Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Rumah tua itu berdiri kaku di tengah hamparan ilalang yang meninggi, dedaunannya menggerai seperti jari-jari yang ingin meraih langit. Seolah waktu telah berhenti berdetak di sana sejak tragedi itu memulai babak pertamanya—semua terjebak dalam ketidakbergeseran yang menusuk hati. Dinding papan yang sudah lapuk dan sebagian besar telah dimakan rayap memancarkan aroma kayu basah yang membusuk, campuran dengan bau tanah lembap dan hawa panas tropis yang pengap, membuat setiap napas terasa seperti menghirup kapas yang basah.
Lisa berdiri tepat di depan pintu utama yang digembok dengan besi kasar yang sudah berkarat, matanya menatap permukaan kayu yang kusam dengan pola urat yang jelas terlihat. Di sebelahnya, Inspektur Razak menggeser berat badan dari satu kaki ke kaki yang lain, wajahnya menampilkan keraguan yang tak bisa disembunyikan meskipun ia sudah mencoba sebisa mungkin untuk tetap profesional. Keringat mengalir deras di dahinya, menyusuri lekukan pipinya yang penuh dengan garis-garis usia.
"Detektif Ahn, saya harus mengingatkan Anda sekali lagi. Secara hukum, kita tidak boleh masuk ke dalam properti orang lain tanpa surat geledah resmi dari pengadilan Negeri Johor. Ini bukan wilayah Seoul—aturannya berbeda, dan jika rumah ini ternyata tidak mengandung apa-apa pun yang berhubungan dengan kasus kita, hal ini bisa jadi masalah diplomatik yang tidak perlu terjadi." Ujar Razak dengan nada yang tegas namun tetap sopan, menyeka peluh di dahinya dengan bagian lengan baju polisi yang sudah sedikit lembap.
Lisa tidak langsung menjawab. Matanya memang tertuju pada pintu kayu yang kusam itu, namun dalam benaknya ia sedang mengikuti gerakan Sam yang sudah mulai melayang perlahan di sekitar rumah, tubuhnya seperti bayangan yang bisa melewati dinding dan benda-benda padat dengan mudah. Ia bisa merasakan getaran energi yang keluar dari tubuh teman setimnya—getaran yang penuh dengan ketegangan dan sesuatu yang hampir bisa disebut sebagai ketakutan.
𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘱𝘢𝘨𝘪, 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵. 𝘍𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪𝘢𝘮. 𝘐𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘫𝘦𝘫𝘢𝘬, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢. Bisik Lisa dalam hati.
"Apa yang Anda pikirkan, Detektif?" Tekan Razak ketika Lisa tetap terdiam.
Lisa menoleh ke arahnya dengan tatapan yang mantap, bibirnya sedikit terkencang. "Inspektur, jika Anda mau memperhatikan dengan saksama, Anda akan bisa merasakannya juga. Saya tidak hanya melihatnya—saya bisa mencium bau kematian dari sini. Bau yang sudah mengakar dalam setiap serat kayu dan setiap butir tanah di sekitar rumah ini."
Razak mengerutkan kening, lalu menutup hidungnya sebentar sambil menghirup udara dengan hati-hati. Ia menggelengkan kepala setelah beberapa saat. "Bau kematian? Saya hanya mencium bau debu yang menumpuk bertahun-tahun dan kayu yang mulai membusuk." Namun meskipun berkata demikian, ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia mulai meragukan kata-katanya sendiri. Ia menghela napas yang panjang, lalu memberikan isyarat dengan kepalanya kepada dua anak buahnya yang berdiri di belakang mereka, membawa alat pemotong gembok dan tang besar. "Baiklah... saya akan mengambil tanggung jawab ini. Tapi Anda harus tahu, jika hal ini tidak menghasilkan apa-apa, saya harus melaporkan ini ke atasannya dan juga ke Kedutaan Besar Korea Selatan di Kuala Lumpur."
Lisa mengangguk dengan terima kasih. "Saya mengerti risikonya, Inspektur. Dan saya bersedia untuk bertanggung jawab atas segala konsekuensinya."
Sebelum Razak bisa menjawab lagi, salah satu petugas polisi sudah mulai bekerja dengan alat pemotong gembok. Bunyi 𝘤𝘳𝘢𝘬! yang keras menyambut telinga mereka ketika sambungan besi yang menghubungkan gembok dengan pintu mulai putus. Setelah beberapa saat lagi, gembok itu terlepas sepenuhnya dan jatuh ke tanah dengan bunyi dentum yang menggema di halaman yang sepi.
Pintu kayu yang berat terbuka perlahan, menyemburkan awan debu yang halus dan berwarna kelabu yang menari-nari di bawah cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah genteng yang sudah retak. Beberapa debu itu mendarat di wajah Lisa, membuatnya terpaksa menutup mata sebentar dan mengusap wajahnya dengan cepat. Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.
Lantai kayu di bawah kakinya mengeluarkan suara kerit-kerit yang nyaring setiap kali ia melangkah, seolah rumah itu sendiri sedang mengeluarkan suara protes atas kedatangan mereka yang tidak diundang. Debu menumpuk tebal di setiap permukaan—di atas meja kayu yang sudah lapuk, di laci lemari yang terbuka, bahkan di atas beberapa benda bekas yang ditinggalkan begitu saja seperti mainan kayu dan bantal yang sudah lapuk parah. Udara di dalam ruangan terasa jauh lebih panas dan pengap daripada di luar, dengan aroma yang semakin kuat dan menyengat.
Di depannya, Sam bergerak dengan cepat melintasi ruangan tamu yang kosong, tubuhnya melayang di atas lantai kayu tanpa membuat sedikit pun suara. Wajahnya tampak sangat serius dan tegang, alisnya terangkat tinggi dan matanya yang teduh tampak seperti sedang melihat sesuatu yang jauh di luar ruangan itu sendiri.
"Ke sini, Lisa. Kamar pojok paling belakang di sisi kanan koridor itu." Panggil Sam dengan suara yang terdengar aneh dan bergema di ruangan kosong yang penuh dengan gema. "Ada sesuatu yang sangat kuat di sana—energi yang begitu pekat hingga membuatku sulit bernapas meskipun aku tidak perlu bernapas seperti manusia biasa."
Lisa mengikuti arah yang ditunjukkannya, dengan Razak dan dua petugas polisi mengikutinya dari belakang. Koridor yang mereka lalui sempit dan gelap, dengan hanya sedikit cahaya yang masuk melalui jendela-jendela kecil yang sudah tertutup oleh debu dan lumut hijau. Setiap langkah mereka membuat lantai kayu mengeluarkan suara yang semakin keras, seolah memperingatkan penghuni yang tidak ada lagi tentang kedatangan tamu yang tidak diinginkan.
Sam berhenti tepat di depan sebuah pintu kamar yang sudah lapuk dan setengah terbuka, dengan engsel kayu yang sudah berkarat dan hampir copot. Ia tidak masuk ke dalam kamar dengan cara biasa seperti manusia. Sebaliknya, ia merendahkan tubuhnya sedikit, lalu perlahan-lahan membenamkan kepalanya ke dalam bagian lantai kayu yang tampak lebih gelap dan sedikit menonjol daripada bagian lainnya.
Lisa berdiri diam di belakangnya, menyaksikan dengan tatapan yang penuh dengan antisipasi dan sedikit rasa takut. Razak dan anak buahnya juga berdiri diam, wajah mereka penuh dengan kebingungan dan rasa ingin tahu yang besar. Mereka tidak bisa melihat apa yang dilihat Sam, namun ekspresi wajah Lisa sudah cukup untuk membuat mereka merasa bahwa sesuatu yang penting akan segera terungkap.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti berjam-jam, Sam tiba-tiba tersentak kaget. Bahunya bergetar hebat, dan ia menarik diri kembali ke permukaan dengan cepat, wajahnya memerah dan tampak seperti ingin muntah. Ia menekan tangan ke atas mulutnya, tubuhnya sedikit menggigil.
"Sam! Apa yang terjadi?" Tanya Lisa dengan cemas, mendekat dan menepuk punggungnya dengan lembut.
Sam menelan ludah dengan susah payah, lalu melihat ke arah Lisa dengan mata yang sudah dipenuhi rasa horor yang mendalam. "Di bawah sana... Ada bagian yang tidak dibawa ke Korea. Ia menyembunyikannya di dalam ruang sempit yang dibuat khusus di bawah fondasi rumah ini. Bau darahnya... sangat pekat. Sangat pekat hingga rasanya seperti masih segar dalam ingatan rumah ini—seolah tragedinya baru saja terjadi kemarin malam."
Lisa merasa darahnya membeku di dalam pembuluhnya. Ini adalah konfirmasi yang ia cari—bukti bahwa kasus yang terjadi di Seoul memiliki akar yang dalam di tanah Johor Bahru ini. Ia tidak menunggu lagi untuk meminta izin atau berdiskusi dengan Razak. Ia menoleh ke arah salah satu petugas polisi yang membawa perlengkapan, dan dengan cepat menyambar linggis besi yang terletak di atas tas mereka.
"Apa yang Anda lakukan, Detektif?" Seru Razak dengan kaget ketika melihat Lisa mulai mengangkat linggis itu dengan kedua tangan. Ia mencoba menahan lengan Lisa, namun ia tidak berdaya menghadapi kekuatan yang keluar dari tubuh wanita itu yang tampak kurus namun penuh dengan tekad. "Anda tidak bisa melakukan ini! Anda sedang merusak properti orang lain!"
"Lihat ini, Inspektur!" Lisa berteriak dengan napas yang memburu, tidak menghiraukan larangan Razak. Ia menghantamkan ujung linggis yang berat itu ke celah kecil antara dua lembaran kayu lantai di pojok kamar yang sudah ditunjukkan oleh Sam. Bunyi 𝘬𝘳𝘢𝘬! 𝘣𝘳𝘢𝘬! menyambut telinga mereka ketika kayu yang sudah lapuk mulai retak dan terlepas.
Lisa terus bekerja dengan cepat dan penuh kekuatan, menyungkil setiap lembaran kayu yang bisa ia lepaskan dengan ujung linggis itu. Kayu-kayu itu terlepas satu per satu, beberapa di antaranya pecah menjadi beberapa bagian karena sudah terlalu rapuh. Setelah beberapa saat, sebuah lubang lebar terbentuk di atas lantai, menampakkan kegelapan yang lembap dan penuh dengan aroma yang sangat menyengat di bawahnya.
"Senter! Berikan saya senter!" Perintah Razak dengan suara yang sudah tidak lagi menunjukkan keraguan, melainkan keseriusan yang tinggi. Salah satu petugas segera menghampirinya dengan senter besar yang terpasang di kepalanya. Cahaya putih menyilaukan dari senter itu segera diarahkan ke dalam lubang yang baru dibuat.
Seketika, suasana ruangan menjadi senyap seolah-olah seluruh oksigen di dalamnya telah tersedot keluar. Tidak ada seorang pun yang berbicara—bahkan napas mereka pun tampak terhenti sejenak. Di balik lapisan tanah yang digali dangkal dan terlihat sudah ada sejak lama, terbungkus dalam beberapa lapis plastik hitam yang sudah sobek di beberapa bagian, tampaklah potongan tubuh manusia yang selama ini dicari oleh tim forensik di Seoul. Bagian tubuh itu sudah mulai membusuk, namun bentuknya masih cukup jelas untuk dikenali sebagai bagian dari jasad Siti Aminah yang telah menjadi pusat perhatian kasus di Korea Selatan beberapa hari yang lalu.
Bau busuk yang menyengat dan menusuk langsung menyeruak dari dalam lubang, membuat beberapa petugas polisi spontan menutup hidung dan mulut mereka dengan tangan, bahkan mundur beberapa langkah dengan wajah yang mulai memucat dan ekspresi yang penuh dengan rasa jijik dan ngeri. Razak sendiri membeku di tempatnya, matanya melebar lebar dan bibirnya terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara apa-apa.
Setelah beberapa saat yang terasa sangat lama, Razak menoleh ke arah Lisa dengan pandangan yang bercampur antara kekaguman dan ketakutan. "Bagaimana... bagaimana mungkin Anda bisa tahu tempatnya dengan sedetail ini? Bahkan kami yang tinggal di sini selama bertahun-tahun, yang tahu setiap sudut kota Johor Bahru, tidak mencium atau merasakan apa pun dari luar rumah yang tampak biasa ini."
Lisa berdiri perlahan, menjatuhkan linggisnya ke lantai kayu dengan bunyi dentum yang berat dan menggema di kamar yang sepi. Tubuhnya merasa sangat lelah seolah telah menjalani perang yang panjang, namun ekspresi wajahnya tetap tegas dan penuh dengan keyakinan. Ia melirik Sam yang berdiri di sudut kamar yang jauh, menundukkan kepalanya dengan dahi yang berkerut dan tangannya terlipat di depan dadanya—seolah memberikan penghormatan terakhir bagi jiwa yang telah mereka temukan di bawah lantai itu.
"Insting, Inspektur. Itu yang saya bisa katakan. Terkadang, mereka yang sudah pergi dari dunia ini tidak pernah benar-benar pergi. Mereka meninggalkan jejak yang lebih keras dan lebih dalam daripada yang bisa ditinggalkan oleh mereka yang masih hidup. Dan jejak yang tertinggal di bawah lantai rumah ini..." Ia menghentikan bicara sejenak, menatap lubang yang telah membuka rahasia kelam itu. "...tidak akan pernah bisa dihapus oleh Firman atau siapapun yang mencoba melindunginya."
Razak hanya bisa terdiam, tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab. Ia menatap detektif wanita dari Seoul itu dengan perasaan yang kompleks—rasa kagum akan kejeniusannya, rasa takut akan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika kepolisian yang ia pelajari selama ini, dan rasa sedih yang mendalam atas tragedi yang telah terjadi di rumah tua yang tampak biasa ini.
Kemenangan yang mereka raih hari ini terasa pahit di lidah. Namun di tengah panasnya udara tropis Johor Bahru yang masih menyengat bahkan setelah matahari mulai bergeser ke arah barat, kebenaran akhirnya menemukan jalannya ke permukaan—melalui tangan seorang wanita yang tidak pernah menyerah dan bisikan seorang arwah yang tidak pernah berhenti untuk berbicara.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ
dan bagaimanapun kita memang berdampingan dengan mereka☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️
apakah si SAM korban pembunuhan ?