NovelToon NovelToon
Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Project Fate Breaker: Bangkitnya Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Sistem / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Lil Miyu

Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
​Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
​Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
​Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
​Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Api yang Meredup

Clang! Clang! Clang!

​Bunyi benturan logam yang memekakkan telinga bergema di seluruh penjuru bengkel bawah tanah. Verdy berdiri di atas tumpukan peti besi, mengayunkan palu godam raksasanya dengan kekuatan yang sanggup merontokkan langit-langit marmer.

​Wajah imut Verdy yang biasanya penuh tawa kini berkerut kaku. Pipi tembamnya berkedut setiap kali ia melirik ke arah pintu besar di ujung aula. Firasatnya tidak bisa diam. Ia ingat bagaimana beberapa hari lalu ia mencengkeram jubah Auristela kuat-kuat, memaksa gadis berambut perak itu berhenti melangkah di perbatasan Abyss.

​"Dengar, Auristela! Kau itu magnet masalah!" bentak Verdy saat itu sambil menyodorkan peta kumal. Jari mungilnya menekan-nekan titik koordinat di peta dengan kasar sampai kertasnya hampir robek. "Cari simbol palu dan cakram di dinding tebing. Kalau kau terdesak, pukul tuasnya dengan irama ini: Dong... Dong-dong... Dong! Jangan sampai salah ketuk atau mekanisme uapnya tidak akan merespon!"

Dalam ingatan ​Verdy, Auristela hanya tertawa kecil, lalu dengan santainya mencubit pipinya. 'Ugh, menyebalkan...' Sedangkan Luna hanya diam memperhatikan, jari-jarinya yang lentur membelai tali busur panahnya seolah sedang menyelaraskan detak jantungnya dengan langkah kaki sang Putri.

​Clang!

​Verdy melemparkan palu godamnya ke lantai hingga menimbulkan bunyi dentuman logam yang menggetarkan rak-rak perkakas. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang cemong oleh oli, tapi gerakannya terhenti seketika.

​Dong...

​Suara itu datang dari pipa uap utama. Tipis, namun berpola.

​Dong-dong...

​Verdy mematung. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya seirama dengan gema itu.

​Dong!

​Getaran itu merambat melalui lantai marmer, menjalar hingga ke telapak kaki Verdy. Mata bulatnya membelalak lebar. Tanpa menunggu detikan berikutnya, Verdy melesat turun dari peti besi. Kakinya yang pendek bergerak secepat kilat, melompati tumpukan gir mesin dan pipa-pipa panas. Ia menerjang tuas hidrolik raksasa di samping gerbang, melompat dan menggantungkan seluruh berat tubuhnya pada gagang besi dingin itu.

​"Sialan! Dia benar-benar melakukannya!" teriak Verdy, suaranya melengking di tengah deru mesin.

​Krak! Nggiiitttt! Pssssshhhhhhh!!!

​Gigi-gigi roda raksasa berputar hebat, menarik rantai baja yang menahan pintu kuno. Begitu celah pintu terbuka, hawa dingin dan kabut tebal dari Lembah Kabut Abadi menyambar wajah Verdy. Ia melompat keluar ke balkon, dan dunianya seolah runtuh saat melihat Putri Auristela yang bersimbah d4rah sedang mendekap tubuh kaku Asher.

​"Verdy... kau... akhirnya membuka pintunya..." gumam Auristela. Suaranya pecah, matanya berputar ke atas sebelum jatuh pingsan di bahu Verdy yang baru saja menangkap tubuhnya.

​"A-AURISTELA!" Verdy berteriak, suaranya pecah oleh isak tangis. Ia melihat tangan gadis itu yang hancur, kulit jari-jarinya terkelupas karena memukul pintu batu dengan batu marmer mentah. Verdy bergerak cepat. Dengan satu sentakan kuat yang hanya dimiliki ras Dwarf, ia menarik zirah Asher yang beratnya dua kali lipat darinya, menyeretnya ke atas lantai batu sambil tetap membopong Auristela di punggungnya.

​Meeooowrr!

​Oren berlari kencang, menyelinap di sela kaki Verdy masuk ke dalam bengkel tepat sebelum pintu baja itu menutup kembali dengan suara BAMMM! yang mengguncang seluruh kompleks bawah tanah.

​Di atas jembatan yang hancur, Luna menarik napas dalam-dalam. Matanya berkilat tajam di balik kabut tebal. Ia berdiri di atas potongan pilar yang miring, jemarinya mencengkeram busur panah dengan kekuatan yang sanggup mematahkan kayu mana. Ia tidak lagi merasakan keberadaan fisik Auristela, tapi indranya menangkap getaran api kehidupan yang masuk ke dalam tanah.

​Srek.

​Suara gesekan kain di balik semak-semak membuat Luna berbalik dalam satu gerakan yang luar biasa cepat. Ia menarik anak panah dari tabungnya, memasangnya pada busur, dan melepaskannya dalam waktu kurang dari satu detik.

​Syuut! Jleb!

