"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Malam itu, setelah menerima rekaman bukti dari pria misterius, Karin memandangi layar ponselnya lama. Bukti-bukti yang kini berada di tangannya, sebenarnya sudah cukup untuk menghancurkan Mona kapan saja.
Tapi entah kenapa, hatinya belum cukup puas.Terlalu mudah jika semuanya berakhir di penjara.
Karin ingin Mona merasakan ketakutan dan penderitaan yang perlahan membuatnya menderita.
“Sepertinya aku harus membuat perhitungan dulu dengan Mona, supaya dia benar-benar merasakan penderitaan Mama Sinta dulu,” ucapnya dengan penuh penekanan.
Dengan tekad yang bulat, Karin memutuskan untuk memberikan balasan yang setimpal. Sebelum akhirnya Karin memasukkan Mona ke dalam penjara, ia ingin memastikan setiap detik yang dilalui Mona menjadi pengingat atas semua perbuatannya.
“Sepertinya aku harus ke rumah Mona sekarang juga. Aku harus mencari bukti lainnya. Aku yakin Mona pasti menyembunyikan sesuatu di rumahnya,” ucap Karin.
Sesampainya di rumah orang tuanya, Karin mengetuk pintu rumah itu. Namun, Mona tidak ada. Di dalam rumah hanya ada Bik Ijah, pembantu di rumah Mona.
“Eh, Non Karin, apa kabar?” sapa Bik Ijah sambil tersenyum saat melihat Karin di depan pintu.
“Kabarku baik, Bik. Di mana Mona, Bik Ijah? Apa dia ada di rumah?” jawab Karin tanpa basa-basi.
“Nyonya besar tidak ada di rumah, Non. Katanya ada urusan penting yang mendadak,” ujar Bik Ijah cepat, seolah takut salah bicara.
Karin yang mendengar Mona pergi karena urusan mendadak justru semakin diliputi rasa penasaran. Ia bertanya-tanya, apa sebenarnya yang sedang Mona lakukan.
“E-em, maaf, Non Karin… kenapa diam saja?” tegur Bik Ijah pelan, menyadarkan Karin dari lamunannya. “Silakan masuk, Non.”
“Ah… iya, Bik,” jawab Karin sambil melangkah masuk. “Makasih,” ucapnya cepat, nyaris tanpa menatap.
Setelah masuk ke dalam, Karin duduk di ruang tamu. Bik Ijah tak banyak bicara, hanya berjalan ke dapur dan kembali beberapa menit kemudian dengan secangkir teh hangat serta camilan di atas nampan.
Karin mengangguk singkat, namun matanya terus mengamati setiap sudut ruangan.
Saat Bik Ijah hendak beranjak pergi, Karin akhirnya membuka suara.
“Bik…” panggil Karin pelan, tapi nada suaranya tajam. “Bik Ijah sudah berapa lama bekerja di rumah ini?".
Bik Ijah terdiam sejenak sebelum menjawab. “Hampir dua puluh lima tahun, Non,” ucapnya hati-hati. “Kenapa tiba-tiba Non Karin menanyakan itu?”
“Kalau begitu…” Karin menegakkan tubuhnya. “Bik Ijah pasti tahu soal kecelakaan dua puluh lima tahun yang lalu.”
Ia menatap lurus tanpa berkedip.
“Kecelakaan yang membuat Bu Sinta meninggal.”
“Ma-maksud Non Karin apa…?” Bik Ijah bertanya lirih. Nada suaranya bergetar, tangannya mengepal di sisi tubuh.
“Sudahlah, Bik Ijah,” ucap Karin dingin. “Aku sudah tahu semuanya.”
Ia menatap lurus tanpa ragu.
“Mona bukan mama kandungku, benar kan, Bik?”
Bik Ijah mendadak gugup saat Karin menanyakan soal Mona yang ternyata bukan ibu kandungnya. Ia terlihat panik, ragu untuk menjawab. Pesan Mona terngiang jelas di kepalanya. Rahasia itu tak boleh sampai diketahui oleh Karin.
“Ma-maaf, Non Karin…” suara Bik Ijah bergetar. Ia menunduk, jemarinya saling meremas. “Bibi… bibi tidak tahu soal itu.”
“Aku mau, Bik Ijah, jujur sama aku tentang Mona,” ucap Karin tegas.
“Tapi, Non… Bibi takut Nyonya Besar nanti marah,” ucap Bik Ijah gugup.
