Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah gorden kamar Ayra dengan begitu cerah, seolah ikut merayakan suasana hati gadis itu yang sudah jauh lebih tenang. Ayra berdiri di depan cermin besar, merapikan jas almamater OSIS kebanggaannya yang berwarna biru dongker. Ia mengenakan kemeja putih yang disetrika sangat licin, rok abu-abu yang pas, dan sebagai sentuhan terakhir, ia menyematkan sebuah bando berwarna biru langit di rambutnya yang terurai rapi.
Ayra tampak sangat cantik—sebuah perpaduan antara wibawa seorang sekretaris OSIS dan kelembutan seorang gadis remaja.
Ia menuruni anak tangga dengan langkah ringan. Di ruang makan, Papa Johan sedang asyik membaca koran digital sambil menyeruput kopi hitamnya, sementara Mama Aura sibuk menata sarapan roti bakar di meja.
"Wah, anak Papa rapi banget hari ini. Ada acara penting di sekolah?" tanya Papa Johan sambil menurunkan tabletnya.
Ayra tersenyum manis, mengambil selembar roti bakar. "Ada rapat koordinasi terakhir buat Pensi, Pa. Makanya harus pake jas almamater."
Papa Johan mengangguk-angguk. "Mau Papa antar? Sekalian Papa ada janji temu klien yang searah sama sekolah kamu."
Ayra terdiam sejenak. Ia teringat janjinya semalam di balkon. "Enggak usah, Pa. Hari ini... aku bareng Alano aja ya. Tadi malam dia sudah bilang mau jemput."
Papa Johan dan Mama Aura saling lirik. Sebuah senyum penuh arti muncul di wajah Papa Johan. Sejak kejadian Alano sering bolak-balik menanyakan kabar Ayra saat sakit, Papa Johan sudah mulai menangkap ada "getaran" yang berbeda di antara dua anak muda itu.
"Oh, sama Alano ya? Ya sudah, malah bagus. Papa jadi nggak perlu khawatir kamu telat karena macet, Alano kan kalau bawa motor selap-selipnya jago," goda Papa Johan.
"Papa!" Ayra merengut, pipinya mendadak bersemu merah.
Tepat pukul tujuh kurang sepuluh menit, suara deru mesin motor yang sangat familiar terdengar berhenti di depan pagar. Tak lama kemudian, suara teriakan yang sudah menjadi rutinitas pagi terdengar.
"AY... AYANG! AYOOO! NANTI PAK SATPAM KEBURU TUTUP GERBANG!"
Ayra menghela napas, namun bibirnya tak bisa menahan senyum. "Pa, Ma, aku berangkat ya!"
Ayra berlari kecil menuju pagar. Di sana, Alano sudah menunggu di atas motornya. Pagi ini Alano terlihat sangat segar. Ia memakai seragam sekolah yang dikeluarkan—khas anak IPS—dilapisi jaket tim basket sekolah yang berwarna hitam-merah. Helmnya ditaruh di atas tangki motor, memperlihatkan rambutnya yang tertata rapi dengan sedikit pomade.
Begitu melihat Ayra keluar dengan jas almamater dan bando biru, Alano sempat tertegun. Ia tidak berkedip selama beberapa detik, memandangi Ayra dari bawah sampai atas.
"Woah..." gumam Alano pelan.
"Ngapain bengong? Katanya takut telat?" tegur Ayra sambil menepuk bahu Alano.
Alano tersadar, ia langsung nyengir lebar. "Lo... cantik banget hari ini, Ay. Kenapa pake bando biru? Biar senada sama almamater lo atau biar senada sama masa depan kita yang cerah?"
"Ngombalnya simpen buat nanti di sekolah aja, Lano. Ayo berangkat!" Ayra mencoba menutupi rasa salting-nya dengan wajah galak yang dibuat-buat.
Perjalanan pagi itu terasa sangat berbeda. Ayra tidak lagi duduk di ujung belakang jok. Ia duduk lebih dekat, meskipun tangannya tidak langsung memeluk pinggang Alano, ia memegang jaket basket Alano dengan mantap.
