Alissa Moon seorang yatim piatu yang tumbuh di sebuah panti asuhan, ia memiliki kecerdasaan yang luar biasa hingga mampu menghidupkan dirinya sendiri semenjak remaja, berkat beasiswa yang di dapatkan, Alissa telah menyelesaikan pendidikan diusia dini. Selain itu, Alissa memiliki kelebihan berbeda, gadis itu bisa membaca masa lalu dan mengetahui masa depan seseorang.
Hingga suatu waktu, Alissa di hadapkan pada hubungan sepasang kekasih yang pelik, Alrescha Nero sangat mencintai Arabella Kalista, kekasihnya. Sayangnya gadis itu tidak mencintai Alrescha, ia menyukai saudara tirinya bernama Georgi Nero, membuat Alissa percaya di dunia ini manusia adalah makhluk yang tidak tahu diri dan paling egois.
Namun hal tak terduga terjadi, Alissa tidak bisa melihat dan membaca masa depan serta masa lalu Alrescha, namun anehnya setiap kali pria itu berada dalam bahaya, Alissa selalu ada disana, terjerat di dalam takdir yang membuatnya terjebak untuk melindunginya, hingga akirnya Alissa mencinta Alrescha sekalipun ia sadar, jika pria itu masih bertahan pad Arabella yang sudah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon della meyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[Episode : 16] Tertawa terpingkal-pingkal.
“Apa dia akan pulang hari ini? Kenapa lama sekali datangnya” rengek Clara yang kala itu duduk di samping kakaknya Georgi Nero.
“Clara..” lirih seorang wanita yang penuh akan wibaba ketika menegur putrinya, tentu saja wanita itu adalah istri kedua Jerremy Nero yang saat ini menjadi kepala keluarga dan pemimpin Grup Nero.
“Tapi dia lama sekali Mami…” dengus Clara dengan jengkel, membuat Geogi menajamkan mata penuh peringatan pada adiknya.
“Baiklah, aku diam” sambung Clara dengan enggan.
Tentu mata Georgi Nero melirik kearah ibunya Charmilla Lubis, yang menjadi Nyonya kedua Nero akibat istri pertama yang meninggal dunia, tentu tidak di pungkiri lagi jika wanita itu adalah orang yang di berikan belas kasil oleh Ketty ibu dari Alrescha untuk tinggal di rumah Nero, namun siapa yang menyangka jika wanita itu merangkak ke ranjang hingga mengandung dua anak dari Tuan Nero sendiri.
Nampaknya banyak keberuntungan yang di miliki oleh Alrescha Nero, bahkan sudah bertahun-tahun Georgi merencanakan hal ini, tapi siapa yang menyangka jika sebenarnya ia masih bisa selamat, sungguh hal yang luar biasa untuk melihat kakak yang beda ibu denganya itu selamat, tentu saja Charmilla juga mengetahuinya namun ia tidak menyangka anak itu akan seberuntung ini.
Sedangkan Clara yang duduk tenang disisi ayah dan kakaknya hanya merengut dengan jengkel, ia bahkan memiliki janji dengan Ega Prasetyo selaku calon suami yang di jodohkan keluarga denganya, selain itu pria itu adalah cinta pertama Clara dan ia sudah berjuang keras menyingkirkan para hama untuk mendapatkanya.
Dan Alrescha Nero yang bersikap penuh otoritas itu malah mengacaukan kencannya, sungguh Clara amat jengkel ketika menerima kabar jika Alrescha Nero akan pulang malam ini, dan Clara dengan terpaksa menghadirinya sebab di paksa oleh ibunya.
“Permisi tuan besar, Tuan Muda Alrescha sudah sampai” ucap seorang pelayan rumah tangga ke pada keluarga yang duduk manis di ruang makan, membuat Jerremy selaku ayah kandung dari Alrescha menganggukan kepala kepada sang pelayan untuk mempersilahkan Alrescha memasuki ruang keluarga.
Dengan perawakan tegas dan juga sikap penuh percaya diri, Alrescha berjalan memasuki ruang makan itu hingga melirik kearah ayahnya, bahkan rasanya tatapan tegas penuh serius keduanya saling menyatu hingga membentangkan hening di seluruh penjuru, Alrescha berdiri tergap dengan sikap formal sebab ia tidak akan berani mendudukan diri jika Tuan Jerremy belum mempersilahkan dirinya.
