Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Setelah badai di kantor polisi mereda, Mercedes-Maybach S-Class milik keluarga Lin meluncur membelah jalanan Shanghai yang mulai padat oleh pekerja kantoran. Di dalam kabin yang kedap suara, Xue Xiao duduk tegak, matanya tak lepas dari pemandangan di balik jendela. Ia melihat manusia-manusia berpakaian rapi berlarian mengejar bus, mata mereka terpaku pada kotak kecil bercahaya di tangan mereka.
"Mengapa mereka semua tampak terburu-buru seolah dikejar oleh binatang buas?" tanya Xue Xiao datar.
Lin Qingyan yang duduk di sampingnya tersenyum tipis, matanya memancarkan kelegaan setelah insiden Arga. "Itu disebut rutinitas. Di kota ini, waktu adalah segalanya. Jika Anda terlambat satu menit, Anda bisa kehilangan kesempatan yang berharga."
Xue Xiao mendengus. "Menghabiskan hidup hanya untuk mengejar detik yang berdetak. Sungguh cara hidup yang melelahkan."
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan megah di distrik Jing'an. Ini adalah kawasan pusat yang memadukan arsitektur kolonial tua dengan kemewahan modern. Lin Jianhua telah menyiapkan sebuah ruko tiga lantai bergaya klasik untuk Xue Xiao.
"Ini adalah tempat yang kakek janjikan," ucap Qingyan sambil mengajak Xue Xiao turun. "Lantai bawah bisa Anda gunakan sebagai klinik, lantai dua untuk penyimpanan bahan obat, dan lantai tiga adalah tempat tinggal pribadi Anda. Kami sudah merenovasinya sesuai instruksi kakek agar terasa lebih... alami."
Saat mereka sampai di depan pintu masuk, Xue Xiao berhenti. Pintu kaca besar itu tampak tertutup rapat tanpa gagang. Ia mengerutkan kening, mencoba mendorongnya dengan telapak tangan yang dialiri sedikit tenaga fisik.
Sretttt...
Pintu itu bergeser terbuka secara otomatis sebelum tangan Xue Xiao menyentuhnya. Xue Xiao refleks melompat mundur dua langkah, tangannya membentuk posisi mencakar, siap menyerang.
"Siapa yang menggerakkan gerbang ini?! Apakah ada roh yang terjepit di dalamnya?" desis Xue Xiao tajam, matanya menatap sensor inframerah di atas pintu dengan curiga.
Tawa kecil Qingyan pecah, kali ini lebih keras dari biasanya. "Bukan roh. Itu adalah sensor gerak. Dia menggunakan cahaya tak kasat mata untuk mengetahui jika ada orang yang mendekat, lalu mesin akan menggesernya. Ini teknologi, bukan sihir."
Xue Xiao menyipitkan mata. Ia berjalan maju-mundur di depan pintu itu berkali-kali, melihat pintu itu terbuka dan tertutup dengan patuh. "Sangat tidak sopan. Gerbang seharusnya menunggu perintah pemiliknya, bukan terbuka bagi siapa saja yang lewat."
Qingyan hanya bisa menggelengkan kepala. Ia kemudian menuntun Xue Xiao masuk ke dalam. Di dalamnya, ruko itu sudah diisi dengan lemari-lemari kayu jati tua yang memiliki ratusan laci kecil, persis seperti apotek herbal kuno. Namun, ada juga peralatan laboratorium modern seperti mikroskop dan kulkas pendingin suhu tinggi di sudut ruangan.
"Aku tidak butuh alat-alat itu," Xue Xiao menunjuk mikroskop dengan nada meremehkan. "Mataku bisa melihat aliran esensi lebih jelas daripada lensa kaca mana pun. Namun, lemari kayu ini... baunya cukup lumayan. Setidaknya ada sedikit aroma kehidupan di sini."
Xue Xiao berjalan ke arah lantai dua. Ia melihat sebuah benda logam besar yang tertempel di dinding dengan angka-angka digital yang menyala.
"Dan kotak logam ini... apakah ini tempat kalian menyimpan makanan agar tidak membusuk?" tanya Xue Xiao sambil mencoba membuka pintu lift.
"Itu lift, Master! Jangan masuk dulu!" teriak Qingyan terlambat.
Xue Xiao sudah melangkah masuk ke dalam kotak sempit itu. Begitu pintu tertutup, lift mulai bergerak naik dengan sentakan halus. Xue Xiao merasakan gravitasi yang aneh di perutnya. Ia segera meninju dinding lift dengan tinju bajanya karena mengira kotak itu sedang mencoba menjepitnya.
DUMMM!
Dinding lift itu penyok ke dalam, meninggalkan bekas kepalan tangan yang dalam. Saat pintu terbuka di lantai tiga, Xue Xiao melompat keluar dengan wajah waspada.
