seorang wanita dari Negara Asia, memutuskan untuk berlibur ke Negara terpencil di bagian timur tengah, hanya untuk bisa melupakan Mantan pacarnya yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Yang dia pikir hanya akan mendapatkan pengalaman baru, tapi ternyata malah menemukan pasangan hidupnya, seorang pria pemilik kafe.
Walau begitu, wanita dari Asia itu tidak mengetahui bahwa pria tersebut, merupakan seorang penerus atau Pangeran mahkota di negara itu.
bisa dikatakan, di buang batu jalanan, malah dapat pengganti batu zamrud di negara asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Pagi pun tiba.
Saat itu, Tiffany masih tertidur pulas di atas kasur besar miliknya, sampai ada yang membangunkannya dengan penuh kelembutan.
"Ehm... Sayang, apa kamu tidak ingin bangun?" ucap seseorang.
Tiffany, yang sedikit tersadar, sangat mengenal suara tersebut. *Ashan?*batin nya mulai membuka matanya pelan-pelan.
Dan terlihat Ashan sedang duduk berlutut di bawah kasur dan menyadarkan kepalanya ke atas kasur sambil memperhatikan Tiffany.
"Astaga, Ashan! Kamu mengagetkan aku!" teriak Tiffany langsung terduduk dari tidurnya.
Ashan, yang melihat tingkah kaget Tiffany, langsung mengerutkan kedua alisnya, dan berdiri dari sana, ia mulai duduk di atas kasur.
"Apa semalam tidurmu kurang nyenyak, sayang? Kenapa kamu tampak lelah?" tanya Ashan, seperti menyadari bahwa Tiffany tidak tidur dengan cukup.
Benar, Tiffany semalam tidak tidur dengan baik karena selalu memikirkan Ashan, perlakuan Ashan, dan ucapan Ashan membuat Tiffany tidak bisa tidur.
"Aaah, tidak-tidak. Apa yang kamu lakukan di kamarku sepagi ini? Keluarlah, aku akan menemui kamu setelah aku mandi. Aku sekarang tidak terlihat cantik," ketus Tiffany sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Merasa malu, saat tahu Ashan melihat wajahnya yang baru bangun tidur itu.
"Pft, hahaha... Apa yang kamu katakan, sayang? Kamu sangat cantik, bahkan bidadari pun kalah cantik dari kamu. Kenapa kamu malu? Tidak apa-apa, saya menyukai semua rupa mu yang berantakan ini," seru Ashan sambil mencoba melepaskan tangan Tiffany yang menutupi wajahnya.
"Aaaaaaa, Ashaaan... Aku mohon, keluarlah, yah, aku akan menemui kamu nanti," pinta Tiffany sekali lagi dengan wajahnya semakin memerah.
Ashan memang suka menggoda Tiffany, saat malam pun ia berharap agar cepat pagi agar bisa membuat Tiffany malu.
Karena keseruan barunya adalah menganggu dan menggoda Tiffany.
"Baiklah, baiklah, sayang. Saya akan keluar. Sebentar lagi ada beberapa pelayan yang datang untuk melayani calon Ratu kerajaan Al-Khansa. Saya mencintaimu, Tiffany," pungkas Ashan, tapi sebelum ia benar-benar pergi, ia tidak lupa mengecup lembut pangkal kepala Tiffany. Itu terus membuat Tiffany semakin menggila memikirkannya.
*Aaaaa, pria gila! Dia sangat berani mendekati aku! Aaaaaah, aku hampir mati karena malu! Ada apa ini? Kenapa jantungku berdetak sangat kencang? Apa jangan-jangan? Aaaaaah, Tiffany... Kamu juga gila*batin Tiffany sambil memberontak di atas kasurnya.
...----------------...
Sementara itu, Ratu sedang mencari keberadaan Ashan bersama Putri Nagia dan seorang wanita berkulit putih.
Mereka mengetahui bahwa Ashan sedang sarapan bersama Tiffany di ruangan makan milik Ashan sendiri.
Tanpa menunggu lagi, Putri Nagia langsung pergi mencari keberadaan mereka, walau Ratu sedikit ragu mengganggu putranya yang sedang makan. Tidak dengan Putri Nagia, yang sudah tidak sabar memperkenalkan wanita pilihannya kepada Ashan.
Pada saat mereka sampai di ruangan makan yang dikhususkan untuk Pangeran Ashan, mereka melihat Ashan sedang tersenyum manis menatap wajah Tiffany yang sedang makan dengan lahap.
"Putri, apa kamu yakin? Aku bisa membuat pangeran menyukaiku? Tapi wanita di sana, ia terlihat seperti kekasih Pangeran Ashan," ucap wanita berkulit putih tersebut, sedikit merasa ragu.
"Ck, diamlah! Kamu dibayar mahal untuk melakukan hal ini! Jangan membuat semua bayaran yang tadi diambil balik olehku," ancam Putri Nagia, berhasil membuat wanita tersebut diam dan patuh.
