"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford
Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.
Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zane Yang Kejam
Pagi itu Salena menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya di depan cermin. Ia memilih mengenakan kemeja dengan kerah tinggi yang tertutup rapat, seolah kain itu bisa melindunginya dari tatapan tajam Zane yang seolah bisa menembus kulit.
Namun, saat ia sampai di koridor fakultas, suasana alay yang ia benci sudah menyambutnya. Teman-temannya sedang berkerumun di depan mading digital.
"Salena! Lihat ini!" Freya menarik tangan Salena dengan heboh. "Zane baru saja mengunggah foto baru di story-nya. Dia sedang berada di studio tato ternama di pusat Reykjavik tadi malam, dan coba lihat caption-nya!"
Salena terpaksa menoleh ke arah layar ponsel Freya. Di sana, Zane mengunggah foto sketsa kupu-kupu yang sedikit berbeda dari miliknya, dengan tulisan singkat:
'Thinking about where the second one should land.' (Berpikir di mana yang kedua harus mendarat).
Jantung Salena mencelos. Ia tahu persis itu adalah pesan tersembunyi untuknya.
"Dasar tukang cari perhatian," desis Salena, meski tangannya terasa dingin.
Siang itu, atmosfer di kantin utama islandia University terasa berbeda. Jika biasanya suara denting sendok dan diskusi ringan tentang teori ekonomi yang mendominasi, kali ini ada ketegangan yang menggantung di udara.
Salena duduk di meja sudut favoritnya bersama Freya. Ia mencoba fokus pada salad-nya, tapi telinganya tidak bisa berhenti mencuri dengar bisik-bisik di sekelilingnya. Penyebabnya sudah jelas, Zane Sebastian Vance.
Zane duduk hanya tiga meja dari Salena. Ia tampak sangat santai, mungkin terlalu santai untuk ukuran seseorang yang baru saja menghancurkan mental teman sekelasnya kemarin. Ia mengenakan jaket kulit cokelat tua dengan kaos putih polos yang sedikit ketat, memperlihatkan siluet tubuhnya yang atletis. Ia sedang sibuk dengan ponselnya, sesekali menyesap kopi hitam tanpa gula.
Tiba-tiba, kerumunan mahasiswa di pintu kantin terbelah. Seorang mahasiswi tingkat dua bernama Elin, yang dikenal sebagai primadona jurusan komunikasi, melangkah maju dengan wajah yang memerah namun penuh tekad. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kecil yang dibungkus rapi.
Seluruh kantin mendadak sunyi. Salena meletakkan garpunya, matanya menyipit.
"Zane," suara Elin terdengar gemetar namun cukup keras untuk menggema di ruangan itu.
Zane mendongak perlahan. Ia tidak tersenyum. Ia hanya menatap Elin dengan tatapan dingin yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi orang lain. "Ya?"
"Aku... aku sudah memperhatikanmu sejak hari pertama kau pindah dari New York. Aku tahu kau mungkin tidak mengenalku, tapi aku tidak bisa memendam ini lagi," Elin menarik napas panjang, sementara teman-temannya di belakang sibuk merekam dengan ponsel mereka. "Aku menyukaimu, Zane. Sangat menyukaimu. Maukah kau... pergi berkencan denganku Sabtu ini?"
Salena merasakan perutnya mulas secara tiba-tiba. Benar-benar alay, batinnya ketus, meskipun ada rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya. Ia menunggu reaksi Zane. Apakah si Dewa New York ini akan bersikap manis? Ataukah dia akan menunjukkan sisi playboy-nya?
Zane meletakkan ponselnya ke meja dengan bunyi brak yang cukup keras. Ia bersandar, menatap Elin dari bawah ke atas, lalu kembali ke matanya.
"Kau menyukaiku?" tanya Zane datar.
Elin mengangguk cepat, penuh harapan.
"Kenapa?" suara Zane terdengar sinis. "Karena kau pikir aku tampan? Karena kau dengar rumor bahwa keluargaku punya setengah dari Manhattan? Atau karena kau ingin pamer pada teman-temanmu bahwa kau bisa mengencani Dewa New York ini?"
Wajah Elin berubah pucat. "Bukan... bukan begitu, aku—"
"Dengarkan aku, Elin," potong Zane, suaranya kini lebih tajam. "Aku tidak pindah ke Islandia untuk menjadi piala bergilir di kampus ini. Simpan kotak itu untuk pria yang benar-benar peduli pada perasaanmu. Karena aku? Aku tidak punya ruang untuk drama seperti ini."
Zane berdiri, menyampirkan tasnya di satu bahu. Tanpa memedulikan Elin yang kini hampir menangis, ia melangkah pergi. Namun, saat melewati meja Salena, ia berhenti mendadak.
Zane mencondongkan tubuhnya ke arah Salena, mengabaikan fakta bahwa seluruh kantin kini sedang memperhatikan mereka.
"Kau lihat itu, Nona Ashford?" bisiknya cukup keras untuk didengar Freya. "Itu bedanya aku denganmu. Aku jujur dengan ketidaksukaanku, sementara kau... kau bersembunyi di balik saladmu sambil berharap akulah yang mengungkapkan perasaan padamu."
Salena tertegun, mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya. "Kau... kau benar-benar sakit jiwa, Vance!"
Zane hanya memberikan seringai tipis yang mematikan, lalu berjalan keluar kantin dengan gaya angkuhnya, meninggalkan suasana yang meledak oleh gosip baru.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰😍