"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32. Aksara menyerang penduduk desa
Crassshhhh
jleebb
"kakak!!!"
"Zayyan!!"
Nadira dan orang tuanya histeris melihat Zayyan terkena cakar Aksara yang beracun. Zayyan berusaha menyerang Aksara dengan busur milik Aksara. sayangnya, serangan Zayyan tidak berpengaruh karena senjata itu hanya bisa di gunakan oleh pemilik asli.
"Kakak" Nadira menghampiri Zayyan yang tergeletak bersimbah darah yang mengalir dari dadanya.
"Na- Nadira... Ka-kak-" Zayyan terbata-bata akibat rasa sakit yang ia rasakan.
"Zayyan! Bertahanlah Nak!" Kiyai Syafiq dan Ki Satya bersama-sama menyalurkan tenaga dalam untuk Zayyan, agar racun dari kuku Aksara tidak cepat menyebar
"Ya Allah Zay!" Bunda Liana dan Wijaya menghampiri sang putra yang sudah tidak sadarkan diri
"bagaimana ini kiyai?" tanya Wijaya panik
"Segera bawa dia ke pondok ku! agar Husein mengobatinya!" ucap kiyai Syafiq
"apa masih sempat kiyai?" tanya pak Rusdi
"insya Allah masih, jika keadaan disini membaik, aku akan menyusul"
"tapi Nadira bagaimana?" Bunda Liana mencemaskan putrinya
"Kak Zay lebih penting bunda, percayalah dengan Nadira, Nadira akan baik-baik saja" ucap Nadira
"jaga dirimu nak, jangan terluka" Wijaya dan Liana memeluk putrinya sebentar, sebelum mengantar Zayyan ke pesantren kiyai Syafiq.
"Aku akan ikut mengantar!" ucap pak Hamdan
"terima kasih" ucap Wijaya
"Maaf aku tidak bisa ikut menemani" ucap Rusdi pelan
"tidak apa-apa, Aksara jauh lebih penting untuk kalian" ucap Bunda Liana
sedangan Aksara, masih membabi buta menyerang teman-temannya. Dia tidak bisa mengendalikan diri lagi, yang ia tahu adalah menghacurkan semua yang ada disini.
"duh susah ini" gumam Elsa yang mulai kelelahan meniup seruling
"Hai mau kami bantu?" tanya dua sosok yang baru datang
"hah kalian?!" Elsa terkejut melihat dua sosok perempuan yang sangat cantik
"Kami kuntilanak kemarin" ucap salah satunya
"bagaimana bisa kalian..."
"karena kami bertapa di air terjun suci, di atas puncak gunung Kawinajang" ucap mereka
"Namaku Hera, dan dia Liona"
"baik-baik nanti saja kenalannya. Ini lagi genting" ucap Elsa menatap ke arah pertarungan antara Aksara dan Rehan.
"Kita bawa saja Aksara ke air terjun suci itu. Bagaimana?" tanya Liona
"Emang bisa?" tanya Elsa
"Kita coba dulu!" ucap Hera
Elsa lalu turun dari pohon dan langsung menghampiri kiyai Syafiq dan Ki Satya
"Abi, aki. gimana kalo Aksara kita bawa ke air terjun suci yang ada di puncak gunung kawinajang?" tanya Elsa
"dari mana kamu tahu air terjun itu?" tanya Ki Satya terkejut
Karena sebenarnya, air terjun itu sangatlah tersembunyi. Hanya orang tertentu saja yang bisa menemukannya.
