NovelToon NovelToon
Kontrak Dua Minggu

Kontrak Dua Minggu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Wanita Karir
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.

Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Cincin Safir Biru, Nasi Goreng, dan Bayangan Masa Lalu.

Dalend mengendarai mobilnya, sebuah sedan sport yang baru saja ia dapatkan kembali, dengan kecepatan tinggi membelah tol Trans-Jawa. Hukuman enam bulan yang ia jalani telah menguras fisik dan mentalnya, tetapi setiap kilometer yang ia tempuh kini dipenuhi adrenalin. Ia tidak lagi mencari pelarian;ia mencari anchor-nya.

Di kursi penumpang,  terletak jaket hoodie abu-abu yang pernah ia pinjamkan Dan sebuah buku yang penuh coretan. Dalend tersenyum mengingat catatan balasan Marisa: "Nasi goreng spesial buat Lo, pewaris kotor." Tantangan yang manis.

Dalend tidak menghubungi Marisa. Ia ingin kejutan, ia ingin melihat langsung. Ia tahu kota Marisa, Rumah sakit ibunya, dan ia yakin Marisa tidak akan pindah, karena janji Dalend adalah alasan Marisa untuk menetap.

Setelah semalaman mengemudi,  Dalend tiba di kota kecil. saat matahari bersinar terik. Ia menghentikan mobilnya beberapa blok dari rumah sakit tempat Ibu Marisa dirawat, takut penampilannya yang mencolok akan menarik perhatian yang tidak perlu.

Dalend berjalan kaki. Rumah sakit itu tampak lebih bersih dan lebih terawat dari yang ia bayangkan. Ia menyelinap masuk dan bertanya pada petugas keamanan tentang Ibu Sartika Asih.

"Ibu Sartika Asih sudah pindah, Mas. Sudah sembuh total dua bulan lalu. Sekarang rawat jalan," jawab petugas itu.

Rasa lega bercampur kekaguman melanda Dalend Marisa benar-benar berhasil.

...

Kini, Dalend harus menemukan lokasi Marisa yang baru. Ia tahu Marisa tidak akan duduk diam. Marisa pasti memulai usaha katering yang dia sebutkan di pesan.

Dalend mulai bertanya di warung-warung kopi terdekat, mencari informasi tentang katering rumahan yang baru dibuka. Setelah satu jam mencari, ia mendengar nama "Dapur Sejati" berulang kali.

"Dapur Sejati? Oh itu punya Mbak Marisa, Mas. Masakannya enak, harga terjangkau. Orangnya cantik, tapi galak kalau urusan harga," kata seorang tukang ojek yang mangkal di sana.

"Di mana lokasinya?" Tanya Dalend, jantungnya berdebar kencang.

"Di pasar Turi yang baru, Mas. Kios nomor tujuh." Dalend segera menuju pasar, menyamarkan tuksedo yang ia kenakan di bawah jaket biasa. Pasar Turi yang baru adalah pasar tradisional yang bersih, penuh dengan kehidupan dan hiruk pikuk.

Di kios Nomor Tujuh, Dalend akhirnya menemukan pemandangan yang paling ia rindukan.

Marisa berdiri di balik meja kecil, mengenakan celemek sederhana,  rambutnya diikat longgar. Dia sedang sibuk mengaduk wajan besar, memimpin asistennya. Keringat membasahi pelipisnya, tetapi wajahnya bersinar karena kepuasan. Dia tampak jauh lebih bahagia, lebih damai, dan lebih nyata daripada saat dia mengenakan gaun merah anggur di Le Mirage.

Di jari manisnya, cincin safir biru itu berkilauan di bawah cahaya lampu pasar. Dia menepati janji.

Dalend bersandar di tiang, mengamati. Ia tidak langsung mendekat. Ia tidak ingin menikmati momen ini-momen di mana ia melihat anchor-nya telah berlayar dengan sukses sendirian.

Marisa mengangkat kepalanya,  dan mata mereka bertemu.

Waktu seolah berhenti. Senyum yang biasanya spontan di wajah Marisa membeku. Mata Marisa memancarkan kejutan  keterkejutan, dan-ya-kerinduan yang tak terhindarkan. 

"Dalend?" bisik Marisa, suaranya hambur hilang di tekan kebisingan pasar.

Dalend berjalan mendekat, tatapannya terkunci pada cincin di jari Marisa.

