Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan Keluarga Bastian (2)
Malam semakin larut.
Angin berembus pelan di halaman belakang, menyusup di antara dedaunan dan membuat lampu-lampu kecil yang tergantung di sana bergoyang lembut, seolah ikut bernapas bersama malam. Cahaya kekuningan nya memantul di lantai, menciptakan bayangan panjang yang hangat namun tenang.
Setelah makan malam usai, Elisabet menyuruh para pelayan membereskan meja. Suara piring dan sendok beradu pelan, lalu satu per satu menghilang ke dalam rumah. Armand memilih duduk santai di kursi rotan, menyandarkan punggungnya dengan napas panjang. Ia menikmati suasana yang jarang benar-benar ia rasakan—tenang, penuh tawa, tanpa jadwal, tanpa tekanan, tanpa tanggung jawab yang mengejar.
Safira meregangkan tubuhnya, kedua tangannya terangkat ke atas kepala.
“Capek juga ya,” katanya sambil tersenyum puas. “Tapi capeknya enak.”
“Iya,” sahut Adrian sambil menyandarkan punggungnya. Bahunya sedikit jatuh, tanda lelah yang jujur. “Rasanya beda kalau capek bareng keluarga. Lebih seru… dan entah kenapa, lebih asik.”
Clarissa hanya tersenyum tipis. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menatap langit malam yang bertabur bintang. Cahaya bulan menyentuh sisi wajahnya, memperjelas garis-garis ketenangan yang selalu ia jaga. Namun di balik wajah itu, pikirannya berkelana jauh.
Ada rasa hangat yang menenangkan—rasa pulang.
Namun bersamaan dengan itu, ada sesuatu yang mengusik, berdenyut pelan di dadanya. Perasaan yang belum punya nama.
“Aku harap kebahagiaan ini abadi,” ucapnya dalam hati, nyaris seperti doa.
Tak lama kemudian, Elisabet berdiri. Langkahnya pelan saat menghampiri ketiga anaknya.
“Kalian tidak usah begadang,” ujarnya lembut, suaranya penuh perhatian seorang ibu.
“Besok kita masih punya banyak waktu.”
Ia tersenyum kecil, lalu menambahkan, “Istirahatlah. Besok masih banyak yang harus kita lakukan.”
“Baik, Bu,” sahut ketiga kakak beradik itu hampir bersamaan. “Kami tidak akan begadang.”
“Bagus,” kata Elisabet sambil mengusap bahu Safira sekilas. “Ibu masuk duluan. Udaranya semakin dingin.”
Sebelum pergi, ia tak lupa memberikan kecupan hangat di pipi kedua putrinya dan satu putranya. Armand pun tak lama menyusul sang istri, meninggalkan halaman belakang yang kini semakin sunyi.
Malam semakin gelap.
Udara dingin perlahan menusuk kulit, membuat semua orang akhirnya memutuskan meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam rumah. Padahal, suasana dan pemandangan langit malam—gelap, luas, dipenuhi bintang—seakan memohon untuk terus dipandangi.
Namun apa daya, mereka sudah berjanji kepada ibu mereka untuk tidak begadang malam itu.
Akhirnya, satu per satu mereka masuk ke dalam rumah.
...****************...
Di Dalam Rumah
Safira langsung naik ke kamarnya. Tubuhnya terasa berat oleh kelelahan yang menyenangkan—kelelahan yang datang bukan dari beban, melainkan dari kebahagiaan. Ia menjatuhkan diri ke atas ranjang, menatap langit-langit kamar sambil tersenyum kecil.
“Kalau setiap hari seperti ini,” gumamnya pelan, hampir seperti rahasia untuk dirinya sendiri, “mungkin aku tidak mau kembali ke kampus.”
Di kamar sebelah, Adrian berdiri di depan jendela. Ia membuka tirai sedikit, menatap halaman yang kini sunyi dan gelap. Sorot matanya berubah—lebih serius, lebih dewasa dari biasanya.
Liburan ini terasa indah. Terlalu indah.
Dan ia tahu, begitu liburan usai, dunia disiplin, perintah, dan tuntutan akan kembali menunggunya tanpa kompromi.
“Aku harus kuat,” bisiknya pada pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela.
Sementara itu, Clarissa belum langsung masuk kamar. Ia berhenti di lorong, menatap pintu kamar adik-adiknya satu per satu. Ada senyum kecil di wajahnya—senyum seorang kakak yang lega melihat adik-adiknya bahagia.
Namun di balik senyum itu, matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Kekhawatiran yang sengaja ia kunci rapat.
Akhirnya, ia masuk ke kamarnya sendiri.
Clarissa duduk di tepi ranjang, lalu membuka laptop yang sejak sore belum benar-benar ia sentuh. Layar menyala, dan beberapa surel masuk langsung terpampang.
Nama pengirimnya membuat alisnya berkerut.
Ia membaca satu per satu.
Senyumnya memudar.
Tangannya berhenti di touchpad. Napasnya tertahan sesaat.
“Kenapa sekarang…?” gumamnya lirih.
Ia menutup laptop perlahan, seolah suara engselnya bisa memecah ketenangan malam. Clarissa berdiri dan berjalan ke jendela. Lampu taman masih menyala, menerangi halaman tempat mereka tertawa beberapa jam lalu.
Kontras itu terasa menyakitkan—antara kebahagiaan hari ini dan kenyataan yang diam-diam menunggu di depan.
Clarissa memejamkan mata.
