"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"
Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.
Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?
Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Dipecat
"Permisi pak, apakah bapak meminta untuk menghadap?" tanya seorang pria dengan postur tubuh yang lumayan tinggi dengan ukuran seratus tujuh puluh lima sentimeter yang kini berdiri di depannya, terhalangi oleh meja kerjanya.
"Hm..., duduklah," tegas Reynan.
Pria itu menarik kursi dengan perasaan yang tak tenang. Ia hanya takut gara-gara ulah istrinya bakalan berpengaruh pada karirnya.
"Kamu bisa nggak, didik istrimu dengan benar?"
Reynan menajamkan matanya. Selama menjabat sebagai CEO ia tak banyak basa-basi, bahkan jarang sekali muncul memantau kinerja karyawannya, tapi semenjak tahu Liana bekerja di perusahaannya, ia mulai aktif melakukan pemantauan untuk memastikan bahwa wanita yang direkrut oleh sahabatnya itu akan aman berada di tempat kerja.
"Bi—bisa pak," jawab pria itu dengan mengangguk.
"Kalau bisa kenapa istrimu masuk tempat ini dan membuat kekacauan hingga berantem dengan karyawan di sini? Ini kantor, bukan lapangan! Dengan kamu membiarkan istrimu keluar masuk kantor ini itu sama halnya kau tak bisa menghargaiku sebagai atasanmu!"
David diam menunduk. Ia benar-benar dibuat malu oleh istrinya sendiri. Entah apa yang terbesit di pikiran Karina hingga memiliki niatan datang ke kantor dan membuat keonaran. Ditambah lagi Karina sudah melakukan tindakan yang melanggar peraturan di perusahaan tempatnya bekerja.
"Karina! Awas aja kau! Aku pastikan akan kubuat menyesal karena sudah membuatku malu di depan pak Reynan."
"Ini peringatan pertama dan terakhir buat kamu! Jika hal seperti ini terjadi kembali maka dengan sangat terpaksa saya akan pecat kamu!"
Refleks David mendongak. "Apa pak? Saya dipecat?" David menggeleng lemas. "Pak, saya tahu sudah melakukan kesalahan dan membuat bapak kecewa, tapi tolong jangan pecat saya, pak?! Saya butuh pekerjaan ini. Saya bahkan bisa mengerjakan tugas dengan baik, tolong pertimbangkan lagi ucapan anda pak, karena belum tentu ada orang yang lebih pintar daripada saya."
Dengan percaya dirinya David menganggap hanya dirinyalah yang bisa diandalkan. Ia benar-benar takut akan kehilangan jabatan. Meskipun Chandra yang tak lain adalah mertuanya memiliki perusahaan yang tengah membutuhkan karyawan, ia tak mau bergabung di dalamnya.
"Kamu kok begitu yakin di dunia ini cuma kamu yang bisa diandalkan?! Ini yang saya tak suka dari kamu, kamu itu terlalu arogan," desis Reynan dengan kilatan mata tajam nan dingin. "Saya bahkan bisa cari orang yang lebih pintar dari kamu. Perusahaan Pratama Grup adalah perusahaan yang besar, tentu karyawan yang ada di sini sudah diuji kemampuannya. Bukan cuma kamu doang yang pintar? Mungkin jika dibandingkan dengan anak magang kemarin sore mereka jauh lebih cerdas dibandingkan kamu! Buktinya kamu nampak begitu bodoh tak becus mengurus istrimu!"
Tangan David mengepal di bawah meja. Begitu rendahnya ia dibandingkan dengan anak magang. Kalau bukan karena butuh jabatan ia tak akan sudi bertahan bekerja sama dengan orang seperti itu.
"Sudahlah, sekarang mendingan kamu balik ke ruanganmu! Selesaikan laporan keuangan yang saya minta kemarin. Siang nanti sudah harus selesai."
"Ba—baik, Pak."
David beranjak dan pergi meninggalkan ruangan CEO. Di depan pintu dia berpapasan dengan Liana yang hendak masuk.
"Kamu!"
David terkejut mendapati Liana yang tengah menuju ke ruangan CEO. Dia sengaja menghalangi jalannya karena memiliki keyakinan wanita itu berniat untuk mengganggu pimpinannya.
"Kamu ngapain ada di sini Liana? Stop! Jangan masuk! Kembalilah ke tempatmu!"
