NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENABUR KECURIGAAN

Maira menatap sepiring nasi goreng di depannya. Entah angin apa yang membawa ibunya menyediakan sarapan untuknya di pagi ini.

Sebuah kejadian langka dan nyaris mustahil, karena selama ini Bu Susi tak pernah mau repot-repot menyiapkan makanan untuknya. Namun Maira tahu di balik semua keramahan mendadak itu, pasti tersembunyi sesuatu yang diinginkan.

“Nah, Maira… ini ibu juga udah buatin jus untuk kamu." Ucap Bu Susi sambil meletakkan segelas jus jeruk di meja dengan senyum manis dipaksakan di wajahnya.

Setelah beberapa stok kebutuhan bulanan di dapur hilang entah kemana, Maira memang memilih untuk berhenti belanja bahan makanan, termasuk beras dan buah.

Ia yakin nasi goreng pagi ini dibuat dari beras yang dibeli oleh Bu Susi sendiri. Janggal, tapi jelas ada motif terselubung di baliknya.

“Gimana, Mai? Enak tidak nasi goreng buatan ibu?” Tanya Bu Susi yang kini duduk di seberangnya, matanya berbinar penuh harap.

Perhatian tiba-tiba itu membuat bulu kuduk Maira merinding. Apalagi saat Pak Bowo, Bapak tirinya yang duduk dan makan bersama ikut menimpali.

“Ya pasti enak dong. Ini mah kalau dijual pasti orang pada ngantri belinya." Timpal Pak Bowo mencoba mencairkan suasana dengan candaan garing.

Tawa hambar terdengar dari arah Pak Bowo dan juga Bu Susi, sementara Maira tak berniat menimpali. Ia hanya terus mengunyah, memasukkan sesuap demi sesuap nasi goreng itu ke mulutnya.

Rasanya agak asin dan itu wajar, mengingat ibunya itu sudah lama tidak memasak sendiri dan lebih suka membeli makanan dari luar. Tapi Maira tetap makan tanpa berkomentar. Baginya makanan tetap patut dihargai, seburuk apa pun rasanya.

Beberapa menit hening, lalu suara Bu Susi kembali mengisi ruang makan. “Em Maira… besok jangan lupa ya uang bulanan ibu. Tapi… boleh tidak, kalau ditambah sedikit?” Ia tersenyum kecil, lalu menambahkan. “Ibu mau masakin untuk kamu tiap hari seperti ini. Biar kita bisa menghemat pengeluaran.

"Uhuk!" Maira nyaris tersedak. Ia buru-buru meneguk jus di depannya. Dalam hati, ia bergumam: "Nasi goreng ini saja sudah asin, kalau tiap hari dimasakin begini, bisa naik tekanan darahku."

Maira tahu ucapan ibunya hanyalah taktik semata. Ibunya tak mungkin memasak setiap hari. Pagi ini hanyalah bagian dari sandiwaranya.

Pak Bowo ikut menimpali dengan nada yang dibuat seolah masuk akal. “Bener kata ibumu, Maira. Lebih baik dia masak sendiri daripada beli makanan terus di luar. Apalagi kamu sekarang kan lagi ada pembangunan restoran cabang kedua, pasti butuh dana besar. Jadi ya… uang bulanan ibu kamu ditambahlah, biar lebih hemat.”

Maira nyaris tertawa mendengar alasan itu. Padahal yang sering memesan makanan dari luar justru ibu dan suaminya itu. Sementara dirinya? Hanya terkadang makan di rumah. Kalaupun lapar, ia bisa makan di restorannya sendiri.

Dan kalau dipikir logika, menambah uang bulanan untuk ibunya bukannya justru akan menambah pengeluaran, bukan menghemat?

Maira memasang wajah berpikir sejenak, lalu menanggapi datar. "Iya benar, kita harus hemat.”

Kalimat itu seketika membuat Bu Susi dan Pak Bowo tersenyum puas. Mereka saling melempar pandang dan mengangguk, seolah mendapatkan lampu hijau dari Maira. Tapi Maira tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya ingin melihat reaksi mereka.

Beberapa saat kemudian, ia memandang ke arah Bapak tirinya. Nadanya tenang, namun dingin menusuk. “Aku mau tanya. Tadi pagi waktu aku olahraga, aku lihat Bapak keluar dari rumah yang punya warung itu ya?"

Suasana ruang makan mendadak hening.

Pagi tadi setelah bangun subuh, Maira memang memutuskan untuk menyegarkan pikirannya dengan jogging ringan di sekitar rumahnya. Ia tak ingin terlalu memikirkan suaminya yang akhir-akhir ini tak lagi pulang ke rumah.

Rumah tangga mereka sudah cukup pelik, dan ia ingin menjaga pikirannya tetap waras. Dokter pun mengatakan, stres bisa memperburuk kondisinya. Maka ia memilih untuk tidak ambil pusing dengan semua masalahnya.

Disaat itu juga raut wajah Pak Bowo mulai berubah. Senyum yang tadi sempat tersungging di wajah Bu Susi pun kini lenyap. Ia menatap suaminya, tajam dan penuh tanda tanya. Ia tahu persis siapa pemilik warung yang dimaksud oleh Maira.

Terkadang saat Pak Bowo tak pulang malam, alasannya selalu sama: menginap di rumah teman. Tapi kini Maira justru membahas mengenai Pak Bowo yang terlihat keluar dari rumah sang janda pemilik warung itu.

“Ah… itu… itu…” Pak Bowo tergagap, mencari-cari jawaban. Ujung lidahnya kaku.

“Kalau tidak salah… pemilik rumah itu janda ya, Bu?” Maira mengalihkan pandangan ke arah Bu Susi.

Tak ada jawaban. Bu Susi hanya memandangi suaminya dengan mata yang kini tak bisa menyembunyikan kecurigaan.

Maira berpura-pura melihat jam tangannya. Ia lalu berdiri sambil merapikan kemejanya. Sebelum melangkah pergi, ia menatap mereka berdua—tajam dan penuh peringatan.

“Aku cuma mau bilang jangan pernah buat masalah disini. Dan jangan sekali-sekali bawa-bawa namaku… kalau masih ingin tinggal di rumah ini."

Suasana meja makan berubah beku. Tanpa menoleh lagi, Maira melangkah pergi dengan tenang, meninggalkan dua orang dewasa yang kini tenggelam dalam kecanggungan, kebingungan… dan mungkin juga kemarahan.

Tapi di balik ketegasan sikapnya, Maira sebenarnya menyimpan harapan kecil agar wanita yang sudah melahirkannya itu bisa sedikit saja berpikiran terbuka.

Ia sengaja tidak secara langsung menuduh Pak Bowo berselingkuh. Ia ingin ibunya menyimpulkan sendiri. Agar ibunya sadar dan tidak terus-menerus dibodohi dan dimanfaatkan oleh suaminya sendiri.

____

Sepeninggal Maira yang sudah pergi ke restorannya, suasana rumah justru memanas.

Bu Susi menatap tajam ke arah Pak Bowo. Tatapan itu bukan hanya curiga, tapi sudah bercampur amarah yang meletup-letup di dalam dada.

“Apa bener yang dibilang Maira tadi, Pak? Bener Bapak tadi pagi keluar dari rumah janda itu?!” Bentaknya tajam, tanpa basa-basi.

Pak Bowo tercekat. Jantungnya berdetak tak karuan. Sorot mata istrinya terlalu tajam untuk dihindari, namun nyalinya tak cukup besar untuk jujur. Ia memilih menyerang balik.

“Apa sih, Bu?! Percaya gitu aja sama omongan Maira?! Itu anak cuma asal lihat terus main tuduh!” Suaranya meninggi, berusaha menguasai keadaan. “Bapak udah bilang kan, kadang nginap di rumah teman-teman Bapak. Maira itu tiap hari kerja di luar rumah, mana tahu dia rumah si janda yang mana, rumah teman Bapak yang mana!”

Tapi Bu Susi tak mudah diyakinkan. Ia menatap suaminya dengan penuh selidik. “Jadi kamu nginapnya di rumah siapa semalam?”

“Ya… ya temen Bapak dulu. Si... si Sugeng. Emang kenapa?” Jawabnya gelagapan

“Baru kemarin Bapak cerita kalau Pak Sugeng nyusul istrinya ke kampung. Lalu sekarang Bapak bilang semalam nginap di rumah Sugeng!"

Pak Bowo mendadak kehilangan kata-kata.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Bu Susi merasa sesuatu yang tidak beres. Biasanya ia selalu menutup mata, percaya begitu saja pada alasan suaminya.

Tapi kali ini setelah mendengar ucapan Maira, ia merasa seperti sedang ditampar oleh kenyataan yang selama ini coba dia tolak.

Ia mengambil napas panjang, lalu berkata dingin, “Kalau sampai Ibu tahu Bapak main-main di belakang, awas aja ya Pak!"

Pak Bowo membuka mulut, hendak membalas, tapi tak ada satupun kata yang bisa keluar.

1
Aerik_chan
duh jadi deg degan
Aerik_chan
lah kok marah 🤭
Aerik_chan
katanya nominalnya kecil kok minjam 🤭🤭🤭
Aerik_chan
yeeee

semangat kak 💪 iklan untukmu
Aerik_chan
minta mamakmu lah

semangat ya thor satu bunga untukmu nih biar ssmangat
Aerik_chan
enteng bener mulutnya...


kak yuk saling dukung
Nesakoto: Siap kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!