NovelToon NovelToon
Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mafia / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: RAHASIA KAKEK HWANG

Yehwa berdiri terpaku di depan toko alat tulis itu.

Matanya tidak lepas dari wajah Hwang Cheol-soo—kakek tua dengan jubah lusuh, rambut putih tipis, dan keriput di wajah yang menandakan usia lanjut. Tapi di balik keriput itu, di balik senyum ramahnya, ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Yehwa merinding.

Pengenalannya sebagai ratu iblis mungkin hilang. Tapi instingnya sebagai pemimpin yang bertahan selama 200 tahun tidak akan pernah hilang.

Kakek ini berbahaya.

Atau justru... penyelamat?

"Tetua Keempat?" suara Yehwa bergetar. "Kau benar-benar Tetua Keempat Dinasti Iblis?"

Hwang Cheol-soo tersenyum, mengangguk pelan. "Di dahi kiri bawah rambutmu, ada bekas luka kecil berbentuk bintang. Kau dapat saat jatuh dari kuda perang umur tujuh tahun, saat latihan berkuda." Matanya berbinar. "Aku yang mengobatinya malam itu. Ibu suri menangis semalaman."

Yehwa tercekat. Tidak ada yang tahu cerita itu selain keluarganya—dan satu tetua yang saat itu merawatnya.

"Paman Cheol-soo?" bisiknya, matanya mulai berkaca-kaca.

Kakek itu mengangguk, matanya juga basah. "Sudah lama, Putri kecil. Kau tumbuh cantik."

Tanpa sadar, Yehwa melangkah maju. Kakek itu membuka tangannya, dan Yehwa—ratu iblis yang selalu dingin dan angkuh—jatuh ke dalam pelukannya.

"Aku kira kau sudah mati," isaknya pelan. "Aku kira semua tetua mati dalam pemberontakan 500 tahun lalu."

"Banyak yang mati, Putri. Tapi beberapa dari kami selamat, bersembunyi." Hwang Cheol-soo mengelus rambut Yehwa lembut. "Aku mencari kabar tentangmu selama ini. Tahu kau jadi ratu, bangga sekali rasanya."

Yun-seo berdiri di samping, bingung harus bersikap apa. Ia melihat Yehwa menangis—untuk pertama kalinya ia melihat ratu iblis itu benar-benar menangis, bukan akting. Ini sisi lain yang lebih dalam dari sekadar "rentan". Ini adalah luka lama yang terbuka.

Setelah beberapa saat, Yehwa mundur, mengusap air matanya. Ia mencoba mengembalikan topeng dinginnya, tapi gagal.

"Maaf," gumamnya. "Aku tidak..."

"Tidak perlu minta maaf, Yang Mulia." Hwang Cheol-soo tersenyum lembut. "Menangis itu manusiawi. Lagipula, kau memang manusia sekarang." Matanya beralih ke Yun-seo, mengamati dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Dan kau pasti Kang Yun-seo, pemuda dari dunia lain yang dipanggil cincin itu."

Yun-seo terkejut. "Kau tahu tentang aku?"

"Cincin Pemanggil adalah pusaka Dinasti Iblis. Hanya bisa digunakan dalam keadaan darurat, untuk memanggil 'pahlawan' dari dunia lain." Hwang Cheol-soo menghela napas. "Yang Mulia pasti dalam keadaan sangat terdesak sampai menggunakan itu."

Yehwa menunduk. "Lilian mengkhianatiku. Bekerja sama dengan manusia—Penguasa Kegelapan. Aku kehilangan kekuatanku. Tidak punya pilihan."

"Penguasa Kegelapan?" Hwang Cheol-soo mengernyit. "Nama itu... sudah lama tidak kudengar."

"Kau tahu tentang dia?"

Tetua tua itu diam, berpikir. Lalu menunjuk ke dalam toko. "Masuklah. Kita bicara di dalam. Tidak aman di sini."

---

Toko alat tulis Hwang ternyata lebih besar dari kelihatannya.

Di depan, etalase kecil dengan kuas, tinta, kertas, dan perlengkapan menulis. Tapi di belakang, ada ruangan tersembunyi di balik rak buku. Ruangan itu cukup luas, dengan meja bundar, beberapa kursi, dan dinding penuh buku serta gulungan kuno.

Hwang Cheol-soo menyalakan lampu minyak, menutup pintu rapat-rapat.

"Di sinilah aku menghabiskan 500 tahun terakhir," katanya. "Bersembunyi di depan mata manusia. Menjadi kakek tua penjual alat tulis yang tidak berbahaya."

Yehwa duduk di kursi, masih terlihat terguncang. Yun-seo duduk di sampingnya, secara naluriah menjaga jarak tapi tetap dekat.

"Ceritakan," kata Yehwa. "Tentang Penguasa Kegelapan. Tentang semuanya."

Hwang Cheol-soo menghela napas panjang. Ia menuangkan teh hangat ke tiga cangkir, lalu mulai bercerita.

