NovelToon NovelToon
LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.

Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.

Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.

Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.

Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehidupan Baru yang Keras

Hari ketiga kerja.

Lestari bangun jam setengah lima pagi masih gelap, masih sepi. Antoni masih tidur nyenyak di samping nya.

Dia bersihin badan cepet mandi air dingin dari ember, pake baju seadanya, kerudung putih lusuh yang itu-itu aja.

Keluar kontrakan jam lima lewat sepuluh menit. Jalan kaki ke halte bus. Naik bus yang penuh sesak bau keringat, bau rokok, desak-desakan sama orang-orang yang juga lagi buru-buru kerja.

Turun di deket rumah Nattakusuma. Jalan kaki lagi sepuluh menit kaki nya masih pegel dari kemarin.

Sampe di rumah jam enam lewat lima belas menit.

Gerbang udah kebuka Pak Budi yang bukain.

"Lestari, kamu telat lima belas menit."

Jantung Lestari langsung deg-degan. "Ma-maaf, Pak! Bus nya telat "

"Udah, masuk. Besok berangkat lebih pagi. Jangan sampe telat lagi. Tuan Adriano itu... dia suka yang tepat waktu."

Tuan Andriano.

Pria yang kemarin nendang vas.

Pria yang... yang entah kenapa bikin dada Lestari sesak tiap inget wajah nya.

Lestari masuk langsung lari ke dapur. Mbak Endah udah di sana lagi nyiapin sarapan.

"Lestari, cepet siapin kopi buat Tuan Adriano. Dia minum kopi jam enam dua puluh empat. Jangan telat. Jangan lebih cepet. Pas jam segitu."

"Kopi? Kopi apa, Mbak?"

"Kopi espresso. Pake mesin kopi di sana" Mbak Endah nunjuk mesin kopi gede di sudut dapurmesin yang keren banget, tombol-tombol nya banyak, ada layar digital segala. "Tapi hati-hati. Tuan Andriano itu... perfeksionis soal kopi nya. Dia suka kopi hitam, kental, suhu nya tujuh puluh derajat Celcius. Nggak boleh lebih panas, nggak boleh lebih dingin. Nggak boleh terlalu kental sampe pahit, nggak boleh terlalu encer sampe hambar."

Lestari menelan ludah. "Tujuh puluh derajat... gimana cara ukur nya, Mbak?"

"Ada termometer di laci. Tapi kalau udah biasa, kamu bisa tau dari uap nya. Kalau masih ngepul tebel, berarti masih di atas delapan puluh. Kalau uap nya tipis, berarti udah turun."

"Kopi nya pake apa, Mbak?"

"Kopi Kona Hawaii. Ada di toples itu " Mbak Endah nunjuk toples kaca di rak ada tulisan *Kona Coffee* di label nya. "Itu kopi langka. Harga nya sejuta per setengah kilo. Jangan sampe kebuang atau tumpah."

Sejuta.

Sejuta per setengah kilo.

Itu... itu gaji Lestari sepertiga bulan.

"O-oke, Mbak... aku... aku coba deh..."

Lestari ke depan mesin kopi natap mesin itu kayak lagi natap monster. Banyak banget tombol nya. Pressure. Grind. Espresso. Lungo. Ristretto.

"Mbak... gimana cara nyalain mesin ini...?"

Mbak Endah ketawa tapi ketawa yang ngerti. "Iya, aku juga dulu bingung. Ayo, aku ajarin."

Mbak Endah ngajarin step by step.

Pertama nyalain mesin. Tunggu sampe lampu indikator berubah hijau.

Kedua ambil kopi bubuk dari toples. Dua sendok makan. Masukin ke portafilter alat logam kecil yang ada handle nya.

Ketiga meratakan kopi bubuk pake tamper alat bulat pipih buat neken kopi biar padat.

Keempat pasang portafilter ke mesin. Putar sampe kenceng.

Kelima taro cangkir keramik putih kecil di bawah nya.