Charmilla dan kedua anaknya menatap panjang kearah Alrescha, Charmilla terpaksa mengulas senyuman meskipun ia merasa sangat enggan, begitupun dengan tatapan Georgi Nero yang kala itu menatap penuh penghinaan hingga membuat Alrescha menyungingkan senyuman licik membalasnya, tentu wajah Georgi memerah ketika pria itu mengetahui jika ia sudah gagal membunuh dirinya.
“Kenapa kau lama sekali—“
Hingga kepala Alissa keluar dari balik punggung Alrescha, membuat keterkejutan di mata semua orang. Akibat terfokus kepada Alrescha mereka tidak menyadari jika Alrescha membawa seorang gadis di balik punggung lebarnya, bahkan Clara yang kala itu ingin meneriaki kakak yang berbeda ibu denganya itu terpaku kearah Alissa, yang tersenyum sungkan dari balik punggung Alrescha.
Siapa wanita itu? Kenapa Alrescha membawanya untuk pulang, bahkan selama ini Arabella yang menjadi kekasihnya saja tidak pernah ia bawa pulang ke rumah ini, dan Alrescha membawa seorang wanita asing itu, apakah ada sesuatu diantara mereka, tentu wajah Jerremy mengelap melihat hal itu, bahkan ia tidak menyangka jika anaknya akan berurusan lagi dengan gadis yang ia pungut entah dari mana.
“Maaf sudah membuat kalian menunggu, tapi aku terpaksa singgah ke butik langganan ibuku, lantaran gadis yang aku bawa hari ini akan menemani diriku untuk makan malam di rumah keluarga besar Nero” ucap Alrescha dengan senyum sunggingnya, membuat Alissa terpaku melihat tatapan tidak suka dari semua orang asing di hadapanya.
“Duduklah” ujar Jerremy kepada anaknya, membuat Alrescha menarik Alissa dari arah belakang untuk mendudukanya di kursi, bahkan Alrescha memperlakukan gadis itu dengan amat sopan hingga membuat mata semua orang terpaku kearah dirinya.
Mata Clara memancar tajam melirik kearah Alissa, ia bahkan melihatkan wajah ketidak sukaanya itu, hingga kedua mata mereka saling bertemu dan membuat Alissa terpaku saat ingatan gadis itu terbaca olehnya.
Ingatan masa kecil Clara dan Alrescha, bahkan Georgi dan ibunya Charmilla itu. Nampaknya ketiga orang itu benar-benar menyulitkan Alrescha di masa mudanya, bahkan gadis manja penuh drama itu selalu menjebak Alrescha untuk bertanggung jawab atas kesalahan dirinya, sedangkan Georgi Nero itu hanya memupuk iri kepada Alrescha hingga ia melihat Georgi Nero bekerjasama dalam membunuh Alrescha.
“Dasar sampah” gerutu Alissa hingga terakses oleh telinga mereka semua, bahkan membuat Alrescha terpaku menatap gadis itu, apakah gadis itu tidak sadar apa yang ia lakukan benar-benar menyinggung.
“Permisi, apakah anda tengah mengumpat” celetuk Clara dengan nada jengkel penuh sikap menuduh.
“Mengumpat apa maksud anda Nona? Aku tidak sedang mengumpat” balas Alissa dengan mimik tenang, ia bahkan tidak merasa bersalah meskipun telah meninggalkan kesan menyebalkan.
“Aku tidak tuli nona, aku sangat jelas mendengar kau mengatakan—“
“Sampah!!” terus Alissa kehadapan Clara dengan tatapan mata tajam nan penuh pengancaman, hingga semua orang terpaku atas sikap Alissa yang nampaknya membuat Clara tergugu, bahkan gadis manja itu selalu memiliki kekuatan jika ada ayah dan juga kakaknya, namun kali ini Clara dibuat tersudutkan dengan intonasi kata sampah dari Alissa.
