NovelToon NovelToon
A.M.R.A

A.M.R.A

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.

Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.

Masih Mencinta namun tak dapat bersama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanda Tangan

Pagi di Studio A.M.R.A terasa berbeda. Sinar matahari pagi menyusup melalui jendela tinggi, menyentuh gulungan kain dan debu-debu yang menari di udara.

Sisa-sisa euforia pameran malam sebelumnya masih seperti gema yang hangat di dada Amara, tapi di atas meja kerjanya yang berantakan oleh sketsa dan sampel, kini terbentang sebuah dokumen yang membuat suasana hati itu berubah menjadi gemuruh cemas.

Dokumen itu berlogo resmi sebuah yayasan seni bergengsi di Yogyakarta. Judulnya: "Surat Penawaran Residensi Seniman 'Merapi Arts Lab', Yogyakarta – Periode 3 Bulan."

Sebuah kesempatan yang hanya didapat segelintir seniman. Fasilitas: studio pribadi, tunjangan hidup, akses ke workshop ahli, dan yang paling menarik—kesempatan pameran tunggal di akhir residensi di galeri mitra mereka di Jakarta. Telah ditandatangani oleh direktur program. Hanya butuh tanda tangannya.

Dan di bawah dokumen itu, tergeletak secarik kertas catatan tulisan tangan di atas kop surat kafe yang familiar:

Amara,

Dokumen resminya. Baca dengan saksama. Ini bukan tawaran biasa. 'Merapi Arts Lab' adalah tempat di mana ide-ide liar menemukan bentuknya. Saya melihat potensi itu di dalam karyamu. Tiga bulan jauh dari rutinitas Jakarta bisa menjadi katalis yang kamu butuhkan untuk melompat lebih tinggi.

Tapi saya tahu ini bukan keputusan mudah. Untukmu, khususnya. Kita bicara setelah kamu baca.

—Edo

Amara duduk, menatap dokumen itu. Jantungnya berdebar kencang, campuran antara kegembiraan yang meluap dan sebuah kecemasan yang mulai merayap dari pinggiran kesadarannya. Tiga bulan. Yogyakarta.

Dia membayangkan studio di kaki Gunung Merapi, keheningan yang hanya diisi oleh suara alam dan kreativitasnya sendiri. Sebuah kemewahan yang bahkan tidak pernah dia impikan saat terjebak dalam kehidupan rumah tangganya yang dulu.

Tapi lalu, seperti bayangan yang jatuh menutupi cahaya matahari, wajah Luna muncul di benaknya.

Tiga bulan. Itu berarti meninggalkan Luna. Meninggalkannya tepat di saat mereka baru mulai menemukan ritme baru mereka yang rapuh namun indah setelah pameran. Jadwal co-parenting mereka yang baru saja mulus. Kemandirian Luna yang masih membutuhkan kehadirannya setiap hari meski hanya lewat video call.

Ibu tunggal. Kata-kata itu tiba-tiba terasa berat seperti batu. Dia bukan lagi Amara yang bebas, bisa pergi kapan pun. Dia adalah seorang ibu. Seorang ibu dengan tanggung jawab yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Konflik itu mulai menggerogoti. Satu sisi, dia adalah Amara sang seniman, yang haus untuk berkembang, untuk mengeksplorasi batas-batas kemampuannya, untuk membuktikan bahwa pameran "Renewal" bukanlah puncak, tapi hanya sebuah titik berangkat.

Di sisi lain, dia adalah Amara sang ibu, yang hatinya terikat pada senyuman, tawa, dan keseharian putrinya. Setelah pertempuran panjang untuk mendapatkan kembali dirinya, apakah dia akan memilih untuk pergi? Apakah itu berarti mengorbankan Luna untuk egonya sendiri?

Dia mengusap wajahnya. Bau kopi dari mesin di sudut studio tak mampu menenangkannya.

Pertemuan dengan Edo dijadwalkan siang itu, di sebuah kafe konsep di daerah Senayan yang sunyi di jam kerja.

Amara memilih pakaian yang mencerminkan kebingungannya: celana jeans sobek yang nyaman, kaos oblong hitam, dan sebuah blazer oversized warna krem yang memberikannya kesan profesional sekaligus ingin bersembunyi.

Wajahnya sedikit pucat, lingkaran hitam di bawah mata terlihat jelas.

Edo sudah duduk di sudut, di depan laptopnya. Dia mengenakan kemeja linen putih lengan panjang yang digulung sampai siku, celana chino coklat, dan kacamata hitam yang sekarang digantung di kancing kemejanya.

