NovelToon NovelToon
Apa Adanya Peno

Apa Adanya Peno

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Imam Setianto

Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.

Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.

Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Kini Peno dan Mikel sudah duduk berhadapan, didepan mereka bidak catur sudah tertata rapih, tak ada suara, tak ada senyuman, tak ada aura keakraban yang terpancar dari keduanya.

Bel berbunyi, permainan dimulai, kini giliran Mikel jalan pertama dengan bidak putihnya, dan situasinya pun sama seperti set pertama, baru saja Mikel memajukan pion pertamanya dan memencet tombol, Peno langsung saja dengan cepat memajukan pionnya juga.

Kali ini Peno benar benar menyerang pertahanan Mikel tanpa ampun, tanpa memberi kesempatan Mikel untuk berfikir, alhasil hanya drngan hitungan waktu tiga puluh menit saja Peno sudah mengalahkan Mikel, dan Peno pun menjadi juara turnamen catur tingkat kabupaten.

"hahayyyyy, akhirnya si Peno juara juga!" ucap Dimin kegirangan.

"yessssss,, lima juta!" pekik Eko.

"memang luar biasa bocah itu!" kata pak Supri sambil geleng geleng dan tersenyum lebar.

"jagoan kita akhirnya juara, yessss!" ucap Maman.

"kita harus siap siap mengawal ke propinsi pak Supri!" kata pak Basuki dan diangguki oleh pak Supri.

Penyerahan hadiah berupa tropi dan uang pembinaan pun langsung dilaksanakan malam ini juga, sebagai juara satu Peno mendapatkan tropi, piagam dan uang pembinaan sebesar lima juta rupiah dari panitia, dan selanjutnya akan maju ketingkat propinsi mewakili kabupaten yang akan dilaksanakan bulan depan.

"kalian pulang naik apa?" tanya pak Seupri setelah acara penyerahan hadiah selesai dan melihat Peno dengan teman temannya akan pergi meninggalkan GOR.

Peno menghentikan langkahnya, begitu juga keempat temannya, "jalan kaki pak, tadi pagi kami juga jalan kaki!" jawab Peno saat badannya sudah berbalik menghadap pak Supri.

"jalan kaki!?" ucap pak Supri dan pak Basuki hampir bersamaan, kaget bercampur haru dan juga kasihan mendengar jawaban Peno.

"iya pak, kami japan kaki!" ucap Maman menambahi.

"ini sudah malam, bahaya kalau kalian jalan kaki, apalagi bawa uang banyak seperti itu, apa ga sebaiknya nginep saja dulu!" kata pak Basuki memberi saran.

"engga pak, kami pulang saja, kalau nginep kami juga ga bawa ganti, dan kami juga sudah pengin ketemu sama orang rumah!" jawab Peno menolak saran oak Basuki.

"apa hadiahnya kita titipkan ke pak Supri saja No, nanti jadi kita jalannya tidak kawatir!?" usul Maman.

"ah, benar juga kamu Man, pak Supri aku titip hadiah ya, besok pagi aku ambil dirumah pak Supri!?" kata Peno.

"ya wis sini, kalian hati hati dijalannya, besok aku yang antar hadiahnya kerumahmu, tapi aku tahunya rumah mbah Patma!" ucap pak Supri.

"dirumah mbah Patma juga gapapa pak, besok saya nunggu disana!" jawab Peno lalu mengajak teman temannya berjalan setelah mengucap salam dan terimakasih tentunya.

Berlima jalan kaki menyusuri jalanan sambil ngobrol dan kadang bercanda untuk mengalihkan rasa lelah mereka, jalan raya yang gelap dan sepi, hanya sesekali ada kendaraan bus atau truk yang melintas yang membuat jalan menjadi terang.

"kita mampir beli air dulu No!" ucap Maman.

"oke, beli air dua botol yang besar, sekalian sama rokok dan cemilan Man!" jawab Peno.

Mereka pun mampir kewarung pinggir jalan yang masih buka membeli air mineral dua botol besar, rokok dua bungkus dan beberapa roti buat mengganjal perut, hanya sebentar mereka berhenti lalu melanjutkan perjalanannya lagi.

Saat mereka sampai dijalan yang kanan kirinya hanya bentangan persawahan tiba tiba sebuah mobil sedan berhenti didepan mereka, lima orang turun dengan pakaian sangar serba hitam dan rambut yang rata rata gondrong.

"itu dia orangnya!" ucap salah satu orang dari belakang lima orang tersebut, dan setelah mendekat Peno paham siapa mereka.

"ooh si Mikel, ada apa!?" ucap Peno santai.

"jangan banyak omong, cepat hajar dia!" bukanya menjawab pertanyaan Peno Mikel malah menyuruh orang orang yang datang bersamanya untuk menghajar Peno.

"woiii, masalahnya apa main hajar hajar saja!" bentak Maman yang ikut maju dan kini bersebelahan dengan Peno.

"kamu jangan ikut campur, ini masalahku drngan Peno!" bentak Mikel tak kalah keras.

"woiiii cilok, kalau masalahmu sama Peno ya jangan nyuruh nyuruh orang lah!" pekik Eko.

