Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Nafis terkejut saat kang Tejo tiba-tiba menghentikan laju mobilnya. Rupanya ada abi mertuanya beserta beberapa saudara beliau yang sengaja menghadang Nafis. Nafis segere turun tak lupa mengucap salam dan menyalami semua orang. Terlihat ayahnya Hanafi itu meneteskan air mata.
" Kamu mau kemana nduk ?" Ucap bulek Nikmah yang tak lain adik terkecil abi Rahmad. Nafis tersenyum.
" Iya nduk kamu mau kemana, cucu abi mana ?"
" Maaf abi, Nafis memilih menyerah. Nafis sudah tidak punya kekuatan untuk bertahan dengan rumah tangga ini abi. " Budhe Nurma yang tak lain adalah kakaknya Abi Rahmat segera memeluk tubuh Nafis, tangisnya juga pecah.
" Nduk jangan mengambil keputusan dalam keadaan marah ya ?" Dengan lembut budhe Nurma mengusap air mata Nafis.
" mboten kok budhe. Nafis sudah berfikir secara masak-masak. Nafis rasa memang ini keputusan paling baik, agar kami tidak saling menyakiti. Nafis tidak lagi menjadi penyebab kedurhakaan mas Hanafi, lalu mas Hanafi juga tidak lagi menjadi sumber kesakitan Nafis. Kami tidak saling mezalimi lagi budhe. "
" Nduk abi memamahi betul keadaan dan perasaan kamu sekarang. Abi juga tidak bisa melarangmu untuk mengambil keputusan ini. Karena abi sadar betul apa yang dilakukan ummi dan Hanafi sudah sangat keterlaluan. Besar harapan abi, rumah tanggamu dengan putra abi itu bisa diselamatkan, jadi tolong pikirkan ulang keputusanmu ya nduk ?"
" Njeh abi, justru langkah ini Nafis ambil karena menurut Nafis inilah yang terbaik. Mohon maaf abi, jika selama menjadi menantu keluarga ini masih banyak kurangnya dan masih belum bisa menjadi menantu yang baik "
" Kamu itu bicara apa to nduk, kamu itu sudah yang terbaik." Ucap budhe Nur sembari memeluk Nafis.
" Kalau memang begitu tentu ummi tidak akan mencari kan mas Hanafi istri baru budhe " Dada Nafis sesak memgingat kegilaan ummi mertuanya.
" Itu ummi saja yang tidak bersyukur nduk, kami tau bagaimana kamu berjuang " Bulek Nurma ikut memeluk Nafis.
" Mbak Maafin kami ya, kami diam saja saat ummi dan mas Hanafi mezalimi mbak " Choir juga ikut mendekat.
" Abi juga minta maaf nduk,ini salah satu bukti kegagalan abi mendidik anak dan istri abi "
" Ini bukan salah abi, mungkin memang begini garis cerita hidup Nafis. Nafis sudah ikhlas abi. Nafis hanya mau meminta satu hal kepada abi "
" Apa itu nduk, katakan saja."
" Tolong jika dalam waktu dekat ini bapak menghubungi abi, jangan dulu ceritakan masalah ini kepada beliau. Begitu juga dengan Azizah, Nafis tidak mau konsentrasi belajar Azizah terganggu bi. Nafis sendiri yang akan berbicara dengan mereka jika nanti Nafis sudah siap,tolong njeh abi ?"
" Baiklah nduk, abi akan mengikuti kemauanmu jika, memang itu bisa mengurangi bebanmu. Satu hal yang perlu kamu ingat nduk, selamanya kamu tetaplah putri abi." Nafis menganguk sembari terisak.
" Nafis pamit abi. Doakan Nafis semoga Nafis semakin kuat kedepannya dan semoga cobaan ini tidak membuat Nafis berbuat hal-hal di luar koridor agama kita "
" Pasti nduk, kamu dan anak-akan akan selalu tersebut dalam setiap doa abi. Ingat ya nduk, kamu putri abi sampai kapanpun tetap begitu. Bagi abi kamu itu buka. Cuma seorang menantu tapi, kamu sudah seperti putri sulung abi sendiri, kamu harus ingat itu ya nduk."
" Njeh abi "
" Nafis pamit ya budhe, bulek dan kamu dek. "
" Kamu hati-hati ya nduk. Semoga kamu segera menemukan kebahagianmu di luar sana. Jangan lupa berkabar sama budhe ya ?" Nafis mengangguk.
" Hati-hati ya nduk " Giliran adik abi Rahmat memeluk Nafis.
