Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 : Ruangan Kerja
Setelah menghabiskan makanannya dengan lahap di bawah tatapan ngeri para pelayan, Qinqin melangkah menuju ruang kerja sang Jenderal. Ia berjalan dengan santai, mengabaikan Xue yang terus-menerus merapal doa di belakangnya agar nyawa majikannya itu selamat.
Sesampainya di depan pintu kayu jati yang kokoh, Qinqin tidak mengetuk. Ia langsung mendorong pintu itu hingga terbuka lebar. BRAK!
Wu Lian yang sedang duduk di balik meja besar sambil membaca tumpukan gulungan perkamen, tersentak pelan. Matanya yang sedingin es langsung menghujam sosok wanita yang baru saja masuk tanpa etika itu.
"Apa orang tuamu di Timur tidak mengajarkan cara mengetuk pintu, Xu Qinqin?" tanya Wu Lian datar. Suaranya rendah, namun mengandung tekanan yang kuat. Ini pertama kali nya setelah berbulan bulan ia bertemu dengan Qinqin karena harus berperang. Sikap nya berubah drastis.
Qinqin menarik kursi di depan meja Wu Lian tanpa diminta, lalu duduk sambil menyilangkan kaki---sebuah posisi yang dianggap sangat tidak sopan bagi seorang wanita bangsawan di zaman itu.
"Tanganku sedang pegal karena tadi kau cengkeram terlalu kuat, Jenderal. Mengetuk pintu hanya akan menambah beban kerja ototku," jawab Qinqin asal. Matanya sibuk memindai ruangan yang penuh dengan senjata dekoratif dan rak buku itu.
Wu Lian meletakkan gulungan di tangannya. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap istrinya dengan tatapan menyelidik. "Katakan padaku, siapa kau sebenarnya? Xu Qinqin yang kukenal tidak akan berani menatap mataku, apalagi menjawab dengan nada bicara seperti itu."
Qinqin terkekeh, ia memajukan wajahnya hingga jarak mereka cukup dekat. "Aku? Aku tetap Xu Qinqin. Hanya saja, Xu Qinqin yang ini sudah bosan menjadi keset kaki di kediaman ini. Kenapa? Kau lebih suka aku yang menangis dan memohon-mohon padamu?"
"Aku tidak suka wanita yang berisik," sahut Wu Lian dingin. "Dan aku juga tidak suka wanita yang mencoba mencari perhatian dengan cara memberontak."
"Dih, percaya diri sekali!" Qinqin mencibir sambil memutar bola matanya. "Siapa juga yang cari perhatianmu? Aku hanya ingin hidup enak. Diberi makan teratur, tempat tidur yang empuk, dan tidak diganggu oleh Ibu mertua yang hobi marah-marah itu. Kalau kau bisa menjamin itu, aku akan diam. Tapi kalau tidak. Ya jangan salahkan aku kalau kediamanmu ini jadi makin ramai."
Wu Lian terdiam. Ia baru sadar bahwa selama setahun ini, ia memang benar-benar menutup mata atas apa yang dialami istrinya. Namun, rasa harga dirinya sebagai Jenderal membuatnya enggan meminta maaf.
"Kau adalah istriku secara hukum. Selama kau menyandang nama Wu, kau harus mengikuti aturanku," tegas Wu Lian dengan nada yang tidak terbantahkan.
"Aturan? Aturan macam apa? Aturan yang membiarkan istrinya dikurung di gudang karena masalah piring?" Qinqin berdiri, ia menepuk meja kerja Wu Lian dengan pelan. "Dengar, Jenderal Es. Aku tidak peduli dengan jabatanmu yang setinggi langit itu. Jika kau ingin aku bersikap baik, perlakukan aku dengan layak. Jika tidak, aku tidak keberatan mengirim surat ke Timur dan memberitahu ayahku kalau putri mereka dijadikan pembantu di sini."
Mendengar penyebutan Menteri Perdagangan---ayah Qinqin---rahang Wu Lian kembali mengeras. Hubungan politik antara keluarga mereka memang sedang sensitif.
"Kau mengancamku?" desis Wu Lian, aura dinginnya semakin menusuk.
Qinqin tersenyum lebar, senyum yang terlihat manis namun sangat menyebalkan di mata Wu Lian. "Bukan ancaman, Jenderal. Ini namanya negosiasi. Sekarang, aku mau kamar yang layak. Kamarku yang lama baunya sudah seperti bau dupa pemakaman. Aku ingin pindah ke paviliun yang lebih luas dan punya pencahayaan bagus." Pinta nya dengan wajah memelas. Perubahan ekspresi yang begitu cepat untuk ukuran manusia. Ia mengingat bahwa pemilik tubuh asli tidak pernah nyaman dengan kamar yang didapat.
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya yang sudah tampak ingin meledak itu, Qinqin berbalik dan melenggang pergi.
"Oh, satu lagi," Qinqin berhenti di ambang pintu dan menoleh. "Masakan tadi itu gratis sebagai salam perkenalan dari 'istrimu'. Besok-besok, kalau mau makan enak lagi, kau harus membayar."
Wu Lian sampai mengejang menghadapi tingkah aneh istri nya. Ia segera memanggil Huo Lu, orang kepercayaan nya.
"Huo Lu, awasi dia! Bila perlu panggil pengusir setan terbaik di kekaisaran ! Seperti nya ada makhluk yang menguasai orang merepotkan itu!" Perintah Wu Lian.
Huo Lu menunduk dan mengangguk. Ia segera bergegas melaksanakan perintah Wu Lian.
"Tidak biasanya Jenderal memperhatikan Nona. Biasanya dia hanya akan mengabaikan Nona." Gumam Huo Lu sembari terus berjalan. "Meski hanya untuk memperhatikan dan memcari pengusir setan." Lanjut nya.
***
Happy Reading❤️
Mohon Dukungan
● Like
● Komen
● Subscribe
● Ikuti Penulis
Terimakasih ^_^ ❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