​Anak panah itu membelah kabut dan menghujam tepat di leher seorang pengintai suku Catkin yang mencoba mengintip ke jurang. Luna tidak berhenti. Ia meloncat ke pilar berikutnya, menghindari lemparan kapak kecil dari arah jam dua.

​"Kalian tidak akan pernah bisa menyentuhnya," desis Luna. Matanya dingin, seolah-olah ia adalah perwujudan dari dewi hutan yang murka. Ia menarik tiga anak panah sekaligus, melepaskannya dalam satu rentetan mematikan. Syuut! Syuut! Syuut! Tiga jeritan kesakitan bergema di kejauhan kabut. Luna merasakan api mana Auristela mulai meredup di bawah sana, namun tidak padam. Ia akan berdiri di sini, menjadi dinding pertahanan terakhir agar tidak ada satu pun assassin yang berani menuruni lembah untuk mencari jejak Auristela.

​"Ambilkan gergaji uap dan ramuan regenerasi! Sekarang!" teriak Verdy di dalam bengkelnya yang kini menjadi ruang operasi darurat.

​Ia membaringkan Asher di atas meja operasi batu yang dingin. Tangan mungil Verdy menyambar alat pemotong logam bertenaga uap. Zinggg! Percikan api menyambar-nyambar saat Verdy mulai memotong zirah yang sudah bengkok parah dan menusuk daging punggung Asher. Cairan merah mulai merembes deras, membasahi tangan Verdy hingga terasa hangat dan lengket.

​"Tahan! Jangan m4ti sekarang atau aku akan membongkar seluruh zirahmu jadi rongsokan!" Verdy menekan luka Asher dengan kain bersih sembari mengoperasikan mesin uap medis dengan kaki dan tangan lainnya. Kuncir rambutnya bergoyang liar saat ia bekerja dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

​Tiba-tiba, tanpa ada peringatan atau sihir pemanggil yang terlihat, sesuatu muncul begitu saja di udara.

​Syuuuut—Pluk!

​Sebungkus ayam bakar bumbu rempah yang permukaannya hitam legam karena gosong jatuh tepat di atas kepala kuncir dua Verdy. Ayam itu memantul dan menggelinding di atas meja operasi, tepat di samping potongan zirah Asher yang baru saja dilepas.

​"AAHHH! APA-APAAN INI?!" Verdy menjerit frustrasi, wajah imutnya kini memerah padam karena kaget sekaligus kesal. Ia menyambar ayam bakar itu dan melemparkannya ke lantai dengan kasar. "Aku sedang mengobati si batu agar dia tidak m4ti, kau malah melempar ayam gosong ke kepalaku?! Bangun dan bantu aku, Auristela!"

​Miao! Oren yang sedari tadi mondar-mandir panik di bawah meja, langsung menerjang ayam bakar gosong itu dan menyeretnya ke pojok ruangan. Kucing itu makan dengan rakus sambil sesekali mengeluarkan suara geraman sedih, seolah-olah hanya itu satu-satunya cara baginya untuk menenangkan diri di tengah ketakutan yang mencekam.

​Verdy menyeka keringat dengan bajunya. Tangannya terus bergerak lincah, menjahit luka terbuka di bahu Asher menggunakan benang mana. Krak, gerakan Verdy tiba-tiba terhenti secara paksa.

​Tubuh Auristela yang terbaring di ranjang samping mulai bergetar hebat. Cahaya hijau yang sangat pekat mulai merembes keluar dari dadanya—mana murni yang terasa sangat asing. Cahaya itu membentuk pusaran yang membuat alat-alat mekanik di sekitar mereka bergetar liar. Kaca-kaca pada tabung uap mulai retak satu per satu. Prangg!

​"Mana ini... tekanan ini..." Verdy mundur selangkah, menutupi matanya dari silau cahaya hijau yang menyakitkan itu. Ia bisa merasakan sesuatu yang besar sedang bangkit di dalam tubuh temannya. "Auristela... sebenarnya rahasia mengerikan apa yang kau simpan di dalam tubuhmu?"

​Brakkk!

​Pipa uap di langit-langit meledak, menyemburkan uap panas ke segala arah seiring dengan mana Auristela yang semakin tidak terkendali. Bengkel bawah tanah itu mulai berguncang hebat seolah-olah terjadi gempa bumi tektonik. Perkakas jatuh berhamburan, dan meja operasi Asher bergeser beberapa inci.

​"Sial! Bengkelku bisa hancur kalau mana ini meledak!" Verdy memekik, ia berusaha meraih tubuh Auristela, namun terpental oleh perisai mana yang muncul secara otomatis. "Auristela! Kendalikan dirimu!"

​Di tengah kekacauan itu, jari-jari Asher yang bersimbah d4rah mulai bergerak sedikit. Ksatria agung itu perlahan membuka matanya yang biru, terkejut melihat langit-langit bengkel yang berguncang dan cahaya hijau yang membutakan dari arah Putri Auristela.

1
studibivalvia
asher ini tipe tsundere kah? haha lucu banget
Miyu: sedikit... 🤭
total 1 replies
studibivalvia
siap banget dah 😭
studibivalvia
lucu banget jirr 🤣 kucingnya lapar pengen minta makan tapi sombong mukanya 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!