"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uang atau Alang
"Dewi!"
Bentakan Saga menggema di dalam rumah bak istana itu.
Dewi tersentak, langkahnya terhenti diambang pintu tengah menuju ruang tamu.
"P_Paman?" Dewi menyahut gugup.
"Bukankah sudah ku katakan untuk tidak bertemu dengannya sementara! Apakah aku harus mengusirnya?"
Dewi menunduk ketakutan. "Jangan! Dewi yang salah, Dewi yang_"
"Ya, ku rasa kau memang sudah tak tahan."
Geram, ingin sekali menampar wajah Dewi yang pucat. Tapi, teringat jasa Rasni yang begitu tulus menyekolahkan Saga ketika itu, tangan yang mengepal kembali melonggar.
"Duduk!" titah Saga.
Dewi segera menuruti kata-kata sang paman, duduk di kursi jati yang empuk, ia tak berani lagi memandang wajah Saga.
Selembar kertas langsung di letakkan di hadapan Dewi.
"Uang satu miliyar, atau menikah dengannya."
Dewi tercengang, ia mendongak Saga yang menatap tajam.
"Dia, bukan laki-laki yang baik untuk kau jadikan suami, Dewi!" ucap Saga, tegas.
"Paman, aku tidak mengerti yang paman Saga maksudkan? Tidak baik seperti apa? Sejauh kami dekat, dia tak pernah menunjukkan sikap tak baik. Dia juga tidak pernah pacaran selain sama Dewi."
Jawaban Dewi membuat Saga tersenyum kecut. Ingin rasanya mengatakan yang sebenarnya, tapi....
"Aku laki-laki, Dewi. Aku tahu mana yang baik atau yang tidak. Sekarang kau pilih saja, uang atau Alang?"
Ia hanya ingin Dewi berpikir dengan benar, tapi melihat kondisi hubungan mereka yang seperti ini, sepertinya sulit bagi Dewi berpikir jernih, atau sudah terlambat.
Saga memperhatikan wajah keponakannya itu lebih lama, kasihan dan kesal bercampur aduk. Sepertinya, Niken masih lebih pintar daripada keponakannya yang sudah sarjana ini.
"Besok, sudah harus ada jawaban." ucap Saga.
Hadirnya Dewi yang menguak hubungan gila bersama Alang, membuat Saga pusing setengah mati. Kalau dengan wanita lain, mungkin Saga akan senang. Tapi dengan Dewi?
"Niken, datang ke lantai dua. Aku sedang berada di kamar Mak Puah." titah Saga melalui telepon.
Niken melepaskan handuk yang membungkus rambutnya, menyisirnya terburu-buru dan pergi ke lantai atas.
"Mak!"
Pintu segera di buka lebar, Mak Puah itu mempersilahkan Niken masuk.
Di dalam sana, Saga telah duduk menghadap jendela yang terbuka sambil menghisap rokok. Asapnya mengepul keluar, tapi sebagiannya masuk sehingga tercium bau tembakau.
"Tuan, memanggil saya. Ada apa?" tanya Niken, tanpa basa-basi ia berdiri di belakang Saga.
Saga menekan ujung rokok yang menyala itu hingga mati. Kemudian berbalik hingga berhadapan dengan Niken.
"Ini, tentang kamu dan Alang." ucap Saga.
Mak Puah pun keluar meninggalkan Niken dan Saga, berbicara berdua.
"Katakan saja." ucap Niken, mulai meremat tangannya sendiri.
"Niken, apa kamu rela Alang menikah dengan Dewi?" tanya Saga, membuat Niken gugup, terkejut, sedih, dan segala perasaan melanda kecuali bahagia.
Keduanya saling menatap, sejenak tanpa kata.
Saga beranjak, ia meraih tangan Niken yang terasa dingin. Kemudian mengajaknya duduk di ranjang Mak Puah.
"Apa kamu juga ingin menikah dengan Alang?" tanya Saga lagi, pelan sekali.
Pertanyaan ini, lebih membuat hati Niken berantakan.
"Maaf jika aku lancang. Tapi, aku sudah tahu hubungan mu dengan Alang, bukan hanya kakak dan adik biasa."
Kali ini Niken menunduk dalam sekali, tak henti kedua tangannya bertaut. Segala macam pikiran berkecamuk. Begitu hebat Tuan Saga ini, sampai mengetahui rahasia dia dan Alang di kampung.
"Mas Alang itu, kakak ku." jawab Niken, terlalu lirih. Tampak seperti orang kesakitan.