Keenam pencet tombol espresso. Tunggu sampe kopi nya keluar pelan, tetes-tetes, warna nya cokelat gelap pekat.

Ketujuh ukur suhu pake termometer digital. Kalau masih di atas tujuh puluh lima, tunggu bentar. Kalau udah turun ke tujuh puluh, langsung angkat.

Kedelapan—taro di nampan kecil perak. Jalan ke ruang kerja Tuan Andriano. Ketok pintu. Masuk. Taro kopi. Keluar.

Kedengeran gampang.

Tapi pas praktek

Lestari hampir salah berkali-kali.

Kopi bubuk nya ketuang terlalu banyak jadi tiga sendok. Harus dibuang, ulang lagi.

Menekan tamper terlalu keras kopi nya jadi terlalu padat, air nya nggak bisa lewat. Mesinnya bunyi aneh nging nging nging. Mbak Endah langsung matiin.

"Jangan terlalu keras menekannya! Nanti mesin rusak!"

Ulang lagi.

Kali ini pas. Kopi keluar. Tapi pas diukur suhu nya delapan puluh dua derajat.

"Kedinginan dikit." Mbak Endah tuang kopi nya ke wastafel. Buang.

Ulang lagi.

Kali ini berhasil. Tujuh puluh derajat pas. Kopi kental, item pekat, aroma nya strong banget bau kopi asli yang bikin melek.

Lestari taro kopi di nampan. Jalan pelan-pelan ke lantai dua tangga marmer yang lebar, pegangan tangga dari kayu jati mulus.

Sampe di depan pintu ruang kerja Tuan Andriano.

Lestari ngeliat jam dinding di koridor enam dua puluh tiga lewat lima puluh detik.

Tunggu.

Tunggu sampe jarum detik nyampe dua belas.

Enam dua puluh empat.

TOK TOK TOK.

Ketok pintu tiga kali pelan tapi jelas.

Hening.

Terus suara dari dalam. Suara berat, dingin.

"Masuk."

Lestari buka pintu perlahan.

Ruang kerja nya... gede. Meja kerja dari kayu mahoni gelap. Kursi kulit hitam tinggi. Rak buku penuh buku-buku tebal. Jendela gede liat ke taman.

Di belakang meja duduk Tuan Andriano pake kemeja putih, lengan dilipat sampe siku, dasi lepas digantung di sandaran kursi. Rambut nya agak berantakan kayak baru bangun tapi langsung kerja.

Lagi baca dokumen muka nya serius banget.

Lestari jalan masuk langkah kaki nya pelan banget, hampir nggak bunyi. Taro nampan di ujung meja jauh dari dokumen yang lagi dibaca.

"Permisi, Pak... kopi nya..."

Adriano nggak ngeliat Lestari. Mata nya tetep di dokumen. "Taruh saja."

Suara nya... suara yang familiar.

Lestari diem sebentar liat wajah Adriano dari samping.

Rahang tegas. Hidung mancung. Alis tebal.

Wajah yang... pernah dia liat.

Kapan ya?

Di mana?

Tapi—

"Ada apa lagi?"

Lestari kaget sadar dia lagi bengong. "T-tidak ada, Pak. Maaf " Langsung mundur, keluar, tutup pintu pelan.

Di luar—Lestari berdiri di koridor, napas nya agak cepet.

Kenapa... kenapa jantung nya berdebar?

Kenapa wajah pria itu bikin dia... gugup?

Bukan gugup takut kayak gugup ke Dyon.

Tapi gugup yang... lain.

Lestari menggeleng. "Udah, jangan mikir aneh-aneh. Fokus kerja."

Turun tangga. Balik ke dapur.

Hari-hari berikutnya Lestari mulai terbiasa.

Bangun jam setengah lima. Sampe rumah Nattakusuma jam enam. Siapin kopi buat Tuan Adriano jam enam dua puluh empat sekarang udah bisa bikin sendiri, nggak perlu diajarin lagi.

Kerja seharian beberes rumah, nyuci, masak, nyiram tanaman.

