(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)
Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa aman
Marco mengusap pipi Rania yang masih tertidur pulas karna kelelahan, selimut menutupi tubuh keduanya, Marco menyibak sedikit rambut Istrinya lalu mencium kening Rania sedikit lama.
Sejak kecil Marco tidak suka sentuhan fisik dengan lawan jenis nya, bahkan dengan Mommy nya sendiri ia tidak suka, Marco tumbuh menjadi anak yang dingin dan Jauh.
Sejak ia remaja Marco tidak pernah tertarik dengan lawan jenis nya, bukan satu dua orang yang datang padanya bahkan rela merendahkan diri mereka untuk dilirik oleh nya, namun tidak satupun dari mereka berhasil menarik perhatian Marco.
Namun saat ia pertama kali melihat Rania, wanita itu berhasil menarik perhatian nya, bukan karna fisik nya, bukan pula karna paras nya, Marco sendiri juga tidak tau kenapa matanya tidak pernah bisa beralih dari Rania, saat Rania menyiapkan pakaian kerja nya dan memasangkan dasi nya, saat itu Marco tau satu hal pasti, ia menyukainya Rania, atau mungkin cinta, saat Rania menyentuh nya ia tidak menjauh, tidak menolak tidak menepis seperti biasa yang ia lakukan.
Justru tubuhnya ingin lebih dari sekedar sentuhan Rania dan Marco akan melakukan cara apapun untuk tetap menahan Rania disisinya, bahkan jika dia harus menghabisi nyawa seseorang sekaligus akan ia lakukan.
Rania menggeliat dan bergerak membelakangi Marco selimut nya sedikit tertutup membuat punggung belakang nya terekspos.
...Sumb by: pinterest...
Marco terkekeh dan mendekat, ia memeluk Rania erat dari belakang mencium tengkuk Rania dan kembali memejamkan matanya, akhirnya Marco ikut tertidur menyusul istrinya kedalam mimpi.
Matahari sudah sangat tinggi, Rania melenguh menggerakkan tangan nya lalu berbalik dan saat ia membuka mata, pertama kali yang ia lihat adalah wajah tampan Marco yang masih terlelap disamping nya tangan Pria itu masih memeluk pinggangnya erat.
Rania menatap setiap sudut dan garis wajah Marco, pria ini benar-benar tampan, mata tajam nya yang lebih lembut saat tidur, alis tebal dengan lengkungan alami, rahang tegas, hidung mancung dan bibir ..... Sial yang seksi.
Seumur hidup Rania ia tidak pernah bermimpi akan menikahi pria tampan dan kaya ini, namun ia juga tidak pernah bermimpi akan dicintai seperti ini.
Rania berbaring terlentang menatap platform kamar, dulu ia menikahi pria yang ia cintai bukan yang mencintai nya. Sebelum menikah dan saat masih berpacaran Rania sudah sering diselingkuhi dan terkadang mantan suaminya tidak segan menjambak rambutnya. Namun Rania terus menutup mata karna ia mencintai mantan suaminya dengan sangat dalam.
Hingga saat Rania menikah mantan suaminya semakin menjadi, berselingkuh dengan wanita di kantornya, dan tidak segan melakukan kekerasan pada nya, jika saat pacaran hanya menjambak, setelah menikah mantan suaminya tidak ragu menendang dan memukul Rania seperti binatang, lebam, sakit dan remuk di seluruh tubuhnya sudah menjadi makanan nya setiap hari, bahkan anak-anak nya juga terkena imbas nya, mereka dipukul tanpa pandang bulu termasuk anak nya yang masih bayi.
Selama hamil tubuh Rania berubah drastis menjadi lebih berisi lalu gemuk, dan itu semakin membuat mantan suaminya tidak memiliki selera lagi menatap nya, dan semakin menjadi-jadi melakukan kdrt padanya.
Hampir 10 tahun pernikahan nya tidak pernah sekalipun Rania merasa dicintai, hingga kelahiran anak kedua nya, mantan suaminya semakin terang-terangan berselingkuh dan memukuli Rania tanpa sebab.
Tepat saat anak nya berusia 1 tahun Rania melawan saat dipukuli tanpa sebab, ia sebelumnya ia sudah menitipkan kedua anak nya kerumah orang tua nya. Rania meledak, ia marah, menangis dan melawan mantan suaminya namun itu tidak melembutkan hati mantan suaminya justru Rania hampir mati saat itu jika bukan karna ayah nya yang datang dan langsung memukuli mantan suaminya mungkin Rania mungkin tidak akan bisa melihat anak-anak nya lagi.
