NovelToon NovelToon
MENGAMBIL KEMBALI

MENGAMBIL KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Berbaikan / Percintaan Konglomerat / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: Vandelist

Segalanya yang telah ia hasilkan dengan susah payah dan kerja keras. lenyap begitu saja. kerja keras dan masa muda yang ia tinggalkan dalam menghasilkan, harus berakhir sia-sia karena orang serakah.borang yang berada di dekatnya dan orang yang ia percayai, malah mengkhianatinya dan mengambil semua hasil jerih payahnya.

Ia pun mulai membentuk sebuah tim untuk menjalankan rencana. dan mengajak beberapa orang yang dipilihnya untuk menjalankan dengan menjanjikan beberapa hal pada mereka. Setelah itu, mengambil paksa harta yng dikumpulkan nya dari mereka.

"Aku akan mengambil semuanya dari mereka, tanpa menyisakan sedikitpun!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vandelist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Selamat membaca

Suasana malam itu menyelimuti kota dengan kelelahan. Lampu-lampu jalan berkelap-kelip seperti bintang-bintang yang terpencar, menerangi jalanan yang mulai sepi. Suara kendaraan bermotor mengisi udara, berpadu dengan klakson dan deritan ban yang memecah kesunyian.

Orang-orang melangkah cepat, bayang-bayang mereka membentang panjang di bawah cahaya lampu. Wajah-wajah lelah tersirat di setiap pejalan, namun seulas senyum samar tetap menghiasi saat mereka saling berpapasan. Udara malam yang dingin menyusup lembut ke setiap sudut kota, membawa serta aroma tanah basah setelah hujan reda, meninggalkan jejak kehangatan yang perlahan memudar.

Ia menikmati pemandangan yang ada di depannya ini dengan duduk di teras rumahnya. Tempat tinggal yang dibelinya ketika pertama kali mendapat gaji besar, dan dimanfaatkannya untuk mendapat uang lebih banyak. Rumah yang dekat dengan pemukiman, serta para tetangga yang baik. Adalah impiannya ketika ia memutuskan untuk tidak tinggal bersama kakaknya lagi.

Keluarga satu-satunya yang ia miliki, dan penyemangatnya dalam meraih mimpi. Kakaknya telah melewati banyak hal dalam hidup, apalagi ketika kakaknya memutuskan menikah dengan orang yang tidak tepat dengannya. Kakaknya rela mengorbankan hidupnya menikah dengan pria tidak tahu diri itu karena ingin menyekolahkan dirinya ke jenjang lebih tinggi.

Kakaknya tidak ingin dirinya menjadi cemoohan orang-orang karena ekonomi yang dimiliki selama ini. Kakaknya ingin dirinya bisa mengubah nasib keluarganya dari lingkaran setan kemiskinan ini. Dan ia melakukan itu semua, meskipun impiannya sempat tertunda karena kasus kakaknya yang dianiaya mantan suaminya dulu.

Beruntungnya, kini sang kakak telah menemukan seseorang yang tepat dalam hidupnya—seseorang yang mampu menghargainya dan membawa kebahagiaan dalam setiap langkahnya. Meskipun dahulu ia sempat menolak calon kakaknya yang satu itu, tapi takdir akhirnya membuktikan bahwa pilihan tersebut adalah yang terbaik.

“Begini banget nasib gue sekarang”gumamnya dengan menatap jalanan yang ada di depannya.

Pelataran rumah yang tidak terlalu besar dan juga pohon rindang berdiri kokoh di depan rumahnya. Pohon itu bisa dibilang, tempatnya untuk melamun setiap kali selesai bekerja. Dia akan menatap pohon itu sepanjang hari setelah dirinya selesai aktivitas. Atau tidak setelah bangun tidur. Pohon yang tidak terlalu besar, namun bisa menyejukkan matanya yang lelah akibat menatap layar monitor terus-terusan.

Dia akan menatap pohon dari arah mana saja. Entah itu di luar atau tidak dari dalam ia akan menatapnya sepanjang waktu. Dia merasa damai ketika menatap pohon itu.

“Gabut banget gue anjir,”garuk kepalanya hingga rambutnya berantakan “sialan tuh bangkotan tua emang.”

Ia tidak tahu sekarang bagaimana nasib mantan ketua nya itu sekarang. Dia tidak mengikuti berita lagi setelah mengunggah vidio senonoh mantan ketua divisinya itu. Terakhir kali ia buka grup divisinya, yang dimana ia belum dikeluarkan dari grupnya itu.

