NovelToon NovelToon
Cinta Diruang Trauma

Cinta Diruang Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom
Popularitas:371
Nilai: 5
Nama Author: Anjelisitinjak

Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 31

...POV TOMI...

"Gimana Tom, udah beres?"

ucap Mama malam itu, mengagetkanku.

Aku hanya berdehem pelan sambil terus memasukkan sisa buku ke dalam kardus.

 "Kamu mikirin apa sih, Nak, sampai kamu berat banget buat pindah?"

Aku terdiam sebentar, lalu menatap Mama dengan sisa-sisa rasa enggan.

 "Ma, gimana nggak berat? Aku udah semester lima, Ma. Tiba-tiba harus pindah, ninggalin semuanya, konversi nilai lagi. Belum tentu matkulnya sama semua."

Mama kemudian menjelaskan lagi alasan klasik itu.

 Ya, perusahaan inti Papa yang ada di Kota J sedang bermasalah dan harus dipantau secara langsung. Sebagai anak kedua yang nantinya akan ikut mewarisi kerajaan bisnis Papa, mau tidak mau aku harus ikut andil. Papa ingin aku mulai belajar paham seluk-beluk operasional di sana sambil menyelesaikan kuliahku.

Sebenarnya, aku sudah memiliki perusahaan sendiri yang kubangun secara mandiri, tapi ya begitulah... untuk sekarang aku cukup memantaunya dari jauh saja.

Saat ini, fokus utamanya adalah kuliah dan menjaga agar transisi ini tidak merusak nilaiku.

Hari pertama di kampus baru.

 Kota J ternyata tidak seburuk yang kubayangkan, tapi tetap saja, masuk ke lingkungan baru di tengah semester itu rasanya seperti menjadi tontonan di kebun binatang.

Begitu aku masuk ke ruang kelas, suasana yang tadinya riuh mendadak agak tenang. Aku berjalan dengan gaya santai mungkin terlihat agak cool dan tegak, padahal sebenarnya aku cuma sedang mencoba menutupi rasa canggungku.

"Selamat pagi semuanya, kita kedatangan mahasiswa pindahan dari Kota S. Silakan perkenalkan diri kamu," ucap dosen di depan.

Aku berdiri di depan kelas, memasukkan tangan ke saku celana.

"Pagi. Nama gue Tomi. Pindahan dari Universitas X. Salam kenal."

Baru saja aku mau duduk, tiba-tiba barisan belakang sudah mulai gaduh.

"Woi Tom! Ganteng juga lo ya, bagi nomor WA dong!" celetuk seorang mahasiswa berambut agak ikal yang belakangan kukenal namanya Yogi.

Satu kelas langsung tertawa.

 "IG-nya apa Tom? Biar langsung gue tag di story nih, 'Mahasiswa Baru Ter-Cool'!" sahut yang lain.

Aku hanya terkekeh, menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan mereka.

"Nomor WA buat tugas aja ya, jangan buat yang lain," balasku bercanda yang langsung disambut sorakan

"Cieeee!" satu kelas. Sedangkan dosen di depan hanya menggeleng dan cepat cepat menyuruh untuk diam.

Hari pertama kuliah di kampus baru ternyata nggak seburuk yang kubayangkan. Meskipun awalnya berat, kehadiran orang-orang seperti Yogi dan Dhea benar-benar membantu. Tapi, ada satu hal atau lebih tepatnya satu orang yang benar-benar mencuri perhatianku sejak menit pertama aku menginjakkan kaki di kelas.

Hana Alisya.

Nama itu langsung melekat di kepalaku. Selesai perkenalan tadi, aku sengaja memilih bangku kosong yang persis berada di sampingnya. Ya, bisa dibilang kami semeja, kan? Hehehe.

Strategi awal yang lumayan sukses buat mahasiswa pindahan sepertiku. Tapi sepanjang jam kuliah, dia lebih banyak diam. Ada kesan misterius yang bikin aku makin penasaran.