"A-apa kau mengatakan aku s-sampah--"
“Aku memang mengatakan itu, tapi aku tengah mengigat sesuatu. Karna itulah aku bicara sendiri” sambung Alissa dengan wajah polos bahkan suasana tegang disana mencair akibat tawanya, membuat mata Alrescha Nero menajam ketika melihat tingkah sekretarisnya itu. “Kenapa kalian tegang sekali, aku fikir karna kalian tinggal di luar negeri, karma itulah kalian tidak akan mengerti bahasa indonesia, aku sungguh-sungguj tengah bicara sendiri mengunakan bahasa indonesia, karna aku fikir kalian juga tidak akan mengerti umpatanku” ucap Alissa saat menjelaskan maksudnya.
“Apa kau gila!!” bentak Clara dengan tidak terima, ia sungguh merasa terhina dan di permalukan oleh gadis itu.
“Gila? Apa anda bercanda, mana mungkin orang gila bisa bicara sangat menyambung seperti ini, saya memang sering di katakan gila oleh Alrescha, tapi itu kami anggap sebagai panggilan sayang antara kami berdua saja”
“Al-Alrescha?” lirih Clara dengan membeo, bahkan gadis itu berani mengucapkan nama Alrescha Nero tanpa beban, padahal Arabella saja tidak berani memanggil kekasihnya dengan panggilan seperti itu.
“Apa yang kau lakukan” ancam Alrescha dengan kalimat rendah penuh tekanan, bahkan ia amat malu sudah membawa Alissa ke pertemua keluarga ini.
“kau diamlah, aku ingin membungkam adik manjamu itu” bisik Alissa dengan penuh perlawanan.
“Tentu saja. Sejak aku mengenalnya, aku sudah memanggilnya dengan nama Alrescha Nero” sontak ketiga orang itu terpana atas sikap lancang dari Alissa, dari mana Alrescha memunggut dirinya hingga ia seberani ini.
“Kenapa kau memanggilnya dengan pangilan tidak sopan itu, setidaknya kau harus memanggilnya dengan panggilan Tuan Muda Nero” timpal Charmilla kearah Alissa, membuat gadis itu tersenyum manis tanpa ada perasaan gugup.
“Kenapa aku harus memanggilnya Tuan Muda Nero, karna bagiku dia adalah Alrescha Nero. Apapun panggilanya aku tetap memaanggilnya Alrescha, ia memang seperti pria dingin yang terlihat kejam dan penuh otoritas, tapi sebenarnya saat berusia 10 tahun ia masih tidak bisa melepaskan bantal pandanya ketika tidur, dan itu sangat imut. Benarkan Tuan Besar Nero” ucap Alissa dengan penuh tawa, membuat wajah Alrescha memerah mendengar perkataan gadis itu.
Baru saja alrescha ingin menarik Alissa untuk beranjak dari sana, sebuah tawa renyah keluar dari mulut Jerremy nero, bahkan Alissa mengiringi tawa itu seolah mereka tertawa teringkal-pingkal hingga memecah keheningan yang penuh suram barusan.
“Siapa nama mu nak?” tanya Jerremy kepada Alissa, membuat gadis itu menghempaskan tangan Alrescha untuk duduk kembali di kursinya.
“Alissa Moon Tuan” ucap Alissa dengan penuh tawa, membuat Jerremy terpana tidak percaya namum dalam seketika ia menganggukan kepala seolah menyimpan nama Alissa di otaknya.
“Panggil paman saja, aku sangat menyukai dirimu” ucap pria itu, hingga membuat ke-empat orang disana terpana oleh kelakuan Jerremy Nero, bagaimana bisa ia seperti itu pada Alissa.
Mata Jerremy melirik kearah Alrescha yang masih berdiri disana. “Kau mau membawa gadis ini kemana? Aku sangat menyukainya, duduklah dan habiskan makananmu” sambung Jerremy kepada anaknya yang tengah berdiri penuh bingung itu.
Hingga ruang makan yang penuh suram, benar-benar mencair dengan percakapan Alissa dan juga Tuan Nesar Nero, bahkan Alrescha yang membawa Alissa saja amat bingung kenapa ayahnya bisa menyukai gadis gila tersebut, sedangkan mata Georgi sedari tadi memantau Alissa lekat-lekat hingga pandangan Alrescha memancar penuh peringatan hingga menghentikan pria itu.
Kali ini tatapan Alrescha seperti mengatakan, jangan pernah menyentuh gadis itu. Membuat Georgi tertawa penuh ejekan seolah peringatan itu akan ia abaikan.
Up dong thor🙏🙏🙏
semangat Thor aku padamu🤗