NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

​Sore itu, lapangan utama SMA Garuda masih ramai oleh berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Mori sebenarnya tidak punya jadwal hari ini, tapi ia terpaksa turun ke lapangan untuk menggantikan Nadya, sahabatnya, yang tiba-tiba mengalami kram perut hebat saat latihan rutin tim cheerleader.

​"Ayo Mori, satu formasi lagi! Lo tinggal ikutin gerakan flyer yang tadi," instruksi kapten tim.

​Mori, yang mengenakan seragam cheerleader pinjaman berwarna putih-biru dengan rok mini yang cukup pendek, menarik napas panjang. Ia merasa sangat tidak nyaman, tapi demi Nadya, ia melakukannya. Saat musik pengiring diputar, Mori melakukan gerakan putaran dan lompatan kecil yang sinkron dengan anggota lainnya.

​Namun, di salah satu gerakan yang mengharuskan Mori melompat dan melakukan split di udara, embusan angin kencang berpadu dengan gerakan kinetik yang kuat membuat rok mininya terangkat cukup tinggi.

​Fuit-fuiiiitttt!

"Waduh, pemandangan indah sore-sore nih!"

"Mori! Sering-sering ya gantiin Nadya!"

​Sekelompok cowok dari tim sepak bola yang sedang beristirahat di pinggir lapangan mulai bersiul nakal dan melontarkan komentar-komentar menggoda yang tidak sopan. Mori mendarat dengan wajah merah padam, ia buru-buru menarik roknya turun dengan tangan gemetar. Ia merasa sangat malu dan terhina.

​Tepat di saat suasana menjadi riuh oleh godaan cowok-cowok itu, Lian muncul dari arah koridor olahraga. Ia baru saja hendak menuju parkiran, namun langkahnya terhenti seketika saat telinganya menangkap siulan dan komentar kurang ajar yang ditujukan pada Mori.

​Mata Lian berkilat tajam. Visual Gabriel Guevara-nya mendadak berubah menjadi sangat mengintimidasi. Ia tidak bicara sepatah kata pun; ia langsung berlari ke tengah lapangan, menembus formasi anak-anak cheerleader.

​Sebelum Mori sempat bereaksi, sebuah jaket hitam beraroma maskulin yang sangat ia kenal sudah tersampir di bahunya, menutupi tubuhnya dengan protektif.

​"Pake," ucap Lian singkat, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya.

​Mori tertegun, namun Lian tidak berhenti di sana. Ia berbalik dan berjalan cepat ke arah kerumunan cowok yang tadi bersiul. Wajah Lian sangat gelap, urat-urat di lehernya menegang.

​"Ulangi lagi apa yang lo bilang tadi," desis Lian di depan wajah salah satu cowok yang paling keras bersiul.

​"Santai dong, Li. Cuma bercanda kali—"

​BUGH!

​Tanpa peringatan, tinju mentah Lian mendarat telak di rahang cowok itu. Keributan pecah seketika. Lian seperti kesetanan, ia menarik kerah baju cowok lainnya dan bersiap melayangkan pukulan kedua.

​"Lo semua nggak punya otak, ya?! Berani lo liatin dia kayak gitu lagi, gue bikin lo nggak bisa liat selamanya!" teriak Lian penuh amarah.

​Mori yang melihat kekacauan itu langsung tersadar. Ia berlari menghampiri Lian yang sudah terlibat aksi saling pukul dengan dua orang lainnya. Lapangan menjadi sangat kacau; anggota tim cheerleader berteriak ketakutan, dan beberapa guru mulai berlari menuju pusat keributan.

​"LIAN! BERHENTI!" Mori menarik lengan Lian yang sudah mengepal kuat.

​Lian masih mencoba meronta, matanya masih menatap tajam ke arah lawan-lawannya yang kini sudah tersungkur. "Lepasin gue, Mor! Mereka harus dikasih pelajaran!"

​"GUE BILANG BERHENTI!" Mori berteriak lebih keras, air mata mulai menggenang di matanya karena takut dan stres.

​Lian terdiam saat melihat raut wajah Mori yang ketakutan. Amarahnya perlahan mereda, digantikan oleh rasa bersalah yang menusuk. Mori tidak membuang waktu; ia langsung menggenggam tangan Lian yang lecet dan menyeretnya paksa menjauh dari lapangan, menuju arah kelas yang sudah sepi.

​Mori membanting pintu kelas dan menguncinya. Ia melepaskan tangan Lian dengan kasar. Suasana kelas sangat hening, hanya terdengar deru napas Lian yang masih memburu.

​"Lo gila ya, Lian?! Lo mau dikeluarin dari sekolah gara-gara berantem?!" semprot Mori. Ia mengambil kotak P3K dari lemari kelas dengan gerakan gusar.

​Lian duduk di atas meja, menunduk, membiarkan darah menetes dari sudut bibirnya. "Gue nggak tahan liat mereka ngelecehin lo pake mulut kotor mereka, Mor."

​Mori mulai mengobati luka di tangan Lian dengan kapas dan alkohol. Ia melakukannya dengan kasar sebagai bentuk kekesalan. "Gue cuma gantiin Nadya karena dia sakit perut, gue juga nggak mau pake baju kayak gini!"

​"Makanya jangan mau disuruh pake baju kurang bahan gitu!" balas Lian ketus.

​Mori berhenti mengobati. Ia menatap mata Lian dengan tajam. "Lian, denger ya. Lo nggak berhak ngatur gue. Gue udah nolak lo di depan semua orang. Gue sama lo itu nggak ada hubungan apa-apa. Kita bukan pacar, kita bukan apa-apa! Jadi, kenapa lo harus marah sampe kayak tadi? Kenapa lo harus bersikap seolah-olah gue milik lo?!"

​Lian terdiam. Kalimat Mori barusan terasa lebih sakit daripada pukulan cowok-cowok di lapangan tadi. Ia menatap Mori dengan tatapan yang sangat dalam, penuh luka namun tetap keras kepala.

​Lian tiba-tiba menarik tangan Mori, membuat gadis itu berdiri tepat di antara kedua kakinya. Ia menangkup wajah Mori dengan tangannya yang masih berbau besi karena darah.

​"Emang kita nggak ada hubungan apa-apa di atas kertas, Mor," bisik Lian, suaranya parau. "Tapi buat gue, lo itu segala-galanya. Gue nggak butuh status buat ngerasa sakit hati pas lo direndahin orang lain. Gue marah karena gue sayang sama lo, sesimpel itu. Dan kalau lo mau benci gue selamanya gara-gara ini, silakan. Tapi jangan harap gue bakal diem aja pas ada orang yang berani macam-macam sama lo."

​Mori terpaku. Kata-kata "sayang" yang keluar dari mulut seorang red flag seperti Lian terdengar sangat berat dan tulus. Ia melihat luka di bibir Lian, lalu melihat jaket hitam Lian yang masih ia kenakan.

​Benteng pertahanan Mori bergetar hebat. Ia ingin marah, tapi rasa aman yang diberikan Lian saat menyampirkan jaket tadi tidak bisa ia bohongi.

​"Lo bener-bener bencana buat hidup gue, Lian," gumam Mori lirih, sambil kembali menempelkan plester ke luka Lian dengan gerakan yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.

​Lian tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis, membiarkan Mori merawatnya di tengah keheningan kelas yang menjadi saksi bahwa benci dan cinta di antara mereka sudah tidak bisa lagi dibedakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!