Rasa penasaran itu makin menjadi saat jam pulang tiba. Aku berjalan menuju parkiran, bermaksud segera pulang untuk istirahat, tapi mataku menangkap sosok Hana di sana. Dia nggak seperti mahasiswi lain yang ceria atau buru-buru pulang buat nongkrong. Hana terlihat sangat murung.

Awalnya aku mencoba untuk nggak terlalu menghiraukan.

"Mungkin dia cuma capek," pikirku.

Aku menyalakan mesin motorku dan mulai bergerak keluar dari area kampus. Namun, saat di jalan, aku melihatnya lagi.

Hana sedang mengendarai motor matic-nya dengan kecepatan rendah. Dia tampak seperti melamun di atas motor, tatapannya kosong menembus jalanan di depannya. Entah inisiatif dari mana, perasaanku tiba-tiba nggak enak. Rasanya bahaya banget membiarkan cewek melamun sambil berkendara di tengah padatnya lalu lintas Kota J.(apalagi cantikkk😜😃😃)

Akhirnya, aku memutuskan untuk memutar arah sedikit. Aku nggak langsung menyalipnya, tapi aku memilih untuk menjaganya dari belakang. Aku memutuskan untuk mengikutinya hari itu, memastikan dia sampai ke tujuannya dengan aman tanpa dia sadari. Ada sesuatu dalam dirinya yang seolah memanggilku untuk tetap berada di dekatnya, meski aku sendiri belum tahu apa itu.

Aku terus menjaga jarak, mengikutinya dari belakang sampai akhirnya aku melihatnya berbelok dan berhenti di sebuah taman kecil di pinggir kota, tepat di sisi sungai yang alirannya cukup tenang.

Aku memarkirkan motorku agak jauh agar tidak mencolok, lalu memperhatikannya dari kejauhan.

Hana berjalan gontai menyusuri jalan setapak taman, lalu memilih duduk di atas rumput, bersandar pada sebuah pohon mahoni besar yang ada di sana.

Dari tempatku berdiri, dia terlihat sangat... rapuh. Dia mengambil batu-batu kerikil di sekitarnya, lalu melemparkannya satu per satu ke sungai dengan tatapan kosong.

Aku terdiam sejenak.

Jelas sekali dia sedang tidak baik-baik saja. Ada beban berat yang seolah sedang ia coba tenggelamkan ke dasar sungai itu. Entah dorongan dari mana, aku merasa tidak bisa cuma diam menonton. Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian, lalu melangkah mendekat.

aku memegang pundaknya lembut Dia mendongak, matanya yang terlihat sembab menatapku dengan seleret rasa terkejut. "Kamu... yang tadi di kelas, kan?"

Aku tersenyum tipis, lalu tanpa menunggu izin, aku ikut duduk di atas rumput, beberapa jengkel darinya.

"Tomi. Inget kan? Masa baru satu jam udah lupa sama cowok paling ganteng se-fakultas yang baru pindah?"

Hana tidak tertawa, dia hanya kembali menatap sungai.

"Lagi apa di sini? Kamu ikutin aku ya" tanyanya datar.

Aku gelagapan tapi aku berusaha agar tidak terlalu terlihat

"A..apa, enggak kok kebetulan rumah aku ga jauh dari sini terus tadi nggak sengaja liat ada cewek naik motor matic kayak lagi tidur sambil jalan, jadi ya... insting pahlawan kesianganku muncul. Aku cuma mastiin dia nggak nyungsep ke sungai," balasku sambil ikut mengambil satu batu kecil dan melemparkannya.

"Kamu lagi ada masalah? Kelihatannya serius banget sampai kerikil pun jadi korban."

Hana terdiam cukup lama, hanya suara gemericik air yang terdengar.

"Apa enggak kok lagian Bukan urusan kamu," gumamnya pelan, tapi tidak terdengar ketus, lebih ke arah lelah.

"Oke, bukan urusanku. Tapi kalau mau cerita, aku ini pendengar yang baik lho. Lagian, aku kan orang baru di sini. Rahasia kamu aman sama aku, karena aku nggak kenal siapa-siapa di kota ini selain kamu dan temen-temen berisik tadi," ucapku mencoba mencairkan suasana.