" Jangan lupain aku ya mbak, mbak qonita nitipin ini buat mbak Nafis." Nafis memeluk adik iparnya.
" Sampaiin terima kasih mbak ke Qonita ya ?" Choir menganguk.
Dengan berat Nafis masuk kedalam mobilnya. Selama ini kelaurga besar Abi Rahmad inilah yang selalu membantu dan menguatkan Nafis.
Sementara itu
Ummi Aminah yang masih berada di rumah Nafis seakan tak terbebani dengan kepergian menantu dan cucu laki-lakinya. Entah bagaimana jalan pikiran ibu dari Hanafi itu. Dia malah sibuk menyuruh mbak Asih menurunkan seluruh foto Nafis dan anak-anak dirumah itu. Beruntung Nafis sudah mengemas berbagai penghargaan yang pernah dia dapat kalau tidak sudah dapat di pastikan hanya akan berakhir di gudang saja.
Sedang Hanafi sepertinya mulai menyadari kebodohannya sendiri. Ada satu sisi hatinya yang terasa hampa saat menyaksikan istrinya keluar dari rumah ini. Bahkan ucapan Nafis yang menyatakan sudah menyerah dengan rumah tangga mereka terus tergiang di telinga Hanafi. Tapi, apa boleh buat Nafis terlihat sudah benar-benar lelah.
Hanafi tak menyangka, Nafis yang biasa tenang dan selalu mengalah dengan keinginan umminya kini berontak. Keputusan menikah lagi awalnya dia ambil semata-mata untuk menyenangkan umminya ,tanpa dia duga seiring berjalannya waktu dia juga tertarik akan paras cantik ning Hafizah. Itu kenapa dia berat jika harus memilih salah satu dari keduanya.
Di kamar yang sudah menjadi saksi dirinya berbagi cinta dengan Nafis ini, Hanafi menangis merutuki kebodohannya. Bertahun-tahun mengarungi rumah tangga dia biarkan istrinya berjuang memenuhi kebutuhan putra putrinya seorang diri. Bahkan kebutuhan finansialnya pun sering di sokong istrinya itu. Bukan tak menyadari tapi, rasa takuk menyakiti umminya lebih mendominasi. Itu sebabnya dia sering abai dengan kondisi istrinya.
Sudah tidak ada sedikitpun barang istrinya terisa di kamar ini. Hanya barang-barang yang pernah dia berikan saja yang Nafis tinggal. Dia lebih terkejut saat membuka brangkas yang ada di ruang kerja Nafis yang sudah nampak lengan. Semua surat berharga, perhiasan dan simpanan uang cas sudah tidak ada disana. Hanya dua surat kendaraan roda 2 yang Nafis tinggal. Sertifikat rumah ini pun Nafis bawa.
Dan dia sangat shock saat mengecek garasi mereka. Tak ada satu pun mobil yang terparkir disana. Nafis benar-benar membawa pergi semua harta miliknya. Mau protes juga percuma toh semua itu Nafis beli sendiri, dia tak ada andil serupiah pun. Dia bakalan kelabakan setelah ini. Nafis benar-benar menghukumnya.
" Hanafi kamu sudah siapkan perhiasan buat seserahan kan ?" Suara umminya membuat lamunan Hanafi buyar.
" Perhiasan apa lagi ummi, kan kemaren kan sudah beli cicin. Hanafi belum ada uangnya Ummi ?"
" Ya tinggal ambil lagi dari simpanan Nafis, satu set saja juga nggak masalah."
Ada ya orang setidak berperikemanusian begini...
" Nafis membawa semua perhiasannya ummi. Lagian perhiasan itu tidak ada yang aku beliin ummi semua dibeliin orang tuanya atau dia beli sendiri. Yang kemaren kita ambil itu aja gelang pemberian kakaknya Nafis ummi "
" Terus gimana dong, masak semua dibawa. Jangan bilang sertifikat rumah ini juga dia bawa ?" Hanafi menganguk.
" Kurang ajar banget sih, berani-beraninya dia bawa semaunya "
" Kenapa tidak berani, bukankan Nafis beli tanah dan bangun rumah ini pakai uangnya sendiri ?" Ummi Aminah dan Hanafi terkejut melihat kedatangan Abi Rahmad.
" Tidak malu kalian, mengunakan hasil kerja keras Nafis untuk memuja calon madunya Nafis. Kalian pikir Nafis sebodoh itu memberiakan hasil kerja kerasnya dinikmati madunya ?"
