NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

"Arlan, bangun, Nak. Sudah siang."

Arlan mengerjapkan matanya. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah genting rumah kontrakannya yang bocor di beberapa titik. Dia meraih ponselnya dengan malas. Tidak ada notifikasi. Masih tidak ada pesan dari Megantara Group. Ini sudah hari ketiga.

{Apa sistem itu salah? Katanya peluangku sembilan puluh sembilan persen. Tapi kenapa sampai jam sepuluh pagi ini belum ada kabar?}

Arlan duduk di pinggir tempat tidur yang hanya berupa kasur busa tipis. Dia menatap map biru di atas meja kayu. Harapannya mulai menipis, setipis saldo di rekeningnya yang kini benar-benar hanya menyisakan angka minimal untuk administrasi bank.

"Ibu sudah siapkan sarapan. Makan dulu, baru cari lowongan lagi kalau memang belum ada panggilan," ucap Ibu dari balik pintu.

"Iya, Bu. Bentar lagi Arlan keluar," jawab Arlan dengan suara serak.

Dia berjalan ke kamar mandi, mengguyur wajahnya dengan air dingin. Saat dia menatap cermin yang sudah kusam, tiba-tiba kotak biru itu muncul lagi.

[Status: Menunggu Sinkronisasi Data Departemen HRD] [Saran: Tetap tenang. Persiapkan kemeja terbaik Anda. Panggilan akan datang dalam 180 detik.]

Arlan terpaku. Jantungnya mulai berdegup kencang lagi. {Seratus delapan puluh detik? Itu berarti tiga menit lagi?}

Dia segera berlari keluar kamar mandi, hampir menabrak ibunya yang sedang membawa piring.

"Loh, kenapa buru-buru begitu, Lan?"

"Anu, Bu... kemeja putih Arlan yang kemarin sudah kering, kan?"

"Sudah, sudah Ibu setrika lagi tadi pagi. Ada apa?"

"Arlan merasa hari ini akan ada kabar baik, Bu!"

Arlan duduk di depan meja makan, tapi matanya terus tertuju pada ponsel di samping piringnya. Satu menit berlalu. Dua menit berlalu. Ibunya hanya menggeleng-geleng melihat tingkah anaknya yang gelisah. Tepat saat detik ke-175 dalam hitungan mundur di kepalanya...

Drrrtt... Drrrtt...

Ponsel Arlan bergetar hebat. Sebuah nomor kantor muncul di layar. Arlan menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya.

"Halo, selamat pagi," ucap Arlan sesopan mungkin.

"Selamat pagi. Benar dengan Saudara Arlan Dirgantara?" suara wanita di seberang sana terdengar sangat formal.

"Iya, benar, saya sendiri."

"Saya Dewi dari tim rekrutmen Megantara Group. Selamat, Saudara Arlan. Berdasarkan hasil wawancara kemarin, Anda dinyatakan lulus untuk posisi Analis Data. Kami mengundang Anda untuk hadir besok pagi pukul delapan untuk penandatanganan kontrak dan orientasi hari pertama. Apakah Anda bersedia?"

Arlan merasa dunia di sekitarnya mendadak berhenti berputar. Dia melihat ibunya yang sedang memperhatikan dengan wajah penuh harap.

"Iya, Bu Dewi. Saya sangat bersedia. Terima kasih banyak atas kesempatannya."

"Baik. Detailnya akan kami kirim melalui email setelah ini. Sampai bertemu besok, Saudara Arlan."

Klik. Sambungan terputus. Arlan menurunkan ponselnya perlahan. Dia menatap ibunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Ibu... Arlan diterima."

Ibu Arlan menjatuhkan sendok yang dipegangnya. Dia langsung memeluk Arlan dengan erat. "Alhamdulillah, Nak. Ibu tahu kamu pasti bisa. Doa Ibu tidak pernah putus buat kamu."

{Akhirnya... aku punya pekerjaan. Aku bukan pengangguran lagi.}

[Misi Selesai: Mendapatkan Pekerjaan di Megantara Group] [Hadiah: Poin Atribut +5, Membuka Fitur 'Navigasi Kantor']

Keesokan harinya, Arlan berdiri lagi di depan gedung pencakar langit itu. Kali ini, dia tidak merasa seperti semut yang mencoba memanjat gunung. Dia merasa seperti seorang pendaki yang baru saja mencapai pos pertama. Dia menempelkan kartu akses tamu yang kini sudah berganti menjadi kartu akses karyawan sementara berwarna biru.