"Penguasa Kegelapan bukan manusia biasa. Ia adalah makhluk yang lahir dari ambisi manusia dan kekuatan iblis. 800 tahun lalu, ia adalah pendekar manusia terkuat—Guru Agung Swordsmanship. Tapi ambisinya terlalu besar. Ia ingin hidup abadi, ingin kekuatan tanpa batas."

"Ia datang ke alam iblis?" tebak Yun-seo.

"Benar. Ia menawarkan kerja sama pada Raja Iblis saat itu—kakek buyutmu, Yang Mulia. Tapi Raja Iblis menolak. Mengusirnya." Hwang Cheol-soo menyesap teh. "Tapi Penguasa Kegelapan tidak menyerah. Ia mempelajari ilmu iblis secara diam-diam, mencuri rahasia-rahasia kuno, lalu menciptakan kekuatannya sendiri. Ia menjadi makhluk setengah manusia setengah iblis—tidak diterima kedua pihak, tapi sangat kuat."

Yehwa menggigit bibir. "Aku pernah dengar cerita ini. Tapi kupikir itu legenda."

"Bukan legenda. Ia nyata." Hwang Cheol-soo menatapnya serius. "Dan sekarang ia bekerja sama dengan Lilian? Itu sangat berbahaya."

"Kenapa ia ingin menghancurkanku? Apa tujuannya?"

"Hidup abadi sudah ia dapatkan. Kekuatan sudah ia miliki. Tapi satu hal yang belum—tahta." Hwang Cheol-soo menatap Yehwa. "Ia ingin menjadi penguasa tunggal, Yang Mulia. Atas manusia dan iblis. Dengan menghancurkan Dinasti Iblis dan Aliansi Murim, ia bisa menguasai segalanya."

Yun-seo bersiul pelan. "Ambisi besar."

"Dengan bantuan Lilian, ia bisa menguasai alam iblis. Lalu dengan kekuatan iblis, ia hancurkan Aliansi Murim." Hwang Cheol-soo menggeleng. "Dunia akan kacau."

Yehwa diam, mencerna. Lalu ia menatap tetua itu. "Kau bilang beberapa tetua selamat. Di mana mereka?"

"Tersebar, bersembunyi seperti aku. Ada yang jadi petani, pedagang, bahkan pengemis. Menunggu saatnya dipanggil."

"Aku butuh mereka. Untuk... untuk merebut kembali tahtaku."

Hwang Cheol-soo tersenyum getir. "Dengan kekuatanmu yang hilang, Yang Mulia?"

Yehwa membeku. Ya, itu masalah utamanya. Tanpa kekuatan, ia tidak lebih dari wanita biasa. Apa gunanya mengumpulkan pengikut kalau tidak bisa memimpin?

Tiba-tiba, Yun-seo angkat bicara. "Ada cara mengembalikan kekuatannya?"

Hwang Cheol-soo menatapnya lama. Lalu tersenyum misterius.

"Mungkin."

Yehwa menegang. "Mungkin? Apa maksudnya?"

"Kekuatanmu tidak hilang, Yang Mulia. Ia tersegel." Hwang Cheol-soo menunjuk kalung di leher Yehwa. "Kalung itu—pemberian ibumu—adalah segelnya. Saat kau terluka parah, segel otomatis aktif untuk menyelamatkanmu. Kekuatanmu tersimpan di dalam batu itu."

Yehwa meraba kalungnya. Batu hitam kecil di rantai perak itu—ia selalu menganggapnya sebagai kenang-kenangan. Tapi sekarang?

"Jadi... kalau kubuka segelnya, kekuatanku kembali?"

"Teorinya iya. Tapi..." Hwang Cheol-soo menghela napas. "Membuka segel butuh tiga hal. Pertama, tempat suci Dinasti Iblis. Kedua, ritual khusus yang hanya bisa dilakukan oleh tetua yang masih hidup. Dan ketiga..."

"Ketiga?"

"Pengorbanan."

Yun-seo dan Yehwa diam. Kata itu menggantung berat.

"Pengorbanan apa?" tanya Yehwa pelan.

"Aku tidak tahu persis. Ritual segel ini diciptakan ribuan tahun lalu, rahasianya hanya diketahui segelintir orang. Tapi satu hal yang pasti—pengorbanan itu tidak mudah." Hwang Cheol-soo menatap Yehwa dengan iba. "Yang Mulia, mengembalikan kekuatanmu bukan perkara sederhana. Kau harus siap dengan konsekuensinya."

Yehwa mengepalkan tangan. "Apa pun konsekuensinya, aku akan hadapi. Aku tidak bisa terus bersembunyi sebagai manusia biasa. Bangsaku butuh aku."

Hwang Cheol-soo mengangguk pelan. "Aku tahu. Tapi untuk sekarang, kau harus bertahan dulu. Cari informasi, kumpulkan kekuatan, jangan terburu-buru." Ia menatap Yun-seo. "Dan kau, pemuda dari dunia lain, kau punya peran penting."

