Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Teguran Untuk Gilang
.
“Selamat pagi," ucap Gilang dengan nafas tersengal karena terus berlari sejak halaman parkir.
Semua orang yang ada dalam ruangan spontan menoleh termasuk pimpinan rapat.
"Maaf, saya terlambat,” ucap Gilang lagi kemudian segera mengambil tempat duduk.
“Gilang! Kenapa kamu bisa terlambat? Kamu bikin malu perusahaan ini saja,” geram Pak Sudarto, atasan Gilang.
“Maaf, Pak. Ada sedikit masalah di rumah tadi," bisik Gilang merasa bersalah.
“Sudah, jangan banyak alasan! Sekarang, mana file untuk laporan hari ini?"
Gilang dengan cepat membuka tas kerjanya untuk mencari file yang dimaksud. Namun, alangkah terkejutnya ketika ia tidak mendapati file tersebut. Ia terus mencari tapi tetap tidak ketemu. Hingga kemudian teringat, mungkin file itu masih ada di meja kerjanya di rumah.
"Ya Tuhan,” gumamnya frustasi. Biasanya ia tak pernah mengalami hal seperti ini, karena biasanya Almira yang selalu membantunya mengurus segala sesuatu termasuk kepentingan kerja. Bahkan kadang istrinya itu juga yang membantu menyelesaikan tugasnya.
“Cepat, Gilang! Mana file nya? Laporan kita sudah ditunggu oleh CEO pusat!" Pak Sudarto menggeram tertahan.
“Maaf Pak, file-nya ketinggalan di rumah.”
"Apa?” Tanpa sadar Pak Sudarto berteriak keras membuat semua atensi beralih pada mereka.
"Maaf, Maaf, Tuan.” Pak Sudarto menunduk kala CEO dari perusahaan pusat menatap tajam ke arah mereka berdua.
“Bisa-bisanya kamu membuat kekacauan di saat genting seperti ini!" desis Pak Sudarto yang wajah benar-benar merah padam. Antara marah pada Gilang, dan malu pada atasan. “Awas saja kamu kalau sampai aku dapat teguran dari CEO pusat?!”
Gilang menutup matanya sebentar, rasa bersalah dan frustrasi menyambar hatinya. Pekerjaannya sedang dalam bahaya. Selama tiga tahun bekerja di perusahaan ini, inilah pertama kalinya ia membuat kesalahan sebesar ini.
“Pak, saya akan segera pulang untuk mengambil file tersebut. Saya akan kembali dalam waktu kurang dari satu jam!” pinta Gilang dengan harap.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Gilang berlari keluar dari ruang rapat dan segera keluar dari gedung perusahaan menuju parkiran. Hatinya berdebar kencang, kecemasan melanda jiwanya.
Saat mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, Gilang mencoba menghubungi Almira untuk menyiapkan file yang ia butuhkan. Namun, Almira tidak bisa dihubungi. Ia mencoba beberapa kali dan tetap gagal.
“Di mana Mira sebenarnya? Apa saja yang dia lakukan sampai tidak bisa dihubungi?" Gilang akhirnya menyerah dan mengemudi lebih kencang.
*
Sementara itu, Lila masih berada di ruang tengah dengan wajah memerah karena marah setelah tidak bisa membuka pintu kamar Almira. Wanita dengan perut buncit itu berjalan mondar-mandir sambil menggerutu sendiri.
Suara mobil masuk ke halaman membuat gerakannya terhenti.
“Mas Gilang pulang?” gumamnya. Seketika matanya menyala penuh harapan. Ia akan mengadukan kekejaman kakak madu yang membiarkan dirinya kelaparan.
Namun, ketika Gilang masuk ke rumah dengan wajah pucat dan berkeringat, Lila langsung tahu bahwa ada sesuatu yang salah.
“Mas Gilang, kamu kenapa? Kok wajahmu kucel gitu?” tanya Lila dengan nada khawatir, meskipun sebenarnya yang dia pikirkan adalah keinginannya sendiri.
“Dimana file yang di meja kerjaku? Yang flashdisk berwarna hitam!” tanya Gilang dengan tergesa-gesa tanpa menjawab pertanyaan Lila. “Aku harus segera membawanya ke kantor!”
Lila menggelengkan kepala dengan bingung. “Aku tidak tahu, Mas. Aku tidak paham file yang kamu maksud.”
Gilang menghela napas kesal dan langsung berlari menuju ruang kerjanya. Setelah beberapa saat mencari, ia menemukan flashdisk masih tertancap di laptopnya. Mengerutkan kening, bingung karena biasanya Almira selalu memperhatikan hal penting dengan detail. Namun, bukan saatnya untuk memikirkan itu. Ia segera mengambilnya dan berbalik untuk pergi lagi.
“Mas Gilang, tunggu! Aku lapar sekali. Kamu bisa tidak belikan makanan dulu?” pinta Lila sambil menarik lengan Gilang.
“Nanti saja, Lila! Aku sekarang sedang dalam kesusahan besar. Jika aku terlambat, aku akan kehilangan pekerjaan ini!” ucap Gilang dengan kasar sambil melepaskan tangannya dari genggaman Lila dan berlari keluar dari rumah.
Lila mengumpat kasar seiring suara mobil Gilang yang semakin menjauh. Rasa sakit hati dan kemarahan menguasai hatinya.