Saat mereka memasuki gerbang SMA Nusantara, suasana sekolah sudah sangat ramai. Banyak siswa yang sedang berjalan menuju kelas masing-masing. Begitu motor sport Alano masuk, perhatian semua orang langsung tersedot.
Sang Kapten Basket yang playboy membonceng sang Sekretaris OSIS yang teladan. Ini adalah berita besar.
Alano sengaja memarkirkan motornya di area yang cukup strategis, dekat dengan koridor utama kelas 10. Saat Ayra turun dari motor dan melepas helm cadangannya, Alano turun dan berdiri di sampingnya.
"Sini helmnya, biar gue yang taruh," ucap Alano. Ia mengambil helm dari tangan Ayra, lalu dengan sangat santai, ia merapikan bando biru di kepala Ayra yang sedikit miring karena helm.
"Lano... banyak orang..." bisik Ayra, matanya melirik ke arah gerombolan siswi yang menatap mereka dengan iri.
"Biarin aja. Biar mereka tau kalau sekretaris OSIS yang galak ini ada yang jagain," sahut Alano tanpa rasa malu sedikit pun.
Saat mereka mulai berjalan menuju kelas, dari arah berlawanan muncul Rendy bersama beberapa anggota inti OSIS lainnya. Langkah Rendy terhenti saat melihat Ayra berjalan berdampingan dengan Alano.
Suasana mendadak menjadi canggung. Ayra merasa tidak enak hati mengingat kejadian di mobil kemarin, sementara Alano justru menegakkan bahunya, tampak sangat percaya diri.
"Pagi, Ayra. Pagi, Lan," sapa Rendy, suaranya terdengar datar namun tetap berusaha sopan.
"Pagi, Kak Rendy," balas Ayra pendek.
"Ay, jangan lupa jam sepuluh kita ada pertemuan sama pihak sponsor di ruang rapat," ucap Rendy, matanya menatap Ayra seolah ingin mengabaikan keberadaan Alano.
"Siap, Kak. Aku udah siapin semua berkasnya kok," jawab Ayra profesional.
Alano yang berdiri di samping Ayra tiba-tiba merangkul bahu Ayra dengan santai. "Tenang aja, Pak Ketua. Gue pastiin dia sampai di ruang rapat tepat waktu dalam kondisi udah sarapan dan nggak pusing lagi. Ya kan, Ay?"
Ayra ingin melepaskan rangkulan Alano, tapi ia teringat janjinya semalam untuk tidak lari lagi. Akhirnya, ia hanya diam dan mengangguk kecil ke arah Rendy.
Rendy hanya bisa tersenyum tipis, lalu berjalan melewati mereka. Ada kilatan kekecewaan di mata Rendy, dan Alano menyadari itu dengan rasa kemenangan yang luar biasa.
Setelah Rendy pergi, Ayra langsung menyikut perut Alano. "Lano! Nggak usah pake rangkul-rangkul juga bisa kan?"
"Aduh! Sakit tau, Ay," keluh Alano sambil memegangi perutnya. "Gue cuma mau mastiin posisi gue aja. Lagian, lo liat nggak tadi mukanya Rendy? Kayak mau nelen pulpen."
Ayra menggelengkan kepala, tertawa kecil. "Kamu itu bener-bener ya. Udah sana masuk kelas, bentar lagi bel."
"Iya, Tuan Putri. Nanti istirahat gue jemput ke kelas ya? Kita ke kantin bareng," pinta Alano.
Ayra menatap bando birunya melalui pantulan kaca jendela kelas, lalu menatap Alano. "Liat nanti ya, kalau rapatnya nggak ngaret."
Alano memberikan hormat ala militer, lalu berjalan menjauh sambil bersiul bahagia. Ayra masuk ke kelasnya dengan perasaan yang sangat ringan. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa memakai jas almamater OSIS tidak harus selalu terasa kaku dan formal. Dengan Alano di sampingnya, semua beban organisasinya terasa jauh lebih mudah untuk dihadapi.
Satu sekolah kini tahu, bahwa benteng pertahanan Ayrania Johan telah runtuh di tangan sang The Boy Next Door.