NovelToon NovelToon
Love Ribbon

Love Ribbon

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: Marsanda

Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Emang centil

Guru masuk, murid-murid mulai tenang dan zea langsung fokus menyalin catatan dari papan tulis, suasana kelas berjalan normal.

Beberapa menit kemudian, bel istirahat berbunyi nyaring, suasana kelas yang tadinya tenang langsung berubah ramai. Beberapa siswa keluar menuju kantin, sementara sebagian lainnya tetap di kelas sambil mengobrol atau membuka bekal.

Zea masih duduk di bangkunya ketika chacha datang dari kantin membawa dua bungkus roti, angel memutar kursinya dari depan sehingga menghadap ke arah mereka.

Chacha langsung menatap zea dengan wajah penasaran.

"Eh, ze....gue sama angel dari kemarin nyariin lo tau." ujar chacha.

Angel mengangguk cepat. "Iya, gue chat lo berkali-kali tapi nggak dibalas, ditelpon juga nggak diangkat, lo ke mana sih?"

"Biasanya lo nggak pernah susah dihubungin deh." kata chacha.

Zea menghela napas pelan. "Sorry.…kemarin ponsel gue lowbat."

Angel mengerutkan alis. "Lowbat doang sampai nggak bisa dihubungin seharian?"

Zea menggeleng pelan. "Nggak cuma itu....kemarin juga ada kejadian."

"Kejadian apa?" tanya chacha, ia langsung menatap zea serius.

"Pak rio kecelakaan." jawab zea.

Chacha yang sedang membuka bungkus roti langsung berhenti. "Hah? kecelakaan?"

"Serius? sopir lo itu kan?" tanya angel yang terlihat kaget juga.

Zea mengangguk. "Iya, kemarin sore."

"Terus gimana kondisinya sekarang?" tanya chacha.

Zea menjawab dengan suara tenang. "Tangan kirinya patah....tapi kata dokter nggak terlalu parah, sekarang masih dirawat di rumah sakit."

Angel menghela napas lega. "Syukurlah kalo nggak parah."

Chacha ikut mengangguk. "Terus mobilnya gimana?" tanya chacha.

"Cuma lecet sama penyok dibagian samping." kata zea.

"Tapi masih bisa diperbaiki." lanjutnya lagi.

Chacha bersandar di kursinya. "Pantesan lo nggak bisa dihubungi, ponsel lowbat ditambah lagi ada kecelakaan begitu."

Angel lalu menatap zea lagi. "Jadi kalo pak rio kecelakaan, terus kemarin lo pulang sama siapa?"

Zea sedikit ragu sebelum menjawab. "Gue....dianter pulang."

"Dianter? Sama siapa?" tanya chacha spontan, ia langsung menoleh cepat.

"Iya nih, nggak mungkin kan kalo kak raka, soalnya pasti kak raka ngejemput bukan nganter." timbal chacha.

Zea menatap mereka sebentar lalu berkata pelan. "Kak leo."

Chacha langsung melotot. "Tunggu….kak leo?"

Angel bahkan hampir tersedak minumannya. "Serius kak leo?" tanyanya.

Zea mengangguk pelan sedangkan chacha hampir terjungkal dari kursi bahkan matanya melebar. Angel menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah chacha yang sedikit ceroboh.

Angel menatap zea tidak percaya. "Serius….kak leo yang nganterin lo pulang?" tanya angel sekali lagi, memastikan.

Zea mengangguk kecil. "Iya."

Chacha langsung mencondongkan tubuh ke depan. "Gue nggak salah dengar kan? kak leo? leo yang itu? yang biasanya dingin kayak kulkas 7 pintu?"

Zea memutar matanya. "Iya chacha maricah." jawabnya.

Angel menggeleng pelan sambil tertawa kecil. "Setahu gue dia paling anti banget mau repot buat orang lain, apalagi nganterin cewek pulang."

Zea hanya mengangkat bahu kecil. "Gue juga kaget kemarin."

Angel lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil berpikir. "Tapi kalo dipikir-pikir….

Chacha langsung menoleh. "Apa?"

Angel melanjutkan pelan. "Gue perhatiin sejak lo mulai mutusin buat ngejauh dari kak leo….dia tuh kayak agak beda."

"Iya! gue juga ngerasa gitu." chacha langsung mengangguk cepat.

Zea mengangkat alis sedikit. "Maksud lo berdua?"

