Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. The Covenant under the Stars
Suara tawa dari ruang tengah masih terdengar sayup-sayup saat Julian menarik lembut tangan Alice menuju balkon lantai dua. Sisa kemeriahan tiup lilin ulang tahun Ibu Vane masih membekas di wajah mereka, namun saat pintu kaca balkon ditutup, suasana berubah menjadi sunyi yang intim.
Angin malam New York berembus pelan. Julian berdiri di hadapan Alice, menatap mata gadis itu dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi kilatan emosi gelap atau pengaruh alkohol. Matanya jernih.
"Al," panggil Julian pelan. "Aku tahu selama ini sikapku sangat berantakan. Aku posesif, aku mengejarmu dengan cara yang salah, dan aku seringkali bertindak tanpa akal sehat. Tapi itu semua karena aku takut setengah mati kehilanganmu. Aku mencintaimu sampai rasanya aku kehilangan diriku sendiri."
Alice menunduk, jemarinya memilin ujung gaunnya. "Aku juga, Julian. Sekeras apa pun aku mencoba menjauh, sekuat apa pun aku mencoba membangun tembok dengan Sean... hatiku selalu kembali padamu. Kau adalah melodi yang tidak bisa hilang dari kepalaku."
Julian menggenggam kedua tangan Alice, mengangkatnya dan mencium punggung tangannya dengan khidmat. "Aku tidak ingin kita sekadar pacaran, Al. Aku tidak ingin hubungan yang penuh nafsu atau pelarian. Aku sudah selesai dengan semua itu. Aku ingin hubungan yang sehat, bersih, dan suci. No sex, no drugs, no alcohol before married. Aku ingin hubungan yang dirahmati Tuhan."
Alice tersentak kecil, menatap Julian dengan haru. "Julian..."
"Aku ingin kita serius," lanjut Julian dengan suara yang bergetar namun pasti. "Aku ingin bertunangan denganmu malam ini. Aku tidak ingin memberimu ruang untuk pergi lagi. Aku ingin meresmikanmu sebagai calon istriku, sekarang juga, di depan semua orang, di depan publik."
Alice terdiam. Matanya menatap kotak cincin di tangan Julian, lalu beralih ke kegelapan di luar balkon. "Julian, aku mencintaimu. Demi Tuhan, aku ingin dunia tahu kau milikku. Tapi... tidak sekarang. Kumohon, jangan publikasikan ini dulu."
"Kenapa, Al? Kita sudah tidak punya penghalang."
"Rumor Ellena sedang sakit masih sangat kencang, Julian. Fans kalian sedang sensitif. Aku tidak mau kebahagiaan kita dibangun di atas hujatan jutaan orang. Dan Sean... dia belum bisa menerima kenyataan ini. Aku takut keselamatanku dan ketenangan keluargaku terancam jika kita go publik sekarang. Biarlah ini menjadi rahasia suci kita dulu."
Julian menghela napas panjang, lalu mengangguk paham. "Jika itu yang membuatmu merasa aman, aku akan menjaganya."
Julian membimbing Alice turun kembali ke ruang tengah. Di sana, keluarga besar Vane—Ayah, Ibu, bahkan kakek dan nenek Alice—sedang duduk bersantai sambil menikmati sisa kue. Julian berdiri di tengah ruangan, membuat suasana mendadak formal.
"Om, Tante... Kakek, Nenek," suara Julian terdengar lantang namun penuh hormat. "Saya ingin meminta restu kalian. Malam ini, saya telah melamar Alice untuk menjadi tunangan saya. Saya berjanji akan menjaganya dengan cara yang benar, menjaganya dalam jalan Tuhan, dan menjadikannya wanita paling bahagia. Apakah kalian merestui kami?"
Suasana hening sejenak. Sang kakek berdiri, menatap Julian dari atas ke bawah, lalu tersenyum bijak. "Jika kau berjanji untuk membawanya lebih dekat kepada Penciptanya, maka tidak ada alasan bagiku untuk menolak."
"Kami merestuimu, Julian," tambah Ayah Alice sambil bangkit dan memeluk Julian dengan hangat.
Malam itu ditutup dengan doa bersama di ruang tamu. Julian merundukkan kepalanya, merasakan kehangatan keluarga yang selama ini hanya menjadi khayalan baginya.
cemburu bilang /CoolGuy/
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/