Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Shela menoleh pada seseorang yang memanggil.Raygan, laki-laki itu teriak memanggilnya, hal itu membuatnya sedikit lengah sehingga dengan gerakan cepat Reygan menepis kuat pisau dari tangannya. Pisau yang ada di tangan Shela terlempar cukup jauh hingga melewati pembatas rooftop dan jatuh ke bawah.
" Lo gila ya?! Jangan nekat, Lo tau itu bahaya!" ujar Reygan dengan penuh penekanan sambil menatap Shela tajam.
Semua orang di sana bernapas lega karena Reygan telah menepis pisau itu sehingga menghentikan aksi nekat Shela. Tak jauh berbeda dengan yang lain, Dika juga diam-diam menghela napas lega karena pisau itu sudah terlempar entah kemana. Kalau saya Reygan tidak bergerak cepat, sudah pasti Shela akan menggoreskan pisau itu menggunakan tangannya. Dalam hati Dika, dia takut Shela melajukan hal seperti tadi, hal yang mungkin akan membuat dirinya menyesal di kemudian hari.
Shela memandang Reygan tak kalah tajam, laki-laki itu sudah menggagalkan rencananya untuk membunuh dirinya sendiri.
"Lo jangan ikut campur! Ini urusan gue sama dia!" ujar Shela sambil menunjuk ke arah Dika.
Reygan menatap datar Shela. " Jangan karena perkataan satu orang yang ingin lo mati, lo langsung bunuh diri lo. Kalau lo lakuin itu sama saja menunjukkan kalau diri lo lemah dan gak mampu buat lawan mereka,", ujar Reygan santai.
Teman-temannya menatap tak percaya ke arah Reygan, diantara anggota geng black Eagle,Reygan memang dikenal cuek dan dingin. Laki-laki itu jarang sekali berbicara kecuali memang diperlukan. Untuk pertama kalinya hari ini, mereka melihat Reygan berbicara dan peduli pada orang lain.
Shela tersenyum miring." Lalu kenapa kalau emang gue lemah? Apapun yang gue lakuin gak ada hubungannya sama lo?! Asal lo tau gue udah muak hidup di dunia ini, bukan karena perkataan remeh dari bajingan ini yang buat gue ingin pergi dari dunia. Dunia yang dengan orang-orang yang selalu main hakim sendiri dan egois. Dari kecil mental gue diuji, bahkan perkataan remeh yang bajingan itu katakan udah jadi hal yang biasa buat gue."
"Kalau lo udah terbiasa, kenapa lo harus bunuh diri? Kenapa Lo gak coba buat lawan? Lo bisa bully orang tapi untuk melindungi diri Lo dari serangan orang lain,lo malah gak bisa. Lemah!"
Tangan Shela terkepal.Sialan! Laki-laki ini benar-benar terlalu ikut campur." Jangan banyak bacot! Lo orang luar yang gak tau apa-apa tentang hidup gue, jadi jangan sok tau! Jangan bangunin sisi iblis gue yang udah berusaha gue kubur dalam-dalam dengan susah payah hanya karena perilaku lo dan temen-temen bajingan lo itu! Lo gak akan tau sejauh apa gue bisa bertindak."
Setelah itu, Shela melangkah maju meninggalkan orang-orang itu yang masih mematung karena ucapannya barusan. Sungguh mereka tidak menyangka perubahan Shela benar-benar membuat mereka terkejut.
----
Hari ini Jum'at, kegiatan rutin yang selalu dilakukan sekolahnya setiap hari itu adalah jumsih merupakan kegiatan bersih-bersih seluruh sekolah yang dilakukan setiap hari Jum'at. Setiap kelas akan dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok untuk membersihkan sekelas dan halamannya sedangkan satu kelas yang lain bertugas untuk membersihkan area lain di sekolahnya.
Pada Jum'at kali ini, Shela mendapat bagian membersihkan lapangan dan sekitarnya. Sebelum menuju ke lapangan, dia melepas rok panjangnya sehingga menyisakan training hitam,sedangkan atasannya tetap memakai seragam sekolah. Sebagai informasi, sekolahnya melupakan sekolah negeri, jadi setiap hari Jum'at seragam mereka lebih tertutup.
