NovelToon NovelToon
Dia Datang Dari Langit

Dia Datang Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Beda Usia / Cinta Beda Dunia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: MZI

Sinopsis "Alien Dari Langit"

Zack adalah makhluk luar angkasa yang telah hidup selama ratusan tahun. Ia telah berkali-kali mengganti identitasnya untuk beradaptasi dengan dunia manusia. Kini, ia menjalani kehidupan sebagai seorang dokter muda berbakat berusia 28 tahun di sebuah rumah sakit ternama.

Namun, kehidupannya yang tenang berubah ketika ia bertemu dengan seorang pasien—seorang gadis kelas 3 SMA yang ceria dan penuh rasa ingin tahu. Gadis itu, yang awalnya hanya pasien biasa, mulai tertarik pada Zack. Dengan caranya sendiri, ia berusaha mendekati dokter misterius itu, tanpa mengetahui rahasia besar yang tersembunyi di balik sosok pria tampan tersebut.

Sementara itu, Zack mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya—ketertarikan yang berbeda terhadap manusia. Di antara batas identitasnya sebagai makhluk luar angkasa dan kehidupan fana di bumi, Zack dihadapkan pada pilihan sulit: tetap menjalani perannya sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Restu yang Diam-Diam Terucap

Saat Zack dan Elly akhirnya keluar rumah, meninggalkan mereka berdua, ayah dan ibu Elly saling bertukar pandang.

Senyum kecil terulas di wajah ibunya. "Kau lihat itu?"

Ayah Elly, yang sejak tadi tampak tenang sambil membaca korannya, akhirnya menaruhnya di meja. "Hmmm…"

Ibunya tertawa kecil. "Elly benar-benar menyukainya."

Ayahnya mengangguk pelan. "Dia saja sampai segugup itu. Gadis itu memang tidak pandai menyembunyikan perasaannya."

Ibunya menghela napas dengan senang. "Jujur, aku tidak menyangka Zack bisa sedekat ini dengan Elly. Sejak kecil, dia selalu menutup diri kalau soal laki-laki."

Ayahnya menyandarkan diri ke kursinya. "Ya… tapi Zack bukan laki-laki sembarangan. Aku sudah mengamatinya dari tadi."

Ibunya menatap suaminya penasaran. "Maksudmu?"

Ayah Elly menatap pintu depan yang baru saja ditutup Zack dan Elly tadi. "Dia punya cara sendiri dalam menghadapi Elly. Dia tahu bagaimana membuat gadis itu panik, tapi tetap berada di dekatnya tanpa membuatnya benar-benar merasa tidak nyaman."

Ibunya tersenyum. "Ah, kau sadar juga, ya? Aku juga memperhatikan itu. Zack tahu batasannya. Dia menggoda Elly, tapi tidak pernah memaksanya. Dia hanya menunggu sampai Elly sendiri yang terbiasa dengannya."

Ayah Elly mengangguk. "Dan yang lebih penting… anak itu punya sopan santun. Cara bicaranya, caranya menghormati kita sebagai orang tua Elly… Aku bisa melihat dia laki-laki yang bertanggung jawab."

Ibunya tersenyum semakin lebar. "Jadi, kau menyukainya?"

Ayahnya menghela napas kecil. "Hmph. Aku hanya berpikir… kalau dia benar-benar serius, mungkin dia bisa menjadi bagian dari keluarga kita suatu hari nanti."

Mata ibunya berbinar. "Kau benar-benar mempertimbangkan dia sebagai calon menantu?"

Ayahnya menatap koran di atas meja, lalu kembali menatap pintu depan. "Kalau dia bisa menjaga Elly dan tidak menyakiti perasaannya… maka kenapa tidak?"

Ibunya tertawa kecil sambil menutup mulutnya. "Oh, suamiku yang kaku akhirnya mempertimbangkan menantu untuk putri kesayangannya, ya?"

Ayahnya mendengus. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk Elly. Tapi kita lihat saja nanti. Mereka masih sekolah."

Ibunya tersenyum penuh arti. "Hmmm… kalau kau sudah bilang begitu, aku yakin Elly pasti akan menikah dengannya suatu hari nanti."

Ayahnya terdiam sesaat, lalu menghela napas panjang. "Yah… kita lihat saja bagaimana nasib mereka nanti."

Namun, jauh di lubuk hatinya, sebagai seorang ayah, ia merasa sedikit lega. Jika Zack benar-benar menjadi pria yang akan menemani putrinya di masa depan, ia bisa sedikit tenang.

Sementara itu, di luar rumah, Elly masih sibuk menghindari Zack, tidak menyadari bahwa orang tuanya sudah diam-diam merestui mereka.

---

Saat mobil mulai melaju, Elly berusaha untuk tidak menatap Zack. Ia merasa canggung, apalagi setelah kejadian beberapa hari lalu di rumahnya.