Liana menajamkan matanya dan memberikan teguran padanya. "Singkirkan tanganmu! Aku mau lewat."
"Tidak! Aku tak akan mengizinkanmu masuk ke ruangan CEO. Pak Reynan tidak bisa diganggu! Beliau sangat sibuk," bantahnya masih berusaha untuk menghadangnya. "Kamu itu cuma pegawai rendahan, jangan buat malu dirimu sendiri dengan nyelonong masuk ke ruangan CEO. Tidak semua orang bisa masuk ke ruangan CEO dengan bebas. Ayo! Kembalilah ke ruang kerjamu!"
Satu alis Liana terangkat. "Memangnya kau itu siapa berani mengatur-aturku? Kau itu bukan orang penting bagiku! Jadi berhentilah untuk tidak membuat masalah denganku!"
David berdecak. "Ck, siapa juga yang membuat masalah! Aku hanya memperingatkanmu agar berhenti menjadi wanita murahan. Aku tahu betul sifat wanita sepertimu! Selain jual diri apa lagi?"
Plak!
Refleks tangan Liana melayang menampar keras muka David hingga menimbulkan suara yang cukup keras. David mengaduh, dia tak menyangka Liana bakalan membalas hinaannya.
"Ayo ulangi lagi!" Liana tak akan tinggal diam saat harga dirinya diinjak-injak. Dulu ia hanya bisa menangis dan merasa dirinya paling buruk, tak memiliki keberanian untuk melawan, tapi sekarang ia akan lawan siapapun yang berani menginjak-injak harga dirinya. Berkat dukungan dari Dion maupun Reynan, ia tak lagi takut untuk melawan.
"Liana! Apa kau sudah gila? Kenapa kau berani menamparku?"
David memegangi pipinya yang panas akibat tamparan itu. Dia merasa Liana yang pernah dikenalnya sangatlah berbeda dengan Liana yang ditemui saat ini. Liana dulu hanya patuh dan mengalah, tapi Liana yang sekarang lebih cenderung pemberani dan tidak takut untuk melawan.
"Emangnya kenapa? Kau pikir aku akan diam saat harga diriku diinjak-injak oleh orang sepertimu? Dulu memang aku selalu patuh dan tidak pernah ada niatan untuk melawan, tapi setelah aku pikir-pikir, semakin aku mengalah maka semakin diinjak-injak harga diriku. Sudah cukup kalian menzolimi ku, aku bukan lagi Liana yang kalian kenal."
Liana menghempaskan tangan David yang terlentang menghalanginya. Dia langsung masuk dan menutup pintunya dengan cukup kasar hingga membuat Reynan terkejut.
"Kamu itu kenapa sih? Masuk langsung banting pintu. Nggak sekalian aja kursi ini kamu tendang keluar!"
Liana tak menggubris ocehan Reynan. Dia menarik kursi dan duduk dengan nafas tertahan. Ia masih jengkel, tangannya juga masih terasa panas setelah menampar wajah mantan pacarnya.
"Tolong kerjakan berkas-berkas penting yang ada di mejamu itu, tiga puluh menit lagi aku ada rapat."
"Baik."
Reynan meliriknya sekilas. Dia bisa melihat, situasi hati Liana sedang tidak baik, mungkin masalah yang dihadapinya cukup membuatnya tertekan.
"Oh ya..., nanti siang kita temani anak-anak ke mall. Aku sudah janji akan mengajaknya jalan-jalan." Reynan mengingatkannya kembali mengenai percakapannya pagi itu. Dia sudah berjanji akan mengajak si kembar ke mall untuk belanja kebutuhan mereka.
"Sepertinya saya nggak perlu ikut pak, bapak saja pergi bersama mereka," bantah Liana.
Reynan berdecak. "Ck, kamu itu gimana sih? Masa iya aku bawa mereka ke mall sendirian? Nanti kalau ada yang tanya di mana ibunya saya harus jawab apa?"
"Ya kan bapak tinggal jawab ibunya lagi kerja! Lagian siapa yang mau nanyain keberadaan saya, pak," desisnya kesal. "Lain kali nggak usah janjiin apapun pada mereka. Saya tidak ingin anak-anak jadi ketergantungan selalu ingin dituruti keinginannya. Kalau sampai keluarga bapak tahu apa tidak menimbulkan masalah yang besar?"