Shela melangkah dengan teman-temannya yang lain menuju area yang harus mereka bersihkan. Shela mumungut sampah-sampah dan juga ranting-ranting daun yang berjatuhan di sana, Shela agak sedikit kesal kenapa juga dirinya kebagian memungut sampah. Meski begitu dia tetap melaksanakan kegiatan itu, untungnya bukan hanya sedia yang ditugaskan untuk memungut sampah-sampah itu.
Satu tangannya memungut sampah sedangkan tangannya yang lain memgang plastik sampah berukuran sedang. Shela mendongak ketika melihat sepatu seseorang di hadapannya. Shela memutar bola matanya ketika melihat siapa pemilik sepatu itu.
"Minggir!" Ujar Shela.
Dion terkekeh." Tumben lo ikut jumsih."
Shela berdecak, laki-laki ini benar-benar menyebalkan." Awas! Gak liat apa gue lagi bersih-bersih. Sana minggir kalau mau recokin jangan ke gue, sana cari orang lain!"
"Gue ke sini bukan mau recokin, tapi mau negur lo. Kenapa Lo pake celana training hah?! Setahu gue seragam kita gak ada yang bentukannya begitu. Udah bagus kemarin lo pakai seragam sesuai peraturan."
Peraturan,peraturan Shela muak mendengar kata itu dari mulut laki-laki itu. Shela yang sudah terlanjur kesal pun berdiri berhadapan dengan laki-laki itu. " Banyak bacot ya lo! Rok seragam gue panjang makanya gue ganti, kalau gue pake terus kotor kena tanah, emangnya lo mau bersihin rok gue,hah?! Daripada lo banyak bacot dan jadi manusia gak berguna,mending lo bantuin gue mungutin sampah-sampah."
"Oke," Dion mengambil kantong sampah yang berada di tangannya.
" Heh! Kenapa Lo ambil kantong sampah gue?"
"Ampun ni cewek marah-marah mulu, tadi katanya suruh bantuin."
Shela merebut kembali kantong sampah miliknya dari laki-laki itu." Ambil sendiri lah, enak banget rebut punya orang."
Dion mengusap wajahnya karena kesal." Buset,neng. Itu cuma kantong sampah, yaudahlah gue gak jadi bantuin, serba salah gue bantuin lo."
"Dasar gak guna!" Dumel Shela,yang masih bisa di dengar oleh Dion.
Laki-laki itu kesal namun memilih untuk tidak meladeninya,karena pasti akan panjang urusannya. Dia berbalik dan memilih untuk pergi.
Shela yang ingin balas dendam karena dibuat kesal oleh Dion, dia mencari-cari sesuatu lalu mengambil botol bekas minuman yang masih tersisa sedikit air di dalamnya. Dengan sekuat tenaga dia melempar botol itu ke arah Dion, lemparannya tepat mengenai punggung laki-laki itu. Shela tersenyum puas lalu dia berpura-pura kembali memungut sampah ketika laki-laki itu berbalik.
Dion yang merasakan sesuatu mengenai punggungnya segera berbalik, dia menemukan sebuah motor air mineral bekas di dekatnya. Matanya seketika langsung tertuju pada gadis yang sedang memungut sampah, pasti gadis itu yang melempar benda ini ke arahnya.
Dion melangkah menuju ke arah gadis itu." Heh,maksud Lo apa lempar gue pake botol ini?"
Shela mendongak, wajahnya terlihat seperti orang tidak bersalah. Jangan ragukan kemampuan akting Shela, bakat terpendam yang tidak pernah ia tunjukkan akhirnya berguna juga.
"Apa? Lo gak liat gue lagi mungutin sampah?" ujar Shela dengan santai, namun sebenarnya ia ingin tertawa saat itu juga.
" Gak susah pura-pura, gue tau lo yang lempar," ujar Dion yang masih yakin jika Shela adalah pelaku yang melemparkan botol itu ke punggungnya.
" Dih, mana buktinya kalau gue lempar?"
Dion diam, gadis ini terlalu pintar untuk didebat, tapi ia yakin tak akan ada yang berani melemparkan dengan botol bekas sekalian gadis itu.