"Kotak ini mencoba menculikku!" seru Xue Xiao pada Qingyan yang baru saja berlari menaiki tangga manual dengan napas tersengal.
Qingyan ternganga melihat lift barunya yang penyok. "Master... itu hanya alat untuk naik ke lantai atas tanpa perlu melangkah. Tolong, jangan hancurkan sisa rumah ini sebelum operasional dimulai."
Xue Xiao berdeham, mencoba menutupi rasa malunya dengan wajah dingin yang biasa. "Aku hanya sedang menguji kekerasan logam di bangunan ini. Ternyata sangat rapuh."
Mendengar itu, sudut mulut Lin Qingyan terasa berkedut. Sambil menepuk dahinya, ia kemudian membawa Xue Xiao untuk duduk dan mengobrol sambil minum teh. Dalam obrolan itu, Lin Qingyan menjelaskan berbagai pengetahuan umum tentang tekhnologi yang sering terlihat, ia menjelaskan nama, fungsi, dan cara menggunakannya.
...
Satu minggu kemudian, klinik itu resmi dibuka tanpa perayaan besar. Hanya ada papan nama kayu sederhana yang digantung di depan pintu: "Klinik Medis Xue, Menyeimbangkan Esensi, Memulihkan Jiwa."
Berita tentang kehebatan Xue Xiao yang menyembuhkan Lin Jianhua telah menyebar di kalangan elit, namun rakyat biasa di sekitar distrik Jing'an hanya menganggapnya sebagai toko jamu baru yang dijalankan oleh pemuda eksentrik berambut panjang.
Xue Xiao menghabiskan hari-harinya dengan menyusun bahan-bahan yang ia bawa dari hutan. Ia mulai membuat "Salep Pemulihan Cepat" dan "Cairan Pembersih Paru" untuk dijual dengan harga murah kepada penduduk sekitar yang menderita akibat polusi udara kota.
Suatu sore yang mendung, saat Xue Xiao sedang menumbuk akar ginseng tua di lumpang batunya, ia merasakan kehadiran seseorang di depan kliniknya. Bukan kehadiran yang mengancam seperti Arga, melainkan kehadiran yang sangat redup, seperti lilin yang hampir padam ditiup angin.
Indra penciumannya menangkap aroma darah yang mulai membusuk dan bau keringat dari seseorang.
Xue Xiao mendongak. Di ambang pintu kaca otomatis yang kini sudah ia mengerti cara kerjanya, berdiri seorang lelaki tua yang sangat kurus. Pakaiannya adalah kain goni kasar yang penuh tambalan, kakinya hanya beralaskan sandal karet yang sudah tipis. Di punggungnya, ia menggendong seorang gadis remaja yang wajahnya sepucat kertas, nafasnya pendek dan tersengal.
Lelaki tua itu ragu-ragu untuk masuk, seolah takut lantai marmer klinik yang bersih itu akan kotor oleh kakinya. Mata tuanya yang merah karena kurang tidur menatap Xue Xiao dengan tatapan penuh keputusasaan.
Xue Xiao teringat pada pria tua yang ia lihat di kantor polisi tempo hari. Benar saja, dia adalah pria yang sama yang memegang tasbih kayu. Namun sekarang, ia tampak jauh lebih hancur.
"Masuklah," ucap Xue Xiao, suaranya tidak sedingin biasanya. "Pintu itu tidak akan menggigitmu, kecuali kau mencoba meninjunya." Xue Xiao berpikir bahwa lelaki tua itu mungkin seperti dirinya, yang baru tiba di kota dan tidak tahu tentang pintu otomatis, sehingga dengan bangga ia memamerkan kehebatan pintu itu.
Lelaki tua itu gemetar. Ia melangkah masuk dengan sangat hati-hati, seolah-olah setiap langkahnya adalah beban yang luar biasa. Ia segera berlutut di depan meja Xue Xiao, meletakkan cucunya dengan perlahan di atas lantai kayu yang hangat.
"Tuan..." suara lelaki tua itu parau, nyaris berbisik. "Saya melihat Anda di kantor polisi tempo hari. Saya tahu Anda bukan orang biasa. Saya tidak punya uang, saya tidak punya kekuasaan... tapi cucu saya... dia akan mati jika tidak segera diobati."
Xue Xiao berdiri, ia berjalan mendekat dan berjongkok di samping gadis itu. Ia meletakkan jarinya di dahi sang gadis. Seketika, alis Xue Xiao bertaut.
Ini bukan luka karena kecelakaan. Ini adalah luka dari serangan 'Energi Internal' yang ganas, batin Xue Xiao.
Ada jejak energi yang menghancurkan meridian gadis ini, dan ini sengaja ditinggalkan untuk menyiksanya perlahan. Ini adalah metode yang kejam, khas dari para praktisi beladiri.