Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Tiba Di Pulau Dewata
Bus terus melaju membelah jalanan Gilimanuk yang masih sepi. Di antara candaan dua sahabat di depannya dan deru mesin bus, Gery menyandarkan kepalanya ke kursi. Ia tidak tahu apa yang dibicarakan Nadia tadi malam kepada Vanya, namun ia merasa bahwa perjalanan di pulau dewata ini akan membawa banyak cerita yang lebih dalam dari sekadar kunjungan wisata.
Matahari Bali mulai merangkak naik, menyinari fasad megah hotel bintang empat yang akan menjadi rumah mereka selama beberapa hari ke depan. Aroma khas bunga kamboja dan dupa yang terbakar menyambut rombongan Bus 4 saat mereka turun di lobi yang luas. Meski tubuh terasa remuk setelah perjalanan belasan jam, rasa kagum tetap terpancar dari wajah para siswa SMK Pariwisata ini—setidaknya, hotel ini jauh lebih mewah dari apa yang mereka bayangkan.
"Semuanya, baris per kelas! Jangan ada yang mencar!" teriak Pak Bambang, Wakil Kepala Sekolah, suaranya menggelegar di area parkir.
Gery berdiri di barisan PH2 bersama Dion dan Reno. Di samping barisan mereka, barisan siswi tampak lebih tertib. Vanya dan Nadia berdiri berdampingan, dengan Vanya yang masih setia mengancingkan jaket Gery meski cuaca Bali mulai terasa gerah.
Setelah pidato singkat tentang etika menjaga nama baik sekolah di hotel, Wali Kelas PH2, Bu Ratna, maju ke depan sambil memegang map plastik.
"Ibu akan bagikan kunci kamar. Ingat, satu kamar tiga orang. Jangan ada yang tukar-tukar tanpa izin!" tegas Bu Ratna. "Kamar 402: Dion, Reno, dan Gery."
Dion langsung mengepalkan tangan ke udara. "Yes! Trio maut satu kamar!"
Bu Ratna melanjutkan, "Kamar 415: Vanya, Nadia, dan Yola."
Vanya dan Nadia saling berpandangan lalu melakukan high-five kecil. Yola, teman sekelas mereka yang dikenal cukup pendiam namun asik, juga tampak lega bisa satu kamar dengan mereka.
Setelah pembagian kunci selesai, kerumunan siswa mulai pecah menuju lift dan tangga. Gery baru saja hendak menarik koper hitamnya mengikuti Dion yang sudah lari duluan menuju lift, saat sebuah tarikan lembut di lengan seragamnya membuatnya menoleh.
"Ger, tunggu!"
Vanya berdiri di depannya. Tangannya sibuk membuka resleting jaket biru tua itu, lalu perlahan melepasnya dari bahunya. Tanpa jaket kebesaran itu, Vanya tampak lebih segar, meski rambutnya sedikit berantakan khas orang baru bangun tidur di bus.
"Nih, jaket lo. Makasih banyak ya, beneran deh kalau nggak ada ini mungkin gue yang gantiin posisi Nadia buat demam," ucap Vanya sambil menyodorkan jaket yang sudah terlipat meski tidak terlalu rapi.
Gery menerimanya. Jaket itu terasa hangat dan membawa aroma parfum Vanya yang tertinggal di serat kainnya. "Sama-sama. Nadia gimana? Aman?"
"Aman, dia udah bisa ketawa-tawa tadi pas ngeledek gue pake jaket lo," jawab Vanya sambil mengerlingkan mata, mengingatkan Gery pada ancaman 'curhatan' tadi subuh.
"Gery! Cepetan! Lift-nya udah mau tutup nih!" teriak Reno dari kejauhan.
Gery menoleh ke arah teman-temannya, lalu kembali menatap Vanya. "Gue duluan ya. Istirahat yang bener, Van. Jangan sampai pas nanti malam kita ada acara bebas, lo malah tepar."
"Siap, Pak Bos! Sampai ketemu di ruang makan ya!" Vanya melambaikan tangan lalu berlari menyusul Nadia dan Yola yang sudah mengantre di depan lift khusus perempuan.
Gery berjalan menuju kamarnya dengan perasaan ringan. Di tangannya, jaket itu bukan lagi sekadar pelindung dingin, tapi penyimpan memori tentang perjalanan semalam. Di kamar 402 nanti, ia tahu Dion dan Reno pasti akan menghujaninya dengan pertanyaan tentang Vanya, tapi bagi Gery, cukup dia dan Vanya (serta mungkin Nadia) yang tahu betapa berartinya jaket itu di tengah Selat Bali.