Chacha mengetuk meja pelan.

"Biasanya balok es itu cuek super cuek ze! tapi akhir-akhir ini gue perhatiin dia kayak....curi-curi pandang terus ke arah lo."

Zea terdiam sebentar mendengar itu lalu ia menunduk sedikit, memainkan tutup botol minumnya.

"Tapi….gimana kalo kak leo nggak suka sama gue?"

Chacha langsung menaikkan alis, zea menghela napas dramatis.

"Gimana kalo selama ini dia cuma mikir, ‘ya ampun….kenapa sih ada cewek yang nempel terus ke gue?' dan disini gue udah baper duluan." kata zea dengan nada sedikit centil seperti biasanya.

Angel langsung tertawa, chacha menutup mulutnya menahan tawa, sementara zea melanjutkan dengan wajah yang sedikit cemberut.

"Dan mungkin sekarang kak leo senang karena akhirnya gue berhenti ngejar dia." kata zea.

Angel menggeleng sambil tertawa kecil. "Zea….imajinasi lo kejauhan."

Zea menyandarkan dagunya di meja dengan gaya manja. "Ya kan bisa aja….mungkin selama ini kak leo mikir gue terlalu centil."

Chacha langsung menimpali dengan nada bercanda. "Lah, lo kan emang centil sama dia kocak."

Zea langsung menatapnya dengan mata melebar. "Eh! itu strategi, tau!"

Angel tertawa lagi. "Strategi apaan?" tanyanya.

"Ya biar dia notice gue." jawab zea dengan wajah polos dan nada centilnya.

Chacha menepuk meja sambil tertawa. "Gue nggak kuat….strategi katanya."

“Iya cha! tapi tetap aja….gue penasaran." kata zea sambil tersenyum kecil.

Chacha mengangkat alis. "Penasaran apa?"

Zea menatap ke arah jendela kelas. "Gue jadi kepikiran, kak leo benar-benar mulai peduli sama gue....atau kemarin cuma kebetulan doang." katanya.

Angel menepuk bahu zea pelan. "Makanya….tetap jaga jarak dulu."

Chacha ikut mengangguk. "Kita liat….kak leo bakal cari lo lagi atau nggak."

Zea tersenyum tipis. "Iya."

Suasana kelas masih dipenuhi tawa kecil setelah percakapan mereka. Zea menunduk sambil memainkan tutup botol minumnya, sementara chacha dan angel sesekali masih menertawakannya.

Namun tiba-tiba pintu kelas terbuka, beberapa siswa yang duduk di dekat pintu langsung menoleh dan dalam hitungan detik suasana kelas langsung berubah heboh.

"KAK SONY!" teriak salah satu siswa.

"ADA KAK DIGO JUGA." sahut yang lain.

Sorakan kecil langsung terdengar di seluruh kelas, tiga cowok masuk dengan langkah santai. Yang paling depan sony, seragamnya rapi dengan badge OSIS terpasang jelas di lengannya. Memang sudah bukan rahasia lagi kalau sony salah satu anggota OSIS yang cukup aktif di sekolah.

Di belakangnya ada digo, entahlah....cowok itu sebenarnya bukan anggota OSIS, tapi hampir selalu terlihat ikut ke mana-mana kalau sony sedang mengurus kegiatan sekolah. Dan yang paling belakang bayu teman anggota OSIS sony, dan cowok itu membawa setumpuk formulir di tangannya.

Begitu mereka bertiga masuk, kelas langsung ribut penuh kagum.

"Gila….kak sony ke kelas kita." teriak salah satu teman cewek dikelas zea.

"Kak digo juga ikut."

"Sayang nggak ada kak leo sama kak dani."

"Kak bayu bawa apa tuh?"

Beberapa siswi bahkan terlihat langsung merapikan rambutnya. Di sekolah hampir semua siswa memang tahu lingkaran pertemanan leo, sony, digo, dan dani. Mereka selalu jadi pusat perhatian, baik oleh adik kelas maupun teman seangkatan.

Namun di tengah kegaduhan itu, zea, chacha dan angel justru terlihat biasa saja. Chacha hanya melirik sebentar dan didepannya angel menyandarkan punggung ke kursi dengan santai, sementara zea ia juga hanya melihat sekilas lalu kembali menatap meja.

Di depan kelas, sony menepuk meja guru pelan untuk menarik perhatian. "Oke, diam dulu." katanya.

