Sinopsis Bab
Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah untuk Mengawasi
Setelah makan malam selesai, mereka bertiga keluar dari restoran dengan perut kenyang.
"Taejun, kamu pulang dengan siapa?" tanya Alexey sambil menatap Taejun. "Atau kamu mau ikut ke apartemenku? Nanti aku antarkan dengan mobil."
"Terima kasih banyak, Alexey," ucap Taejun sambil tersenyum tulus. "Tapi aku pulang naik taxi aja. Kalian berdua kan masih mau jalan-jalan. Aku nggak enak ganggu terus..."
"Kalau gitu hati-hati," ucap Haerim dengan nada tulus sambil tersenyum. "Dan makasih banget udah bantu kami tadi."
Mereka pun berpisah di depan restoran. Taejun melambai dan berjalan menuju jalan raya untuk mencari taxi, sementara Alexey dan Haerim kembali menyusuri pinggiran kota dengan langkah santai.
"Kamu mau pergi kemana lagi?" tanya Alexey sambil menatap Haerim yang berjalan di sampingnya.
"Aku mau pulang ke apartemen aja," jawab Haerim sambil menguap pelan. "Udah kenyang nih, jadinya ngantuk banget. Ayo balik yuk..."
Ia menggenggam tangan Alexey dengan manja sambil bersandar sedikit ke lengan pria itu.
Alexey mengikuti kemauan Haerim dan tak lama mereka sampai di apartemen. Haerim langsung berbaring di ranjang dengan wajah lelah.
Alexey menarik selimut dan menyelimuti Haerim dengan lembut.
"Tidur," perintahnya singkat sambil menepuk pelan kepala Haerim.
Saat Alexey berbalik ingin pergi ke sofa, Haerim langsung memanggil.
"Alexey, mau kemana?" tanyanya dengan suara mengantuk sambil mengintip dari balik selimut.
"Aku tidur di sofa," jawab Alexey singkat sambil terus melangkah.
"Eh, tunggu!" seru Haerim sambil langsung bangun dari ranjang dengan cepat. "Kamu yang tidur di ranjang aja! Biarkan aku yang tidur di sofa. Ini kan rumahmu, masa aku yang enak-enakan tidur di kasur?"
Ia melangkah turun dari ranjang dengan tatapan bersikeras.
"Kamu saja yang tidur di ranjang," ucap Alexey dengan nada tegas. "Kalau tidur di sofa, badanmu akan sakit besok. Aku sudah terbiasa."
"Nggak mau!" tolak Haerim dengan keras kepala sambil menggeleng. "Aku tetap mau tidur di sofa! Kamu yang tidur di ranjang, Alexey. Ini rumahmu, aku yang tamu!"
Ia melipat tangannya di dada dengan tatapan bersikeras tidak mau kalah.
"Gadis keras kepala," gumam Alexey sambil tiba-tiba mengendong Haerim ala bridal dengan mudah.
"Eh! Alexey! Turunin!" protes Haerim sambil memukul-mukul dada Alexey pelan.
Alexey merebahkan Haerim di ranjang, lalu ikut berbaring di sampingnya dengan santai.
"Kita tidur sama-sama di ranjang," ucapnya datar sambil menarik selimut menutupi mereka berdua. "Masalah selesai."
Haerim langsung berbalik memunggungi Alexey dengan wajah memerah padam.
" Jangan terlihat kesenangan," batinnya sambil menggigit bibir menahan senyum. " Nanti Alexey besar kepala. Tenang... tenang... jaga image..."
Tapi jantungnya berdegup kencang dan senyum kecil tidak bisa hilang dari bibirnya meskipun ia sudah berusaha keras menutupinya.
Saat tidak mendengar suara Alexey lagi, Haerim penasaran dan memanggil pelan.
"Alexey... kamu udah tidur?" tanyanya dengan suara lirih tanpa berbalik.
"Belum," jawab Alexey singkat dari belakangnya.
Haerim berbalik dan mendapati Alexey sedang termenung menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
"Kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanyanya lembut sambil mengangkat tangannya dan mengelus pipi Alexey dengan penuh perhatian.
"Hari ini kamu hampir terluka karena aku," jawab Alexey dengan nada datar namun terdengar berat. "Bisa jadi ke depannya... kamu akan semakin terseret dalam bahaya kalau terus bersama aku. Aku tidak mau itu terjadi, Haerim..."
Tatapannya masih tertuju pada langit-langit, tidak berani menatap mata Haerim.
Haerim bangun sedikit dan menyandarkan tangannya di dada Alexey sambil menatap wajah pria itu dengan serius.
"Aku nggak takut," ucapnya dengan nada tegas dan penuh keyakinan. "Setelah aku tahu cerita dan keberanian Bibi Seoyon... aku nggak goyah sama sekali tentang apa yang bakal terjadi ke depannya,"
Tatapannya tak berkedip, menunjukkan keseriusan penuh.