"cilok apa Ko?" tanya Dimin sambil berbisik sebab bingung dengan ucapan Eko.

"cina lokal!" jawab Eko dengan berbisik juga.

"bbbbbbbbbb!" sontak Dimin dan Dadang membekap mulutnya masing masing menahan tawa agar tidak pecah.

"nah iya, kalau masalahmu sama aku ya jangan nyuruh orang, kamu sendiri yang maju sini!" ucap Peno membenarkan ucapan Eko.

"ah banyak omong, hajar mereka!" ucap Mikel menyuruh orang orangnya menghajar Peno dan keempat temannya.

Perkelahian pun tak bisa dihindari, lima melawan lima, bagi Peno dan kawan kawanya yang terbiasa mengangkat beban berat itu sangat mudah untuk meladeni pukulan anak anak kota yang olah raga mereka paling hanya joging saja.

Perkelahian terjadi satu lawan satu, Peno dan Dimin paling awal mengalahkan lawannya, sedangkan Maman, Eko dan Danang masih berusaha melumpuhkan lawan mereka masing masing.

"ealah malah ditonton, bantuin Min!" ucap Eko sambil menangkis serangan lawannya saat melihat Dimin malah jongkok menonton perkelahiannya.

"he he he...., aku bantuin kalau kamu sudah terkapar Ek!" jawab Dimin santai malah ia menyalakan rokoknya.

"oooooh kanca gendeng!" ucap Eko kesal mendengar jawaban Dimin, tapi memang Dimin hanya bercanda ia dengan tokoknya tegantung dibibir membantu Eko memukul lawan Eko yang drngan satu pukulan saja lawan Eko itu sudah terkapar.

sedangkan Peno kini sudah berhadapan dengan Mikel yang ketakutan, ia menarik baju belakang Mikel yang akan masuk kedalam mobil.

"eeeehhh mau kemana!?" ucap Peno.

"aaaa.....ampun No!" ucap Mikel dengan terbata bata.

"tak!"

"ampun ampun, memang gampang ya bilang ampun!" ucap Dimin sambil menjitak kepala Mikel.

"mau kamu apa sebenarnya hah!?" ucap Peno sambil mencengkram baju depan Mikel.

Mikel tak bisa menjawab, badanya kaku, keringat dingin bercucuran deras dari wajahnya.

"eh malah melamun, mau dijitak lagi!?" kata Dimin membuat Mikel makin ketakutan dan seketika kaki Peno seperti kena cipratan air.

Peno pun menoleh kebawah, "elaaaahhhh, masih ngompol tenyata, hiiiiiiiiiii!" ucap Peno seketika melepaskan cengkramannya pada baju Mikel dan sedikit menjauh.

"laaaahhh, belum tidur sudah ngompol, gimana kalau tidur, pasti banjir itu, ha ha ha ha.......!" ucap Dimin dengan tawa lantangnya dan mengikuti Peno sedikit menjauh.

Sedangkan Mikel masih berdiri mematung, kini rasa malu sudah menguasai dirinya dan perlahan ia mulai menangis tersedu, kelima temanya sudah terkapar tak berdaya, tinggal dia sendirian menghadapi Peno dan empat temannya yang kini berdiri didepannya.

"iiihhh, udah gede masih ngompol!" ucap Eko yang baru gabung dengan Peno.

"lah, itu bawa ganti apa engga kamu?" ucap Dadang malah bertanya bawa ganti apa tidak.

"aku peringatkan ya, jangan macam macam sama aku dan teman temanku, kali ini kamu aku biarkan, tapi sekali lagi kamu macam macam, aku gantung kamu di pohon biar jadi temannya si kun kun!" ucap Peno mengancam Mikel, Mikel hanya bisa diam tak menjawab apapun.

"wis No, ayo kita lanjut lagi jalannya!" ucap Maman mengajak Peno dan yang lainnya lanjut jalan meninggalkan Mikel dan teman temannya di tempat yang begitu gelap.

1
Was pray
moga aja nama peno bukan akronim dari "pemuda norak" 🤣🤣🤣
Yoyoh Dariyah
lanjut thor ceritanya seru banget lucu🤣
Was pray
kamu itu atlit catur no... bukan atlit karate... malah oemanasannya dengan adu jotos bukan adu bidak ... 😄😄
Was pray
ada propinsi blangkon tengah ntar ditambah prop. blangkon menthol Thor.... 🤣🤣🤣
Was pray
peno ketemu bidak cantik sebelum bergulat dengan bidak catur.... tapi sayang bidak cantik gak begitu punya atitut... 🤣🤣🤣
Zulkarnain Husain
lanjut thorr
Was pray
peno krsedak pion udah bisa diatasi ya Thor? jangan keselek bidak catur lagi no... ntar othor nya gak up up karena ngurusi kamu yg kerepotan buat ngeluarin bidak catur dari kerongkonganmu... 🤣🤣
Was pray: peno diingtin Thor ... sesuk nek main sekak dicekeli wae bentenge catur Ojo mbok emplok... padake telo goreng po no? .. 🤣🤣🤣
total 2 replies
Was pray
peno lagi pingsan kelekegen Bidak catur ya Thor? sehingga gak muncul2
Ilham
lanjut bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!