"Kau terlihat tidak nyaman," komentar Zack santai.

Elly mendengus. "Aku baik-baik saja."

Zack tersenyum miring. "Benarkah? Kau duduk seperti robot sekarang."

Elly mendesis pelan dan berusaha lebih santai, tapi itu justru membuatnya semakin gelisah.

Pak Rudi yang duduk di depan hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka melalui kaca spion.

"Tujuan kita ke mana, Tuan Zack?" tanya Pak Rudi.

Zack melirik Elly sekilas sebelum menjawab, "Kita pergi berbelanja dulu. Aku ingin membeli beberapa cemilan."

Elly menoleh. "Kenapa kau mengajakku hanya untuk membeli cemilan?"

Zack terkekeh. "Karena aku ingin memastikan kau makan sesuatu yang enak hari ini."

Elly merasakan wajahnya mulai panas. Ia buru-buru menoleh ke jendela, berharap Zack tidak melihat pipinya yang mulai merona.

Tak lama kemudian, mereka sampai di supermarket besar. Zack turun lebih dulu, diikuti oleh Elly yang masih berusaha menata perasaannya.

Di dalam supermarket, Zack dengan santai memilih beberapa bungkus keripik, cokelat, dan permen. Sementara itu, Elly mencoba fokus memilih sesuatu untuk dirinya sendiri, meskipun pikirannya masih dipenuhi dengan perasaan canggung.

"Hei, bagaimana dengan ini?" Zack tiba-tiba mengulurkan sekotak kue kecil ke arah Elly.

Elly meliriknya curiga. "Kenapa kau memberikannya padaku?"

"Karena aku tahu kau suka makanan manis," jawab Zack ringan.

Elly menatapnya bingung. "Kau… tahu?"

Zack tersenyum. "Tentu saja. Aku memperhatikan."

Elly buru-buru mengambil kue itu dan memasukkannya ke keranjang. "Terserah kau," gumamnya, lalu berjalan lebih cepat.

Setelah selesai berbelanja, mereka kembali ke mobil. Pak Rudi sudah menunggu dengan tenang, lalu membuka pintu untuk mereka.

"Selamat datang kembali, Tuan Zack, Nona Elly," sapanya ramah.

Zack masuk lebih dulu, diikuti oleh Elly. Begitu pintu tertutup dan mobil mulai berjalan, suasana di dalam terasa sedikit canggung bagi Elly.

Zack meliriknya dan tersenyum jahil. "Kenapa kau terlihat seperti seseorang yang sedang diculik?"

Elly melotot. "Aku tidak diculik!"

Pak Rudi yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum kecil. "Kalau Nona Elly tidak nyaman, saya bisa berhenti di tempat lain dulu."

Elly langsung menunduk. "Tidak perlu, Pak Rudi."

Zack tertawa pelan. "Kau benar-benar lucu kalau sedang gugup seperti ini."

Elly semakin kesal. "Aku tidak gugup!"

Zack mendekatkan wajahnya sedikit, membuat Elly otomatis menjauh. "Oh ya?" godanya.

Elly menelan ludah. "J-Jangan dekat-dekat!"

Zack terkekeh dan bersandar ke kursinya. "Baiklah, baiklah. Aku tidak akan membuatmu pingsan di dalam mobil."

Elly mengerutkan kening. "Aku tidak akan pingsan hanya karena itu!"

Zack hanya tersenyum misterius. "Kita lihat saja nanti."

Pak Rudi yang menyaksikan interaksi mereka hanya bisa tersenyum dalam diam. Dari cara mereka berbicara dan bertingkah, tidak sulit untuk melihat bahwa ada sesuatu di antara mereka.

Tiba-tiba, Zack berkata santai, "Aku akan sering naik mobil ini mulai sekarang."

Elly menoleh cepat. "Apa? Kenapa?"

Zack tersenyum. "Aku ingin tahu rasanya jadi calon menantu yang sering diantar jemput oleh keluarga calon istrinya."

Elly hampir tersedak udara. "KAU APA?!"

Pak Rudi yang mendengar itu langsung tertawa kecil. "Kalau begitu, saya harus mulai membiasakan diri memanggil Tuan Zack sebagai calon menantu?"

Elly langsung menepuk dahinya. "PAK RUDI, JANGAN IKUT-IKUTAN!"

Sementara itu, Zack hanya tertawa puas, menikmati ekspresi panik Elly sepanjang perjalanan pulang.

---

Setelah perjalanan panjang yang penuh dengan godaan dari Zack, akhirnya mereka tiba kembali di rumah Elly. Saat mobil berhenti di depan gerbang, Elly buru-buru keluar tanpa menunggu Zack, seolah ingin melarikan diri lebih cepat.

Pak Rudi turun dan membukakan pintu untuk Zack. "Tuan Zack, apakah Anda ingin saya mengantarkan pulang?"