"Nasi goreng spesial buat Lo, pewaris kotor," ujar Dalend, mengutip balasan surat Marisa, senyumnya melengkung. "Tapi gue datang ke sini sebagai Manajer Operasional Properti di Angkasa Raya. Dan gue minta nasi goreng buatan Tunangan gue."

Marisa meletakan spatula. "Enam bulan. Lo menepati janji." Ia melihat jelas perubahan Dalend.  Dia menjadi lebih fresh, tampan dan berwibawa. 

"Gue selalu menepati janji, terutama janji seumur hidup, " kata Dalend.

...

Saat Marisa dan Dalend saling menatap, dunia di sekitar mereka mulai menghilang sampai sebuah suara menusuk memecah momen.

"Marisa?!"

Marisa dan Dalend menoleh serentak.

Berdiri di dekat kios mereka, membawa tas belanja penuh sayuran, adalah Bara dan Anya.

Bara tampak terkejut, sementara Anya, yang memegang lengan Bara dengan manja, menatap Marisa dengan tatapan meremehkan. 

"Lo di sini? Gue pikir lo sudah kembali ke Jakarta setelah dipecat," cibir Anya, menyilangkan tangan di depan dadanya. "Dan lo buka katering di pasar? Oh, wow, Marisa. Level up banget, ya?"

Marisa menegakkan punggungnya,  menanggapi sinisme Anya dengan ketenangan yang ia pelajari dari Dalend.

"Selamat pagi, Anya. Bara," sapa Marisa datar. "Ya, gue di sini. Usaha sendiri. Kenapa? Kalian mau pesan?"

Bara, yang masih tampak terkejut, menatap Dalend yang kini berdiri sangat dekat dengan Marisa. Bara mengenali Dalend dari berita skandal pertunangan. 

"Siapa dia, Marisa?" Tanya Bara, suaranya kaku. "Dan kenapa... kenapa kamu pakai cincin?"

Sebelum Marisa sempat menjawab, Dalend melangkah maju, merangkul bahu Marisa dengan posesif,  persis  seperti yang ia lakukan di Le Mirage. Namun, kali ini, rangkulan itu terasa sangat nyata dan melindungi.  "Selamat pagi, Tuan dan Nyonya, " sapa Dalend, suaranya sopan tapi dingin. "Saya Dalend Angkasarapu. Tunangan resmi Marisa."

Anya tertawa keras, tawa palsu yang menusuk. "Tunangan? Jangan bercanda, Marisa! Kita baca beritanya. Dalend Angkasarapu? Yang scandal pertunangannya dibatalkan karena masalah penipuan itu? Hahaha bukannya lo sudah dibayar dan disuruh menghilang? Marisa?"

Wajah Bara memucat. Ia ingat bagaimana ia mengkhianati Marisa demi Anya dan ambisinya. Ia melihat Dalend, pri kaya yang sudah memiliki segalanya,  kini berjuang untuk Marisa. Ia berdenyut perih.

"Cukup, Anya," Bara mencoba menenangkan.

Dalend tersenyum sinis, menatap Anya dan Bara dengan tatapan superioritas yang murni.

"Saya senang Anda mengikuti berita keluarga saya, Nona, " kata Dalend. "Ya, pertunangan kami dibatalkan oleh Ayah saya. Tapi, itu hanya formalitas yang diatur. Kami berdua memutuskan bahwa kami tidak butuh pengakuan mereka."

Dalend mengambil tangan Marisa, mengangkatnya, dan mencium punggung tangan Marisa-gerakan yang sama yang memicu kecurigaan Bima di hari pertama.

"Saya datang ke sini setelah enam bulan bekerja keras untuk mendapatkan kembali hak saya. Saya di untuk membuktikan pada Marisa bahwa saya layak. Kami tidak butuh uang Angkasa Raya," Dalend menatap Bara dengan tajam. "Yang kamu butuhkan adalah kesetiaan. " Bara terdiam, menunduk. Kata 'kesetiaan' itu menusuknya. 

Anya menarik lengan Bara. "Ayo, Sayang. Jangan buang waktu dengan orang-orang yang hanya menjual gorengan dan drama murahan."

"Dia menjual nasi goreng terbaik di kota ini, Nona," sela Dalend, suaranya mengeras. "Dan dia tidak menjual dirinya, seperti yang mungkin Anda pikirkan. Pergi. Kami sedang merayakan reuni. "

Bara mengangguk kecil, wajahnya dipenuhi rasa bersalah dan kekalahan, lalu menarik Anya menjauh dari kios Marisa.

