Andrea Cecilia, gadis yatim piatu berusia 22 tahun, baru saja lulus pendidikan Diploma Tiga, jurusan Tata Boga. Ia ikut dengan sang bibi bekerja di rumah keluarga Dinata, sembari menunggu panggilan kerja dari sebuah hotel ternama di ibukota.
Andrea yang memiliki kemampuan memasak, di minta menjadi perawat untuk anak perempuan nyonya Dinata yang mengalami depresi setelah di lecehkan, dan kini dalam keadaan hamil besar.
Sang nona yang selama ia jaga, hanya diam, tiba-tiba meminta Andrea menjadi Ibu pengganti untuk bayi yang akan ia lahirkan. Bahkan, di akhir hayatnya, wanita itu meminta Andrea menikah dengan sang kakak, agar bayinya memiliki orang tua lengkap.
Bagaimana kah perjalanan hidup Andrea setelah kepergian sang nona untuk selamanya?
.
.
.
Hay Teman Redears.. ketemu lagi dengan aku si Authir a.k.a Author Amatir 😁
Mohon dukungannya, ya.. jangan lupa, Like, komen, Vote dan Gift.
.
Semoga cerita ini berkenan.
.
Ingat, tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini, karena novel ini hanya HALU SEMATA.
.
Terima Gaji ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Pergi Kontrol.
Tak terasa putaran bumi berlalu. Siang dan malam berganti begitu cepat. Hingga, kini dua minggu telah berlalu sejak kepulangan Audrey kecil ke kediaman keluarga Dinata. Yang artinya, bayi mungil itu kini telah berusia satu bulan.
Andrea yang semula kewalahan mengurus Audrey sendirian, kini pun telah terbiasa di bantu oleh suster Rini. Gadis itu pun memiliki waktu untuk menyalurkan hobi memasaknya, dengan membantu sang bibi di dapur.
Seperti pagi ini, Andrea bangun pagi membantu membuat sarapan.
“Ada apa? Apa nasi gorengnya tidak enak?” Tanya mama Daisy kepada Arthur yang sedang mengunyah pelan sarapannya.
Pria itu menggeleng. Ia kembali menyuap satu sendok penuh ke dalam mulut. Lagi, Arthur mengunyah dengan pelan. Seperti meresapi rasa makanan sederhana itu.
“Ini bukan buatan bibi Rosi.” Ucap pria itu kemudian.
“Tau darimana kamu?” Tanya sang mama yang juga tengah menikmati sepiring nasi goreng.
“Rasanya berbeda dari biasanya. Aku sudah sepuluh tahun menyantap nasi goreng buatan bibi Rosi. Dan yang ini bukan buatannya.”
Mama Daisy menganga. Tumben sekali sang putra berbicara panjang lebar seperti itu, Hanya karena mengomentari rasa nasi goreng yang berbeda.
“Nasi goreng ini buatan Rea.” Ucap mama Daisy kemudian.
Seketika Arthur tersedak air yang baru saja ia teguk.
“Pelan-pelan, Arth.”
Arthur tertegun. Rasa masakan yang di buat oleh Andrea begitu pas di lidahnya. Bahkan baru pertama kali ia merasakannya.
‘Jadi gadis itu memang pintar memasak?’
“Lalu kemana orang yang membuatnya? Kenapa dia tidak ada?” Tanya pria itu kemudian.
“Dia sedang bersiap. Hari ini jadwal kontrol Audrey, Rea akan membawanya ke rumah sakit.” Jelas mama Daisy.
Alis Arthur bertaut mendengar ucapan sang mama.
“Hari ini jadwal kontrol Audrey? Kenapa tidak ada yang memberitahu aku?”
“Ini hari kerja, Arth. Kamu mana ada waktu. Mama yang sengaja meminta Andrea tidak mengatakan padamu. Percuma juga, kamu kan orang sibuk.”
Arthur kembali menyambar gelas kaca, meneguk isinya hingga tandas.
“Selamat pagi, nyonya. Pagi B—
Thomas datang untuk berangkat bersama sang atasan, diawali dengan ucapan selamat pagi kepada sang tuan rumah, dan belum sempat menyapa sang atasan ucapan kakak sepupu Andrea itu telah terputus.
“Kamu berangkat lebih dulu, aku ada urusan.” Ucap Arthur sembari bangkit dari kursi yang ia duduki.
Alis Thomas bertaut. Sebagai seorang asisten pribadi, ia tau semua jadwal sang atasan. Dan ini, urusan apa yang di maksud? Kenapa ia tidak tau?
“Sudah, kamu jangan bengong. Ayo sarapan dulu. Setelah itu baru pergi ke kantor.” Mama Daisy berucap sembari melambaikan tangan memanggil pria muda itu.
Thomas menurut, karena ia juga belum sempat sarapan di belakang.
“Memang ada urusan penting apa, nyonya?” Tanya anak bibi Rosi itu saat mama Daisy menyodorkan piring berisi nasi goreng kepadanya.
“Urusan rumah tangga, anak mau kontrol ke dokter. Tapi papa tidak tau, mama mau bawa anaknya sendiri. Ya, papa tidak mengijinkan dong.” Ucap mama Daisy tergelak.
Thomas yang mengerti hanya mengangguk, dan tak lagi bertanya.
🍃🍃🍃
“Anak bibi Rea sudah cantik, ya.” Andrea berbicara pada bayi yang tengah di gendong oleh sus Rini.
“Apa perlengkapan nona kecil sudah siap, sus?” Tanya Andrea kemudian.