Suasana kelas perlahan mereda, meskipun beberapa siswa masih terlihat antusias. "Kita cuma mau bagiin formulir pendaftaran OSIS buat kalian yang tertarik." lanjut sony dengan santai.

Bayu mengangkat setumpuk kertas di tangannya. "Yang mau daftar, nanti bisa diisi dan dikumpulin ke ruang OSIS minggu ini."

Digo berdiri di samping mereka sambil melipat tangan, hanya mengamati kelas dengan senyum kecil jelas terlihat dia di sini hanya ikut membantu sony dan bayu saja.

Sony menoleh sedikit ke belakang. "Ayo! kita bagiin sekarang."

Bayu langsung berjalan menyusuri barisan meja sambil membagikan formulir dan digo juga ikut membantu, meskipun tanpa badge OSIS di lengannya.

Sorakan kecil masih terdengar di beberapa sudut kelas, ketika digo sampai di meja zea, chacha, dan angel, dia meletakkan tiga lembar formulir di meja mereka.

"Ini! jangan lupa daftar ya." ujar digo sambil menampilkan senyum manisnya kepada mereka terutama kepada chacha.

Chacha langsung mengambilnya. "Thanks."

"Makasih kak." kata zea.

Digo hanya mengangguk kecil sebelum berjalan lagi dan chacha hanya menatap sekilas isi formulir itu lalu melirik ke arah depan kelas tempat sony berdiri.

"Buset….kelas kita kayak kedatangan selebriti." bisiknya.

Angel tertawa kecil. "Biasa aja kali."

Chacha berbisik lagi. "Lo liat tadi? anak-anak langsung heboh."

Angel mengangkat bahu tanpa menjawab.

Di sana sony sudah selesai menjelaskan. "Formulirnya udah dibagikan, yang berminat silakan diisi." katanya.

"BAIK KAK!" ujar seluruh siswa dikelas tersebut.

Setelah itu, ketiga cowok tersebut melangkah keluar dari kelas.

"Oke, kita lanjut ke kelas lain." kata sony.

Begitu pintu tertutup, kelas kembali ramai oleh suara siswa yang membicarakan mereka.

"Gila….kak digo tadi lewat sini."

"Kak sony tinggi banget tadi."

Chacha menoleh ke zea sambil mengangkat formulir OSIS itu.

"Ze...."

Zea langsung curiga. "Apa?"

Chacha menyeringai jahil. "Masuk OSIS yuk."

Angel langsung menahan tawa sementara zea, ia menyipitkan matanya.

"Cha….jangan mulai lagi."

Chacha mengangkat alis. "Siapa tau nanti lo sering ketemu kak leo disana."

Zea langsung menatapnya tajam. "CHA."

Chacha tetap tersenyum nakal. "Serius, lo bayangin deh, kalo lo jadi anak OSIS pasti sering ke ruang OSIS kan?"

"Dan biasanya kak sony pasti ada di sana." lanjut chacha dengan nada penuh arti.

Angel ikut menambahkan sambil tersenyum kecil. "Kalo kak sony ada....biasanya kak digo juga nongkrong disana."

Chacha menepuk meja pelan. "Dan kalo kak digo ada…."

"....kak leo juga ada." angel melanjutkan dengan santai.

Zea langsung menatap mereka berdua tajam. "Eh! bukannya waktu itu lo berdua yang nyuruh gue ngejauhin kak leo?"

Chacha langsung tertawa. "Iya, iya! makanya sekarang lo nggak perlu ngejar-ngejar lagi."

Angel mengangguk. "Biar dia yang notice sendiri."

Zea menyandarkan dagunya ke tangan sambil mendengus pelan. "Kalo kak leo malah makin cuek gimana?"

Chacha mengangkat bahu. "Ya berarti dia buta."

Angel tertawa kecil. "Atau terlalu gengsi."

"Kalo dia seneng gue ngejauhin dia....gimana?" tanya zea sambil memutar pulpen di tangannya.

Angel dan chacha saling pandang sebentar dan seketika mereka berdua menyeringai, lalu chacha langsung menyenggol lengan zea.

"Ya udah."

Zea menoleh. "Apa?"

Chacha menunjuk zea dengan dramatis. "Kita liat aja….siapa yang bakal tahan duluan."

Angel langsung tertawa kecil. "Lo yang balik ngejar....atau kak leo yang mulai nyariin."

Bersambung

1
syahsari
zea emang ga waras sih😭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!