Ana mengusap sedih air mata yang mengalir di pipinya kala harus menulis surat perpisahan untuk tunangannya. Ana harus mengembalikan cincin tunangan mereka sebelum benar-benar menghilang tertelan kesedihannya.
Tak jauh dari tempat Ana menulis surat perpisahannya, tergolek seorang pria tampan yang sedang tertidur dengan nyenyaknya seolah tak peduli betapa kacaunya ranjang itu. Ranjang terkutuk tempat pria itu merenggut keperawanannya tepat sebelum Ana akan menikah.
Tak cukup air mata kesedihan menggambarkan betapa sedihnya Ana saat ini. Ana tidak sanggup bmenceritakan apa yang di alaminya pada siapapun. Ana tak sanggup melihat wajah kecewa tunangannya jika ia tahu betapa dirinya telah ternoda, siapa yang mau menerimanya saat ini, meskipun tunangannya menerimanya, bagaimana dengan keluarganya. Apalagi jika sampai media mengetahuinya. Reputasi keluarga kaya itu pasti lebih dari segalanya daripada dirinya yabg bukan siapa siapa.
Ana ingin sekali menyalahkan pria yang tengah tertidur itu. Tapi Ana juga tak sanggup membencinya. Bagaimanapun juga pria itu juga berjasa dalam hidupnya. Kenyataan bahwa pria itu kakak dari sahabatnya, membuat Ana tak bisa menceritakan masalah ini pada sahabatnya. Apa yang membuat Ana berpikir bahwa sahabatnya lebih mendukungnya daripada saudaranya. Seperti ibarat darah lebih kental bukan.
Tapi Ana percaya bahwa jika manusia yang merencanakan, Tuhan lah yang menentukan. Pasti karena rencana Tuhan begitu indah. Ana memilih meyakini bahwa semua kesedihannya akan berubah indah pada waktunya.
Tekat Ana sembari melangkah pergi menyongsong kehidupannya yang lain.
Jika seseorang itu datang seperti embun di tengah padang nan gersang.
Akankah seseorang itu mampu mengentaskan hatinya dari keterpurukan.
Mungkin bisa, tapi bagaimana jika ternyata takdirmu sedemikian buruk. Sehingga meski embun datang ternyata banjir air mata lebih dulu menenggelamkanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aslolimanis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
🎂🎂🎂
"Jangan pergi... Ku mohon tetaplah tinggal... Ku mohon... Jangan... Jangan pergi..... " Thomas kembali meracau terbawa mimpi buruknya. Kali ini peristiwa kepergian Ana kembali memasuki mimpinya.
Thomas terbangun dengan terengah-engah. Karena tak ingin tidur lagi dan kembali ke mimpi buruknya Thomas lantas berkeliling ke halaman belakang rumahnya yang lebar serupa taman hotel, dengan beberapa fasilitas meski dengan ukuran yang sedikit lebih kecil. Sejak kejadian waktu itu Mamanya melarang Thomas tidur di luar rumah sampai kondisinya benar-benar membaik. Daripada tak bisa tidur Thomas memilih bersantai di bangku panjang sambil memandang langit.
"Tidak bisa tidur lagi" Tanya Mamanya yang tahu tahu sudah ada di sampingnya. rupanya Ny Bella sudah mencurigai gelagat aneh putranya. Jika memang saat ini Thomas menolak cerita padanya. Lebih baik ia memaksa Thomas ke rumah sakit. Ny. Bella tidak ingin putranya yang berharga mengidap depresi yang semakin lama semakin buruk.
"Ah, bukan apa-apa, hanya sedikit tidak nyenyak. Cuacanya bagus jadi aku memilih bersantai melihat bintang -bintang di langit, sudah lama tidak melihatnya, meluangkan waktu seperti ini tidak salah bukan." Kilah Thomas.
"Aku Mamamu yang melahirkanmu. Mana mungkin kamu bisa memperdayaiku." Ujar Ny. Bella sedikit emosi. Sambil ikut bersantai di bangku lainnya di samping Thomas.
"Maafkan aku" Ucap Thomas akhirnya. Thomas masih belum sanggup menceritakannya.
"Apakah seberat itu"
"Ya"
"Bagaimana dengan berkunjung ke dokter. Tentunya setiap dokter bisa di percaya jika kamu tidak percaya dengan Mama"
"Hm" Thomas menoleh ke arah Mamanya. Thomas tahu Mamanya sangat memperdulikan nya. Mamanya nampak sangat cantik malam ini dengan gaun tidurnya. Mamanya sampai mengabaikan kualitas malamnya dengan Papa demi menemaninya. Padahal mereka berdua hanya punya sedikit waktu bersama. Bagaimana bisa Thomas menolak permintaan ini.
"Aku akan mencobanya " Ujar Thomas akhirnya. "Mama cepatlah tidur. Aku tahu Mama hanya punya sedikit waktu bersama dengan Papa. Jangan biarkan aku Papa menunggu ." Gurau Thomas.
"Aih, kamu tahu saja! " Ujar Ny Bella sembari bangkit dari bangkunya untuk kembali masuk ke rumah. Ketika Thomas sudah setuju sebaiknya malam ini mereka beristirahat. Namun sebelum benar-benar bangkit Thomas tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat Ny. Bella mengurungkan diri meninggalkan Thomas.
"Ma, jika aku melakukan sebuah kesalahan yang tak bisa diperbaiki lagi, apa yang bisa kulakukan untuk menebusnya? "
Pertanyaan Thomas sangat tiba-tiba. Ny Bella sampai terdiam beberapa detik. Sebelum mencoba menjawabnya.
"Minta maaflah"
"Dia bilang sudah memaafkanku tapi dia tetap memilih pergi " Ungkap Thomas dengan jujur. Mungkin saat ini rasa bersalahnya demikian besarnya hingga ia tak peduli lagi dengan sandiwaranya. Ternyata Thomas telah melakukan sebuah kesalahan dan itu membuat Thomas memikirkannya demikan dalamnya sampai ia tak nyenyak tidur dan tak enak makan. Lihat lingkar mata pandanya dan bobot tubuhnya yang merosot
"Ada kalanya orang membutuhkan jarak untuk bisa menyembuhkan luka. Bersabarlah. Pasti ada yang bisa di lakukan untuk memperbaiki itu" Ujar Mamanya.
"Tapi aku sangat merindukannya. " Ujar Thomas mulai menangis.
Ny Bella mendekat ke arah putranya dan memeluknya.
"Mama akan memohonkan maaf untukmu, katakan pada Mama siapa orang itu. Bila perlu Mama akan bersujud untukmu"
"Dia telah pergi jauh" Ujar Thomas sambil menyeka air matanya. Bayangan Ana yang menaiki kapal membayangi Thomas. Thomas berulang kali memutar kenangan itu dalam mimpinya. Benar-benar mimpi buruk baginya.
Ny Bella tercekat. Apakah putranya telah membunuh seseorang. Ny Bella lantas menggelengkan kepalanya berulang kali. Hmmm ia tidak boleh berprasangka buruk.
"Apakah orang itu sudh meninggal" Tanya Ny Bella dengan sedikit khawatir Thomas mengatakan iya. Tapi ketika Thomas menggeleng Ny Bella menghela nafas panjang penuh kelegaan.
"Oia, bagaimana pekerjaanmu? " Tanya Ny Bella mengalihkan pembicaraan.
"Aku sedikit bosan. Tapi aku akan berusaha membuat terobosan agar pekerjaannya menjadi sedikit menantang."
"Bekerja keraslah, 3 bulan lagi ada proyek pengembangan resort di kawasan baru. Jika kinerjanya bagus, Arthur akan memberimu tugas ini. Maka dari semangatlah"
"Pasti akan ku lakukan" Janji Thomas. Ia tersenyum dan mengangguk ke arah Mamanya. Kali ini ia harus mendapatkannya dan memastikan ia mengirimkan banyak yang sehingga Ana bisa bersantai dan menikmati hidupnya.
"Baiklah, sekarang mari kembali tidur. Besok setelah jam kerja Mama akan menunggumu di rumah sakit. Jangan melupakannya oke"
"Oke" Ucap Thomas.
"Good night sayang" Kata Ny. Bella sambil mencium pipi putranya. Thomas juga ikut pergi. Sepertinya tak ada alasan baginya bermalas-malasan.
🎂🎂🎂
"Pak Thomas, ada Pak Theo dari Maxwell company, apakah anda akan menemuinya" Tanya Roy, asistennya.
Thomas menghentikan semua yang di kerjakannya. Thomas sudah menduga ini, cepat atau lambat Thomas harus berhadapan dengan Theo.
"Biarkan dia masuk"
Tak berapa lama Theo sudah berada di ruangannya. Tubuhnya tinggi, tegap, dan tampan membuat Thomas sedikit membayangkan kenapa Ana sampai menyukainya dan ingin menikahinya.
"Selamat da... " Belum selesai Thomas mengucapakan kata sambutan tinju Theo sudah lebih dulu melayang ke wajah Thomas
"Buagghh.... " Thomas jatuh terduduk di kursinya. Untung ia tidak jatuh ke lantai. Namun belum sempat Thomas bangkit Theo sudah melayangkan tinjunya lagi bertubi-tubi sampai Roy, asisten Thomas memegang Theo agar pria itu tidak memukuli bossnya lebih lama lagi. Namun Roy bukan lah tandingan Theo. Roy lebih memilih menyingkir dan memanggil bagian keamanan.
"Sial! Apa yang kau lakukan pada Ana ku" Ujar Theo marah sambil menarik kerah baju Thomas.
Thomas tak menjawabnya. Ia tak bisa menjawabnya.