“Sudah, mbak.” Meski suster Rini umurnya jauh di atas Andrea, namun ia tetap memanggil dengan sebutan ‘mbak.’ Walau Andrea memintanya memanggil nama, namun pengasuh Audrey itu merasa tidak enak hati, karena Andrea merupakan calon istri majikannya.
Yang ia tau, Arthur adalah ayah bayi yang di asuhnya. Selama bekerja, suster Rini tidak pernah ikut campur urusan majikannya.
Andrea mengangguk. Ia kemudian mengambil alih bayi mungil itu.
“Kalau begitu, kita pergi sekarang saja ya, sus. Siapa tau dapat lebih awal.” Ucap Andrea kemudian.
“Iya, mbak.” Sus Rini kemudian mengambil tas yang sudah berisi kebutuhan Audrey, yang akan di bawa ke rumah sakit.
Mereka kemudian berjalan menuju pintu. Namun, langkah kedua wanita berbeda usia itu terhenti di ambang pintu. Arthur berdiri disana dengan bersedekap dada.
“Berikan itu padaku.” Ucap pria itu kepada sus Rini. Pria itu menunjuk tas yang sedang di jinjing wanita tiga puluh lima tahun itu.
“Kamu tidak perlu ikut. Rea akan pergi bersamaku.”
“Tapi, tuan—
“Kamu membantahku lagi?” Manik mata Arthur melebar sempurna.
“Bukan begitu. Maksudku, bukannya tuan harus pergi ke kantor? Aku bisa pergi bersama sus Rini.” Jelas Andrea. Selama dua minggu ini, ia menjadi penurut, dan tidak membantah ucapan pria itu.
“Aku papanya, jadi aku harus ikut memeriksakan putriku. Lagi pula, kantor bisa menunggu.” Ucap pria itu. Ia kemudian memutar tubuh meninggalkan Andrea dan sus Rini.
“Sus, maaf. Aku tidak tau jika dia bisa pergi.”
“Tidak apa-apa, mbak Rea. Biar saya tunggu di rumah.”
Andrea pun menyusul Arthur ke bawah.
“Lain kali, katakan padaku apapun yang berkaitan dengan Audrey.” Ucap Arthur saat mereka sudah berada di perjalanan menuju rumah sakit. Pria itu mengemudikan sendiri mobilnya, dengan Andrea duduk di kursi sebelah kiri.
“Maaf, tuan. Sebenarnya, aku sudah akan mengatakan pada tuan. Tetapi, nyonya melarang. Katanya, tuan pasti sibuk di kantor dan tidak punya waktu.” Andrea menjawab. Bukan ingin menyudutkan nyonya Dinata, namun gadis itu tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka. Apalagi dua pekan ini, mereka sudah tidak pernah berdebat lagi.
Penjelasan Andrea membuat Arthur membuang nafasnya kasar. Ia kini mengerti, ini hanya akal-akalan sang mama, agar dirinya dan Andrea semakin dekat.
Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi, tiba di parkiran rumah sakit.
Rumah sakit Hugo, salah satu rumah sakit swasta di ibukota. Tempat dimana mendiang Audrey melakukan pemeriksaan.
“Berikan Audrey padaku. Kamu bawa tasnya.”
Andrea mengangguk, membiarkan Arthur mengambil alih bayi itu. Mereka kemudian berjalan bersisian masuk kedalam rumah sakit.
Banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Bagaimana tidak, mungkin baru kali ini, melihat seorang pria berjas yang menggendong bayi. Sementara, wanita di sampingnya membawa tas dengan gambar bayi merangkak.
“Tuh pa, lihat. Pria itu saja mau menggendong bayinya. Papa bisanya cuma buat saja, tapi tidak mau gendong.”
Ucap seorang ibu yang sedang duduk ditemani sang suami pada kursi tunggu.
Andrea yang mendengar itu, merasa jengah. Kenapa wanita itu tanpa tau malu berucap seperti itu.
“Kamu sudah melakukan pendaftaran?” Tanya Arthur setelah mereka sampai di dekat meja pendaftaran.
“Sudah, tuan. Aku akan daftar ulang.”
Arthur mengangguk, kemudian mengambil tempat duduk tak jauh dari sana.
“Nama orang tua bayi?” Tanya suster yang tengah mengisi data, karena ini untuk pertama kalinya Audrey kecil periksa disana.
Andrea bingung. Ia tak tau harus menjawab apa. Gadis itu pun melihat ke arah Arthur.
Pria itu mengerti, kemudian mendekat ke arah meja pendaftaran.
“Arthur Dinata dan Andrea Cecilia.”
Deg..
Andrea tersentak. Mendengar Arthur menyebut nama mereka berdua sebagai orang tua Audrey kecil. Ia pun menatap penuh tanya pria yang kini berdiri di sampingnya.
‘Apa maksudnya?’ Ia hanya mampu bertanya dalam batin.
Suster itu mengangguk paham. Ia kemudian melanjutkan mengisi data.
“Silahkan tunggu sebentar, bapak, ibu. Nanti nama anaknya akan di panggil.” Ucap suster itu ramah.
Andrea dan Arthur pun mengambil tempat duduk.
“Biar aku yang menggendong nona, tuan.”
“Tidak perlu, Rea. Lihat dia sedang tidur. Jangan di ganggu.”
‘Ya Tuhan, apa pria ini tidak bisa bersikap manis sekali saja? Kenapa dia cepat sekali berubahnya? Apa tuan Arthur memiliki kepribadian ganda?’
.
.
.
Bersambung.
tambah nemen Thomas sama jenny gendong" an