku lo Haeyla."
" Iya Cil, kenapa?."
" Kalian pacaran?."
" Jadi semua cewe cowo yang lo liat naik motor bareng itu harus pacaran?. " ucap Bumi lagi.
" Udah udah, Bumi tadi jemput aku Cil, itu doang kok. " Haeyla berusaha menenangkan.
" Ayo, kamu belum sarapan kan. " Bumi menarik tangan Haeyla ikut bersama nya.
Bumi, Haeyla dan Cilia berada di kantin sekarang.
" Ini bubur ayam buat kamu, makan. " Cilia yang melihat itu benar benar terdiam dan tidak habis fikir.
" Seharusnya gak perlu begini Bumi, aku bisa makan nanti waktu istirahat. "
" Kalau kamu belajar dengan perut kosong, kamu gak akan konsentrasi. " ucap Bumi lalu pergi meninggalkan Haeyla dan Cilia.
" Sumpah gue bisa pingsan sekarang!. " teriak Cilia.
" Jangan Cil, jangan pingsan ini masih pagi. " sahut Haeyla. "
" Kok bisa ada cowo seterang terangan itu?. " heran Cilia
" Jangan lebay deh, kita cuma berangkat bareng doang Cila. "
" Cuma lo bilang?, gak gak, ini aneh. " ucap Cilia.
Sebenarnya Haeyla juga gugup melihat Bumi yang sesigap itu padannya, tapi dia berusaha untuk biasa saja.
Ruang kelas .
" Hai Arbian, gimana semalam?." ucap Cilia sengaja agar Bumi mendengar, Haeyla duduk di samping Bumi.
" Lo jadi kan nyatain perasaan lo sama Haeyla?. "
" Jadi. " jawab Arbian, Bumi seakan tidak menghiraukan ucapan Cilia barusan.
" Pulang bareng aku nanti, aku maksa. " ucap Bumi tiba tiba pada Haeyla. Mendengar itu Haeyla sangat heran karena dia seakan akan tidak bisa menolak ajakan dari Bumi. Rasanya Bumi bisa mendominasi Haeyla.
Akan tetapi Haeyla tidak terlalu memikirkan sikap Bumi yang seperti itu, baginya itu biasa saja, layak nya seorang teman.
Jam istirahat pukul 10:00
" Haeyla, ayo kita kantin bareng, sama Arbian juga, yukk. " ajak Cila
" Kaya nya aku gak ke kantin deh Cil, soalnya aku lagi urus data pemasukan tempat kerja aku. "
" Yah gitu ya, yauda deh, kita ke kantin dulu ya. " Arbian dan Cilia pergi ke kantin meninggalkan Haeyla sendiri di kelas.
' Tumben banget kak Ardha kasih aku kerjaan soal pemasukan Cafe, biasanya juga soal urusan dapur dan bersih bersih doang. ' Biasanya Haeyla tidak pernah mengerjakan data mengenai pemasukan Cafe namun kali ini Ardha menjatuhkan tanggung jawab itu pada Haeyla.
" Ini, makan dulu, nanti baru di lanjut lagi. " Bumi meletakkan satu cup siomay dan air mineral di meja Haeyla, melihat itu Haeyla hanya menatap Bumi heran.
" Buat aku?, tapi aku gak minta ini Bumi. "
" Ya bukan kamu, aku yang beli untuk kamu. " Bumi duduk di depan Haeyla.
" Kenapa?. "
" Takutnya nanti kerjaan kamu gak beres karena kepikiran makanan di kantin. " celetuk Bumi
" Haha, gak mungkin lah. "
" Yaudah makan, perlu aku suapin dulu baru makan?. "
" Jangan!, aku bisa sendiri. " Tolak Haeyla cepat. Tanpa di sadari Arbian dan Cilia melihat mereka dari depan pintu kelas.
" Santai aja Ar, Bumi itu kan teman sebangku nya Haeyla, wajar kok . "
" Seharusnya sih gitu ya, kita lihat aja. "
" Aduh Arbian, lo jangan overthinking dulu, Haeyla itu like a queen, jadi kita harusnya gak heran dong kalau banyak yang mau ambil perhatian dia. " Mendengar omongan Cilia, Arbian mengangguk setuju, mungkin benar yang di katakan Cilia, Haeyla cantik dan baik, wajar banyak laki laki yang mau dapat simpati dari nya.
' Gak akan gue biarin siapa pun ngedeketin lo Haeyla, sekecil apapun celah nya gak akan. ' batin Bumi sambil melihat Haeyla memakan makanan yang dia beli tadi. Belum lagi Cilia dan Arbian pergi dari depan pintu kelas, Divo datang dan langsung masuk menghampiri Haeyla tanpa menghiraukan Arbian dan Cilia.
" Haeyla, kita perlu bicara, ada yang aneh sama sifat lo la. " ucap Divo jujur
Bumi, Haeyla, Arbian dan Cilia sama sama menatap Divo.
" Engga, aku fine Divo, gak ada yang berubah. " jawab Haeyla
" Bohong!, please La, kemarin waktu di rumah sakit lo udah engga se kaku ini sama gue. " Bumi memandang tajam Divo karena terus memaksa Haeyla untuk jujur.
Cilia masuk menghampiri mereka.
" Lo apaan ya?, jangan maksa dong. " Cilia menarik lengan Divo
" Maksa?, come on Cil, gue tau lo masih sakit hati dan gak terima karena kita harus berakhir, tapi lo juga gak boleh larang Haeyla berinteraksi sama gue. " ucap Divo pelan.
" Ya!, iya gue yang larang dan minta Haeyla janji gak akan pernah bicara sama lo, dekat sama lo dan gak akan pernah terima cinta lo apalagi cinta sama lo Divo!." Teriak Cilia membuat mereka semua diam mendengar nya. Haeyla hanya diam melihat semua yang terjadi di depan matanya, dia hanya diam melihat sahabat nya meluapkan amarah nya, begitu juga Arbian dia hanya bisa diam dan melihat.
" Cara lo salah Cilia, lo berdua salah. " Bumi tiba tiba menjawab keheningan barusan.
" Lo gak ngerti apa apa, lo diem aja Bumi!. "
"Gue memang gak tau apapun, tapi satu yang gue tau dari obrolan tadi. Lo masih cinta sama mantan lo ini Cilia!. " Bumi menekkan kan bicara nya di hadapan Divo dan juga Cilia.
Bersambung.