Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.
Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operator
Padang pasir putih ini tidak terasa seperti pasir. Saat Genta berlutut dan menyentuhnya, butirannya terasa seperti jutaan piksel yang belum dirender sempurna dingin, kering, dan tidak berbau. Langit di atasnya bukan lagi langit Tokyo yang kelabu atau langit Jakarta yang cokelat karena polusi; langit di sini berwarna gradasi dari putih mutlak ke hitam pekat, tanpa ada bintang atau matahari.
Hanya ada satu benda di dunia kosong ini: sebuah pintu lift tunggal yang berdiri tegak tanpa bangunan yang menopangnya. Di atas pintu itu, indikator lantainya tidak menunjukkan angka, melainkan simbol keabadian yang berputar pelan.
"Gila... habis selokan, sekarang padang pasir. Kayaknya saya benar-benar sudah mati," gumam Genta sambil memeriksa kunci inggris emasnya. Kunci itu kini tidak lagi berpendar, namun permukaannya memancarkan cahaya perak yang lembut.
"Kamu tidak mati, Genta. Kamu hanya sedang berada di area 'Maintenance'," sebuah suara terdengar dari balik punggungnya.
Genta berbalik dengan sigap. Di sana, duduk seorang pria paruh baya yang memakai baju montir biru lusuh dengan nama bordiran 'Eko' di dadanya. Pria itu sedang duduk di atas kursi lipat, menyeruput kopi dari termos lama sambil membaca manual teknis yang tebalnya seperti bantal.
"Pak Eko?" tanya Genta bingung. "Bapak... Arsitek yang asli?"
Pria itu tertawa kecil, memperlihatkan gigi yang sedikit kuning karena kopi. "Arsitek? Terlalu keren namanya. Saya cuma Operator, Nak. Tugas saya cuma memastikan mesin realitas ini tetap berjalan, tidak terlalu panas, dan tidak meledak karena kebodohan penggunanya."
Genta mendekat, rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. "Jadi, Konsorsium, Baskoro, Kenji... mereka itu apa?"
"Mereka itu 'User' yang terlalu kreatif," Operator itu menutup bukunya. "Mereka menemukan celah di sistem (exp loi) dan menggunakannya untuk membuat aturan mereka sendiri. Ibaratnya, saya ini yang punya gedung, dan mereka itu penyewa yang seenaknya nambahin partisi ruangan tanpa izin IMB."
Genta duduk di depan pria itu. "Terus kenapa Bapak biarkan? Mereka mengatur nyawa orang, Bapak! Mereka bikin ibu saya hampir celaka!"
Operator itu menatap Genta dengan pandangan yang dalam, seolah dia bisa melihat seluruh garis hidup Genta. "Karena mesin ini butuh konflik untuk menghasilkan energi, Genta. Tanpa sedikit kekacauan, sistem ini akan mengalami 'Data Stag nation'. Manusia butuh masalah agar mereka bisa tumbuh. Tapi... saya akui, Kenji dan Baskoro sudah kelewatan. Mereka mencoba membuat sistem yang sempurna. Dan kesempurnaan adalah cara tercepat untuk membuat mesin ini mati total."
"Makanya Bapak biarkan saya dapat The Shifter?"
"Bukan saya yang kasih. Mesin ini sendiri yang 'memuntahkan' alat itu karena dia merasa ada bagian yang tersumbat. Kamu hanyalah mekanisme pertahanan alami dari alam semesta. Kamu adalah antibodi bagi virus yang bernama kesempurnaan," Operator itu berdiri, lalu menunjuk ke arah pintu lift di belakang Genta.
"Genta, kamu baru saja mematikan Nexus. Kamu memberikan manusia kegelapan agar mereka bisa belajar menyalakan api mereka sendiri lagi. Tapi tugasmu belum selesai. Di dalam lift itu, ada 'Control Panel' utama. Kamu bisa memilih: mengembalikan semuanya ke kondisi semula sebelum ada Konsorsium, atau menghapus sistem ini selamanya dan membiarkan manusia hidup tanpa jaring pengaman sama sekali."
Genta menatap pintu lift itu. "Kalau saya hapus sistemnya, apa yang terjadi?"
"Tidak ada lagi keberuntungan yang diatur. Tidak ada lagi perlindungan dari nasib buruk. Kalau kamu jatuh dari lantai sepuluh, kamu mati. Tidak ada lagi 'kebetulan' yang menyelamatkanmu. Dunia akan menjadi sangat jujur, tapi sangat kejam."
Genta terdiam. Dia teringat Aki yang selalu punya rencana cadangan, Sarah yang selalu curiga pada algoritma, dan dirinya sendiri yang selalu sial namun akhirnya bisa berdiri di sini.
"Kalau saya balikkan ke kondisi semula?"
"Konsorsium baru akan lahir lagi dalam lima puluh tahun. Manusia punya bakat alami untuk mencari penguasa baru saat mereka merasa takut akan ketidakpastian."
Genta berdiri, menggenggam kunci inggris emasnya. Dia berjalan menuju lift itu, tapi dia tidak masuk ke dalamnya. Dia justru jongkok di depan panel kabel yang ada di bagian bawah bingkai pintu lift tersebut.
"Pak Eko," panggil Genta tanpa menoleh.
"Ya?"
"Bapak bilang Bapak itu Operator, kan? Biasanya kalau mesin sudah terlalu tua dan banyak *bug*-nya, solusinya bukan ganti sistem atau balik ke pengaturan pabrik."