Saat melihat Amara masuk, dia langsung menyimpan laptopnya dan berdiri, menyambutnya dengan senyuman yang hangat namun membaca wajahnya dengan cepat.

"Kamu terlihat seperti baru saja berlari maraton pikiran," sapa Edo, tanpa basa-basi.

"Lebih tepatnya, terperangkap di dalamnya," jawab Amara, duduk dengan lelah.

Pesanan datang: kopi hitam untuk Amara, teh earl grey untuk Edo.

"Jadi?" tanya Edo setelah barista pergi. "Apa yang kamu pikirkan?"

Amara menarik napas. "Tawarannya… luar biasa. Sungguh. Saya hampir tidak percaya. Tapi…"

"Tapi ada Luna," sambung Edo, dengan lembut. Matanya penuh pengertian, bukan penilaian.

Amara mengangguk, merasa lega dia tidak perlu menjelaskan panjang lebar. "Tiga bulan. Itu lama. Dia baru berusia 11 tahun.

Jadwalnya dengan Rafa sudah fix, tapi… dia masih butuh ibunya setiap hari. Bukan hanya di akhir pekan atau via video call."

"Kamu membicarakan ini dengannya? Dengan Luna?"

"Belum. Saya ingin yakin dengan keputusan saya dulu sebelum membebani pikirannya."

"Dan dengan Rafa?"

Itu pertanyaan yang lebih sulit. "Juga belum."

Edo mendorong cangkir tehnya, mempertimbangkan kata-katanya.

"Amara, sebagai kurator, saya melihat bakat yang sangat mentah dan kuat dalam dirimu. Karyamu di 'Renewal' itu bagus, tapi itu baru permukaan.”

“Saya rasa ada sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, lebih… berani yang ingin keluar. Residensi ini adalah ruang aman untuk mengeksplorasi itu. Tanpa gangguan rutinitas, tanpa tekanan pertemuan klien desain interior, tanpa… segala hal yang mengingatkanmu pada kehidupan lamamu di Jakarta."

Dia bicara dengan penuh gairah, dan Amara terpikat. Itu persis yang dia rasakan—ada sesuatu yang menggedor-gedor di dalam, meminta untuk dikeluarkan.

"Tapi sebagai teman—dan saya berharap kita bisa berteman—saya juga mengerti dilemamu." Edo melanjutkan, nadanya lebih rendah.

"Pertanyaan yang harus kamu jawab bukanlah 'apakah ini kesempatan bagus?' Itu sudah jelas iya. Pertanyaannya adalah: 'Apakah, dengan segala risikonya, ini adalah waktu yang tepat?' Hanya kamu yang bisa menjawabnya."

"Bagaimana saya bisa tahu?" bisik Amara, suaranya rentan.

"Dengarkan kedua suara di dalam dirimu. Suara seniman dan suara ibu. Jangan mematikan salah satunya. Dengarkan apa yang masing-masing dikatakan, lalu lihat apakah ada titik temu."

"Mungkin… bukan tentang meninggalkan Luna, tapi tentang memberikan contoh padanya tentang sebuah ibu yang berani mengejar mimpinya, meski harus berkorban sementara."

Kata-kata itu menyentuh. Memberi contoh. Luna, yang melihatnya bertarung untuk mandiri, untuk berkarya. Apa pesan yang ingin dia berikan? Agar Luna kelak juga berani, atau agar Luna belajar bahwa keluarga adalah segalanya?

"Boleh saya memberi waktu untuk memutuskan?" tanya Amara.

"Tentu. Mereka butuh konfirmasi dalam seminggu. Tapi jangan terlalu lama. Keraguan adalah racun untuk kreativitas dan untuk keputusan sulit."

Mereka berbicara lebih lanjut tentang detail residensi: fasilitas studio, komunitas seniman internasional yang akan tinggal bersamanya, potensi kolaborasi. Setiap detail membuat Amara semakin ingin pergi, dan setiap keinginan itu diikuti oleh tusukan rasa bersalah.

Malam harinya, setelah mengantar Luna ke apartemen Rafa untuk giliran mingguannya, Amara tidak pulang. Dia menyetir ke arah apartemen Rafa. Dia butuh bicara. Langsung.

Rafa membukakan pintu, terkejut. Dia masih mengenakan kemeja kerja, dasinya sudah dilepas. Di belakangnya, terdengar suara film animasi dari ruang keluarga.

"Amara? Ada apa? Luna baik-baik saja."

"Saya tahu. Saya perlu bicara. Tentang sesuatu yang penting."