Ketua divisinya itu hanya mendapat peringatan dari kantor pusat, dan tidak mendapat hukuman yang setimpal. Entah apa yang ada dipikiran orang-orang di kantor pusat, mereka seakan tidak ingin menghukum orang yang sudah melakukan kesalahan di dalam kantornya.

Kemanusiaan yang ada di dalam diri mereka, seakan sampah yang tidak perlu terlalu diperhatikan. Kemanusiaan dan keadilan bagi mereka adalah sesuatu yang tidak akan membuat mereka untung banyak. Daripada memperhatikan korban yang trauma akibat ulah bejat itu.

Galuh menghela napasnya, Jika seperti ini dia jadi mengingat masa kecilnya yang selalu dibully oleh teman-temannya itu. Masa dimana ia dan kakaknya sering diremehkan karena kondisi mereka. Masa dimana ia bertekad untuk membuktikan bahwa ia akan menjadi lebih baik daripada mereka.

Dan sekarang ia sudah membuktikannya, haya saja keinginannya dalam mewujudkan impiannya harus gagal karena ulah ketua divisinya. Dan idenya, bersama temannya malah diklaim oleh divisi lain dan mendapat sokongan untuk mengembangkannya.

Sementara dirinya dan anggota timnya yang lain, harus menerima kepasrahan akibat ulah ketua divisinya yang tidak tahu diri itu. “Bangkotan tua asu emang”umpatnya pada orang itu.

Sampai sekarang, amarah nya belum mereda sama sekali ketika mengingat pria bangkotan tua itu. Dia benar-benar membenci pria itu sampai ke ubun-ubun kepalanya karena ulah pria itu.

“Tuh orang keknya kalau diberi pelajaran kayak gitu nggak bakalan sadar-sadar. Mana sekarang dilindungi lagi sama mereka,”ucapnya dengan pandangan lurus ke depan “tapi harus diberi pelajaran apa ya?”

“Pelajaran apa?”saut seorang pria yang dikenalnya. Orang itu pun masuk ke dalam rumahnya dan duduk di dekatnya.

Pria itu, Koswara. Teman masa kecilnya. Lebih tepatnya tetangganya yang selalu diganggunya. Karena sifat pria itu dulu, sangat pendiam dan tidak mau bersosialisasi dengan yang lainnya. Sangat berbeda dengan dirinya yang selalu membuat ulah dan membuat kedua orangtuanya sakit kepala.

“Pelajaran apa?”tanya Koswara sekali lagi dengan pertanyaan yang sama.

“Memberi pelajaran sama lo buat jangan terlalu caper sama kakak gue”jawab Galuh asal.

Koswara menaikkan alisnya sebelah, “lah emang salah kalau ngambil perhatian kak Lisung?”tanya Koswara pada temannya itu.

“Iya soalnya gara-gara lo keponakan gue curhat mulu sama gue karena ibunya lebih perhatian sama temen tantenya”jawab Galuh dengan nada kesal. Kali ini ia tidak mengada-ada, karena memang kenyataannya seperti itu. Keponakannya selalu curhat padanya tentang ibunya yang selalu bercerita tentang teman prianya itu.

Koswara yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak sambil menepuk bahu temannya itu. Dia jadi membayangkan bagaimana ekspresi Galuh ketika dicurhati oleh keponakannya itu. Apalagi keponakan temannya itu bisa dibilang sangat cerewet jika sudah bercerita banyak hal. Dan itu membutuhkan waktu paling lama ketika mendengar dongeng dari keponakan Galuh.

“Udah ketawanya?”tanya Galuh yang kesal melihat Koswara tidak berhenti tertawa.

“Belum,”jawabnya dengan terkekeh pelan “Luh Luh kok bisa sih hidup lo lawak banget, dari punya keluarga yang punya cerita lucu masing-masing. Apalagi kakak ipar lo itu, astaga ada aja cerita lucu yang diceritain sama dia. Gue jadi teringat dengan masa kecil lo yang di rumah pak Iman.”

“Di rumah pak Iman?”pikirnya dengan mengingat kejadian dulu. Ia teringat hal itu, dia pun menolehkan wajahnya pada temannya itu. Pupilnya membesar dan memekik ke arah temannya itu. Ia pun memukul lengan pria itu berkali-kali dengan pelan. “Kok lo masih inget itu sih, kenapa juga di ingetin. Setan lo emang”pungkas Galuh dengan kesal.

Koswara yang melihat hal itu hanya bisa terkekeh “gimana nggak inget, orang gue saksinya ketika lo kabur dari marahan pak Iman saat itu. Mana setelah nglakuin hal itu lo ketawa-ketawa lagi sama teman-teman lo.”

“Eh tapi seru tahu waktu itu, setelahnya gue sama temen-temen yang lain langsung berpesta bakaran di kebon orang.”

“Iya sih, gue masih inget banget lo waktu itu cuma pake kolor batman warna kuning sama kaos kotang warna merah. Berat nggak sih waktu lo ngegendong ikannya?”

“Yaiyalah, Lo kira umur segitu gue kuat apa buat angkat sendirian. Mana waktu itu temen gue yang lain kayak bangsat lagi ninggalin gue sendirian dengan ikan besar, yaudah deh ikannya gue seret.”

Mereka tertawa pelan, masa kecil yang entah mengapa sangat lucu ketika diceritakan. Apalagi peristiwa itu terjadi ketika kedua orang tua Galuh masih ada dan saksi kenakalannya waktu itu adalah Koswara.

Tetangga nya sendiri. Sungguh, jika diberi waktu untuk memutar ulang masa itu. Ia akan menjadi orang terdepan untuk masuk ke lorong waktu itu. Dan merasakan kehangatan kembali keluarganya dengan bahagia. Hidupnya setelah kedua orangtuanya tidak ada, sangat tidak menyenangkan.

Karena hidupnya hanya bersama kakaknya dengan menghadapi persoalan yang sulit untuk bertahan hidup.

μμ

“Ada apa lo menghubungi ku?”tanya Galuh pada orang di depannya.

Orang itu tersenyum ke arah Galuh “cuma kangen aja, udah lama kan kita nggak ketemu”jawabnya.

Galuh melipat tangannya di dada dan menatap tajam ke arah orang itu. Dia seperti melihat ada yang tidak beres dengan temannya itu. Sedangkan orang yang ditatap oleh Galuh, mengalihkan pandangannya ke arah lain dan meminum minuman yang dipesannya tadi.

Menurutnya, temannya yang sudah lama tidak berjumpa itu sangat aneh. Mereka bahkan bisa dibilang jarang berkomunikasi, dan tiba-tiba saja ingin bertemu dengannya. Secara mendadak.

“Minum Luh jangan dilihatin aja, keburu mencair nanti es batunya nanti nggak dingin lagi”ucap orang itu untuk mengalihkan tatapan tajam Galuh. Karena itu membuatnya sangat tidak nyaman sekali.

“Neen”panggil Galuh pada temannya.

“Jangan Neen lah, Fyn aja aneh banget lo manggil gue pake itu”sekarang dirinya malah berdecak dengan panggilan temannya itu.

“Aneh banget lo, baru ketemu gue dan rasa-rasanya lo lagi nyembunyiin sesuatu. Iya kan?”

“Nggak ada lah Luh emangnya gue nyembunyiin apaan dari lo”elaknya.

“Lo mau nikah ya Neen?”celetuk Galuh yang membuat temannya itu tersedak dengan minumannya.

“Pertanyaan lo bikin gue jantungan tau nggak! Nggak ada pertanyaan lain kah selain itu?”

“Berarti bener dong kalo lo mau nikah? Buktinya lo ngelak, udah dipepet terus ya lo?”

“Ck kurang asem lo.”

“Tambahin air lah.”

“Si anjir.”

Mereka tertawa dengan celetukan masing-masing. Entah sudah berapa lama dirinya dan orang tidak itu bertemu. Namun candaan mereka masih terconect satu sama lain. Dulu semasa kuliah, mereka berdua sering melakukan hal ini setiap kali bertemu.

Bisa dibilang hal ini, untuk pengalihan pikiran mereka yang sudah terlalu stres dengan tugas kuliah. Dan karena mereka satu jurusan serta memiliki tujuan yang sama. Membuat mereka bisa akrab satu sama lain. Tentunya tanpa cinta di antara keduanya.

Sebab prinsip yang dipunyai Galuh adalah ‘pantang baginya mempunyai hubungan sebelum mencapai impian’. Yah, itu lah yang membuatnya sampai sekarang tidak pernah merasakan cinta dari seorang pasangan.

“Gue serius Neen, kenapa lo pengen ketemu gue? Nggak biasanya lo kayak gini kalau bukan kepepet.”

“Jangan panggil gue Neen anjir, geli gue dengarnya,”ujar Fyneen dengan panggilan Galuh padanya “sebenarnya gue emang lagi kepepet sih, makanya gue pengen nemun lo. Gue pengen lo bantuin gue.”

“Bantuan apa? Kalau mudah gue bantu tapi kalau merugikan sorry to say gue lebih sayang harga diri.”

“Sayangnya ini bakalan nguras tenaga dan pikiran lo. Oh iya sama mental lo.”

“Ada imbalan nya nggak?”

“Tenang semua itu bisa diatur. Dan gue bakalan bantuin Lo buat wujudkan impian lo.”

