Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga dari Keberanian
Berita tidak pernah benar-benar diam.
Ia hanya menunggu momen yang tepat untuk muncul ke permukaan—dibawa bisikan, potongan percakapan, dan tatapan yang berubah arah.
Carmela merasakannya sejak pagi.
Para pengawal lebih waspada dari biasanya. Percakapan berhenti setiap kali ia mendekat. Bahkan Maria, yang biasanya tenang, tampak gelisah ketika menyiapkan sarapan.
“Ada apa?” tanya Carmela akhirnya.
Maria ragu, lalu berkata pelan, “Pertemuan kemarin… sudah diketahui lebih banyak orang.”
Jantung Carmela berdegup. “Orang-orang siapa?”
“Orang yang suka menghitung peluang.”
Kata itu membuat udara di dapur terasa lebih dingin.
—
Matteo tiba menjelang siang.
Wajahnya keras, rahangnya tegang, seperti pria yang baru saja menutup terlalu banyak pintu—atau membuka terlalu banyak konflik.
“Kita perlu bicara,” katanya begitu masuk.
Carmela mengangguk dan mengikutinya ke ruang kerja kecil di rumah danau.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.
“Kau menjadi topik pembicaraan,” jawab Matteo tanpa basa-basi.
Carmela menarik napas. “Aku menduganya.”
“Tidak seperti ini,” kata Matteo. “Bukan hanya sebagai istri. Tapi sebagai… variabel.”
Carmela mengernyit. “Variabel?”
“Sesuatu yang bisa mengubah hasil,” jelas Matteo. “Itu membuatmu berbahaya—bagi mereka, dan bagiku.”
Carmela berdiri lebih tegak. “Aku tidak menyesal ikut kemarin.”
Matteo menatapnya tajam. “Aku tahu. Dan justru itu yang membuatku kesal.”
“Karena aku tidak patuh?” tanya Carmela pelan.
“Karena kau berani,” balas Matteo cepat. “Dan keberanianmu menarik perhatian yang tidak kita butuhkan.”
Keheningan turun di antara mereka.
“Apa Lorenzo yang menyebarkan ini?” tanya Carmela.
“Dia tidak perlu,” jawab Matteo. “Orang-orang melihat caraku melihatmu. Itu cukup.”
Wajah Carmela memanas. “Jadi sekarang aku harus berpura-pura menjadi bayangan?”
Matteo mendekat. “Aku ingin kau aman.”
“Dan aku ingin dihormati,” balas Carmela. “Bahkan di duniamu.”
Matteo terdiam lama. Tatapannya beralih, lalu kembali padanya. “Kau menuntut banyak.”
“Aku menuntut wajar,” jawab Carmela.
—
Sore itu, sebuah paket tiba.
Tanpa nama pengirim. Hanya pita hitam sederhana.
Pengawal memeriksanya dengan hati-hati sebelum mengizinkan Carmela melihat isinya.
Di dalamnya: sebuah syal sutra mahal—dan secarik kertas kecil.
Untuk malam yang dingin.
—L
Carmela membeku.
Matteo langsung mengambil kertas itu begitu melihat inisialnya. Wajahnya berubah gelap.
“Dia melewati batas,” gumamnya.
“Dia tidak mengancam,” kata Carmela perlahan.
“Belum,” balas Matteo. “Ini pesan.”
“Pesan apa?”
“Bahwa dia bisa menjangkaumu,” kata Matteo dingin. “Dan bahwa dia tahu aku akan bereaksi.”
Carmela memegang syal itu, jari-jarinya gemetar. “Aku tidak menyukainya.”
“Buang,” kata Matteo.
Carmela ragu sejenak—lalu meletakkannya di meja. “Aku tidak ingin ini menjadi perang karena aku.”
Matteo menatapnya tajam. “Terlambat.”
—
Malam turun dengan berat.
Carmela duduk di balkon, memandangi danau yang gelap. Angin membawa aroma air dan dedaunan basah.
Matteo berdiri di ambang pintu, mengamatinya dari kejauhan.
“Kau seharusnya tidak sendirian,” katanya.
“Ada pengawal,” jawab Carmela tanpa menoleh.
“Aku tidak bicara soal itu.”
Matteo mendekat dan berdiri di sampingnya. Jarak mereka dekat, tetapi tidak saling menyentuh.
“Lorenzo akan terus mengujiku,” kata Matteo. “Dan setiap kali dia gagal, dia akan mengubah cara.”
“Dengan mendekatiku,” kata Carmela.
“Ya.”
Carmela menelan ludah. “Apa yang akan kau lakukan?”
“Apa pun yang perlu,” jawab Matteo. Nada suaranya membuat Carmela menoleh.
“Apa pun?” ulangnya.
Matteo menatap danau. “Dunia ini tidak memberi banyak pilihan yang bersih.”
Carmela merasakan dingin merayap di dadanya. “Aku tidak ingin menjadi alasanmu kehilangan kemanusiaan.”
Matteo menoleh padanya. “Aku kehilangannya jauh sebelum mengenalmu.”
Kejujuran itu terasa tajam.
“Aku ingin kau tahu satu hal,” lanjut Matteo. “Jika aku terlihat berlebihan… itu bukan karena aku tidak mempercayaimu.”
“Lalu karena apa?”
“Karena aku takut,” katanya pelan.
Kata itu jarang keluar dari mulut pria seperti Matteo.
Tak sadar, Carmela mengulurkan tangan dan menyentuh lengannya. Matteo menegang sejenak—lalu membiarkan sentuhan itu ada.
“Aku tidak akan pergi,” kata Carmela. “Dan aku tidak akan berpihak pada siapa pun selain diriku sendiri.”
Matteo tersenyum tipis. “Itu jawaban paling berbahaya.”
—
Keesokan harinya, Matteo harus kembali ke Milan.
“Kau tetap di sini,” katanya.
“Aku tahu,” jawab Carmela.
Matteo berhenti di depan pintu, seolah ragu. “Jika ada apa pun—apa pun—kau langsung hubungiku.”
Carmela mengangguk. “Hati-hati.”
Matteo menatapnya lama sebelum akhirnya pergi.
—
Di kota lain, Lorenzo duduk di bar kecil, memutar gelas minumannya perlahan.
“Dia mengirim syal,” lapor seseorang.
Lorenzo tersenyum. “Dan Matteo bereaksi?”
“Seperti yang kau duga.”
“Bagus,” gumam Lorenzo. “Pria paling berbahaya adalah pria yang merasa memiliki.”
Ia menyesap minumannya.
“Dan wanita itu,” lanjutnya, “bukan sekadar istri. Dia kunci.”
—
Malam kembali turun di Danau Como.
Carmela berbaring di ranjang, memandangi langit-langit, pikirannya penuh pertanyaan.
Ia tidak lagi hanya takut.
Ia sadar: setiap langkahnya kini punya dampak.
Dan harga dari keberanian—selalu datang belakangan.