...

Keheningan kembali menyelimuti kios Marisa. Marisa menatap Dalend, Matanya berkaca-kaca. 

"Lo... Lo seharusnya enggak bilang begitu," bisik Marisa. "Lo seharusnya enggak mengorbankan status Lo lagi demi menutupi gue."

Dalend melepaskan rangkulannya, tetapi tetap memegang tangan Marisa. "Gue enggak menutupi apa-apa. Gue mengatakan yang sebenarnya. Bima dan Mama gue menbuat kebenaran itu tampak buruk. Dan gue enggak akan biarkan mereka merusak janji kita."

Dalend menatap Marisa dalam-dalam, mengabaikan keramaian pasar yang mulai memandang mereka dengan penasaran. 

"Gue sudah bebas, Marisa. Gue dapat promosi. Gue dapat mobil gue. Dan sekarang gue di sini. Lo lihat cincin itu?"

Marisa mengangguk, menatap safir biru di jarinya.

"Itu bukan cincin akting. Itu cincin janji. Sekarang, Lo harus menepati janji Lo," Dalend tersenyum.

"Janji apa?"

"Janji nasi goreng untuk pewaris kotor," Dalens mencandainya. "Gue kotor karena debu pabrik, Marisa. Dan gue lapar. Gue belum makan sejak semalam. Masakkan gue nasi goreng, dan kita bicara. Gue punya dua hari sebelum gue harus kembali ke Jakarta."

Marisa tertawa kecil, tawa yang lepas dan tulus. Ia tidak bisa menolak.

"Baik, Manajer Proyek. Nasi goreng spesial. Lo duduk di sana. Gue akan masakkan nasi goreng paling mahal yang pernah Lo makan," kata Marisa, menunjuk bangku kecil di sudut.

Saat Marisa kembali ke wajan, Dalend duduk, mengamati setiap gerakannya. Ia mengamati bagaimana Marisa bekerja, bagaimana ia berinteraksi dengan asistennya, bagaimana ia berinteraksi dengan asistennya, bagaimana ia tersenyum pada pelanggan.

Setelah beberapa menit, Marisa menyajikan nasi goreng di piring sederhana. Dalend mengambil sendok,  dan mencicipinya. 

"Ini... luar biasa, " Dalend mengakui, matanya memancarkan kepuasan. "Jauh lebih enak dari semua fine dining di Jakarta. Ini rasanya seperti ... kemenangan."

Marisa duduk di sebelahnya, menyandarkan dagunya di tangannya. "Itu rasanya seperti kerja keras, Dalend. Bukan uang."

"Gue tahu. Dan gue jatuh cinta pada kerja keras itu, Marisa," Dalend tersenyum tulus.

"Sekarang, bicara. Dua hari. Kenapa Lo datang? Kenapa enggak call gue dari apartemen baru Lo?" tuntut Marisa.

Dalend menceritakan perjuangannya, pengawasan Bima, dan bagaimana ia menunda laporan korupsi demi membuktikan dirinya. Ia menceritakan bagaimana ia hidup sederhana selama enam bulan.

"Gue enggak mau kembali ke Lo sebagai pria yang bersembunyi di balik uang Papa. Gue ingin kembali sebagai pria yang Lo pilih karena value," kata Dalend.

"Gue sekarang punya kekuatan nyata di perusahaan. Bima sudah dilumpuhkan. Dan gue mau ajak Lo ke Jakarta lagi." Kata Dalend, tatapannya serius. "Bukan sebagai tunangan palsu.Tapi sebagai kekasih gue. Sebagai Marisa Sartika Asih yang sukses. Lo akan mengembangkan katering Lo di Jakarta, dan Lo tinggal bersama gue. Kita akan menghadapi Mama dan Papa bersama-sama. Gue sudah membuktikan diri gue, sekarang giliran Lo membuktikan diri Lo sebagai partner sejati."

Marisa menatap Dalend, lalu menatap cincin safir birunya. Ciuman perpisahan di Jakarta telah menjadi undangan untuk masa depan yang nyata.

"Gue enggak butuh uang Lo, Dalend," kata Marisa.

"Gue tahu. Dan gue butuh Lo, Marisa," balas Dalend.

"Ambil cuti dua hari. Beri tahu ibumu. Kita akan pulang. Kita akan tunjukkan pada mereka, cinta sejati tidak pernah bisa dibeli, tapi harus diperjuangkan."

1
Sherlys01
Semangat yaa😁💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!