Rafa mempersilahkannya masuk. Apartemen Rafa lebih minimalis dan maskulin dibandingkan tempat Amara, namun ada sentuhan hangat sekarang: foto-foto Luna di rak, gambar warna-warni di kulkas, sebuah selimut bergambar karakter kartun di sofa.

Luna melompat dari sofa. "Ma! Kenapa dateng?"

"Cuma mau bicara sama Papa sebentar, sayang. Kamu nonton aja dulu ya."

Setelah Luna kembali, Rafa memandangnya dengan mata bertanya. "Apa yang terjadi?"

Amara mengeluarkan print-out surat penawaran residensi dari tasnya, memberikannya pada Rafa tanpa kata-kata.

Rafa membacanya dengan saksama, wajahnya konsentrasi. Dibutuhkan beberapa menit. Saat selesai, dia mengangkat pandangan. Matanya sulit dibaca.

"Yogyakarta. Tiga bulan."

"Edo yang mengusulkan. Kurasi."

"Dan ini… sangat besar," ucap Rafa, mengembalikan dokumen itu. "Apa yang ingin kau lakukan?"

"Itulah masalahnya. Saya tidak tahu." Suara Amara pecah. "Saya ingin pergi. Sangat ingin. Tapi… Luna."

Rafa berdiri, berjalan ke jendela, memandang kota di bawah. Punggungnya terlihat tegang. Amara menunggu, mempersiapkan diri untuk berbagai reaksi: kecurigaan tentang Edo, ketidaksetujuan, atau bahkan kemarahan.

Tapi saat Rafa berbalik, ekspresinya justru… tenang. Bahkan, ada sedikit senyum di sudut bibirnya.

"Pergilah, Amara."

Amara terkesiap. "Apa?"

"Pergilah ke Yogyakarta. Ikuti residensi ini."

"Rafa, kau tidak mengerti—"

"Aku mengerti!" potong Rafa, suaranya tegas namun tidak keras. "Aku mengerti bahwa ini adalah kesempatan seumur hidup. Aku mengerti bahwa ini adalah apa yang telah kau perjuangkan—sebuah pengakuan di dunia yang benar-benar milikmu.”

“Dan aku mengerti tentang Luna."

Dia mendekat, duduk di hadapannya. "Luna akan baik-baik saja sama aku. Dia anak yang kuat. Dan kita punya sistem yang bagus sekarang. Aku bisa mengaturnya.

Liburan sekolah bisa dia habiskan seminggu di Jogja bersamamu. Video call setiap hari. Dia akan baik-baik saja."

Air mata mulai mengalir di pipi Amara. "Tapi… saya ibu tunggal. Saya seharusnya di sini untuknya."

"Dan kau akan ada untuknya!" desis Rafa, matanya bersinar. "Dengan menjadi versi terbaik dari dirimu! Luna tidak butuh ibu yang selalu di sampingnya tapi penuh penyesalan dan pertanyaan 'what if'.”

“Dia butuh ibu yang menunjukkan padanya bagaimana caranya terbang! Kau telah mengajarkannya tentang ketangguhan, tentang berdiri sendiri. Sekarang ajari dia tentang keberanian untuk mengejar impian, sekalipun itu menakutkan."

Ucapan Rafa seperti menghantam tembok keraguan di dalam dirinya. Dia menatap mantan suaminya, pria yang dulu merasa terancam oleh ambisinya, kini justru mendorongnya untuk melompat lebih jauh.

"Kenapa?" tanya Amara, suaranya bergetar. "Kenapa kau melakukan ini? Mendukungku seperti ini?"

Rafa terdiam sejenak, lalu menghela napas.

"Karena aku melihatmu di pameran itu. Bahagia. Utuh. Dan Luna, melihatmu seperti itu, dia bangga. Aku ingin dia terus melihat ibunya seperti itu. Dan…" dia ragu, "…dan karena ini adalah caraku untuk benar-benar meminta maaf. Dulu, aku menahanmu. Sekarang, biarkan aku yang mendorongmu."

Tangis Amara semakin menjadi. Semua emosi—harapan, ketakutan, rasa bersalah, terima kasih—membanjiri dirinya.

"Bagaimana dengan… dengan Edo?" tanya Amara, hampir tak terdengar.

Rafa mengernyit, lalu mengerti. "Itu urusanmu, Amara. Yang penting adalah ini untuk kamu. Untuk karirmu. Jika Edo adalah bagian dari jalan itu, ya sudah. Aku tidak punya hak lagi untuk mengatur itu." Dia tersenyum getir.

"Aku belajar. Pelan-pelan."

Dari ruang keluarga, Luna berteriak, "Papa, Ma, filmnya udah selesai!"