"Gak ada bukti, tapi gue yakin lo yang lempar. Cuma Lo yang berani ngelakuin itu ke gue."
" Tentu karena gue masih waras untuk patuh sama ketos mesum kayak lo," ujar Shela.
Dion tertawa." Nah, ketauan kan, lo yang lempar gue."
Shela mengigit bibir bawahnya, ia tidak sadar jika dirinya bisa terpancing oleh ucapan laki-laki itu. Shela malu, jadi dia memilih melangkah meninggalkan laki-laki itu. Namun baru saja melangkah, laki-laki itu menahan tangannya.
"Jangan kabur! Tanggung jawab, pasti seragam Bagain belakang gue kotor gara-gara botor itu."
Shela meraih punggung laki-laki itu dan mendorong tubuhnya agar laki-laki itu berbalik memunggunginya." Cuma dikit, lebay amat si!" Ujar Shela.
"Eh, meskipun dikit tetap kotor kan? Bersihin baju gue!"
Shela mendesis." Yaudah, ikut gue!" ujarnya sambil melangkah menuju kamar mandi guru yang terletak di dekat lapangan.
"Eh, kita mau ngapain ke sini?" Dion menyerocos dengan nada tinggi.
"Berisik! Mau baju lo dibersihin gak?" tanya Shela sambil menyilangkan tangan di dada.
Dion hanya bisa mengangguk, terkejut dengan sikap Shela yang tiba-tiba. "Cepet, buka baju lo!" desak Shela.
"Eh?" Dion terbengong, matanya membulat saat ia menatap Shela yang tampak serius. Dengan alis yang terangkat, Shela menatap Dion yang akhirnya pasrah dan menurut. Dia melepas baju seragamnya dan hanya menyisakan kaos hitam polos yang melekat di tubuhnya.
"Lo mau bersihin baju gue di kamar mandi guru? Kalo ketauan gimana?" Dion mencoba protes, raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
Shela berdecak kesal. "Bisa gak sih lo berenti protes terus? Lo mau gue bersihin di mana lagi? Kamar mandi murid? Di sana gak ada alat buat ngeringin tangan, kecuali lo mau nunggu seragam lo kering alami. Tenang aja, gak akan ketauan kok, kalo lo mau kerja sama. Lo tunggu di sini aja, pastiin gak ada guru yang lewat."
Tanpa menunggu respons dari Dion, Shela melenggang masuk ke kamar mandi guru dan mulai membersihkan seragam laki-laki itu. Di luar, Dion gelisah menunggu. Kecemasannya meningkat setiap kali langkah kaki terdengar, takut ada guru atau seseorang yang menangkapnya di depan kamar mandi guru dengan penampilan yang tidak pantas itu.
Dia memandangi jam tangannya dengan raut muka tegang, sementara detik berlalu dengan kejam. Hanya lima belas menit lagi sebelum kegiatan bersih-bersih usai. Jika Shela tidak muncul dalam waktu tersebut, ia bisa kehilangan kesempatan untuk kembali ke lapangan.
Tak disangka, sosok Shela muncul lebih cepat dari yang Dion bayangkan, berjalan cepat sambil mengembalikan seragam yang telah bersih. "Nih!" serunya ringkas.
Dion menyambar seragam itu, kemudian segera mengenakannya dalam gerakan yang hampir bisa disebut sebagai kilat. “Udah kan? Gue mau balik ke lapangan,” ucap Shela, berjalan meninggalkan Dion.
“Eh, tunggu!” seru Dion, menghentikan langkah Shela.
Shela menghela napas dalam dan berbalik dengan raut wajah yang sudah jelas menunjukkan kekesalan. “Apa lagi?!”
"Makasih," kata Dion dengan suara yang tulus, mencoba menembus tembok emosi yang Shela bangun.
Shela memandang Dion, matanya bertemu untuk sesaat yang terasa lama, sebelum dia berpaling dan kembali melangkah pergi tanpa menjawab. Dion hanya bisa berdiri di sana, menatap punggung Shela yang menjauh, dengan rasa terima kasih yang terbungkus kecewa.