Pulang jam lima sore. Sampe kontrakan jam setengah tujuh. Masak buat Antoni. Makan bareng. Tidur.

Besok ulang lagi.

Capek. Tapi... nggak kayak capek di rumah Dyon.

Capek di rumah Dyon itu capek yang bikin hopeless—capek tapi nggak ada hasil. Capek tapi tetep dihina. Capek tapi tetep dipukul.

Capek di rumah Nattakusuma itu capek yang ada hasilnya—capek tapi dibayar. Capek tapi nggak ada yang mukul. Capek tapi ada yang menghargai.

Lestari... Lestari mulai merasa hidup lagi.

Tapi ada satu hal yang bikin dia... bingung.

Tuan Adriano.

Setiap pagi Lestari anterin kopi—Adriano selalu dingin. Nggak pernah senyum. Nggak pernah ngobrol. Paling cuma bilang "taruh saja" atau "terima kasih" dengan nada datar.

Tapi ada satu kali—

Hari Jumat sore. Lestari lagi nyapu teras depan. Adriano pulang naik mobil—turun, jalan masuk rumah.

Mereka papasan di teras.

Adriano berhenti sebentar—liat Lestari sekilas.

Pandangan nya... nggak kayak biasanya.

Bukan tatapan dingin.

Tapi tatapan... kayak lagi mikir sesuatu.

Kayak lagi inget sesuatu.

Terus dia jalan lagi. Masuk rumah.

Lestari diem di tempat—sapu masih dipegang. "Kenapa... kenapa dia ngeliat aku kayak gitu...?"

Minggu malam.

Lestari di kontrakan—lagi nemenin Antoni tidur. Antoni udah pulas—napas nya teratur, peluk boneka beruang lusuh yang dia dapet dari Bu Siti.

Lestari belum tidur. Masih melek.

Pikiran nya kemana-mana.

Kepikiran kerjaan—besok harus masak apa buat makan siang keluarga Nattakusuma? Capcay lagi? Atau ayam kecap? Atau ikan goreng?

Kepikiran uang—gaji pertama belum turun. Masih tanggal dua puluh tiga. Tinggal dua belas hari lagi sampe tanggal lima bulan depan.

Kepikiran Antoni—anak ini sekarang lebih sehat. Pipi nya udah mulai chubby. Senyum nya sering muncul. Dia main sama anak-anak tetangga tiap sore—kejar-kejaran, main kelereng, ketawa-ketawa.

Nggak kayak dulu.

Dulu Antoni diem aja. Takut. Sering nangis tiba-tiba. Mimpi buruk tiap malam.

Sekarang... sekarang dia kayak anak kecil normal.

Dan itu bikin Lestari... lega banget.

"Ibu nggak nyesel kabur, Nak," bisik Lestari sambil mengelus rambut Antoni. "Ibu nggak nyesel ninggalin Dyon. Walau hidup masih susah, tapi... tapi setidaknya kita aman. Kita nggak dipukul. Kita nggak dihina. Kita... kita bisa bernapas lega."

Antoni gerak dikit—gumam nggak jelas dalam tidur. Terus diem lagi.

Lestari senyum.

Tapi senyum nya ilang pas dia denger—

Bzzzt. Bzzzt.

Ponsel getar di samping bantal.

Lestari ambil ponsel—liat layar.

Nomor nggak dikenal.

Nomor baru.

Jantung nya langsung berdebar cepet.

Jangan-jangan... jangan-jangan Dyon.

Dyon pasti udah tau dia kabur. Pasti nyari-nyari. Pasti nanya-nanya ke tetangga.

Tapi... tapi Bu Ratih bilang—Bu Ratih nggak kasih tau kemana Lestari pergi. Bu Ratih bohong—bilang Lestari pulang ke kampung halaman ibu nya.

Lestari matiin ponsel.

Taruh di bawah bantal.

"Nggak... nggak akan kubuka. Nggak akan kujawab. Aku nggak mau denger suara dia lagi."