Akhirnya Rania mengajukan gugatan cerai, awalnya mantan suaminya tidak menerima dan marah namun karna ditekan dan dipaksa akhirnya mereka berhasil bercerai.
Rania segera menghapus airmata nya namun tiba-tiba pelukan Marco semakin erat di pinggang nya, Marco bergeser semakin dekat dan membenamkan wajahnya dileher Rania pria itu tampak nyaman dan lelap saat tidur.
perlahan Rania mengangkat tangannya menyentuh rambut Marco dan mengusap nya pelan, Marco semakin membenamkan wajah nya lebih dalam dan pelukan nya semakin erat.
Rania terus mengusap rambut Marco pelan namun seketika tubuhnya membeku, Rania menelan ludah nya kasar, ia mengangkat selimut dan melihat kedalam matanya melotot lalu dengan cepat menutup selimut itu, ia mencoba mendorong Marco menjauh namun pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya. Sial meski Rania sudah melihat nya berkali-kali tapi ia tetap merasa ngeri melihat ukuran adik Marco itu, pantas saja ia tidak bisa bangun dari tempat tidur.
"Sayang..." panggil Marco serak, perlahan ia membuka matanya dan menatap wajah Rania.
Rania menunduk melihat wajah Marco. "aku disini" jawab Rania.
Marco tersenyum, senyum yang tidak pernah ia perlihatkan pada siapapun hanya pada Rania. Rania secara refleks menyentuh wajah Marco lalu bibir pria itu.
Marco menggenggam tangan Rania dan mencium telapak tangan istrinya itu.
----
Hari menjelang sore Rania sudah rapi dengan pakaian nya, Marco juga rapi dengan kemeja dan celana kain nya.
Mereka berdua keluar dari kamar, Marco berjalan disamping Rania tangan kekar nya memeluk posesif pinggang Rania sekaligus untuk menahan tubuh Rania agar tidak jatuh karna tadi saat Rania bangun untuk mandi ia terjatuh terduduk karna lakinya gemetar dan lemah untuk berdiri.
Saat mereka tiba diruang tamu, tubuh Rania mematung melihat Vika yang baik-baik namun bukan itu fokus Rania melainkan anak dipangkuan Vika dan yang berdiri disamping Vika.
Anak pertama nya Vano, berlari menghampirinya dan langsung memeluk Rania erat.
"Bundaaa" ujar Vano memeluk erat sang Ibu.
Rania membalas pelukan putranya erat, air matanya jatuh, Rania melepaskan pelukannya dan menangkup wajah putra nya mencium seluruh lekuk wajah putra nya.
"B-bagaimana kalian bisa disini nak?" tanya Rania dengan suara bergetar.
Vano tersenyum lalu menunjuk kearah Jerry tangan kanan Marco.
"Paman itu yang menjemput Vano dan adik Bunda, katanya bunda yang ngirim paman buat jemput kami" jawab Vano.
Rania langsung menatap Marco, namun wajah pria itu tampak muram dan dingin.
"Kau menyuruh nya?" tanya Rania.
"Kau tidak mencium ku seperti itu, Sayang" ujar Marco dingin. Rania terdiam ah jadi wajah muram dan dingin itu Marco cemburu.
Vika mendekat Rania langsung menggendong putrinya memeluknya erat.
"Mereka akan tinggal disini, bersama kita" ujar Marco mencubit pipi Cantika anak kedua Rania.
Cantika tersenyum memperlihatkan beberapa gigi susu nya. tangan gadis kecil itu terulur kearah Marco membuat Rania dan Vika tertegun.
Marco menerima uluran tangan itu dan menggendong Cantika kedalam pelukannya seolah merasa aman bocah kecil itu menyandarkan kepalanya di dada Marco.
Rania menatap Marco lama, putrinya merasa nyaman dan aman dipeluk kan Marco, Rania takut jika Marco tidak akan menerima anak-anak nya, namun melihat putrinya yang merasa aman dalam pelukan Marco. Rania kembali bertanya pada hatinya. Apakah ia diberi kesempatan kedua untuk memulai hidup baru lagi? Tapi Marco terlalu berbahaya dan kejam, ia tidak ragu untuk membunuh, Rania takut keselamatan anak nya terancam apalagi ia tidak tau pekerjaan apa yang dilakukan Marco, ia hanya tau Marco seorang pengusaha, namun Rania yakin Marco memiliki kerja lain apalagi ia memiliki pistol.