Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kembali hangat
Keheningan yang pecah oleh sentuhan singkat itu kini kembali menebal, lebih padat dan lebih berat daripada udara di gudang tua. Mereka berdua berdiri kaku, menatap satu sama lain, di tengah-tengah Elios yang polos dan gembira dalam gendongan ibunya, sama sekali tidak menyadari badai sunyi yang baru saja melanda dua orang dewasa di hadapannya.
Jari-jari Darian masih terasa hangat, bekas sengatan listrik dari kulit Queenora seolah membekas di sana. Sementara Queenora, ia memeluk Elios lebih erat, menjadikan tubuh mungil itu perisai dari tatapan Darian yang kini terasa menusuk, mencari jawaban atas perubahan sikapnya yang tiba-tiba.
Darian adalah orang pertama yang memecah kebekuan itu, suaranya serak dan sedikit canggung.
“Maaf. Aku… aku tidak sengaja.”
“Tidak apa-apa, Tuan,” jawab Queenora cepat, terlalu cepat. Ia membuang muka, tatapannya jatuh pada dinding putih di belakang Darian. Dinding itu terasa lebih aman daripada mata pria itu.
“Terima kasih untuk kemejanya. Ini… bagus sekali.”
“Sama-sama,” Darian berdeham, mencoba mengusir sisa-sisa kecanggungan.
Ia tidak beranjak pergi, seolah ada tali tak kasat mata yang menahannya di sana. Ia bisa melihatnya dengan jelas, dinding itu kembali. Dinding transparan namun kokoh yang Queenora bangun lagi di antara mereka, tepat setelah kehangatan di tepi kolam dan pengakuan jujur di dapur.
“Queenora, apa… apa ada yang salah? Kau terlihat… berbeda beberapa hari ini.”
Jantung Queenora berdebar kencang. Ia ingin berteriak, ingin menunjukkan foto di komputernya dan menanyakan hubungan Darian dengan monster-monster itu.
Tapi lidahnya kelu. Ketakutan melumpuhkannya. Jika ia salah, ia akan menghancurkan satu-satunya tempat aman yang ia miliki. Jika ia benar, ia berada dalam bahaya yang lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
“Saya hanya… lelah, Tuan,” jawabnya, sebuah kebohongan yang terasa pahit di lidahnya.
“Elios sering terbangun saat malam akhir-akhir ini.”
Elios, seolah mengerti isyarat, menggeliat kecil dan menguap. Matanya yang bulat mulai meredup, tanda ia siap untuk tidur siang. Pemandangan itu memberikan Queenora alasan yang sempurna untuk mengakhiri percakapan yang menyiksa ini.
“Sepertinya dia sudah mengantuk,” kata Queenora, suaranya melembut saat berbicara tentang Elios.
“Saya akan menidurkannya.”
Darian mengangguk pelan, rasa kecewa terpancar samar di wajahnya. Ia tahu Queenora sedang menghindar, tapi ia tidak ingin memaksanya.
“Baiklah. Kalau begitu aku… aku akan kembali bekerja.”
Saat Darian berbalik, melangkah keluar dari kamar. Queenora menghela napas lega, bahunya yang tegang sedikit menurun. Ia menimang-nimang Elios, menyanyikan lagu pengantar tidur dengan suara lirih.
Bayi itu dengan cepat terlelap, napasnya yang teratur menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Queenora duduk di tepi tempat tidur, memandangi wajah damai Elios. Wajah inilah yang memberinya kekuatan. Wajah inilah yang membuatnya rela menelan semua ketakutannya.
Quuenora membelai pipi gembil Elios dengan punggung jarinya, begitu lembut, seolah menyentuh porselen yang paling rapuh. Dalam keheningan itu, sebuah kerinduan yang tajam dan menyakitkan menusuk hatinya. Kerinduan akan wajah lain yang tak pernah sempat ia lihat, pelukan lain yang tak pernah sempat ia rasakan.
Tanpa sadar, air matanya menetes, jatuh di selimut yang membungkus Elios.
“Aku… aku cuma pengen meluk dia sekali aja,” bisiknya pada keheningan, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan.
“Cuma sekali. Aku pengen tahu rasanya… gimana rasanya memeluk anakku sendiri.”
Pintu yang ia kira sudah tertutup rapat, ternyata masih sedikit terbuka. Darian, yang hendak mengambil dokumen yang tertinggal di lorong, membeku di tempat. Ia mendengar semuanya. Setiap kata yang bergetar, setiap isak yang tertahan. Kalimat itu, begitu sederhana namun sarat dengan duka yang tak terhingga, menghantamnya lebih keras dari pengakuan mana pun.
Seketika Darin teringat kata-kata dinginnya dulu, “Siapa Ayah anakmu?”
Ia teringat bagaimana ia menghakimi Queenora karena menyembunyikan kehamilannya. Dan sekarang, ia mendengar inti dari semua itu, bukan tentang skandal, bukan tentang kesalahan, melainkan tentang kerinduan murni seorang ibu akan anaknya yang hilang.
Rasa bersalah yang menusuk membuatnya merasa hina. Siapa dia hingga berani menghakimi luka yang begitu dalam? Luka yang bahkan tidak bisa ia bayangkan sakitnya.
Perlahan, ia mendorong pintu hingga terbuka sepenuhnya. Queenora tersentak, cepat-cepat menyeka air matanya, wajahnya pias karena malu dan panik.
