Nova lisma, gadis desa yang tiba-tiba mendapat sistem keberuntungan, tentu saja terkejut. namun, dia langsung memanfaatkan semuanya. dan dia yang mengupayakan untuk kuliah, benar-benar memanfaatkan sistem tersebut.
dia mengumpulkan modal dari hadiah sistem, dan kemudian perlahan membuka usahanya sendiri.
sementara, setelah dirinya mendapatkan sistem, dia pun jadi melupakan kebiasaannya yang selalu menempel pada seorang laki-laki yang merupakan seniornya. Julian.
lalu bagaimanakah selanjutnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirta_Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. permen dari sistem
Putri memandang ke arah permen yang ditunjukkan oleh bundanya. dan putri yang tak pernah makan makanan manis langsung menganggukkan kepalanya walau sedikit ragu.
"mau bunda.. tapi kalau ibu tahu.. Ibu pasti tidak mengizinkan.." ucap Putri sambil menundukkan kepalanya. Nova pun langsung tersenyum.
"kalau begitu cepatlah dimakan.. mumpung ayah sama ibu Putri masih sibuk bersihin kamar." Putri yang mendengar itu langsung berbinar-binar. kemudian menerima permen itu dan langsung mengunyahnya.
dia merasa kalau permen itu rasanya berbeda dengan permen-permen biasanya. ada rasa manis yang tidak terlalu pekat, namun lebih dominan asam dan ada sedikit rasa pahitnya. pokoknya sulit untuk dijelaskan.
"habis bunda.." Nova tersenyum dan kemudian memberikan kode untuk keponakannya agar diam.
ketika pil itu sudah habis dimakan oleh Putri, pil itu pun seketika langsung bereaksi. Putri yang awalnya tidak bertenaga sama sekali, dan wajahnya yang terlihat pucat langsung berubah menjadi lebih merah dan sedikit memiliki tenaga.
Kruuuuuukkk..!!
Putri memandangi perut yang sangat tipis itu, sambil mengusap perutnya.
"bunda.. Putri lapar.." ucapnya dengan lemah. Nova yang mendengar itu tersenyum senang. waktu itu, Ia tahu kalau keponakannya ini sangat sulit untuk makan dan bahkan tak pernah meminta makan seperti ini. Karena itulah badannya menjadi kurus dan kering.
"Kamu lapar sayang..? bunda masakin bubur dulu ya. biar pencernaan Putri lancar." hari ini Nova tentu tidak melaksanakan kewajibannya, karena sedang libur. dan itu wajar terjadi pada setiap perempuan.
"em.. boleh bunda.." jawab Putri sambil menganggukkan kepalanya.
"tapi bunda.. Putri nggak mau sendirian.." ujar Putri lagi. nova yang mengerti pun langsung mengangkat tubuh keponakannya itu.
"kalau begitu, ayo kita masak bubur." Untung saja Nova sebelumnya memang sudah memasak makanan yang sedikit lembek. hanya tinggal menambahkan air, dan mendidihkannya lagi ke dalam panci. setelah itu, menambahkan beberapa sayuran dan juga telur, baru bisa dikonsumsi oleh keponakannya.
"kak nes!!" panggilnya. Agnes dan Iqbal yang masih menyapu dan menata tempat tidur mereka langsung keluar.
"Iya dek.." jawabnya yang langsung keluar dengan cepat. takut terjadi apa-apa dengan putrinya.
ketika Agnes keluar, dia melihat kalau putrinya masih berada dalam gendongan adik iparnya. namun ada yang berbeda, wajah putrinya terlihat tidak sayu lagi dan lebih segar. bahkan wajah pucat itu berubah sedikit berwarna merah jambu.
Agnes yang melihat itu merasa sedikit keheranan. anaknya belum saja ditindak, tapi kondisinya sudah terlihat baik-baik saja.
"ada apa dek..?" tanyanya.
"Kakak duduk saja di sini bersama putri. Aku mau buatkan bubur dulu untuknya. untuk sekarang, Putri hanya boleh makan makanan yang encer dan mudah untuk dicerna." ucapnya sambil menyerahkan Putri ke dalam gendongan kakak iparnya.
Agnes yang mendengar itu menoleh ke arah sang anak. dan kemudian mendudukkan tubuhnya secara perlahan.
"kamu minta makan sayang..?" tanya Agnes dengan lembut. Putri tampak menyandarkan tubuhnya di dada kurus ibunya.
"Iya Bu.. Putri lapar.. Putri mau makan.." jawabnya dengan suara yang masih terdengar lemah.
mendengar jawaban putrinya, mata Agnes langsung berbinar-binar. Iqbal yang sudah selesai juga ikut keluar.
"ada apa dek.." Agnes langsung menoleh dengan mata berkaca-kaca.
"mas.. Putri.. Dia minta makan mas.." jawabnya. walaupun senang, tapi masih ada rasa ragu di dalam hatinya.
"wah..!!.bagus dong.!!!. Sini dek.. biar Abang saja yang masak.." ujar Iqbal yang tentu bercampur dengan kegembiraan. Nova pun tersenyum.
"sudah bang.. kalian istirahat saja. abang sama kakak ipar mandi dulu sana. aku sudah pesan sambal. Nanti, tidak perlu masak lagi." ucapnya.
"ya.. Mas.. Mandi duluan. Nanti kita gantian.." ujar Agnes sambil memangku putrinya. Sementara Nova, sambil menunggu pesanan dan juga masak bubur untuk keponakannya, dia langsung menghubungi nomor ibunya di kampung.
sekali panggil saja, panggilannya pun langsung diangkat. dan langsung terdengar suara ibunya yang tampak tergesa-gesa.
tut
"assalamualaikum nak... Bagaimana ? Apakah, Abang dan kakak ipar mu sudah bertemu denganmu ?" tanyanya dengan raut wajah yang panik. Nova yang mendengar itu tersenyum.
"ibu tenang saja.. mereka sudah bersamaku.." Nova pun langsung mengganti arah kameranya. dan di sana dia langsung memperlihatkan kakak iparnya dan keponakannya yang sedang dipangku oleh sang kakak ipar.
Ibu Isma yang melihat hal itu langsung menghela nafasnya.
"syukur alhamdulillah nak.. Ibu benar-benar sangat khawatir. takut terjadi apa-apa dengan kalian." tutur Ibu Isma lagi sambil mengusap dadanya lega.
Dan ternyata, disana juga ada keluarga kakak keduanya, dan dia keponakannya yang di titipkan di rumah kedua orang tuanya.
"iya.. Ibu tenang saja. Besok, aku akan bawa Abang dan kakak ipar kerumah sakit. Biar Putri bisa dapat pemeriksaan." ucapnya lagi. namun Nova tidak berencana membawa keponakannya itu ke rumah sakit besar. Biasanya, karena rumah sakit besar biasanya banyak sekali persyaratannya. jadi tidak akan kelar-kelar.
jadi sebelum nanti keponakannya diputuskan untuk dirawat inap, alangkah baiknya mereka akan memeriksakan ke tempat praktek dokter saja. Nanti, dia juga bisa menggunakan kemampuan mata dewa yang ia miliki, untuk memeriksa kondisi keponakannya.
"hah.. Ibu bisa tenang sekarang.! sejak tadi perasaan Ibu sangat cemas. takut terjadi apa-apa dengan Abang dan Kakak iparmu di perjalanan. tapi untung saja, mereka sudah tiba dengan selamat. Kalian sudah makan nak..?" tanya Ibu Isma lagi.
"Iya Bu! sebentar lagi. kami sekarang sedang menunggu pesanan makanan dari luar. sementara ini, aku juga sedang masak bubur untuk Putri. tadi, Putri minta makan.." penuturan itu langsung membuat mata Ibu Isma berbinar-binar.
"benarkah nak!! syukurlah kalau keponakanmu sudah mulai meminta makan.. kalau begitu, Ibu tidak akan ganggu. biarkan kalian makan dengan tenang dan setelah itu langsung istirahat." Nova pun menganggukkan kepalanya.
"baiklah Bu.. aku mengerti.." akhirnya panggilan pun berakhir, Nova langsung menutup dan meletakkan handphone itu di meja yang tak jauh dari kompor tempat Ia memasak. dan kebetulan pula, bubur untuk keponakannya juga telah matang.
setelah masak, Nova pun langsung memindahkan bubur itu dan membiarkannya dingin. agar nanti keponakannya bisa menikmati makanan tersebut.
bersamaan dengan itu, Iqbal juga baru saja selesai mandi. dan langsung menggunakan pakaian baru.
"dek.. baju yang dicuci, digantung ke mana ya..?" tanyanya. Nova yang mendengar itu memandang ke arah sang Abang sambil mengerjakan sesuatu.
"Abang nyuci..? kenapa Abang cuci sekarang ? besok kan bisa dicuci pakaiannya ? di luar sana ada mesin cuci bang. jadi Abang tidak perlu repot-repot ngucek lagi. Abang jamur saja di belakang kalau begitu. buka pintunya dan di belakang ada tempat jemuran." mendengar itu, Iqbal langsung bergerak cepat.
dia membukakan pintu bagian belakang, dan langsung menongolkan kepalanya. ternyata di bagian belakang juga cukup bersih dan ada tembok pembatas. sehingga tidak langsung terakses dengan ruangan terbuka.
dia pun langsung mengambil dua helai pakaian yang ia cuci, dan kemudian menggantungnya. di sampingnya juga dia melihat keberadaan mesin cuci yang dimaksudkan oleh sang Adik.