Tapi... tetep aja.

Tetep aja serem.

Serem kalau Dyon nemu dia.

Serem kalau Dyon bawa pulang paksa.

Serem kalau Dyon... kalau Dyon sakitin Antoni lagi.

"Ya Allah... lindungi kami... jangan biarkan dia nemu kami..."

Lestari merem—coba tidur.

Tapi susah.

Tidur nya nggak nyenyak malem itu.

Senin pagi.

Jam enam dua puluh empat.

Lestari bawa nampan kopi ke ruang kerja Adriano—kayak biasa.

Ketok pintu.

"Masuk."

Lestari masuk—taro nampan di meja.

Tapi kali ini—ada yang beda.

Adriano nggak lagi baca dokumen.

Dia lagi nelpon.

Ngomong keras—suara nya nggak kayak biasanya yang datar.

Sekarang... frustasi.

"Celine, kumohon jangan... aku nggak mau putus sama kamu kumohon—"

Lestari beku di tempat.

Nggak sengaja denger.

"—aku tau aku sibuk, aku tau aku jarang nemenin kamu, tapi kumohon beri aku waktu sebulan lagi—cuma sebulan—proyek ini selesai, aku janji aku bakal lebih perhatiin kamu—Celine, kumohon jangan putus—"

Hening.

Kayak nya orang seberang ngomong.

Terus—

"...baik. Kalau itu keputusan kamu... aku... aku nggak bisa maksa..."

Telpon ditutup.

BRAK.

Ponsel dilempar ke meja—keras. Sampe bunyi gedebak.

Adriano nunduk—tangan nutupin muka. Napas nya berat.

Lestari diem—nggak berani gerak. Nggak berani keluar. Nggak berani bilang apa-apa.

Dia baru pertama kali liat Adriano kayak gini.

Bukan dingin.

Bukan tenang.

Tapi... hancur.

Beberapa detik.

Terus Adriano ngangkat kepala—mata nya merah.

Liat Lestari yang masih berdiri kaku.

"...sudah selesai?"

Lestari kaget. "A-ah... i-iya, Pak... kopi nya... kopi nya udah saya taruh..."

"Keluar."

Suara nya pelan. Tapi ada... ada sesuatu di suara itu yang bikin Lestari sakit denger nya.

Lestari langsung keluar—tutup pintu pelan.

Di luar—dia berdiri di koridor, tangan nya gemetar.

"Dia... dia baru putus..."

Lestari nggak tau kenapa—tapi dada nya sesak.

Sesak denger suara Adriano tadi.

Suara yang... yang kayak suara orang yang lagi kehilangan sesuatu yang penting banget.

Lestari tau suara itu.

Karena dia pernah ngeluarin suara yang sama.

Waktu dia diseret keluar dari rumah ibu nya tujuh tahun lalu—terakhir kali dia liat ibu nya.

Suara hopeless.

Siang itu—sekitar jam dua—Lestari lagi bersihin ruang kerja Adriano.

Adriano lagi nggak di rumah—dia ke kantor.

Lestari nyapu, ngepel, bersihin meja kerja, rapihkan buku-buku di rak.

Terus—dia liat bingkai foto di meja.

Bingkai kayu cokelat. Foto nya... foto Adriano sama seorang perempuan.

Perempuan cantik—rambut panjang lurus, senyum manis, pake dress putih. Adriano di samping nya—jarang banget—senyum. Senyum tipis tapi... tulus.

Kayak nya foto pas lagi jalan-jalan di pantai.

Lestari natap foto itu sebentar.

"Ini pasti... pasti Celine..."

Celine yang tadi putus sama Adriano.

Lestari ngerasa... ngerasa kasian.

Kasian sama Adriano.

Dia kayak nya... kayak nya beneran sayang sama perempuan itu.

Tapi perempuan itu... ninggalin dia.

Lestari mulai lap bingkai foto nya—pelan, hati-hati.

Tapi—

Tangan nya kepleset.