"Selamat pagi, Mas Arlan. Selamat bergabung," sapa petugas keamanan yang kemarin.

"Pagi, Pak. Terima kasih," jawab Arlan dengan senyum yang jauh lebih lebar.

Saat dia sampai di lobi, dia melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang berdiri di depan meja resepsionis. Siska. Gadis itu terlihat jauh lebih segar hari ini. Begitu melihat Arlan, wajahnya langsung cerah.

"Arlan! Kamu beneran masuk!" Siska setengah berlari mendekatinya.

"Pagi, Mbak Siska. Iya, saya baru mau lapor ke HRD."

"Terima kasih banget ya buat yang kemarin. Kamu bener, mapnya ada di sela-sela meja itu. Pak Hendra nggak jadi marah besar karena berkasnya ketemu sebelum rapat direksi dimulai. Aku beneran berutang budi sama kamu."

"Kebetulan saja saya lihat, Mbak," Arlan mencoba merendah.

"Nggak, itu bukan kebetulan. Itu penyelamat. Oh iya, kamu ditempatkan di tim analis lantai sepuluh, kan? Bareng sama... eh, tunggu." Siska melihat daftar di tangannya dan wajahnya sedikit berubah.

"Ada apa, Mbak?"

"Kamu satu tim sama Tegar."

Arlan terdiam. Nama itu seperti awan mendung yang tiba-tiba menutupi matahari pagi ini.

"Tegar juga diterima?" tanya Arlan.

"Dia masuk lewat jalur rekomendasi direksi, Arlan. Sebenarnya nilainya di bawah kamu, tapi ya... kamu tahu sendiri lah dunia kerja gimana. Dia baru saja naik ke atas dua menit yang lalu."

[Peringatan: Rival Terdeteksi di Lantai 10] [Status Tegar: Sedang mencoba membangun pengaruh di antara senior.] [Misi Baru: Amankan Meja Kerja dan Impresi Pertama]

"Terima kasih informasinya, Mbak Siska. Saya naik dulu ya."

"Semoga sukses, Arlan. Kalau ada apa-apa, cari aku di divisi HRD lantai dua belas, ya!"

Arlan mengangguk dan masuk ke dalam lift. Saat pintu lift terbuka di lantai sepuluh, dia disambut oleh ruangan terbuka dengan meja-meja yang dipenuhi komputer canggih. Dan di sana, di tengah ruangan, Tegar sedang berdiri sambil tertawa keras bersama dua orang pria yang tampak lebih tua.

"Oh, lihat siapa yang datang," Tegar menoleh dengan seringai yang masih sama angkuhnya. "Si anak daerah akhirnya sampai juga. Gimana? Sudah siap jadi asisten saya di sini?"

Kedua senior di samping Tegar menatap Arlan dengan tatapan menilai.

"Ini yang namanya Arlan?" tanya salah satu pria itu, namanya tertulis 'Bram' di tag mejanya.

"Iya, Mas. Saya Arlan."

"Oke, Arlan. Kamu duduk di meja pojok sana ya. Yang dekat server. Agak berisik memang, tapi cuma itu yang kosong," ucap Bram sambil menunjuk sebuah meja yang letaknya paling jauh dan terlihat sedikit berantakan.

Tegar tertawa kecil. "Meja itu cocok buat kamu, Lan. Pojok dan nggak kelihatan. Biar kalau kamu buat salah, nggak langsung ketahuan atasan."

{Sabar, Arlan. Fokus pada pekerjaan. Jangan terpancing.}

Arlan berjalan menuju meja yang ditunjuk. Benar saja, suara dengung dari ruang server di sebelahnya cukup mengganggu. Tapi begitu dia menyentuh keyboard komputer di mejanya, sistem kembali bereaksi.

[Menganalisis Perangkat: Komputer Kerja 10-B] [Status: Terdeteksi Malware Pasif yang dipasang secara sengaja.] [Saran: Jangan masukkan kredensial akun Anda sebelum membersihkan sistem. Gunakan perintah 'Alt+F4+S' untuk mode pembersihan sistem.]