"Buagh.... " Theo memukulinya lagi.
"Aku minta maaf" Ujar Thomas akhirnya. Namun Theo lebih marah lagi mendengar jawaban itu.
"Buagh..... Buagh..... " Thomas menerima saja semua pukulan Theo. Thomas merasa bersalah bahkan jika pukulan ini membawanya pada kematian, Thomas merelakannya. Jika ia berada di posisi Theo. Dirinya bahkan tak akan berpikir dua kali jika ada seseorang yang melakukan itu pada tunangannya.
Theo melemparkan Thomas ke lantai. Melihat Thomas hanya menerima pukulannya tanpa mengelak membuat Theo marah. Itu sama saja seperti Thomas mengakui semuanya. Ia telah merusak hubungannya dengan Ana dan bahkan membuatnya menghilang tak bisa di temui.
"Dimana Ana sekarang. Dimana kamu menyembunyikannya " Tanya Theo sembari duduk di kursi tamu dengan tenang. Ia sudah merilis semua emosinya. Kali ini ia akan menanyakannya dengan baik-baik.
Thomas bangkit dari lantai sambil menyeka darah yang menetes di bibirnya dengan sapu tangan.
Pintu tiba-tiba terbuka dan segerombolan pasukan keamanan datang memasuki ruangan. Namun Thomas melambaikan tangannya meminta semuanya keluar. Thomas ingin menghadapi Theo. Apapun itu Thomas akan menverifikasinya.
"Aku tidak menyembunyikannya, Ana bilang ia akan pergi saat kamu bahkan tidak menerima penjelasannya. Aku tahu semua salahku tapi kenapa kamu bahkan tidak percaya dengan Ana." Ujar Thomas membalikkan kenyataan.
"Kau.. Masih berani bicara omong kosong. Apa lagi yang kamu ketahui"
"Ana tidak ingin aku mengganggunya lagi"
"Apa yang sudah kamu lakukan padanya. "
"Aku mencintainya bagaimana bisa aku membiarkannya bersamamu."
"Hai bung! bersainglah dengan sehat."
"Semua halal dalam perang dan cinta. Tidakkah kamu tahu pepatah itu." Melihat Theo masih mencintai Ana membuat Thomas gelap mata. Ia sangat marah karena Theo dengan mudah mencampakkan Ana bahkan karena sesuatu yang bukan perbuatannya dan sekarang seolah -olah masih mencintai Ana. Benar-benar munafik.
"Kamu menghalangi kebahagiaannya!, kamu gila dan sakit! " Teriak Theo
"Kudengar kamu akan menikah dengan putri bungsu grup Sea."
Theo mengepalkan tinjunya. "Kalau bukan karenamu saat ini yang akan menikah denganku adalah Ana. Kau dasar brengsek! "
"Ana akan menjadi remah remah yang di injak di keluargamu. Biarkan Ana menikmati hidupnya saat ini. Aku yang mengurusnya sekarang. Pergilah. Tak ada yang bisa ku katakan lagi."
"Malam itu, apakah malam itu benar-benar terjadi" Tanya Theo lagi memastikan. dalam hatinya berasa sangat sakit dan mengganjal. Ia ingin mendengar jawaban langsung dari Thomas. "Apakah Ana berselingkuh denganmu? "
"Aku menjebaknya karena aku mencintainya . Aku melakukannya karena aku tak rela ia menikahimu. Aku menyakitinya tapi Ana malah memaafkanku. Tapi sebagai gantinya Ana menghukummu dengan menghilang tanpa tahu rimbanya. Hukuman ini bahkan lebih menyakitkan daripada melihatnya bahagia denganmu. Rasa rindu yang menyakitkan ini sungguh membuatku ingin mati saja" Kali ini Thomas benar-benar emosional. Tapi Theo malah semakin muak dengannya.
"Kau...terimalah karmamu dasar brengsek.... " Umpat Theo sembari meninggalkan Thomas yang menangis. Meski ia sakit hati dengan Thomas tapi melihatnya menderita bukankah sepadan. Tapi yang Theo sayangkan adalah kenapa saat itu ia tidak mendengar penjelasan Ana lebih dulu. Meski Thomas memaksaya malam itu, namun hatinya masih milik Theo. Seharusnya malam itu ia menemui Ana dan tak meninggalkan gadis itu sendirian. Saat ini apa bedanya ia dengan Thomas.
Bahkan belum genap sebulan dan Theo sudah akan menikah dengan wanita yang lain. Bukankah jika Ana melihatnya di suatu tempat, maka Ana akan menganggapnya tak tulus mencintainya selama ini. Ah, bisakah sekali saja hidup bisa seperti yang di inginkan nya.
🎂🎂🎂
jangan tanya update kapan ya..
author butuh me time...
makasih
Hingga Tuhan pertemukanku denganmu
Hancurkan diriku
-tanpa rasa bersalah-