Suasana di dalam kamar 402 benar-benar menggambarkan kontras kepribadian penghuninya. Begitu pintu tertutup, Reno langsung melemparkan ranselnya ke lantai dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur king size yang putih bersih.
"Gila! Empuk banget, Ger! Gue berasa jadi raja di sini!" seru Reno sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya naik-turun, menikmati sensasi pegas kasur hotel bintang empat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sementara itu, Dion, sang ketua kelas yang selalu rapi, sudah mulai membuka kopernya. Ia mengeluarkan tumpukan kaos dan celana, menyusunnya satu per satu ke dalam lemari kayu yang tersedia di kamar itu. Namun, meskipun tangannya sibuk, pikirannya ternyata tertuju pada hal lain.
Dion menoleh sedikit ke arah Gery yang baru saja meletakkan jaket biru tuanya di atas meja kecil. "Ger," panggil Dion dengan nada yang tiba-tiba berubah serius, namun tetap santai.
Gery menoleh. "Apaan, Yon?"
"Gue penasaran dari tadi di bus," Dion berhenti melipat baju sejenak. "Sebenarnya... lo itu sukanya sama siapa sih? Nadia apa Vanya?"
Pertanyaan itu seperti tombol pause bagi Reno. Ia langsung berhenti memantul-mantulkan tubuhnya dan duduk tegak di pinggir kasur. Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu, seolah pertanyaan Dion adalah teka-teki paling besar dalam perjalanan study tour ini.
"Nah! Bener banget kata Dion," timpal Reno semangat. "Gue juga merhatiin, Ger. Sama Nadia lo perhatian banget sampai rela bahu lo jadi bantal pas dia sakit. Tapi sama Vanya... lo juga kayak nggak bisa pisah, pakai acara pinjemin jaket segala. Anak-anak di belakang pada curiga, lo itu lagi main dua kaki atau emang lagi bingung?"
Gery tertegun sejenak. Ia tidak menyangka obrolan kamar pertama mereka akan langsung "menembak" ke arah privasinya. Ia duduk di kursi meja rias, menatap kedua sahabatnya yang menanti jawaban dengan ekspresi seolah sedang menunggu pengumuman juara futsal.
Gery menarik napas panjang, mencoba merangkai kata-kata yang jujur tapi tetap menjaga prinsipnya. "Nadia itu... dia beda. Liat dia aja udah bikin gue seneng, apalagi pas dia sakit tadi, refleks aja gue pengen jagain. Tapi kan dia udah punya pacar, gue tahu batas."
Gery diam sejenak, lalu teringat Vanya. "Kalau Vanya... dia itu orang yang paling ngerti gue di kelas ini. Kita udah kayak satu frekuensi. Soal jaket itu, murni karena gue nggak mau dia ikutan sakit kayak Nadia. Cuma itu."
Reno menyipitkan mata, tidak puas. "Halah, jawaban diplomatis banget! Tapi kalau disuruh pilih satu buat jadi pacar, siapa?"
Dion ikut mengompori, "Iya, Ger. Jujur aja, kita-kita doang nih yang tahu. Rahasia aman sampai lulus."
Gery tersenyum tipis, matanya menatap ke arah jendela hotel yang menampilkan pemandangan kolam renang di bawah sana. "Jujur, kalau soal rasa yang bikin deg-degan, emang masih Nadia. Tapi kalau soal kenyamanan buat cerita apa aja... itu Vanya. Puas lo berdua?"
Reno tertawa puas sambil kembali merebahkan diri. "Gue pegang Nadia deh! Gue rasa Nadia juga ada rasa sama lo, apalagi setelah kejadian di bus tadi."
Dion hanya mengangguk-angguk sambil melanjutkan kegiatannya. "Kita liat aja selama empat hari di Bali ini, Ger. Biasanya di tempat kayak gini, perasaan yang ketutup itu bakal makin kelihatan aslinya."
Gery hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabatnya. Namun, di dalam hatinya sendiri, pertanyaan Dion barusan meninggalkan gema yang cukup panjang. Di antara perasaan yang ia jaga untuk Nadia dan kenyamanan yang ia miliki bersama Vanya, Gery menyadari bahwa garis di antara keduanya semakin hari semakin tipis.