Arlan menarik napas dalam-dalam. Baru sepuluh menit dia di sini, dan serangan sudah dimulai. Dia menoleh ke arah Tegar yang berpura-pura sibuk dengan ponselnya, tapi sesekali melirik ke arah Arlan dengan senyum licik.

{Dia benar-benar tidak mau aku tenang sedikit pun, ya?}

Arlan mengikuti instruksi sistem. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Layar komputernya sempat berkedip merah sebelum kembali normal.

"Loh, Arlan? Kamu sudah mulai kerja?" Sebuah suara lembut terdengar dari sampingnya.

Seorang wanita dengan kacamata bulat dan rambut sebahu berdiri di sana sambil membawa tumpukan dokumen.

"Eh, iya, Mbak. Ini lagi coba nyalain komputer."

"Aku Maya. Aku yang bakal jadi rekan duet kamu buat proyek minggu ini. Jangan dengerin Tegar ya, dia memang agak... berisik. Meja ini memang paling berisik suaranya, tapi koneksi internetnya paling kencang karena dekat server."

Arlan tersenyum. "Terima kasih, Mbak Maya. Senang bisa kenal Mbak."

"Sama-sama. Oh iya, habis ini kita ada meeting sama Manajer Divisi. Kamu sudah siapkan materi presentasi buat pengenalan?"

"Materi presentasi? Saya tidak tahu kalau harus presentasi hari ini," Arlan mulai panik.

"Waduh, masa nggak dikasih tahu? Tegar bilang dia sudah sampaikan ke kamu kemarin lewat pesan singkat."

Arlan segera mengecek ponselnya. Tidak ada pesan apa pun dari Tegar. Dia melihat ke arah Tegar yang sekarang sedang menutup mulutnya dengan tangan, seolah menahan tawa.

"Kayaknya saya lupa kirim, atau mungkin sinyal di daerah kamu jelek ya, Lan?" teriak Tegar dari mejanya. "Maaf ya, saya sibuk banget tadi pagi."

Maya menghela napas. "Gawat, manajer kita itu orangnya sangat disiplin. Kalau kamu nggak ada materi, impresi pertama kamu bakal hancur."

[Misi Darurat: Presentasi Tanpa Persiapan] [Deskripsi: Buat poin-poin presentasi dalam 5 menit.] [Fitur 'Analisis Cepat' Diaktifkan: Mengunduh tren data Megantara Group tahun lalu...]

Arlan menatap layar komputernya yang kini dipenuhi oleh grafik dan angka yang terus bergerak.

"Mbak Maya, jangan khawatir. Beri saya waktu lima menit. Saya akan siapkan sesuatu."

"Lima menit? Mana mungkin, Arlan!"

"Mungkin saja, Mbak. Tolong jangan biarkan Tegar mendekat ke meja saya dalam lima menit ini."

Arlan mulai mengetik dengan kecepatan yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Matanya bergerak lincah mengikuti instruksi sistem yang menyajikan data-data krusial perusahaan yang bahkan mungkin Tegar tidak tahu.

{Kalau kamu mau main kotor, Tegar, aku akan tunjukkan bagaimana cara main yang pintar.}

Lima menit kemudian, pintu ruang rapat terbuka. Seorang pria paruh baya dengan wajah tegas keluar dari sana.

"Tim Analis Data, masuk sekarang. Saya tidak suka menunggu," ucap sang manajer dengan suara bariton yang berat.

Tegar berdiri dengan percaya diri, membawa sebuah tablet mahal yang berisi presentasi mewahnya. Dia menoleh ke Arlan dengan tatapan menang.

"Ayo, Arlan. Jangan bikin malu tim analis di depan Pak Yudha," bisik Tegar saat mereka berjalan masuk.

Arlan hanya diam. Dia memegang sebuah flashdisk kecil di tangannya. Di dalam sana, bukan hanya presentasi biasa yang tersimpan, tapi sebuah analisis yang akan mengguncang pemikiran semua orang di ruangan itu.

Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

[Hadiah Misi Tersedia: ???] [Peringatan: Pak Yudha memiliki tingkat ketelitian 99%. Jangan membuat satu pun kesalahan angka.]

Arlan melangkah masuk ke ruang rapat yang dingin itu dengan kepala tegak. Dia tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dia bukan lagi Arlan si pengangguran, tapi Arlan sang analis yang memiliki "senjata" rahasia di matanya.

1
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
Pakde
up thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!