Rafa berdiri, mengulurkan tangannya. Bukan untuk dipeluk, tapi sebuah gestur dukungan.

"Pikirkan baik-baik. Tapi ketahuilah, dari sisi pengasuhan Luna, tidak ada halangan. Aku akan mendukungmu. Sepenuhnya."

Amara memegang tangannya sebentar, sebuah sentuhan singkat yang penuh makna. "Terima kasih, Rafa. Benar-benar."

"Bicarakan pada Luna besok. Jelaskan padanya sebagai sebuah petualangan, bukan sebagai kepergian."

Malam itu, Amara pulang dengan hati yang lebih ringan, namun masih penuh pertanyaan. Tapi satu hal yang jelas: dinding terbesar—rasa takut meninggalkan Luna—telah diruntuhkan oleh orang yang paling tidak dia duga: Rafa sendiri.

Di apartemennya yang sunyi, Amara berdiri di balkon. Jakarta berkelap-kelip di bawah. Di satu tangan, dia memegang surat penawaran residensi. Di tangan lain, ponsel dengan foto Luna yang tersenyum.

Dua sisi dirinya berbisik.

Ibu: "Jangan pergi. Dia butuh kammu."

Seniman: "Pergilah. Dunia menunggumu."

Amara menatap langit malam, menarik napas dalam-dalam. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Rasa takutnya belum hilang. Rasa bersalahnya mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Tapi untuk pertama kalinya, rasa itu tidak lagi melumpuhkan.

Dia berjalan ke dalam, mengambil pena, dan duduk di meja kerjanya. Di bawah garis tanda tangan pada surat penawaran itu, dia menuliskan namanya dengan tegas: Amara S. Dewanto.

Titik-titik hitam di atas kertas itu bukan lagi sekadar tinta. Mereka adalah janji. Janji pada dirinya sendiri, pada Luna, dan pada bakatnya yang telah lama menunggu untuk benar-benar bebas.

1
Kustri
pengorbanan yg sgt besar 💪
Kustri
qu ikut prihatin🥺😭
La Rue
Kali ini benaran mewek dibuat kisah Amara ini 😭
Bp. Juenk: hehe, siap2 d bab berikutnya ya Kk. sediain tisu yg banyak.
total 1 replies
Kustri
kasian luna, msh terlalu kecil🥺
Kustri
tak tunggu UP'a
sambil ☕ thor
Bp. Juenk: siap Ka, segera di update
total 1 replies
Kustri
lanjut yaa
Kustri
wuiih... kalimat"mu luar biasa thor👍
Bp. Juenk: thanks kaka 🙏
total 1 replies
La Rue
Ruang hampa,kehilangan,cinta,kepergian dan penemuan kembali jati diri dalam hubungan dua orang dewasa yang terikat dalam pernikahan. Namun pada akhirnya hanya pengertian dan mulai belajar mencintai diri sendiri serta belajar menerima kehilangan meskipun tidak ada yang benar-benar baik-baik saja dari kehilangan. Jadi ingat lirik lagu lawas " Sometimes Love Just Ain't Enough ".
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.
La Rue: n you too. Keep it up 👍
total 2 replies
MomRea
Author ini ceritanya gak bisa di prediksi, dari bahagia sedih lagi bahagia lagi sedih lagi... lanjut Thor
MomRea
Rafa-Sari, Amara-Edo, atau Rafa-Amara. ? teka teki othor 😊
Halwah 4g
ceritamu sangat mengubek-ubek hatiku Thor 😍
MomRea
semangat Thor terimakasih banyak up nya🙏💪
Bp. Juenk: siap terimakasih dukungan nya
total 1 replies
MomRea
"Akhir sebuah bab tapi awal sebuah cerita" mantap kalimatnya Thor 😊
MomRea
gak bisa komen karna dadaku sesak banyak banget bawangnya 🥲🥲
MomRea
ikutan berdoa Thor...semoga Rafa cepat sembuh biar bisa bermain lagi dgn Luna 😊😊😊
MomRea
Semangat Amara, restart kembali pola pikir, lihat masa depan bersama Luna 🥰
Kustri
ini rumah apa apart, koq ada lift ☹️
Bp. Juenk: 🤭ada koq Ka rumah yg pake lift. di pondok indah banyak yg pake lift
total 1 replies
MomRea
bingung juga sih rumah tangga gak ada romantis romantisnya.
Bp. Juenk: 🤣 🤣🤣 bisa Bae nih ka
total 3 replies
Kustri
☕dl amara, ngecas semangat💪
MomRea
good, buka saja semua, biar ibunya Rafa yg bertindak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!