“Liburan ini belum selesai,” bisiknya tegas pada dirinya sendiri. “Aku tidak akan membiarkan apa pun merusaknya.”
Namun jauh di luar pagar rumah Bastian, sesuatu telah bergerak.
Sebuah nama lama kembali muncul.
Sebuah urusan yang seharusnya terkubur, perlahan menemukan jalannya pulang.
Dan tanpa disadari siapa pun malam itu, liburan keluarga Bastian—yang dimulai dengan tawa dan kehangatan—akan segera diuji oleh masa lalu yang menolak untuk tetap diam.
Bayangan konflik yang tadi hanya terasa samar… kini mulai mengambil bentuk.
Semua Pandangan
Malam kian larut, dan rumah keluarga Bastian akhirnya tenggelam dalam keheningan. Lampu-lampu diredupkan, langkah kaki para pelayan menghilang satu per satu, menyisakan suara alam—angin, dedaunan, dan bunyi serangga malam yang lirih.
Namun di balik keheningan itu, setiap penghuni rumah menyimpan pikirannya sendiri.
Clarissa masih berdiri di dekat jendela kamarnya. Tirai tipis bergoyang pelan tersentuh angin malam. Cahaya taman memantul di matanya—mata yang kini jauh dari kata santai.
Pikirannya kembali pada surel yang baru saja ia baca.
Nama itu.
Masalah itu.
Sesuatu yang seharusnya selesai—atau setidaknya ia paksa untuk selesai.
Tangannya mengepal pelan.
“Kenapa selalu datang saat aku mulai merasa tenang…?” bisiknya hampir tak terdengar.
Clarissa Bastian bukan perempuan yang mudah goyah. Ia sudah terlalu lama berdiri di dunia keras, terlalu sering menutup luka dengan senyum tenang.
Namun malam ini berbeda.
Malam ini, ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.
Safira.
Adrian.
Ayah dan Ibu.
“Aku tidak boleh ceroboh,” gumamnya. “Apa pun yang terjadi… keluarga ini harus tetap aman.”
Ia menutup tirai, mematikan lampu, lalu berbaring. Namun matanya tak segera terpejam. Ada beban di dadanya—berat, dingin, dan ia simpan sendiri.
Safira
Di kamar lain, Safira membalikkan tubuhnya ke samping. Matanya menatap dinding—kosong, namun penuh isi.
Ia tersenyum kecil, mengingat pagi dan sore tadi—tarikan paksa Clarissa dari tempat tidur, tepung yang berhamburan di dapur, tawa Adrian yang selalu terdengar terlalu keras.
“Aneh,” gumamnya pelan. “Aku hampir lupa rasanya punya rumah yang benar-benar hidup.”
Namun senyumnya perlahan memudar.
Safira bukan anak kecil lagi. Ia peka—terlalu peka, kadang. Ia melihat sesuatu di mata Clarissa malam tadi. Sorot yang tidak selaras dengan senyum hangat kakaknya.
“Kak Clarissa selalu bilang semuanya baik-baik saja…” bisiknya. “Tapi matanya tidak pernah bohong.”
Ia menggigit bibirnya pelan.
“Kalau nanti kakak butuh aku…” ucapnya lirih, seolah Clarissa bisa mendengar, “aku ada.”
Rasa lelah akhirnya menjemputnya. Safira terlelap dengan satu doa kecil di hatinya—semoga liburan ini benar-benar membawa ketenangan.
Adrian
Adrian belum tidur.
Ia duduk di ujung ranjang, menyeka rambutnya yang masih sedikit lembap. Pandangannya lurus ke depan—fokus, seperti sedang bersiap menghadapi sesuatu yang belum terlihat.
Kata ibunya sore tadi kembali terngiang.
Lengkap.
Sebagai taruna, Adrian terbiasa membaca situasi. Dan malam ini, instingnya berkata ada sesuatu yang tidak beres.
“Kak Clarissa kelihatan tenang,” gumamnya. “Tapi… terlalu tenang.”
Ia bangkit, berjalan ke jendela, menatap halaman yang gelap.
“Apa pun yang terjadi,” ucapnya tegas pada bayangannya sendiri di kaca, “aku bukan anak kecil lagi.”
Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya melihat dirinya sebagai adik bungsu. Ada dorongan kuat di dadanya—keinginan untuk melindungi.
Keluarganya.
Armand dan Elisabet
Di kamar mereka, Armand mematikan lampu lalu berbaring di samping istrinya. Elisabet belum tidur. Matanya menatap langit-langit.
“Kamu merasakannya juga?” tanya Elisabet pelan.
Armand mengangguk tanpa membuka mata.
“Rumah ini hangat… tapi seolah sedang menahan napas.”
Elisabet menarik selimut lebih tinggi.
“Aku hanya ingin mereka baik-baik saja.”
Armand meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat.
“Selama kita bersama,” ucapnya mantap, “kita akan hadapi apa pun.”
Namun sebagai orang tua, mereka tahu—tidak semua hal bisa mereka lindungi selamanya.
Malam itu, seluruh keluarga Bastian terlelap dengan perasaan yang berbeda-beda.
Hangat.
Tenang.
Namun juga… waspada.
Dan jauh di luar rumah itu, sebuah langkah baru saja diambil.
Sebuah keputusan telah dibuat.
Liburan keluarga Bastian akan segera memasuki babak lain—
babak di mana masa lalu, rahasia, dan pilihan lama menuntut jawaban.
Dan kali ini, bukan hanya Clarissa yang akan terdampak…
melainkan semuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...