Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Biru dan Sisi Gelap sang "Tukang Kebun"
Malam harinya di tahun yang dingin, mansion Galen tampak lebih sibuk dari biasanya. Puluhan pria berjas hitam dengan alat komunikasi di telinga berjaga di setiap sudut. Rea yang sedang didandani oleh perias profesional hanya bisa diam dengan perasaan canggung yang luar biasa.
"Mas Galen... apa Rea tidak berlebihan pakai berlian sebanyak ini?" tanya Rea saat melihat pantulan dirinya di cermin. Gaun biru gelap itu memeluk tubuh mungilnya dengan sempurna, membuatnya tampak seperti bangsawan, bukan lagi gadis kafe yang sederhana.
Pintu kamar terbuka, Galen masuk dengan setelan tuksedo hitam yang sangat mahal. Rambutnya disisir rapi ke belakang, menambah kesan maskulin dan sangat mengintimidasi. Galen terpaku sejenak melihat Rea.
"Kau sangat cantik, Bunny. Berlian itu bahkan tidak sebanding dengan binar matamu," bisik Galen sambil mencium punggung tangan Rea.
Di Lokasi Pesta...
Mereka sampai di sebuah gedung mewah dengan penjagaan super ketat. Saat Galen turun dari mobil dan menggandeng tangan Rea, suasana mendadak sunyi. Semua orang membungkuk hormat. Rea merasa sangat canggung, ia semakin erat memeluk lengan Galen.
"Mas... kenapa mereka semua membungkuk pada Mas? Apa mereka juga tukang kebun?" bisik Rea polos.
Galen menahan tawa. "Mereka menghormati senioritas Mas, Rea. Sudah, jangan dilepaskan peganganmu."
Di tengah pesta, Galen harus meninggalkan Rea sebentar untuk berbicara dengan kolega penting di ruangan tertutup. "Leon, jangan lepaskan pandanganmu darinya sedetik pun," perintah Galen tegas sebelum pergi.
Rea yang sendirian di pojok ruangan dengan gelas jus di tangannya, tidak sengaja mendengar dua orang pria berjas bicara di belakangnya.
"Kau lihat pria itu? Galen Alonso... dia baru saja menghabisi seluruh klan di pelabuhan kemarin malam. Dia benar-benar monster yang tak punya belas kasihan," bisik pria pertama.
"Iya, aku dengar dia tidak segan-segan menembak siapa pun yang menghalangi jalannya. Kejam sekali," sahut pria kedua.
Rea tertegun. Galen Alonso? Nama belakangnya sama dengan Mas Galen? pikir Rea. Tapi ia segera menggelengkan kepala. Ah, pasti orang lain. Mana mungkin Mas Galen yang lembut dan suka urus bunga itu seorang monster.
Tiba-tiba, seorang pria asing mendekati Rea dengan tatapan nakal. "Hai cantik, sendirian saja? Mau ikut aku ke bar?" Pria itu mencoba menyentuh bahu Rea.
Belum sempat tangan itu menyentuh kulit Rea, sebuah tangan besar sudah mencengkeram pergelangan pria itu dengan sangat kuat hingga terdengar bunyi krak.
"Ahhh! Tanganku!" teriak pria itu kesakitan.
Galen sudah berdiri di sana dengan tatapan yang sangat mematikan. Matanya merah karena amarah. "Berani kau menyentuh milikku?" desis Galen. Suaranya begitu dingin hingga membuat suhu di ruangan itu seolah turun beberapa derajat.
"Ma-maaf Tuan Alonso! Saya tidak tahu dia istri Anda!" pria itu memohon sambil berlutut di lantai karena kesakitan.
Rea gemetar melihat sisi Galen yang ini. "Mas... Mas Galen, sudah... tangan bapak itu kasihan," ucap Rea sambil menarik jas Galen, suaranya hampir menangis karena takut.
Mendengar suara Rea, Galen langsung melepaskan cengkeramannya. Auranya kembali melunak dalam sekejap. Ia menarik Rea ke dalam pelukannya. "Maaf, Bunny. Mas hanya tidak suka ada 'serangga' yang mendekatimu."
Galen segera membawa Rea pulang, tidak peduli pesta belum usai. Di dalam mobil, Rea hanya diam membisu, masih terngiang ucapan orang tadi tentang "Monster Alonso".
Galen menyadari perubahan raut wajah Rea yang tampak pucat dan gelisah setelah kejadian di pesta tadi. Begitu mereka melangkah masuk ke dalam pintu mansion, Galen langsung memberikan isyarat pada Leon dan para pelayan untuk menghilang dari pandangan. Ia tidak ingin ada gangguan sedikit pun malam ini.
"Mas Galen... tadi itu—"
"Sstt," potong Galen lembut. Ia berlutut di depan Rea yang masih berdiri kaku dengan gaun birunya. Galen melepaskan sepatu hak tinggi yang menyiksa kaki Rea, lalu memijat telapak kaki mungil itu dengan perlahan. "Jangan dipikirkan. Orang tadi hanya tidak sopan, dan Mas tidak suka melihatmu diganggu."
Rea yang merasa canggung karena suaminya melakukan hal "rendah" seperti melepas sepatu asistennya, mencoba menarik kakinya. "Tapi Mas, tangan Mas kan buat pegang tanaman, jangan pegang kaki Rea..."
Galen terkekeh, suara tawanya rendah dan sangat maskulin. Ia bangkit berdiri dan tanpa aba-aba mengangkat Rea ke dalam gendongannya menuju kamar atas.
"Mas! Rea bisa jalan sendiri!" seru Rea sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Galen.
"Malam ini Mas ingin memanjakanmu, Bunny. Kau sudah berani ikut ke pesta yang membosankan itu, jadi kau berhak mendapatkan imbalan," bisik Galen tepat di telinga Rea, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Sesampainya di kamar, Galen tidak membaringkan Rea di kasur, melainkan membawanya ke kamar mandi luas yang sudah dipenuhi aroma esensial yang menenangkan. Galen mendudukkan Rea di pinggir bathtub yang sudah terisi air hangat dengan busa melimpah.
"Mas... Mas Galen mau apa?" tanya Rea gugup.
"Mas akan mencuci rambutmu," jawab Galen santai sambil mulai menggulung kemeja hitamnya hingga ke siku.
Rea tertegun. Pria yang tadi ditakuti seisi gedung pesta, kini dengan telaten membasahi rambut Rea, memberikan pijatan lembut di kepala istrinya dengan jari-jarinya yang besar namun sangat hati-hati. Rea yang awalnya canggung, perlahan mulai merasa sangat rileks hingga matanya nyaris terpejam.
"Mas Galen baik banget... Rea jadi merasa seperti putri raja," gumam Rea polos.
Galen tersenyum tipis, sorot matanya yang biasanya sedingin es kini tampak sangat memuja. "Kau memang ratu di rumah ini, Rea. Bukan cuma putri."
Setelah selesai, Galen membungkus Rea dengan handuk hangat yang tebal dan membawanya kembali ke ranjang. Ia mengambil pengering rambut dan mulai mengeringkan rambut Rea dengan sangat sabar. Tidak ada kata-kata kasar, tidak ada senjata, hanya ada perhatian tulus yang diberikan sang mafia kepada istrinya.
Rea yang sudah merasa mengantuk akhirnya bersandar di dada Galen. "Mas... jangan jadi galak seperti tadi lagi ya, Rea takut."
Galen menghentikan gerakannya. Ia memeluk Rea dari belakang, menenggelamkan wajahnya di rambut Rea yang harum. "Mas hanya galak pada orang yang berniat jahat, Bunny. Bagimu, Mas tetaplah Galen-mu yang dulu kau temukan di jalanan."
Galen terus memeluk dan membelai rambut Rea sampai gadis itu benar-benar terlelap dalam dekapannya. Malam itu, Galen membuktikan bahwa meski tangannya kotor oleh dunia luar, ia akan selalu menjadi tempat paling lembut bagi Rea untuk pulang .