Alexey mengusap pipi Haerim dengan lembut sambil menatap matanya dengan intens.
"Kamu sudah mendengar semua ceritanya?" tanyanya dengan nada pelan namun serius.
"Iya, aku udah dengar semuanya dari Mommy," jawab Haerim sambil mengangguk. "Mommy cerita semua yang dia tahu tentang Bibi Seoyon, tentang keluarga Kim, tentang semuanya..."
"Kalau begitu... kamu tahu tentang kecelakaan ibumu kan?" tanya Alexey dengan nada hati-hati sambil masih mengusap pipi Haerim.
Haerim mengangguk tegas sambil menatap mata Alexey dengan tatapan penuh tekad.
"Aku tahu," jawabnya dengan suara bergetar namun kuat. "Tapi itu nggak bikin aku mundur, Alexey. Justru itu jadi semangatku untuk mencari tahu siapa dalangnya. Mereka harus bayar untuk semua yang mereka lakukan..."
Alexey menarik Haerim ke dalam pelukannya dengan erat sambil membenamkan wajahnya di rambut gadis itu.
"Kamu memang sangat keras kepala," gumamnya pelan dengan nada lembut yang jarang ia tunjukkan.
"Aku harus jadi keras kepala," jawab Haerim sambil membalas pelukan Alexey dengan erat. "Kalau nggak... aku nggak bisa bertahan di duniamu, Alexey"
Mereka kemudian tidur bersama dalam pelukan erat, Alexey yang biasanya sulit tidur kini terlelap sedikit lebih tenang setelah mendengar semua perkataan Haerim.
Sementara itu di kediaman keluarga Kim, Junhwan masuk ke dalam rumah dengan emosi meluap-luap. Wajahnya masih merah padam penuh amarah.
Kim Hwaran yang duduk di ruang keluarga dengan teh hangatnya, menatap cucunya dengan tatapan dingin dan penuh perhitungan.
"Apa yang membuatmu begitu?" tanyanya dengan nada dingin namun tajam.
"Aku baru saja gagal memberi pelajaran pada Alexey!" jelas Junhwan sambil napas tersengal dan menggebrak meja. "Dia terlalu kuat! Semua anak buahku kalah!"
Kim Hwaran meletakkan cangkir tehnya perlahan dengan alis terangkat. "Siapa Alexey?" tanyanya dingin.
Jinhwa yang baru saja masuk ke ruangan langsung menyahut dengan nada serius.
"Dia anak kampus yang sekelas dengan Junhwan," jelasnya sambil berdiri di samping Kim Hwaran. "Dan yang paling aneh... dia sangat mirip dengan Kak Seoyon."
"Seoyon..." gumam Kim Hwaran pelan sambil menggenggam cangkir tehnya erat.
"Iya, Ibu," ucap Jinhwa sambil mengangguk. "Aku sudah menyelidikinya. Selain mirip dengan Kak Seoyon, dia juga siswa pindahan dari London. Terlalu banyak kebetulan..."
"Kamu yakin dengan apa yang baru kamu katakan?" tanya Kim Hwaran gelisah sambil menatap tajam Jinhwa.
"Aku baru curiga, Ibu," jawab Jinhwa sambil mengerutkan kening. "Di profil Alexey, dia bukan anak Edward. Dia tercatat sebagai keluarga Liebert anak Thomas Liebert. Tapi kemiripannya dengan Kak Seoyon terlalu kuat untuk diabaikan..."
"Apa yang kalian bicarakan?" sela Junhwan sambil berdiri. "Apa ini tentang sepupuku? Anak dari Bibi Seoyon? Kalau iya, aku nggak akan pernah mau menerima dia!"
"Jangan ikut campur urusan orang tua," ucap Kim Hwaran dingin sambil menatap tajam cucunya. "Pergi ke kamarmu. Sekarang."
Setelah Junhwan pergi, Kim Hwaran menatap Jinhwa dengan tatapan serius.
"Awasi anak itu," perintahnya dingin. "Sebelum kecurigaanku terbukti salah atau benar. Jangan sampai lepas."
"Baik, Ibu," jawab Jinhwa sambil mengangguk. "Aku akan terus mengawasinya."
Setelah Jinhwa menghilang dari hadapannya, Kim Hwaran menatap kosong ke arah pintu—tempat terakhir ia melihat wajah putrinya sebelum mengusirnya bertahun-tahun lalu.
"Andai saja Seoyon tidak jadi pengkhianat..." gumamnya pelan sambil menggenggam cangkir teh lebih erat. "Mungkin sekarang dia sudah menjadi pewaris seluruh kekayaan keluarga Kim."