“Arghh…! Kalian semua brengsek!” jeritnya dengan menghentakkan kaki lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
*
Kembali ke Almira dan Sifa di kafe. Setelah mendengar cerita Almira tentang kehamilannya dan rencana untuk mengamankan aset-asetnya, Sifa merasa prihatin. Apalagi melihat wajah sahabatnya yang begitu hancur.
“Mir… kamu sudah cerita tentang semua ini sama mama dan papamu belum?” tanya Sifa lembut, sambil menggenggam tangan sahabatnya.
Almira menggelengkan kepala perlahan, air mata kembali menetes deras membasahi pipinya. “Aku tidak berani…” ucapnya dengan suara bergetar. “Aku sudah melukai hati mereka berdua dulu saat memutuskan menikah dengan Gilang tanpa persetujuan mereka. Kini aku seperti tidak punya muka untuk berhadapan dengan mereka lagi.”
Sifa mengambil nafas panjang dan menatap Almira dengan penuh pengertian. “Walau bagaimanapun, mereka adalah kedua orang tuamu, Mir,” ucap Sifa dengan nada menenangkan. “Jika mereka tahu kamu terluka dan sedang mengalami kesusahan seperti ini, mereka juga pasti ikut terluka. Aku yakin mama dan papamu pasti akan memaafkan kamu, karena cinta mereka untukmu tidak akan pernah pudar.”
Almira menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya semakin terdengar. “Aku takut, Sif. Aku tidak berani bertemu mereka.”
Sifa berdiri lalu memeluk sahabatnya. “Mereka mungkin akan sedikit marah, tapi itu karena mereka khawatir dan mencintaimu,” ucap Sifa sambil mengelus punggung Almira dengan lembut. “Setelah itu, mereka pasti akan berdiri di sisimu dan membantu kamu menghadapi semua ini. Kamu tidak sendirian dalam perjuangan ini, Mir.”
Almira mengangkat wajahnya, matanya merah karena menangis namun ada sedikit cahaya harapan di dalamnya. Ia mengangguk perlahan dan menyeka air matanya. “Mungkin kamu benar, Fa. Tapi untuk saat ini, aku akan menyelesaikan masalahku sendiri. Aku akan menemui mereka setelah berpisah dengan Gilang.
Sifa tersenyum hangat dan memeluk Almira semakin erat. “Ya sudah, terserah kamu saja. Pokoknya, apapun itu, jangan sungkan untuk memberitahu padaku."
*
*
*
Kembali ke perusahaan tempat Gilang bekerja.
Dengan napas terengah-engah dan berkeringat dingin, Gilang akhirnya sampai di kantor setelah mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimal. Ia segera berlari menuju ruang rapat.
Namun, begitu ia sampai di sana, pintu sudah terbuka lebar dan karyawan lain sedang keluar satu per satu dengan wajah muram.
“Pak Sudarto!” panggil Gilang dengan tergesa-gesa saat melihat atasannya sedang berjalan menuju ruangannya. “File sudah saya bawa, Pak! Kenapa rapatnya bubar?”
Bapak Sudarto berhenti dan menoleh dengan wajah yang lebih merah dari sebelumnya karena kemarahan. Ia menatap Gilang dengan tatapan menyala api. “Kau pikir rapat akan menunggu kamu selamanya, Gilang?!”
“Tapi Pak, saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk cepat kembali…” ucap Gilang dengan suara pelan, namun langsung dipotong.
“Rapat sudah bubar sepuluh menit yang lalu!” teriak Bapak Sudarto. “Pimpinan perusahaan dari kantor pusat sudah tidak sabar menunggu dan memutuskan untuk melanjutkan presentasi dengan data yang ada saja. Hasilnya? Perusahaan ini mendapatkan peringatan keras karena dianggap tidak profesional!”
Gilang merasa seperti diterjang petir. Kakinya hampir tidak bisa menopang berat badan dirinya. “Peringatan keras, Pak? Berarti…”
“Berarti jika dalam sebulan ke depan perusahaan cabang ini tidak bisa menunjukkan perbaikan yang nyata, seluruh jajaran petinggi akan mendapatkan pemotongan gaji besar-besaran. Bahkan ada kemungkinan beberapa orang akan diberhentikan!” jelas Bapak Sudarto dengan nada dingin. “Dan sebagai orang yang menyebabkan kegagalan ini, kau akan menjadi yang pertama dalam daftar tersebut, Gilang!”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Bapak Sudarto berjalan meninggalkan Gilang yang masih berdiri terpaku di tengah koridor.
Beberapa rekan kerja yang lewat hanya menatapnya dengan pandangan menyakitkan sebelum melanjutkan langkah mereka.
“Gara-gara Pak Gilang, kita semua kena imbasnya." Suara bernada kemarahan dan kekesalan terdengar jelas.
Gilang masuk ke ruang kerjanya dengan langkah gontai lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Kepalanya pusing, perutnya lapar. Tangan kirinya secara tidak sengaja menyentuh foto dirinya bersama Almira yang selalu terpajang. Ia ingat bagaimana Almira selalu membantunya menyiapkan barang penting sebelum pergi bekerja.
“Almira…” gumamnya pelan, rasa penyesalan mulai menyambar hatinya.
semangat thor