" Kalian terlalu percaya diri kalau Nafis akan legowo dengan kegilaan kalian kali ini. Jujur Hanafi, abi kecewa sama kamu. Apa pernah abi mengajarimu menjadi pria setidak bertangung ini ?"
" Kalau kamu sudah tidak menyukai Nafis setidaknya kamu kembalikan dia dengan hormat kepada orang tuanya seperti saat dulu kamu meminangnya"
" Itu kalau mas Hanafi berani, aku yakin sih tidak ?" Cibir Choir.
" Maaf abi " Ucap Hanafi sembari tertunduk.
" Jangan minta maaf ke abi, minta maaf sama istrimu. kamu sudah terlalu banyak melukai istrimu, istri pergi bukan kamu kejar malah sibuk membahas hal tidak jelas begini"
" Nafis pergi juga maunya sendiri, tidak ada yang nyuruh."
" Kelakuan kalian yang membuatnya pergi dari rumahnya sendiri kalian paham nggak sih ?" Budhe Nurma sepertinya sudah kehabisan kesabaran.
" Mbak Nur itu tidak usah ikut campur. Harusnya mbak Nur bangga sebentar lagi kita punya besan kyai besar. Hanafi akan menjadi menantunya kyai Ahmad "
" Istrimu perlu di bawa kerumah sakit jiwa seperti ya Rahmad. Demi obsesinya dia tega menyakiti hati sesama dua perempuan. Inget dek, dua anakmu itu perempuan, apa kamu tidak takut mereka kena karmanya ?"
" Dan kamu Hanafi, budhe demi Allah kecewa sama kamu. Kenapa kamu bisa menjadi sepengecut ini. Bukankah sudah berkali-kali budhe menasehati kamu tapi, rupanya duniamu memang hanya sebatas ummimu. Budhe harap kepergian Nafis dan Naufal bisa membuatmu sadar walau sedikit. karena budhe yakin kamu akan menyesal setelah ini "
" Sekarang apa yang kamu bisa banggakan Hanafi. Mobil yang biasa kamu pakai sudah di bawa pergi pemiliknya. Bulek yakin ATM yang kamu pegang pun sudah di kosongkan saldonya oleh Nafis bukan. Kamu selama ini terlihat gagah itu karena sokongan istrimu. Sekarang bulek hanya berharap kamu tak terlalu terlunta-lunta karena tak ada penyokong lagi." Giliran Nikmah yang angkat bicara.
" Semoga ummi bahagia ya, bisa meraih impian ummi. Semoga aku dan mbak Qonita tak menerima akibat karma buruk atas apa yang kalian lakukan " Ucap Choir sendu.
" Abi pulang ummi, abi berharap ummi tak semakin mengila setelah ini. Jika ummi masih menghargai abi sebagai suami ummi. Tolong jangan berbuat lebih gila dari ini. Kalau ummi terus saja begini jangan salah kalau abi pun mengikuti jalan pikiran ummi. Karena memang benar diluar sana masih banyak perempuan sholeha dan cantik yang mau menjadi istri sholeha dan penurut untuk abi. ketimbang abi bertahan dengan istri abi yang hanya mendorong abi ke jurang neraka jahanam " Gertak abi Rahmad.
" Abi....!" Teriakan ummi Aminah tak di hiraukan oleh abi Rahmad yang memilih kelaur dari rumah Nafis.
semoga kluarga istri ke 2 dan kluarga suami zalim dpt karma.
kl ortu istri ke 2 punya harga diri hrse cerai kan anak nya bukan mlh laki orang Mau di bawa pulang. alasan ae buat di didik. aslinya ya biar menang istri 2 dpt hanafi sepenuhnya tanpa berbagi. pasti alasan hamil di pake buat itu. istri ke 2 pling jg gk Mau ngalah merasa menang krn istri pertama mundur.. semoga dpt karma orang ngerti agama tp pada bejat.
nunggu karma nya, semoga anak Dr istri ke 2 gk lahir normal kasian anak Dr istri pertama dpt saudara tiri Dr Pelakor.
ya Pelakor Mau se sholehah apa pun wanita kl sdh merusak rumah tangga orang lain ttp Pelakor Dan ortu perempuan ttp mendukung 🤣🤣 Gila sih label kyai sekarang serem serem dng dalil agama.
hrse cerai semua, istri ke 2 tau diri nglepas hanafi bukan me lanjut kan pernikhan. mang dasarnya istri ke 2 doyan saja.
kl takut melukai ya hrse pisah.
hanafi me lanjut kan dakwah eh siapa yg Mau denger dakwah laki model bgitu. yg di omongin pasti poligami tok🤣. ustad cabul.