"Lalu apa?" tanya Operator itu penasaran.
"Solusinya adalah instal ulang dengan 'Open Source'," Genta mulai membongkar panel kabel itu dengan kunci inggris emasnya. "Saya tidak akan hapus sistemnya, dan saya tidak akan balikkan ke awal. Saya akan bongkar enkripsinya supaya setiap orang punya 'Remote' mereka sendiri di dalam kepalanya."
Operator itu tertegun. "Kamu mau membagikan kekuatan The Shifter ke semua orang? Itu akan jadi kekacauan yang luar biasa, Genta!"
"Kekacauan yang adil," balas Genta sambil menyambungkan kabel emas dari kunci inggrisnya ke sirkuit utama realitas. "Biar tiap orang tanggung jawab sama nasibnya masing-masing. Kalau mau beruntung, ya usaha. Kalau mau sial, ya tanggung sendiri. Tidak ada lagi satu orang yang pegang remotenya."
Percikan cahaya putih keluar dari panel itu. Genta merasakan seluruh tubuhnya seperti dialiri data berukuran peta byte. Dia melihat gambaran seluruh manusia di bumi seorang petani di Jawa, seorang pengusaha di New York, seorang anak kecil di Afrika semuanya tiba-tiba merasakan sensasi hangat di dada mereka. 'Hutang Sial' dan 'Bonus Keberuntungan' global tiba-tiba di-reset menjadi nol.
"Selesai," bisik Genta.
Operator itu tersenyum lebar, dia melipat kursi lipatnya. "Berani sekali kamu, Teknisi. Kamu baru saja membuat pekerjaan saya jadi sepuluh kali lebih sibuk. Sekarang saya harus mengawasi delapan miliar remote kecil di seluruh dunia."
"Anggap saja itu bonus lembur, Pak," Genta berdiri, napasnya tersengal.
"Nah, sekarang waktunya kamu pulang. Sarah dan Aki sudah mulai bosan menunggumu di Tokyo yang gelap," Operator itu menjentikkan jarinya.
Seketika, padang pasir putih itu mulai retak dan hancur seperti kaca. Genta merasa dirinya jatuh menembus lantai, melewati lapisan-lapisan awan, melewati gedung-gedung Tokyo, dan akhirnya mendarat dengan empuk di atas sebuah tumpukan kardus mie instan.
"GENTA!"
Suara Sarah terdengar sangat dekat. Genta membuka matanya. Dia kembali ke ruangan server Seky Tree yang kini gelap total, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk dari jendela besar yang pecah. Kenji sudah menghilang, meninggalkan jas mahalnya di lantai.
"Kamu dari mana saja?! Kamu pingsan selama sepuluh menit!" Sarah memeluknya dengan erat, sementara Aki berdiri di sampingnya sambil menghela napas lega.
"Saya habis ketemu Operator," Genta duduk sambil memegangi kepalanya yang pening. "Dan saya baru saja melakukan modifikasi paling gila seumur hidup saya."
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Aki.
Genta meraba saku celananya. Kunci inggris emas itu sudah hilang, kembali ke asalnya. Namun, saat Genta menatap telapak tangannya, muncul sebuah angka kecil yang hanya bisa dilihat olehnya: [USER: ROOT].
"Saya baru saja memberikan semua orang hak akses untuk memperbaiki hidup mereka sendiri," jawab Genta sambil tersenyum.
Di luar menara, lampu-lampu Tokyo mulai menyala satu per satu. Namun kali ini, polanya tidak lagi simetris dan kaku. Lampu-lampu itu berkedip dengan ritme yang berbeda-beda, organik, dan penuh dengan kehidupan yang tidak terduga.
Genta berdiri, melihat ke arah horison. "Aki, Sarah... ayo kita pulang. Saya rindu Jakarta. Saya rindu bau selokan, saya rindu macetnya, dan saya rindu benerin lift yang nggak pakai sihir."
"Tapi Genta," Sarah menunjuk ke arah ponselnya. "Lihat beritanya. Di seluruh dunia, orang-orang mulai melaporkan kejadian aneh. Ada orang yang bisa nemuin kunci motornya cuma dengan mikirin 'keberuntungan'. Ada yang bisa selamat dari kecelakaan karena mereka merasa punya 'kontrol'. Kamu benar-benar bikin dunia jadi aneh."
"Dunia memang sudah aneh, Sarah. Saya cuma bikin anehnya jadi merata," Genta terkekeh.
Mereka bertiga berjalan keluar dari Seky Tree, melewati sisa-sisa reruntuhan sistem yang pernah mencoba menguasai dunia. Di kejauhan, fajar mulai menyingsing di Tokyo. Ini bukan lagi fajar yang diatur oleh algoritma, tapi fajar yang penuh dengan ketidakpastian yang indah.
Genta menatap tangannya lagi. "ROOT," bisiknya. Dia tahu, petualangannya belum benar-benar berakhir. Karena di dunia yang semua orang punya kendali, tugas seorang teknisi justru menjadi lebih penting dari sebelumnya.
"Ayo," ajak Genta. "Tiket pesawat kita... moga-moga saya bisa 'atur' supaya kita dapat kelas bisnis gratis."
"Nah, itu baru namanya pakai hak akses!" seru Aki kegirangan.
Mereka pun melangkah menuju masa depan yang kini benar-benar ada di tangan mereka sendiri.