“Bik Ijah, jangan takut. Aku yang akan melindungi Bibi kalau Mona sampai macam-macam,” tegas Karin.
"Baik, Non. Bibi akan jujur dan menceritakan semuanya kepada Non Karin," ujarnya dengan ragu.
"Memang benar, Bu Mona bukanlah mamah kandung Non Karin. Bu Sinta lah ibu kandung Non Karin yang sebenarnya, dan yang membuat Bu Sinta celaka juga tak lain adalah Bu Mona," serunya.
"Oh, ternyata memang benar dia… Bik, apakah bibi mau membantu aku?" ucapnya.
"Apa yang bisa Bibi bantu, Non?"
"Aku mau Bibi nanti menjadi saksi di persidangan atas semua kejahatan Mona," jawabnya tegas.
"Tapi sebelum Mona masuk penjara, aku ingin membuat hidup Mona tidak tenang," ucapnya dengan nada penuh emosi, matanya menyala-nyala menahan amarah.
"Apa yang akan Non Karin lakukan?" tanyanya hati-hati.
Karin pun menunduk dan membisikkan rencananya kepada Bik Ijah.
"Bagaimana menurut Bik Ijah, apakah rencanaku ini bagus?" tanyanya.
Bik Ijah hanya menganggukkan kepalanya dan mengacungkan jempol sebagai tanda setuju.
"Lalu, kapan Non Karin akan melakukannya?" tanyanya.
"Malam ini juga, Bik?" jawabnya dengan penuh semangat.
Langkah awal yang dilakukan Karin adalah dengan meneror Mona dengan mengirimkan rekaman video kejahatannya langsung kepadanya. Karin yakin, rahasia Mona akan membuatnya panik dan ketakutan saat menyadari semuanya akan terbongkar.
"Aku yakin, saat Mona melihat video ini, dia akan panik," ucapnya sambil menahan tawa.
Karin pun meninggalkan rumah Mona dan pergi ke sebuah konter untuk membeli kartu SIM, agar rencananya meneror Mona bisa berjalan sesuai rencana nya.
"Aku akan mengirim video ini sekarang juga. Aku ingin melihat bagaimana reaksi Mona nanti, hahaha," gelak tawa Karin.
Ting… pesan menunjukkan tanda terkirim, tapi sepertinya Mona belum membacanya, terlihat dari centang satu yang masih menempel.
Beberapa jam setelah Karin mengirim video itu, tanda centang di pesan akhirnya berubah menjadi biru, menandakan bahwa Mona telah melihat isi video tersebut.
Mona pun terkejut saat melihat rekaman dirinya dan orang suruhannya yang mencelakai Bu Sinta. Rasa panik menyelimuti hatinya, ia bertanya-tanya dalam hati, siapa yang telah membocorkan rahasianya.
"Gawat… bagaimana mungkin ada yang mengetahui rahasiaku? Aku bahkan sudah melenyapkan semua bukti kejahatanku… tapi kenapa ini masih ada?" batinnya, penuh kebingungan dan ketakutan.
Mona menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar, jari-jarinya ragu-ragu menekan tombol balas. Napasnya tersengal, mata membesar menatap video yang baru saja dilihatnya. Dengan suara gemetar, ia mengetik pesan:
"Siapa kamu sebenarnya… dan apa maksudmu mengirim video ini?"
Karin tersenyum puas setelah melihat balasan dari Mona. Ia senang karena berhasil membuat Mona panik dan ketakutan.
"Aku adalah orang yang akan menghancurkan hidupmu, Mona," balasnya tegas.
Amarah Mona memuncak saat membaca balasan itu yang mengancam akan menghancurkan hidupnya.
"Kamu jangan macam-macam! Asal kamu tahu, suamiku orang terkaya di kota ini. Apa, pun bisa aku lakukan!" pungkasnya dengan penuh amarah.
"Hahaha, sekalipun suamimu orang kaya, dia tidak akan bisa menyelamatkan hidupmu, Mona," balas Karin dengan tawa puas.
"Apa maumu sebenarnya? Jika kamu mau uang, aku bisa memberikannya. Tapi kamu harus menghapus video itu sekarang juga," balas Mona panik.
"Hah, aku bukan orang yang kekurangan uang sepertimu, Mona."
Mona yang semakin marah membaca balasan dan ancaman itu langsung membanting ponselnya ke lantai hingga pecah dan rusak.
*****Bersambung*****
Jangan lupa like komen dan subscribe ya kak supaya aku bisa semangat terus♥️🙏
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak