Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34.
Laki-laki itu mengenakan kemeja rapi dan celana kain hitam yang tampak licin. Usianya kira-kira awal tiga puluhan.
Aurely menjawab dengan senyum ramah yang sudah terlatih.
“Mas Rizky sedang keluar sebentar, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
Laki-laki itu berdiri tepat di depan meja kasir, masih menatap Aurely tanpa berkedip.
“Apa benar ini cabang kios Bu Wiwid di pasar itu?” tanyanya.
“Benar, Pak,” jawab Aurely tegas dan mantap.
Laki-laki itu mengernyit, lalu menoleh ke sekeliling kios. Sejenak pandangannya berhenti pada Mas Lutfi, karyawan pria yang sedang melayani dua orang mahasiswa.
Ia kembali menatap Aurely.
“Kenapa karyawan-karyawan di sini belum pernah aku lihat di kios pasar?” ucapnya curiga. “Dan masih tampak sangat muda muda.”
“Saya memang karyawan baru, Pak,” jawab Aurely jujur. “Tapi kios ini benar-benar cabang kios Bu Wiwid.”
Laki-laki itu tampak berpikir. Beberapa detik berlalu.
“Aku mau pesan makanan dan snack,” katanya akhirnya, masih dengan nada ragu, “untuk acara seminar di kampus.”
Aurely sedikit meluruskan duduknya. Nada ragu laki-laki itu membuatnya otomatis lebih waspada, tapi senyumnya tetap bertahan.
“Untuk kapan dan berapa orang, Pak?” tanyanya sambil meraih buku catatan di sisi kasir.
“Sekitar dua ratus lima puluh,” jawab laki-laki itu. “Seminar satu hari. Pesertanya mahasiswa.”
Aurely mengangguk pelan. Seratus lima puluh bukan jumlah kecil, ini untuk pesanan pertama di kios itu. Tapi bukan yang pertama untuk kios Bu Wiwid. Di kios Bu Wiwid bahkan sering lebih banyak dari itu.
“Acara tanggal berapa, Pak?” tanya Aurely lagi.
“Satu minggu lagi.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Aku butuh yang rapi dan tepat waktu. Ini acara kampus, bukan arisan.”
“Siap, Pak,” jawab Aurely mantap. “Kami biasa pegang pesanan besar. Nanti bisa disesuaikan juga menunya, mau yang berat, ringan, atau kombinasi.”
Tatapan laki-laki itu kembali menajam, seolah mencari-cari celah.
“Kamu yakin bisa nangani pesanan sebesar ini?”
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira. Bukan karena meremehkan, tapi karena Aurely tahu: keraguannya sendiri masih sering muncul dari arah yang sama.
Ia menarik napas singkat, lalu menjawab dengan suara tenang.
“Saya yang terima pesanan, Pak. Tapi yang produksi dan pengiriman tetap ditangani tim inti kios ini. Kalau Bapak mau, nanti bisa ketemu langsung dengan pemiliknya.”
Laki-laki itu terdiam. Pandangannya turun ke buku catatan di tangan Aurely, lalu kembali ke wajahnya.
“Kamu kelihatannya masih terlalu sangat muda,” katanya datar.
Aurely tersenyum tipis. “Iya, Pak. Tapi saya serius sama pekerjaan saya.”
Beberapa detik terasa panjang. Lalu laki-laki itu mengangguk kecil.
“Baiklah. Kita mulai dari menu standar dulu.”
Aurely menunduk, mulai menulis dengan cepat.
“Untuk snack box biasanya isi risoles atau pastel atau kroket, roti, kue basah tradisional, dan air mineral. Atau Bapak mau opsi lain?”
“Satu snack box, satu nasi kotak. Nanti aku mau minta contoh menunya dulu.” Ucap laki laki itu.
“Bisa, Pak. Besok atau lusa juga boleh.”
Laki-laki itu merogoh saku celananya, mengeluarkan kartu nama, lalu meletakkannya di atas meja kasir.
“Namaku Arman. Aku koordinator acaranya.”
Aurely melirik kartu itu sekilas sebelum menatapnya kembali.
“Saya Aurely, Pak.”
Arman mengangguk. “Nanti aku hubungi lagi.”
Setelah Pak Amran berbalik dan keluar dari kios, Aurely baru menyadari napasnya sedikit lebih berat dari biasanya.
Mas Lutfi mendekat sambil menyeringai. “Serius amat tadi, Rel. Kayak mau inspeksi mendadak.”
Aurely tertawa kecil, berusaha mengendurkan bahunya. “Iya. Tapi kalau jadi, ini pesanan gede, pertama kali di kios cabang ini.”
“Mas Rizky bakal senang,” kata Mas Lutfi. “dan kita akan mendapat bonus.”
Aurely mengangguk, tapi pandangannya tertahan pada kartu nama di meja kasir.
Kampus. Seminar. Mahasiswa.
Entah kenapa, kata-kata itu terasa seperti mengetuk pintu kecil di dalam dadanya, pintu yang tadi baru saja ia berani buka sedikit.
Aurley tersenyum menatap Mas Lutfi, “Kalau acara acara kampus itu memesan di tempat kita, lumayan Mas.” Ucap Aurley, “acara wisuda bisa lebih banyak lagi pesanannya.” Lanjutnya.
“Iya Rel, dan bonus kita akan semakin banyak.” Ucap Mas Lutfi tersenyum lebar.
Aurely tersenyum, di dalam hati ia semakin kagum pada sosok Rizky.. sederhana, baik, mau kerja keras dan punya strategi bagus dalam mengembangkan usaha di desanya.
Sore menjelang magrib ketika Rizky akhirnya kembali ke kios. Ia meletakkan tas ransel di mejanya, lalu melirik suasana kios yang masih cukup ramai.
“Rel,” panggilnya sambil membuka kancing lengan kemeja. “Apa tadi ada hal yang penting?”
Aurely menoleh dari meja kasir. Ia ragu sepersekian detik sebelum mengambil kartu nama di samping mesin hitung.
“Ada pesanan, Mas. Cukup besar untuk kios kita yang baru buka.” Jawab Aurely
Alis Rizky langsung terangkat. Ia mendekat dan mengambil kartu itu.
“Seminar kampus?” gumamnya setelah membaca. “Berapa orang?”
“Dua ratus lima puluh. Snack box sama nasi kotak.” Jawab Aurely, “untuk satu minggu lagi.”
Rizky menghela napas pendek, bukan karena keberatan, lebih seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya.
“Satu minggu lagi ya?”
“Iya.” Aurely menatap wajahnya, mencoba membaca reaksinya. “Orangnya agak… ragu sama kios kita. Sama aku juga, kayaknya.”
Rizky terkekeh kecil. “Ya wajar. Acara kampus biasanya ribet.” Ucapnya , “dan ini kios baru buka hari ini.”
Ia lalu menoleh menatap Aurely. Tatapannya kini lebih serius, tapi tidak menghakimi.
“Kamu janji apa aja ke dia?”
“Belum fix menu. Aku bilang bisa ketemu langsung sama Mas kalau dia mau. Aku nggak berani mutusin sendiri.” Jawab Aurely, “dia minta menu contoh.”
Rizky mengangguk pelan.
“Itu sudah benar.” Ucapnya , “ tak apa besok kalau datang kasih menu contoh. Gratis.”
Aurely mengeratkan jari-jarinya di balik meja kasir.
“Mas… aku bener nggak, tadi terima pesanan itu?”
Rizky terdiam sejenak. Lalu ia bersandar di meja, sejajar dengan pandangan Aurely.
“Rel, gini. Pesanan besar itu risiko. Tapi kios ini hidup juga karena orang-orang berani bilang ‘bisa’ sebelum benar-benar yakin.”
Ia tersenyum tipis. “Dan kamu nggak asal bilang bisa. Kamu mikir.”
Dada Aurely terasa sedikit longgar.
“Kalau soal teknis,” lanjut Rizky, “aku bisa atur. Aku pernah pegang lebih dari ini. Yang penting kamu tetap jadi penghubungnya.”
“Aku?” Aurely refleks mengangkat alis.
“Iya.” Rizky tersenyum, kali ini lebih lebar. “Dia datang ke kamu. Berarti dia percaya, walau setengah-setengah.”
Aurely menunduk, menahan senyum kecil yang hampir lolos. “Takut salah, Mas.”
“Takut itu wajar.” Rizky meraih kartu nama itu lagi, lalu meletakkannya rapi di laci kasir.
“Yang bahaya kalau takut tapi berhenti. Tidak melakukan apa pun.”
Kalimat itu membuat Aurely terdiam.
Rizky berdiri tegak kembali.
“Besok kalau dia hubungi, bilang aja: pemilik kios siap ketemu dan siap tanggung jawab. Kamu nggak sendirian.”
Aurely mengangguk.
“Iya, Mas.”
Saat Rizky melangkah ke belakang kios, Aurely menatap punggungnya sejenak. Ada sesuatu yang hangat, tapi juga menguatkan, perasaan dipercaya, sesuatu yang kini sangat berharga pada dirinya. Yang pernah hilang beberapa waktu lalu.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menatap meja kasir. Untuk pertama kalinya hari itu, angka-angka di layar terasa lebih ringan.
Waktu terus bergulir. Setelah magrib, kios kembali ramai oleh para mahasiswa yang membeli makan malam.
Saat dagangan nyaris habis, Rizky memberi perintah agar kios ditutup malam itu. Semua karyawan tampak lega. Tubuh mereka lelah, tetapi wajah-wajah itu justru memancarkan kebahagiaan.
Rolling door mulai diturunkan. Aurely masih sibuk melakukan tutup buku ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan kios.
Aurely sekilas menoleh. Seorang gadis cantik keluar dari balik pintu kemudi… dan satu gadis lagi menyusul dari pintu depan kiri, seseorang yang ternyata sudah dikenalnya.
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting