Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.
Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.
Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.
Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.
Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Setelah bel pulang sekolah berbunyi,
Danzel menaiki motornya bersama Rachel. Mereka melaju pelan ke arah gerbang, bercakap ringan di tengah keramaian siswa yang mulai meninggalkan sekolah.
Saat mereka mendekati gerbang menuju jalan raya, tiba-tiba mata Danzel menangkap sosok Alice yang ingin menyebrang menuju mobilnya.
Alice tampak sedang menyebrangi jalan tanpa memperhatikan sekitar. Di saat yang sama, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya.
Danzel, yang melihat situasi berbahaya itu, tanpa berpikir panjang, turun dari motor dengan cepat, meninggalkan Rachel yang terkejut.
"Alice! Awas!" teriak Danzel dengan suara penuh kepanikan, berlari sekuat tenaga ke arah Alice.
Waktu seolah melambat. Alice belum menyadari bahaya yang mendekat, tetapi suara teriakan Danzel akhirnya menyadarkannya.
Dalam sepersekian detik, Danzel berhasil meraih tubuh Alice dan menariknya menjauh dari jalan. Tubuh mereka yang berpelukkan terhempas, berguling di aspal hingga berhenti di tepi trotoar.
Dughhh
Tubuh Danzel menghantam keras pinggiran trotoar.
Alice membelalakkan mata, terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Napasnya terengah-engah, sementara jantungnya masih berdetak kencang.
Danzel menahan rasa sakit di punggungnya membantu Alice untuk bangkit bersama.
"Apakah kamu terluka?" tanya Danzel, suaranya terdengar penuh kekhawatiran. Tatapan paniknya tak bisa disembunyikan, matanya berkaca-kaca.
Alice melihat tatapan itu—tatapan yang begitu ia rindukan, tatapan kekhawatiran Danzel yang selama ini hilang.
"Aku..aku baik-baik saja, Tapi kamu? kamu terluka..."ujar Alice, suaranya masih bergetar karena shock
"Aku tidak apa-apa. yang penting kamu selamat, syukurlah."
Tanpa peringatan, Danzel tiba-tiba menarik Alice ke dalam pelukannya. Tubuh Alice membeku sesaat, jantungnya berdegup kencang, tapi dia tak bisa menolak pelukan itu.
Danzel memeluknya erat, seolah menyalurkan segala kekhawatirannya yang tak terkatakan. Ketakutan yang baru saja dia rasakan begitu nyata, dan tanpa sadar, Danzel merasa sangat takut jika mobil itu benar-benar menabrak Alice.
"Non... non Alice tidak apa-apa?" Suara panik supir pribadi Alice tiba-tiba terdengar, mengejutkan keduanya.
Danzel melepaskan pelukannya dari Alice.
"Aku baik-baik saja, Pak...," jawab Alice sambil mencoba berdiri di bantu oleh Danzel
"Segeralah pulang Alice, dan bila perlu periksa kondisimu terlebih dahulu."ujar Danzel
"Tapi kamu juga-
"Jangan khawatir punggungku tidak apa-apa, benturan nya tidak terlalu keras."Sela Danzel
"Hm baiklah, terimakasih banyak Danzel."ucap Alice dengan pandangan yang dalam
"Sama-sama."balas Danzel tersenyum
Alice melangkahkan kakinya pergi dengan perasaan yang sulit di jelaskan. ia tidak ingin bertanya tentang jarak yang dibuat oleh Danzel selama ini.
Sementara itu, Danzel hanya bisa menatap Alice yang sudah memasuki mobilnya. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya, perasaan asing yang membuatnya terdiam lama.
Baru kali ini ia sadar betapa jauhnya ia dari Alice selama ini. Betapa besar jarak yang telah ia biarkan tumbuh di antara mereka.
Dan kini, untuk pertama kalinya, Danzel merasa benar-benar kehilangan arah tentang siapa yang sebenarnya ia ingin jaga.
Sementara di lain sisi,
Rachel yang melihat penyelamatan Danzel, mengeram kesal. tangannya mengepal erat dan perasaan benci semakin membuncah di hatinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu kembali kepada Alice, Danzel."
"Hari ini adalah hari terakhirmu menyelamatkannya, aku akan merencanakan sebuah rencana untuk membuatmu membenci Alice selamanya."
"Dan kali ini akan ku pastikan, tidak ada lagi tatapan kekhawatiran dan kepedulian di matamu untuk Alice!"
**
Angin berembus lembut di sepanjang jalan yang dipenuhi pepohonan rindang. Rey mengendarai motornya dengan pelan, melintasi jalan yang sama seperti kemarin, berharap bertemu dengan seseorang yang tak pernah ia bayangkan akan memenuhi pikirannya—si gadis bunga.
Harapannya terkabul saat Rania mulai melintas di jalan itu dengan sepedanya. mata Rey berbinar dan langsung melajukan motornya mendekati Rania.
"Hai..."sapa Rey
"Kau lagi?" ucap Rania datar, sambil menarik napas panjang. Sepedanya berhenti seketika, diikuti Rey yang menghentikan motornya di sampingnya.
Mereka saling menatap sejenak—Rania dengan tatapan dingin dan tidak suka, sementara Rey tetap menatapnya dengan senyum yang lebar
Rania menghela napas, melipat tangannya di depan dada. "Ada keperluan apa?
Rey menggaruk tengkuknya, mencoba terlihat santai. "Tidak ada sih, aku hanya ingin berkenalan lebih jauh denganmu," ucapnya sambil tersenyum.
"oh ya aku juga sudah tahu namamu, Rania kan? aku mengetahuinya dari Alice."lanjut Rey
Rania tidak terlalu menanggapi dan melanjutkan perjalanannya, namun Rey lebih dulu mencegahnya.
"Tunggu, kau mau kemana?"
"kemana lagi, aku akan kembali bekerja menjual bunga-bunga ku. bertemu denganmu adalah hal yang tidak penting dan membuang waktu."cetus Rania
"Jangan pergi dulu, aku hanya ingin mengobrol sebentar denganmu. dan jangan takut, aku tidak menggigit kok. aku juga tidak akan mengkeretek kakimu lagi."
"Dan soal bunga-bunga mu, aku akan membeli semuanya."
Rey segera turun dari motornya, kemudian mengambil semua bunga di keranjang sepeda Rania, lalu memberikan sejumlah uang di tangan Rania.
Rania melongo tidak bisa berkata apa-apa, ucapan dan tindakan Rey begitu cepat membuatnya membeku.
"Sekarang bisakah kita mengobrol sebentar di tempat duduk taman disana."ajak Rey
Rania tersadar mengedipkan matanya dengan cepat, bisa bisanya ia sampai lupa berkedip. Rania terlihat gugup dan tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya.
"y-ya tentu saja, tetapi kau harus memejamkan matamu terlebih dahulu."
Rey mengerutkan keningnya sedikit ragu."Tapi kenapa harus memejamkan mata?"
"Kau mau mengobrol denganku kan?"ujar Rania tersenyum licik
Dengan sedikit enggan, Rey akhirnya menurut."ya baiklah."ucapnya sambil menutup matanya rapat
Rania memandang Rey yang berdiri dengan mata terpejam, sambil menahan tawa ia mulai mengayuh sepedanya dengan secepat mungkin.
Rey menunggu Rania dengan perasaan yang tidak enak.kerutan muncul di dahinya. "Rania?" panggilnya, masih dengan mata terpejam.
Tak ada jawaban.
Rey membuka salah satu matanya sedikit, kemudian sepenuhnya. Rania sudah jauh, hampir menghilang di kejauhan dengan sepedanya. "Hei!..."teriaknya
Rania yang mendengar teriakan itu, menoleh dan tertawa keras."Terimakasih sudah memborong bunganya, dan lain kali saja mengobrol nya."balas Rania dengan berteriak
Rey menghela napas dan menggelengkan kepalanya ."Astaga dia kabur lagi."gumamnya terkekeh kecil.