"Niken, kalau kamu ingin dia menikahi mu, aku akan meminta Dewi mundur. Aku tahu Alang mencintaimu, bahkan aku ragu kalau dia benar-benar mencintai Dewi." jelas Saga.
Tapi, ucapan itu membuat Niken menangis. Berusaha menelan sakit yang telah menjalar ke seluruh tubuh, Niken hanya berpura-pura kuat sebentar saja.
"Pikirkan baik-baik." ucap Saga lagi. Ia beranjak dari duduknya.
"Tuan Saga." panggil Niken, mencegah laki-laki dewasa itu meninggalkan ruangan.
"Aku mohon untuk tetap bekerja di hotel milikmu. Aku tidak mau pulang kampung, aku juga tidak mau ikut Mas Alang. Aku ingin hidup mandiri, agar kebodohan ku ini, tidak terulang lagi."
Sungguh, jawaban yang mengejutkan. Saga berbalik menatap gadis belia itu kini menjadi sedikit punya tekad.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Aku tidak ingin menikah dengan Mas Alang. Kalau mereka ingin menikah, silahkan saja. Aku rela, tapi...."
"Apa?" sahut Saga cepat.
"Tolong tutup aibku. Aku malu."
Buru-buru Niken menunduk sedalam-dalamnya. Tidak ingin tuan Saga melihat dirinya yang bodoh dan kotor. Tapi, tidak ada tempat untuk menutupi semuanya.
"Aku janji!" jawab Saga.
Senyum tipis terbit dari bibir Sagara, tidak di sangka gadis ini begitu berani mengakui.
Didikan Haji Ibrahim masih melekat jelas di dalam diri Niken, khilaf adalah wajar sebagai manusia, apalagi ketika ia kehilangan arah.
"Bunga yang di jaga seperti emas oleh haji Ibrahim, tak jadi mekar gara-gara ilalang yang tumbuh di bawah kaki mu? Memang tidak pantas."
Ucapan Saga membuat Niken merasa heran, benarkah tuan Saga ini mengenal orangtuanya? Kapan, sejauh apa?
Rasanya, benang kusut di dalam kepala Saga mulai terurai, hanya menunggu keputusan Dewi. Kalau Dewi juga tak mau, artinya Alang akan di buang. Saga sudah tak sabar ingin mengusirnya.
"Sayang."
Saga terkejut, sepasang tangan tiba-tiba melingkar di dadanya. Ia segera beranjak dari duduknya yang baru sebentar.
"Mas Sagara?" kesal gendis.
"Aku capek." Saga melangkah pergi, tapi gendis kembali menariknya hingga kembali jatuh di sofa.
"Gendis!" bentak Saga, tidak terima gendis sudah berada diatas, duduk menahan tubuhnya.
"Aku ini istrimu, kau diamkan aku berbulan-bulan aku tidak tahan!" kesal gendis.
"Kalau begitu carilah laki-laki di luar!" Saga mendorongnya.
"Sagara! Aku sedang meminta hak ku!" gendis berteriak.
Saga melotot tajam, bicara hak dia malah tak mendapatkan haknya untuk menjadi seorang ayah.
"Kalau saja, Dari awal kamu jujur. Mungkin aku tidak akan seperti ini." jawab Saga, berkata dingin.
"Ingat Mas, kita sudah berjanji sehidup semati. Kamu_"
"Aku tidak mau, Gendis." jawab Saga.
"Mau atau tidak kita akan terus bersama. Baik susah ataupun senang, kamu tidak akan bisa berpaling dariku, Sagara."
Saga tersenyum kecut, ia tahu gendis berkata seperti itu karena telah berhasil mengikat dirinya tanpa sadar.
"Kamu menipuku, kamu menjerat hidupku agar kau tidak mati sendirian. Kau kira itu cinta?" Saga terkekeh. "Aku tidak mau menjadi budak setan." Saga mendorong gendis, meninggalkannya naik kelantai atas.
"Sagara! Kau tidak akan bisa lari meskipun mencoba selingkuh! Kau tidak tahu resikonya!"
Teriakan Gendis membuat Saga membeku diatas tangga. Sekilas ia memikirkan Niken. Apakah, wanita yang diinginkannya akan dalam bahaya?
"Uhugh!" Seketika dada Saga terasa sakit, matanya mengabur dan kepalanya pening.
Sadar saat ini berada diatas tangga, Saga segera duduk dan berpegang kuat-kuat.
"Huwekk!"
Darah segar keluar dari mulut saga.
"Sialan kamu, Gendis!" gumamnya.
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis