NovelToon NovelToon
Kultivator Sistem

Kultivator Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Perperangan / Fantasi Timur / Transmigrasi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Reinkarnasi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fandi Pradana

Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.

Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.

Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.

Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.

Ci Lung hanya ingin hidup normal.

Masalahnya…

Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelombang Pertama

Pasar Timur Kota Han bukan tempat penting.

Biasanya.

Pasar itu cuma deretan kios kayu tua, atap miring, dan pedagang yang lebih sering mengeluh daripada tersenyum. Bau akar kering, daun pahit, dan bubuk mineral bercampur di udara. Kultivator pemula datang untuk beli pil penguat stamina. Penduduk biasa beli obat batuk. Tidak pernah ada yang benar-benar luar biasa terjadi di sana.

Sampai tiga hari setelah seorang pria berjubah hitam membeli obat penenang jiwa dalam jumlah besar.

Awalnya tidak ada yang sadar.

Hari pertama, hanya satu rak kosong.

Hari kedua, pil penstabil kesadaran ikut habis.

Hari ketiga, harga naik dua kali lipat. Dan tetap laku.

“Aneh,” gumam seorang apoteker tua sambil menghitung ulang stoknya yang hampir nol. “Ini obat buat kasus khusus. Bukan buat pemula. Bukan buat orang biasa.”

Seorang kultivator dari sekte kecil Awan Hijau berdiri di depannya. Wajahnya belum matang, tapi sorot matanya waspada. “Siapa yang beli?”

Apoteker itu mengerutkan dahi, mencoba mengingat. “Satu orang. Datangnya sore. Jubah hitam biasa. Nggak ada lambang sekte. Tangannya gemetar waktu bayar.”

“Gemetar karena luka dalam?”

“Bukan.” Si apoteker menggeleng pelan. “Kayak orang yang nahan sesuatu.”

“Lalu auranya?”

Jawaban itu datang lebih pelan.

“…Kosong.”

Ruangan kecil itu langsung terasa sesak.

Kosong?

Obat tingkat tinggi biasanya dibeli oleh kultivator yang mengalami gangguan jiwa akibat deviasi qi. Orang dengan fondasi kuat. Orang dengan tekanan energi besar.

Bukan orang dengan aura kosong.

Berita itu menyebar cepat. Dari kios ke kedai teh. Dari pedagang ke murid sekte. Dari murid ke tetua.

Sore harinya, paviliun sekte kecil Awan Hijau mengadakan rapat darurat.

“Zona hitam di Lembah Barat makin aktif,” lapor seorang murid pengintai. “Binatang buas menjauh. Burung tidak melintas. Bahkan pemburu liar memilih rute memutar.”

“Tiga iblis kecil yang biasa muncul di sana menghilang tanpa jejak,” tambah yang lain.

Tetua berambut abu-abu menutup matanya perlahan. “Dan sekarang obat jiwa habis dari pasar.”

Tak seorang pun menyebut nama.

Karena memang tidak ada nama resmi.

Hanya satu julukan yang beredar pelan—dibisikkan seperti tabu.

Penunggu Lembah.

Tidak ada yang pernah melihatnya secara jelas. Tidak ada yang tahu level kultivasinya. Tidak ada aura menekan. Tidak ada tanda kekuatan.

Dan justru itu yang membuatnya mengerikan.

Jika aura besar terasa seperti gunung, maka aura kosong terasa seperti jurang tanpa dasar.

Dua orang dipilih untuk menyelidiki.

Bukan elit.

Bukan tetua.

Bukan murid dalam.

Hanya murid luar tingkat rendah.

Alasannya sederhana:

Jika mereka mati, kerugiannya kecil.

Jika mereka selamat, informasinya cukup.

Tugasnya satu: melihat dari jauh.

Mereka berangkat saat matahari condong ke barat. Perjalanan menuju Lembah Barat memakan waktu setengah hari. Sepanjang jalan, suasana terasa tidak biasa. Angin tidak kencang, tapi dedaunan jarang bergesek. Bahkan suara serangga terdengar lebih jauh dari biasanya.

Ketika mereka sampai di pinggir lembah, matahari hampir tenggelam.

Kabut menggantung rendah.

Udara tidak berat.

Tidak ada tekanan qi.

Tidak ada gelombang energi.

Justru itu yang membuat tengkuk mereka merinding.

“Aura… kosong,” bisik salah satu dari mereka. “Aku nggak ngerasain apa-apa.”

Temannya melangkah satu langkah.

Lututnya langsung terasa lemas.

Bukan karena tekanan.

Bukan karena ancaman nyata.

Tapi insting.

Insting purba yang lebih tua dari teknik kultivasi apa pun.

“Kalau kita maju satu langkah lagi…” suaranya parau, “…aku ngerasa kita bakal mati.”

“Dibunuh?”

Ia menggeleng.

“Dihapus.”

Mereka berdiri lama di sana. Angin pelan menyentuh wajah mereka. Tidak ada suara. Tidak ada sosok misterius muncul dari kabut.

Tapi jantung mereka berdetak terlalu keras.

Mereka tidak melihat bangunan kayu tua yang tersembunyi di balik pepohonan.

Tidak melihat Ci Lung yang sedang duduk memandangi api kecil.

Tidak melihat Yan Yu yang memotong kayu dengan teknik yang terlalu presisi untuk murid biasa.

Mereka hanya merasa.

Dan perasaan itu cukup.

Perlahan, dengan gerakan yang hampir seperti memberi hormat, mereka mundur.

Qi di tubuh mereka bergetar sendiri saat menjauh, seperti seseorang yang baru saja selamat dari tepi jurang.

Malam itu, laporan disampaikan.

“Lembah itu… bukan tempat untuk diselidiki,” kata mereka dengan suara gemetar.

“Ada tekanan?”

“Tidak.”

“Ada formasi?”

“Tidak terlihat.”

“Lalu kenapa mundur?”

Murid itu menelan ludah.

“Karena… tidak ada yang perlu menyerang kami.”

Sunyi panjang memenuhi ruangan.

Zona itu langsung ditandai ulang dalam peta sekte.

Tingkat Bahaya: Absolut.

Akses: Dilarang tanpa izin khusus.

Kabar itu menyebar lebih cepat dari api.

Sekte lain mulai mendengar. Aliansi regional mulai memperhatikan. Beberapa menganggap itu gertakan. Beberapa menganggap itu ancaman tersembunyi.

Spekulasi lahir.

Mungkin ada kultivator tua yang menyembunyikan diri.

Mungkin ada ahli formasi ilusi tingkat tinggi.

Mungkin ada entitas yang bahkan bukan manusia.

Tidak ada yang tahu.

Dan karena tidak tahu—tidak ada yang berani bergerak duluan.

Sementara itu, di dalam lembah—

Ci Lung sedang mencuci panci dengan ekspresi lelah.

Airnya dingin. Sabunnya hampir habis. Tangannya masih sedikit gemetar.

“Guru,” Yan Yu jongkok di sampingnya, “kenapa tadi ke pasar jauh-jauh?”

Ci Lung berhenti sebentar.

Karena… ada yang gak bisa diberesin sendirian.

Ia tidak mengatakan tentang malam-malam ketika pikirannya seperti ditarik ke jurang gelap. Tidak mengatakan tentang suara halus yang muncul saat ia terlalu lama berkultivasi. Tidak mengatakan tentang rasa kosong yang kadang terasa terlalu dalam.

Ia hanya berkata, “Karena… ada yang nggak bisa diberesin sendirian.”

Yan Yu mengangguk pelan. “Ohhhh.”

Beberapa detik hening.

“Guru takut?”

Ci Lung nyengir miring. “Banget.”

Yan Yu terdiam, memproses jawaban itu.

“Tapi Guru tetap pergi.”

Ci Lung menatap air di panci. Pantulannya terlihat biasa. Terlalu biasa untuk seseorang yang disebut-sebut sebagai ancaman absolut.

“Iya.”

Tidak ada petuah bijak.

Tidak ada filosofi panjang.

Tidak ada aura besar menyembur ke langit.

Hanya panci, air, dan dua orang di lembah sunyi.

Tapi Yan Yu mengingatnya.

Di luar lembah, dunia mulai bergerak.

Bukan dengan pedang.

Bukan dengan pasukan.

Tapi dengan ketakutan.

Dengan perhitungan.

Dengan keputusan diam-diam untuk tidak menyentuh sesuatu yang tidak bisa dipahami.

Aliansi Murim menunda ekspansi ke wilayah barat.

Sekte kecil memperketat pengawasan wilayahnya.

Pedagang menaikkan harga obat jiwa lebih tinggi lagi.

Dan semua sepakat pada satu hal:

Selama Penunggu Lembah diam,

mereka juga akan diam.

Karena dalam dunia kultivasi—

Yang paling berbahaya bukanlah yang paling keras.

Melainkan yang tidak menunjukkan apa pun.

Kabut di Lembah Barat tetap menggantung rendah malam itu.

Tidak ada ledakan qi.

Tidak ada duel besar.

Tidak ada deklarasi perang.

Hanya sunyi.

Dan di balik sunyi itu—

Dunia menahan napas.

Karena mereka sadar—

Ini baru gelombang pertama.

1
Arifinnur12
Udah aku kasih kopi tor updet yang banyak dong😄
Tio Da Vinci: Wah makasih yaaa😄
total 1 replies
Arifinnur12
Thor author up thorr up up upp tanggung banget ah, aku kasih kopi nanti biar semangat🤣👍💪
Tio Da Vinci: sabar sabar saya juga manusia😭
total 1 replies
Shelia_:3
Sumpah si ini bagus menurut aku, novelnya murim tentang ritme, tentang ketenangan yang lebih nakutin daripada perang, kebanyakan salah paham juga😭, terus buat kalian yang baca tapi kesannya monoton, tunggu sampe kalian masuk ke bab 20 an seru banget disitu Ci lung jadi op anjay😭
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠
Tio Da Vinci: Makasih yahh😊🕊
total 1 replies
Arifinnur12
Mungkin authornya lagi pusing🤣, saya udah baca yang bab 13 atau berapa tadi yan yu udah naik kultivasinya ke layer 3, terus pas baca bab 15 ini tetep di layer ke 2 atau keberapa gitu, semangat thor ceritanya bagus😄👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!