"Aku?" Yun-seo terkejut. "Aku cuma manusia biasa tanpa kekuatan apa pun."

"Tapi kau punya pengetahuan dari dunia lain. Pengetahuan yang tidak dimiliki siapa pun di sini." Hwang Cheol-soo tersenyum. "Dan kau juga punya cincin itu. Cincin Pemanggil bukan hanya alat transportasi. Ia juga... pelindung."

Yun-seo melihat cincinnya. "Pelindung? Maksudnya?"

"Cincin itu bisa mengaktifkan kekuatan pelindung dalam situasi darurat. Kau tidak bisa menyerang, tapi kau bisa bertahan. Setidaknya untuk sementara." Hwang Cheol-soo bangkit, mengambil sebuah gulungan kertas dari rak. "Ini untukmu. Pelajari."

Gulungan itu berisi gambar-gambar aneh—simbol, diagram, tulisan kuno. Yun-seo tidak mengerti apa-apa.

"Apa ini?"

"Teknik dasar mengaktifkan cincin. Aku akan mengajarimu, sedikit demi sedikit." Hwang Cheol-soo menepuk pundaknya. "Kau punya tanggung jawab besar, Nak. Melindungi ratu kita."

Yun-seo menelan ludah. Ia menoleh pada Yehwa. Ratu iblis itu menatapnya dengan tatapan aneh—campuran antara harap, ragu, dan... sesuatu yang lain.

"Aku akan lindungi dia," kata Yun-seo akhirnya. "Tapi jangan harap aku bisa jadi pahlawan super."

Hwang Cheol-soo tertawa. "Kau sudah jadi pahlawan, Nak. Hanya dengan bertahan di sisinya."

---

Malam itu, mereka kembali ke barak pengungsi dengan kepala penuh informasi baru.

Yehwa duduk di tikar, merenung. Yun-seo di sampingnya, diam-diam mengamati gulungan kertas pemberian Hwang Cheol-soo.

"Kau percaya padanya?" tanya Yun-seo tiba-tiba.

Yehwa menoleh. "Dia tetua yang merawatku kecil. Dia salah satu orang paling kupercaya dulu."

"Tapi sudah 500 tahun. Orang bisa berubah."

Yehwa diam. Itu benar. Lilian juga orang yang paling ia percaya. Dan lihat hasilnya.

"Aku tidak tahu," akunya jujur. "Tapi untuk sekarang, dia satu-satunya harapan."

Yun-seo mengangguk. "Aku juga curiga. Tapi kita harus mulai dari suatu tempat."

Mereka diam lagi. Di luar, suara jangkrik dan sesekali tangisan bayi terdengar. Lorong Kegelapan tidak pernah benar-benar sunyi.

"Hei," panggil Yun-seo pelan.

Yehwa menoleh.

"Terima kasih sudah... percaya padaku. Maksudku, cerita tentang masa kecilmu, tentang pamannya, tentang air mata tadi. Aku tahu itu tidak mudah."

Yehwa menunduk. "Kau satu-satunya yang kumiliki di sini. Meskipun kau manusia, meskipun kau aneh, meskipun kau lemah—"

"Hei, lemah nggak usah disebut."

"—tapi kau tulus. Itu langka di duniaku." Yehwa menatapnya. "Di istana iblis, semua orang punya agenda. Semua orang ingin sesuatu dariku. Tapi kau? Kau tidak minta apa-apa. Malah memberi."

Yun-seo menggaruk kepala. "Aku cuma... nggak tega lihat kau sendirian."

"Kau bodoh."

"Iya, udah tahu."

Yehwa tersenyum kecil. Lalu, tanpa bicara, ia merebahkan diri di samping Yun-seo, mengambil hoodie itu dan menyelimuti mereka berdua.

"Besok kita mulai latihan," bisiknya. "Kau harus bisa menggunakan cincin itu. Aku harus mulai berpikir seperti manusia. Dan kita cari cara mengembalikan kekuatanku."

"Banyak kerjaan."

"Makanya tidur. Besok pagi-pagi kita ke toko Kakek Hwang."

Yun-seo mengangguk, memejamkan mata. Di sampingnya, napas Yehwa teratur—sudah mulai terbiasa tidur di dekatnya.

Di luar, bulan bersinar terang. Malam ketiga di dunia asing, dan Yun-seo mulai merasa—mungkin—ini bukan lagi sekadar "bertahan". Mungkin ini awal dari sesuatu yang lebih besar.

---

1
Amiera Syaqilla
hello author😄
Q. Zlatan Ibrahim: halo juga terimalasih sudah mampir
total 1 replies
Manusia Biasa
emang manusia kadang lebih dari iblis
Q. Zlatan Ibrahim: seringkali
total 1 replies
Manusia Biasa
wkwkw ngakak gua baca sandiwaranya, lucu🗿😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!