Bingkai nya jatuh.

PRANG.

Kaca bingkai pecah.

Serpihan kaca berhamburan di lantai marmer.

Lestari melongo—shock.

"A-aduh—TIDAK—"

Langsung jongkok—coba kumpulin serpihan kaca.

"Bodoh bodoh bodoh—kenapa bisa jatuh—kenapa—"

Tangan nya gerak cepet—panik—ambil serpihan kaca yang gede.

Tapi—

"Aaaahhh—!"

Tangan nya kesayat kaca.

Darah keluar—merah pekat—netes ke lantai.

"Aduh—aduh sakit—"

Lestari pegang pergelangan tangan—darah nya ngalir dari telapak tangan, turun ke lengan.

Jantung nya berdebar parah.

Bukan karena sakit.

Tapi karena takut.

Takut dipecat.

Takut dimarahin.

Takut—

"Hati-hati."

Suara berat.

Dari belakang.

Lestari loncat—noleh cepet.

Adriano berdiri di pintu—baru pulang, masih pake jas, dasi masih rapi.

Natap Lestari dengan tatapan... kosong.

Lestari langsung berdiri—gemetar—darah masih netes dari tangan nya.

"Ma-maaf Pak! Saya tidak sengaja! Saya—saya akan ganti rugi! Kumohon jangan pecat saya—saya butuh kerja ini—saya janji nggak akan—"

"Tanganmu berdarah."

Lestari berhenti ngomong.

Adriano jalan masuk—pelan.

Berhenti di depan Lestari.

Liat tangan Lestari yang berdarah.

"Harus diobati dulu."

"T-tapi... tapi foto nya—"

"Foto bisa dibeli lagi. Tangan nggak bisa."

Adriano pegang pergelangan tangan Lestari—lembut tapi firm.

Lestari kaget—jantung nya berhenti sedetik.

Adriano narik Lestari keluar ruang kerja—turun tangga—ke dapur.

Mbak Endah lagi di dapur—lagi motong sayuran.

"Mbak Endah, kotak P3K di mana?"

"Di lemari samping kulkas, Tuan—eh, Lestari kenapa tangannya—"

Adriano ambil kotak P3K sendiri—buka. Keluarin kapas, alkohol, perban.

Suruh Lestari duduk di kursi.

Adriano jongkok di depan nya—pegang tangan Lestari.

Bersihin luka nya pake kapas yang dibasahin alkohol.

Lestari menggigit bibir—perih banget.

Tapi dia nggak berani ngeluh.

Dia cuma... natap Adriano yang lagi fokus ngobatin tangan nya.

Muka nya serius. Alis nya mengerut dikit. Mata nya fokus ke luka.

Tangannya... lembut. Nggak kasar. Nggak kenceng.

Beda banget sama Dyon.

Dyon kalau pegang tangan Lestari—selalu kenceng. Selalu nyakitin. Selalu bikin memar.

Tapi Adriano...

Lestari ngerasa... aman.

"Lukanya nggak dalam. Cuma sayatan ringan. Tapi tetep harus diplester biar nggak infeksi." Adriano beresin luka—tutup pake perban.

Selesai.

Adriano berdiri. Taro kotak P3K ke meja.

Lestari masih duduk—diem.

"Terima kasih, Pak... maaf merepotkan..."

Adriano nggak jawab. Dia jalan keluar dapur.

Tapi sebelum keluar—dia berhenti.

Nggak noleh. Cuma berhenti.

"Lain kali... kalau ada yang pecah... panggil orang lain. Jangan bereskan sendiri."

Terus jalan lagi. Keluar.

Lestari duduk sendiri di dapur—tangan nya masih gemetar.

Mbak Endah ngedeketin—bisik.

"Lestari... kamu tau nggak... ini pertama kali nya Tuan Adriano ngobatin luka orang lain sendiri..."

Lestari ngeliat Mbak Endah. "Serius, Mbak?"

"Serius. Dia biasanya cuek. Kalau ada pelayan yang terluka, paling dia cuma bilang 'obati sendiri' atau 'suruh sopir anter ke klinik'. Tapi tadi... dia ngobatin kamu sendiri..."

Lestari diem.

Ngeliat perban putih di telapak tangan nya.

Perban yang dipasang Adriano.

Kenapa... kenapa dia ngelakuin itu?

Kenapa dia peduli?

Lestari nggak ngerti.

Tapi yang dia ngerti cuma satu hal—

Adriano... bukan pria jahat.

Dia dingin. Dia serius. Dia perfeksionis.

Tapi dia... nggak jahat.

Dan entah kenapa—

Nyadar itu bikin dada Lestari... hangat.

Hangat yang udah lama nggak dia rasain.

1
checangel_
Akhirnya, setelah sekian gerhana 🤧, kan enak lihatnya 🤝
checangel_: Iya, saking actionnya, dramanya samar tergoreskan 🤧
total 2 replies
checangel_
Ada kalanya bercanda itu harus dalam setiap keseriusan, Adriano 🤧, walaupun ujung²nya memang serius dan serius banget/Facepalm/
checangel_
Logatnya jadi Sunda an 🤧
checangel_: /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Jangan bilang begitu, 'asal jalanin saja dulu' No .... lebih baik 'pikirkan saja dulu dan istikharahlah dulu' agar kata 'Menyesal' tak menggema 😇
checangel_
Yang bener, hanya peduli sama Lestari?, coba pikirkan berulang kali lagi/Facepalm/
checangel_: Yang pasti sulit ditanyakan 🤣
total 2 replies
checangel_
Berasa lagi nonton teater genre action romance🤣, kenapa saat kejadian tegang seperti itu, ada aja kalimat yang nyempil 'nggak bisa hidup tanpamu'/Facepalm/
checangel_: /Shhh//Silent/
total 2 replies
checangel_
Iya Adriano, Lestarinya 'always waiting for you'😇
checangel_
Lah, beneran di stalking 🤭/Facepalm/
checangel_
Saat firasat seorang wanita melampaui batas kepercayaan orang lain 🤭/Facepalm/
checangel_
Wah, Dante ternyata .... topeng yang bersembunyi 🤧
checangel_: Iya, mana kalau di inget lucu lagi 🤭
total 8 replies
checangel_
Ingat! Cinta itu berbagai macam rupa, selaraskan dulu yuk perasaan dan logikamu Lestari agar seimbang, jalur langit 😇
checangel_
Cieee ngajak jalan², Lestari jangan jatuh hati ya, takutnya kamu nggak bisa move on dari Adriano 🤭
Leoruna: dan jangan terlalu percaya dengan perlakuan yg baik di awal 🤭
total 1 replies
checangel_
Bisa-bisanya Antoni dengerin Omnya curhat, masalah percintaan lagi 🤣
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, teruntuk Lestari wanita kuat dan tentunya Author hebat di balik setiap lembarannya 👍🙏
Leoruna: mkasih udh slalu stay di ceritaku, Kak☺
total 1 replies
checangel_
Dan tentunya penuh kejutan 🤭
checangel_
/Good/
Dri Andri
yon urang gelud lah... ajg parah lord dyon... anak balita aja di tampar... anak setan... bapaknya apa ? aaaaaakakakkakaakakak
checangel_
Karena Dyon adalah suamimu, firasatmu sebagai istri selalu tepat dan akurat Lestarai 😇
Leoruna: ikatan batin seorang istri😌
total 1 replies
checangel_
Wah, Antoni hebat bisa juggling bola/Applaud/, Aunty bangga padamu /Smile/
Leoruna: mkasih Aunty🤭
total 1 replies
checangel_
Kok berasa komedi ya, saat Ibu Wulandari muncul, komedinya ngeri² gimana gitu/Facepalm/🤭, Astaghfirullah maafkan Reader ini ya Ibu Wulandari 🤧
checangel_: Entahlah/Silent/
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!