Zack menggeleng sambil tersenyum. "Tidak perlu, Pak Rudi. Aku akan pulang sendiri. Aku naik taksi saja."

Elly yang sudah hampir masuk ke dalam rumah langsung menoleh cepat. "Lho, kenapa kau tidak minta dijemput? Atau biar Pak Rudi antar?"

Zack menatapnya dengan senyum jahil. "Kau tidak ingin aku pulang?"

Elly langsung merengut. "Bukan itu maksudku!"

Zack tertawa pelan. "Aku hanya ingin memastikan kau masuk rumah dengan selamat dulu sebelum aku pergi."

Elly melipat tangannya di dada. "Aku bukan anak kecil."

Zack menatapnya dengan ekspresi geli. "Tapi kau tadi seperti anak kecil yang malu-malu saat makan es krim."

Elly hampir berteriak, tapi ia menahan diri karena sadar Pak Rudi masih ada di sana. "Sudahlah! Sana pulang!"

Zack hanya terkekeh dan melambaikan tangan. "Sampai ketemu lagi, calon istriku."

Elly hampir tersandung di ambang pintu mendengar kata-kata itu. Pak Rudi hanya tersenyum kecil sebelum mengantar Zack ke tepi jalan, di mana sebuah taksi sudah menunggu.

Begitu Zack masuk ke dalam taksi dan pergi, Elly menghela napas panjang, berharap ketenangannya kembali.

Namun, begitu ia masuk ke dalam rumah, ia langsung merasakan hawa yang tidak beres.

Ibunya sudah berdiri di ruang tamu dengan senyum penuh arti. Ayahnya duduk di sofa, menatapnya dengan ekspresi yang sama.

"Kau pulang lebih cepat dari yang kuduga," kata ibunya dengan nada menggoda.

Elly mengerutkan kening. "Apa maksudnya?"

Ayahnya terkekeh. "Kencan pertamamu dengan Zack berjalan lancar?"

Elly hampir tersedak udara. "I-INI BUKAN KENCAN!"

Ibunya tertawa kecil. "Oh, tentu saja. Hanya berdua, berbelanja cemilan bersama, duduk berdua di mobil, dan Zack mengantarmu sampai masuk rumah. Sama sekali bukan kencan, ya?"

Elly merasa wajahnya panas. "Ibu! Itu bukan kencan! Aku hanya… hanya… menemani Zack!"

Ayahnya mengangguk pelan dengan ekspresi serius. "Hmm, begitu. Lalu kenapa kau terlihat sangat bahagia sejak pulang tadi?"

Elly membelalakkan mata. "Aku tidak bahagia!"

Ibunya langsung tertawa lebih keras. "Jadi, maksudmu kau tidak menikmati waktu bersamanya?"

Elly terdiam sejenak, mencoba mencari jawaban yang tepat. Ia memang masih malu, tapi kalau ia jujur pada dirinya sendiri… ia sedikit menikmati waktu bersama Zack hari ini.

Namun, tentu saja, ia tidak akan mengakuinya di depan orang tuanya!

"Aku… aku hanya kelelahan!" jawabnya akhirnya. "Bukan karena aku senang atau apa!"

Ayahnya mengangguk-angguk lagi. "Oh, kalau begitu, minggu depan kita bisa mengatur kencan kedua, kan? Supaya kau lebih bahagia?"

Elly hampir melempar bantal ke arah ayahnya. "AYAH! BERHENTI MENGGODAKU!"

Ibunya tertawa sampai hampir meneteskan air mata. "Kau ini benar-benar lucu kalau sedang malu!"

Elly langsung berlari menuju kamarnya sambil menutupi wajah dengan kedua tangan. "Aku tidak malu! Aku hanya… hanya…"

BRAK!

Ia menutup pintu kamar dengan keras, membuat kedua orang tuanya saling berpandangan sambil tertawa.

Ayah Elly akhirnya bersandar ke sofa sambil tersenyum. "Kurasa anak itu memang punya sesuatu untuk Elly."

Ibunya mengangguk setuju. "Dan Elly hanya terlalu malu untuk mengakuinya."

Ayahnya tersenyum kecil. "Baguslah. Kalau Zack memang benar-benar serius, aku tidak keberatan menerimanya sebagai menantu di masa depan."

Ibunya terkekeh. "Sama. Tapi tentu saja, kita tidak boleh memberitahunya sekarang. Mari kita biarkan mereka menikmati drama ini lebih lama."

Mereka berdua pun tertawa kecil, menikmati betapa putri mereka yang biasanya keras kepala kini malah berusaha mati-matian menyangkal perasaannya sendiri.

Sementara itu, di dalam kamar, Elly duduk di tempat tidur dengan wajah tertutup bantal.

"Kenapa mereka seperti ini… Kenapa Zack seperti ini…"

Namun, tanpa ia sadari, senyum kecil terbentuk di wajahnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!