Hana melirikku sebentar, ada sedikit binar penasaran di matanya, meski kesedihan itu masih mendominasi. Itulah pertama kalinya aku melihatnya dari dekat, dan di taman itu, aku sadar kalau kepindahanku ke Kota J mungkin memang tujuannya adalah untuk bertemu dengan gadis bermata sedih ini.(hehehe)

Aku terus berusaha bertahan di sana, mengeluarkan stok lelucon receh yang biasanya ampuh untuk mencairkan suasana. Awalnya dia hanya diam, tapi perlahan, tembok pertahanannya mulai terkikis.

Dia mulai mau menanggapi ucapanku, meski masih dengan nada yang pelan.

"Kamu emang suka tempat gini ya?" tanyaku sambil memandang aliran sungai di depan kami.

Hana mengangguk kecil.

"Ya... kadang kalau terlalu capek mikirin tugas dan skripsi, aku suka di sini," katanya perlahan.

Mendengar dia mulai terbuka, aku pun mulai bercerita tentang hal-hal random, mulai dari pengalamanku pindah kota sampai hal-hal konyol yang kulihat di kampus tadi.

Ternyata usahaku nggak sia-sia. Sesekali, dia menoleh dan melemparkan senyum tipis ke arahku senyum yang membuat jantungku mendadak berulah.

"Eh, jangan dilihatin terus. Ntar kalau kamu suka, aku nggak tanggung jawab lho," ucapku dengan nada bercanda yang sangat percaya diri.

Hana spontan tertawa, tawa yang terdengar sangat tulus meski singkat.

"Apaan sih kamu? Pede banget!" jawabnya sambil membuang muka, tapi sisa tawa itu masih terlihat di wajahnya

"tapi, kamu sendiri kenapa bisa disini?" tanyanya lagi.

"ya seperti yang aku bilang tadi rumahku ga jauh dari sini" jawabku dia hanya mengangguk tanda mengerti

Kami terus mengobrol sampai semburat jingga di langit mulai meredup. Udara taman terasa semakin dingin, dan lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.

"Kamu nggak pulang?" kataku sambil melirik jam tangan.

"Iya, aku mau pulang sih. Udah jam 6 juga, sebentar lagi pasti gelap," sahutnya sambil mulai berdiri dan merapikan pakaiannya membersihkan sisa tanah di celananya

Aku ikut berdiri, membersihkan rumput yang menempel di celanaku.

"Aku ikutin dari belakang ya? Biar aman," tawarku.

Hana menggeleng sambil tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, aku bisa sendiri kok. Rumahku nggak jauh dari sini."

Kami akhirnya berjalan menuju parkiran bersama.

Ada perasaan hangat yang tertinggal setelah percakapan itu. Saat mesin motor kami menyala, kami sempat beradu pandang sekali lagi untuk berpamitan.

"Sampai ketemu besok di kampus ya, Hana!" seruku di balik helm.

Dia hanya mengangguk dan melambaikan tangan singkat sebelum memacu motor matic-nya.

Aku menjaganya dari kejauhan sampai akhirnya kami berpisah di sebuah persimpangan jalan yang besar. Aku melihat lampu belakang motornya menjauh, dan entah kenapa, aku merasa kepindahanku ke Kota J ini adalah keputusan terbaik yang pernah Papa buat.

1
🌹Widian,🧕🧕🌹
wahhh.....Tomi cowok keren tapi masih misterius nih
🌹Widian,🧕🧕🌹
haiiiii.......mampir nih !
Sepertinya Hana gadis yang menyimpan banyak luka dan beban batin ya.....semangat Hana 💪💪
🌹Widian,🧕🧕🌹: mampir juga kak ke karyaku🙏
total 2 replies
li l
next part thor up jam berapa 🤭
Anjeli: hehe ditunggu ya jangan lupa like dan vote nya🫶😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!