Mereka berdua yang mendengar keributan langsung mendongak ke sumber suara tersebut, Terlihat Ratu, Putri Nagia, dan wanita asing berjalan ke arah mereka. Ashan langsung merubah mimik wajahnya menjadi tidak senang.
"Kenapa kalian bisa berada di sini?" tanya Ashan yang langsung berdiri dari kursi makan. Diikuti Tiffany. Namun, saat Ashan menyadari Tiffany juga ikut berdiri, dengan lembut Ashan memintanya untuk duduk kembali.
"Wah, lihat, betapa tidak sopannya, warga asing ini, berani sekali ia tetap duduk walau tahu ada Ratu yang datang," ucap Putri Nagia, sambil tersenyum mengejek.
"Diamlah, suatu saat nanti ia akan menjadi Ratu dari negara ini. Apa mau kamu? Kamu yang harusnya menghormati wanita saya," ucap Ashan dengan tegas membela Tiffany.
"Ck! Ibu, lihat putra yang kamu banggakan ini. Berani sekali ia ingin menggantikan posisimu! Apa dia pantas?" ketus Putri Nagia.
"Sudahlah, Nagia, berhenti mencari masalah dengan adikmu," pungkas sang Ratu.
"Ashan, Ibu kemari ingin memperkenalkan mu dengan Cindy. Ia wanita dari negara Asia juga, sama seperti Tiffany. Ibu ingin kamu juga mengenalnya. Cindy sangat baik dan juga sangat cantik. Kemari, Cindy, mendekatlah, agar Ashan bisa melihat wajahmu," seru sang Ratu.
*Oho? Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba membawa seorang wanita yang asalnya sama denganku kepada Ashan?*batin Tiffany diam-diam merasa kesal.
"Jelek!" ketus Ashan langsung. Membuat semua orang di sana kaget.
Cindy memiliki wajah kecil dan juga kulit halus. Ia terlihat sangat cantik untuk seorang wanita dari negara Asia, tapi hanya dengan sekali lihat, Ashan langsung membuang pandangannya dan mengatakan Cindy jelek.
Itu membuat Tiffany diam-diam tersenyum dan ada sedikit perasaan lega.
Namun, rasa leganya tidak bertahan lama, sampai Ashan menanyakan sesuatu kepada Cindy.
"Apa yang membuatmu datang kemari? Apa ibu saya memintamu kesini?" tanya Ashan.
"Ah? Aku datang kemari karena sudah lama mengagumi pangeran, dan Ratu sangat berbaik hati, mengundangku ke istana dan bertemu langsung denganmu," ujar Cindy sambil tersenyum malu.
"Cindy, saya tidak keberatan jika kamu berada di sini, tapi saya peringatkan kepadamu, jika ibu saya mempergunakanmu sebagai pisau yang akan melukai perasaan wanita saya, saya sendiri tidak akan segan-segan mematahkan pisau itu. Saya tidak mau wanita saya merasakan sakit di hatinya, walau saya belum tahu apakah dia menyukai saya atau tidak. Tapi setidaknya saya masih bisa menjaga perasaannya," tutur Ashan tegas.
"Dan yah! Dia calon istri saya, namanya sangat indah, kamu harus mengingatnya, dia Tiffany, wanita saya," pungkas Ashan.
Membuat Cindy menggertakkan giginya dan menahan amarah sambil tersenyum kepada Tiffany. Tiffany juga membalas senyuman Cindy dengan perasaan puas.
*Ah! Bertahanlah, Cindy, ini baru awal. Tentu saja Pangeran belum bisa tertarik kepadamu. Setidaknya ia tidak mengusirku. Aku harus tetap bertahan!*batin Cindy.
"Hahaha, sudah. Karena semua sudah saling mengenal, bagaimana kalau kamu mengajak Cindy juga sarapan bersama kalian?" saran sang Ratu, memecahkan suasana.
"Sayang? Apa kamu sudah selesai makan?" tanya Ashan kepada Tiffany.
Tiffany dengan tegas juga mengangguk kepalanya sekali dan berdiri dari sana.
"Maaf, Ratu. Sepertinya kami sudah selesai makan. Oh, yah! Di sini hanya saya dan Nona Tiffany saja yang bisa menempatinya. Ibu, apalagi wanita asing ini, jangan berharap untuk makan bersama saya," pungkas Ashan, meraih tangan Tiffany, lantas pergi dari sana meninggalkan ketiga wanita itu dengan perasaan menahan marah.
Sampai-sampai Putri Nagia berteriak frustasi di ruangan tersebut.
...********BERSAMBUNG********...
kan memank begitu status kalian Fany...
Ashan sudah memintamu pada keluarga mu di telpon tempo hari...
jangan kasi peluang untuk mereka mengganggu Tiffany...
apalagi Cindy untuk mendekati mu...
jadi ingat pelakor aku kk 😆😆😆🙏🙏🙏
lanjut up lagi thor
Tiffany aja manggil Ashan tanpa embel2 pangeran,masa kamu masih panggil Nona...panggil nama aja lebih akrab nya
udah pangeran,brondong pula 😍😍😍