“Tuan…, saya…. Maaf”
Darian tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berjalan mendekat, mengambil kursi dari sudut kamar, dan duduk di hadapan Queenora. Ia tidak menatap Queenora dengan tatapan menghakimi, melainkan dengan tatapan yang… Queenora tidak tahu apa namanya. Sebuah campuran antara penyesalan, empati, dan sesuatu yang lebih dalam.
“Kau tidak perlu minta maaf,” kata Darian pelan, suaranya rendah dan mantap.
“Tidak pernah lagi. Tidak untuk hal seperti ini.”
Mereka duduk dalam keheningan untuk waktu yang lama. Elios masih tertidur pulas di pangkuan Queenora, tidak terganggu. Darian hanya menatap bayi itu, lalu beralih ke tangan Queenora yang memeluknya erat.
“Aku… aku dulu berpikir,” Darian memulai, suaranya terdengar berat.
“Bahwa duka yang kurasakan adalah yang terberat di dunia. Kehilangan istriku… itu seperti merenggut separuh jiwaku.” Pria yang tampak rapuh itu menghela napas.
“Tapi aku salah. Aku masih punya Elios. Aku masih punya sesuatu yang tersisa darinya.” Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke mata Queenora yang basah.
“Kau… kau kehilangan segalanya. Dan aku… aku malah menambah bebanmu dengan penghakimanku. Maafkan aku, Queenora. Sungguh, maafkan aku.”
Queenora hanya bisa menggelengkan kepalanya, air matanya kembali mengalir, kali ini bukan karena duka, melainkan karena kelegaan. Dinding yang susah payah ia bangun selama berhari-hari, runtuh seketika oleh permintaan maaf yang tulus itu.
Malam itu, mereka tidak membicarakan hal itu lagi. Namun, sesuatu telah berubah. Keheningan di antara mereka tidak lagi canggung.
Mereka duduk di ruang keluarga, dengan Elios yang tertidur di kereta dorongnya di dekat sofa. Darian sedang membaca laporan di tabletnya, sementara Queenora hanya menatap kosong ke arah televisi yang menyala tanpa suara. Kelelahan emosional dari beberapa hari terakhir akhirnya menuntut balas. Kelopak mata Queenora terasa begitu berat. Ia mencoba melawannya, tetapi kegelapan terus menariknya.
Perlahan, tanpa ia sadari, kepalanya miring ke samping, mencari sandaran. Dan ia menemukannya. Bahu Darian yang kokoh terasa hangat dan aman.
Darian membeku saat merasakan beban lembut di bahunya. Ia menoleh perlahan. Queenora telah tertidur, wajahnya terlihat begitu damai, napasnya teratur dan ringan.
Aroma sampo bunga dari rambutnya bercampur dengan aroma lembut susu bayi yang melekat padanya. Sebuah kombinasi yang anehnya terasa begitu menenangkan.
Naluri pertamanya adalah membangunkannya, menyuruhnya pindah ke kamarnya. Itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Hal yang pantas. Tapi ia tidak bisa. Ia tidak berani bergerak. Ia takut mengusik kedamaian langka yang terpancar dari wajah gadis itu. Ia takut merusak momen ini.
Darian meletakkan tabletnya di meja. Dengan sangat hati-hati, ia menggeser tubuhnya sedikit, membuat posisi Queenora lebih nyaman. Lalu, ia menyandarkan kepalanya sendiri ke puncak kepala Queenora.
Di sisinya, ia bisa mendengar napas Elios yang teratur. Kehangatan dari dua tubuh di dekatnya. Queenora di bahunya, Elios di kereta dorongnya, menyebar ke seluruh tubuhnya, mengisi setiap sudut kosong di hatinya yang selama ini terasa dingin dan hampa.
Untuk pertama kalinya sejak Luna meninggal, rumah ini tidak lagi terasa seperti mausoleum yang sunyi.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian dalam dukanya. Ia bukan lagi hanya seorang duda yang berduka atau seorang ayah yang canggung. Di momen ini, di tengah keheningan malam, dengan seorang wanita yang terluka tertidur di bahunya dan putranya yang bernapas damai di dekatnya, Darian merasa… utuh. Sebuah keutuhan yang telah lama hilang, yang ia pikir tidak akan pernah ia rasakan lagi.
Perasaan itu begitu kuat, begitu nyata, hingga terasa menyakitkan sekaligus menyembuhkan.
Pandangannya turun dari rambut Queenora yang tergerai, ke leher jenjangnya yang terekspos, ke lekuk bibirnya yang sedikit terbuka saat ia tidur. Kehangatan yang ia rasakan mulai berubah, dari rasa nyaman menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih mendesak.
Sebuah tarikan fisik yang begitu kuat, begitu mengejutkan, hingga napasnya sendiri tercekat di tenggorokan.
Sebuah pikiran liar, terlarang, dan begitu kuat melintas di benaknya, sebuah kesadaran yang membakar logikanya hingga menjadi abu.
Ini bukan lagi tentang Elios. Bukan lagi tentang duka atau penyembuhan. Ini tentang wanita ini. Tentang dia.
Dan Darian menyadari, dengan kejernihan yang menakutkan, bahwa ia tidak akan pernah bisa melepaskannya. Tidak akan pernah.
Tangannya terangkat perlahan, seolah memiliki kehendak sendiri. Jari-jarinya gemetar saat mendekati pipi Queenora, hanya berjarak beberapa milimeter dari kulitnya yang halus. Ia hanya ingin… ia hanya perlu…