Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Temeng Yang Rapuh
Di dalam perpustakaan kampus yang tenang dengan jendela-jendela besar menghadap taman bersalju, Kaylee menumpuk buku-buku referensi desain di atas meja. Atlas duduk di hadapannya, bukannya belajar, ia malah sibuk membalas pesan teks dari Clarissa dengan senyum yang terus mengembang.
Atlas mendongak, menatap Kaylee yang tampak sangat serius dengan sketsanya. "Kay, sampai kapan lo mau kencan sama buku-buku ini terus? Tadi ada cowok dari jurusan Bisnis nanyain lo ke gue. Dia bilang lo menarik."
Kaylee bahkan tidak mengangkat wajahnya. Jantungnya berdenyut nyeri, tapi suaranya keluar dengan sangat tenang. "Lo tahu jawaban gue, At. Gue nggak punya waktu buat drama pacaran. Nilai IPK gue lebih penting daripada harus nangis di pojokan karena putus cinta."
Atlas menghela napas, menutup ponselnya. "Gue tahu lo masih takut. Tapi bokap lo pasti pengen lo bahagia, Kay. Nggak semua hubungan bakal berakhir dengan kehilangan yang menyakitkan kayak waktu itu."
Kaylee meletakkan pensilnya, lalu menatap mata biru Atlas, mata yang selalu ia puja secara rahasia. Ia menggunakan kartu yang sama yang telah ia mainkan selama tiga tahun terakhir.
"Kehilangan Ayah itu cukup buat gue, Atlas. Melihat Ibu yang sempat hancur... gue nggak mau ngerasain hal yang sama," ucap Kaylee dengan nada yang dibuat sedikit bergetar. "Lagipula, buat apa gue cari pacar kalau gue udah punya sahabat kayak lo yang selalu ada? Lo nggak akan ninggalin gue, kan?"
Atlas langsung meraih tangan Kaylee di atas meja, menggenggamnya erat. "Nggak akan pernah, Kay. Gue bakal selalu ada buat lo. Janji."
Kaylee memaksakan senyum kecil. Janji. Janji yang justru mengunci dirinya dalam lingkaran setan ini. Atlas merasa sedang melindungi sahabatnya yang trauma, padahal tanpa sadar, ia sedang menaburkan garam di atas luka yang ia buat sendiri.
Malam itu, saat mereka kembali ke mansion karena ibu Kaylee masih di luar kota, Atlas kembali menceritakan betapa sempurnanya Clarissa. Mereka duduk di ruang musik, di depan pemutar piringan hitam milik almarhum ayah Kaylee.
"Tadi Clarissa bilang dia cinta sama gue, Kay," Atlas bercerita sambil menatap piringan hitam yang berputar. "Gue sempat ragu buat jawab, tapi gue akhirnya bilang kalau gue juga cinta sama dia."
Kaylee merasa seolah oksigen di ruangan itu mendadak hilang. Ia terus menyibukkan diri dengan merapikan koleksi vinil ayahnya agar tidak perlu menatap Atlas.
"Baguslah. Jadi, Clarissa adalah The One?" tanya Kaylee, suaranya terdengar seperti bisikan di tengah alunan musik klasik.
"Mungkin. Rasanya beda banget," Atlas bangkit, mendekati Kaylee dan merangkul bahunya dari belakang, sebuah pelukan persahabatan yang bagi Kaylee terasa seperti hukuman mati. "Makanya gue pengen lo juga ngerasain ini, Kay. Jangan tutup hati lo terus karena trauma itu. Cari satu orang yang bisa bikin lo merasa aman."
Kaylee memejamkan mata, bersandar sejenak pada dada Atlas. Dalam hatinya, ia berteriak , Orang itu ada di sini, Atlas. Orang itu sedang memelukku sekarang, tapi dia sedang jatuh cinta pada orang lain.
"Gue bakal coba," bohong Kaylee lagi. "Suatu saat nanti."
Setiap kata yang keluar dari bibir Kaylee adalah kepingan kebohongan yang ia susun dengan rapi. Ia telah menciptakan narasi bahwa dia adalah wanita yang takut cinta, sehingga Atlas tidak akan pernah menyadari bahwa setiap detik, setiap tarikan napas, Kaylee sebenarnya sedang hancur karena mencintainya secara ugal-ugalan.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading😍😍😍