"Tuh dua Kunti habis bertapa disana" tunjuk Elsa ke arah dua sosok cantik yang bergelantungan di pohon
"katanya kamu kuncen gunung Kawi, kenapa nggak tahu ada air terjun suci disana?" tanya Kiyai Syafiq
"masalahnya, aku tidak pernah tahu jika dipuncak kawinajang Ada air terjun itu" Ucap Ki Satya dengan dahi berkerudung
"itu karena sampean kuncen abal-abal hahaha" ledek Hera dan Liona
"jika memang bisa, ayo kita bawa Aksara kesana Ki!" ucap Elsa mendesak Ki Satya
"gimana mau bawa kalo dia masih bringas seperti itu" tunjuk Ki Satya ke arah Aksara yang kini melawan Nadira, karena Rehan mulai kewalahan
Duaarrr
Duaarrr
ledakan yang disebabkan oleh serangan Nadira dan Aksara membuat sekitaran rumah berlubang.
aaagghhh
Tolongg
Sakiittt
Sakiiittt
"suara siapa itu?" tanya Elsa
"kenapa seperti banyak orang?" Gumam Ki Satya
"lihat rumah itu! semua bangunan runtuh, tapi anehnya ruangan yang di lantai dua tetap kokoh" ucap kiyai Syafiq menunjuk rumah warisan yang sudah hancur
Tetapi, ada satu ruangan yang masih utuh. Padahal tempatnya di lantai atas.
"ayo kita lihat Satya!"
"kalian berdua kalau ada kemampuan bantulah Nadira dan Rehan melumpuhkan Aksara!" ucap Elsa
"baik!!"
Wusshh wusshh
Kali ini, Nadira benar-benar menyerang Aksara tanpa ampun, dia tidak bisa untuk merasa kasihan terus. Jika di biarkan, maka Aksara akan semakin bringas dan menambah korban
"Hahaha kau tidak akan bisa mengalahkan ku!" ucap Aksara dengan tertawa terbahak-bahak
"kau yakin?" tanya Nadira
"Ya! aku akan habiskan kalian semua!"
"maka ambillah ini!!" Nadira melompat dan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi
Hiyaaaaaa
Tringgggg
Tringgg
Craaashhh
Aaggggghhhhhh
"heh berhasil!" gumam Nadira tersenyum
Aksara mundur kebelakang setelah mendapat sabetan pedang Nadira yang mengenai bahunya.
Wuusshh
wuusshhh
Cetaarrr cetaarrr
belum sempat Aksara mengelak, ia sudah terkena Serangan Api dan Cambuk berduri dari Hera dan Liona
"hahaha kenaaa!!" sorak mereka berdua
"Aaagghhh!!" raungan Aksara mampu menggetarkan sekitaran mereka
"dahsyatnya suara Aksara, kira-kira tenggorokannya sakit nggak ya?" gumam Rehan
"duuhh mau jatuh nih, Aksara suaranya melebihi halilintar" ucap Elsa yang mulai naik ke lantai dua
"Kan dia iblis" celetuk Ki Satya
"siapa kalian?" tanya Nadira yang melihat kehadiran dua wanita cantik itu. namun ia tahu, jika kedua wanita itu bukanlah manusia
"Kamu nggak kenal kami?" tanya Liona tersenyum
"kami loh si Kunti gosong dan Kunti kribo" ucap Hera
"bagaimana kalian bisa seperti ini?" tanya Nadira heran
"kami bertapa di air terjun suci, makanya mau bantu kalian untuk bawa Aksara kesana juga. siapa tahu berhasil" jelas Liona
"Baiklah, mari kita coba"
mereka mulai akan melawan Aksara lagi, namun ternyata Aksara sudah menghilang dari tempatnya.
"loh kemana Aksara?" tanya Nadira
"Rehan!! Rehan dimana kamu?!" Nadira memanggil Rehan namun tidak ada sahutan
"kemana mereka berdua?". gumam Nadira cemas
Nadira menyusuri tempat itu untuk mencari keberadaan Rehan ataupun Aksara. namun sudah dicari puk mereka tidak ada.
Hingga tak lama, terdengar suara riuh dari para warga yang tadi sudah di amankan oleh kiyai Syafiq.
Tolongg !!
Tolongg!!
Ada ibliss ada ibliss!!
Tolonggg!!
tolongg anakku!!
"Nadira! tolong para warga nak! Aksara menyerang penduduk desa!" Pak Rusdi berlari terengah-engah menghampiri Nadira
"Astaghfirullah!!"
toloongg kembalikan anakku!!
Toloongg Adaaa ibliiss!!!!