Galuh memusatkan pandangannya ke arah temannya itu.

“Bukannya lo pengen banget wujudin rencana lo itu kan?”tanya Fyneen.

“Darimana lo tahu itu?”tanya balik Galuh.

“Ck bunder! Lo lupa dulu lo selalu bilang tentang impian lo itu. Ya tahu lah gue, dan ketika lo mau wujudkan impian Lo bersama teman-teman lo itu gagal karena kelakuan ketua lo yang lebih mentingin nafsu bejatnya?”ujar Fyneen.

“Dan itu darimana lo tahu tentang hal itu?”saut Galuh dengan menenggak minuman yang dipesannya.

“Gue tahu karena gue cari tahu. Lagi pun gue juga pernah kerja sama tuh orang, tapi akhirnya keluar karena sifatnya yang nggak bisa bertanggung jawab di divisinya. Serta tuh orang kagak bakalan bisa dipecat dari sana.”

“Kenapa?”

“Kekuatan orang dalam. Dia punya banyak koneksi di perusahaan pusatnya, dan juga berita yang terjadi baru-baru ini tentangnya nggak bakalan bisa nglengserin tuh orang karena koneksinya.”

“Tapi, bukankah kalau ketahuan oleh banyak orang bakalan mempengaruhi citra perusahaan?”

“Iya sih, tapi itu hanya kesalahan kecil yang bisa disingkirkan mudah oleh mereka.”

“Karena kekuasaan?”

“Benar teman!”

Galuh menyadarkan punggung ke kursi yang didudukinya. Sekarang ia mengerti kenapa ketua divisinya hanya diberi peringatan oleh perusahaan pusat. “Ternyata semua itu karena koneksi”batinnya.

Galuh tak menyangka bahwa apa yang dilakukannya itu hanyalah kesalahan kecil. Yang bisa dengan mudah mereka singkirkan dengan jentikan jari. Karena mereka memegang kekuasaan dan dapat mengendalikan semuanya. Termasuk vidio yang ia unggah di internet. Maka dari itu, waktu itu berita itu begitu cepat meredanya.

Namun yang namanya jejak digital tidak akan mudah hilang begitu saja meskipun dengan koneksi tinggi. Apalagi warga internet lebih pintar dalam mengungkit kesalahan tukang-tukang penjahat seperti ketua divisinya itu. Dan itu akan mereka ungkit sampai orang itu membunuh dirinya sendiri. “Huh setidaknya gue udah bisa bikin orangtua tuh orang stroke gara-gara kelakuannya”ucapnya dalam hati.

“Lo mau nggak tawaran gue?”tanya Fyneen sekali lagi pada temannya itu. “Kalau lo beneran mau, lo bakalan bisa dengan mudah ngalahin ketua divisi lo yang dulu. Dan ngambil ide lo lagi dari mereka.”

“Apa gue bakalan berurusan dengan hukum?”

“Nggak akan gue bakalan ngelindungi lo, dan kalau pun lo berurusan dengan hukum lo harus pinter-pinter cari cara agar bisa lolos. Gue bakalan kasih fasilitasnya.”

Galuh berpikir sejenak. Tawaran yang diucapkan Fyneen sangat menarik baginya. Apalagi pria itu akan membantunya untuk mengambil kembali ide yang telah dicuri oleh ketua divisinya.

Sebenarnya ia masih dendam dengan ketua divisinya sampai sekarang karena kerja kerasnya dan timnya harus diberikan kepada divisi lain. Dengan imbalan nafsu bejat ketuanya. Dia tidak rela apa yang sudah dikerjakannya dan tim-nya harus diberikan secara sukarela oleh ketuanya. Sampai sekarang dirinya dan anggota timnya yang lain masih dendam dengan orang itu.

Tapi mereka juga tidak bisa melakukan tindakan lebih. Mereka masih takut akan hukum negara ini, karena memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki oleh dirinya dan timnya.

“Oke gue bakalan bantuin lo, dengan syarat,”matanya menatap serius ke arah Fyneen “bantuin gue hancurin tuh orang, gue pengen banget orang-orang yang membantunya mendapat pembalasan yang setimpal dengan apa yang mereka lakukan sama gue dan tim gue.”

“Oke gue bakalan bantuin tentang hal ini, lo bisa hubungin orang ini. Karena dia yang bakalan menjadi pengerak lo nanti”ucap Fyneen sembari memberikan sebuah kartu tanda pengenal pada Galuh.

Galuh pun mengambil kartu nama itu dan membacanya. “Erica Nurzaki”gumamnya.

1
QueenRaa🌺
Keren ceritanya kak✨️ Semangat up!!
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!