NovelToon NovelToon
KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

KETUA BEM DITAKLUKKAN CEGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mommy ha

Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17) TELEPON PERUSAK

Matahari pagi menyinari lantai keramik kamar kontrakan dengan sinar emas yang hangat. Di sudut kamar, Rayyan sedang bersandar pada bantal kasur lipat, kedua tangan bengkok di bawah kepalanya sambil mata memandang foto kecil yang terpajang di atas meja kayu bekas – foto dirinya bersama Sea saat menghadiri festival budaya di Alun-Alun Selatan Yogyakarta beberapa minggu yang lalu. Wajah kekasihnya itu tersenyum lebar, mata penuh dengan kegembiraan saat memegang kembang api kecil yang sedang menyala terang.

Suara dering ponsel Rayyan mengejutkan dirinya yang melamun di kontrakan baru Sea kekasih Rayyan yang berada di Yogyakarta, padahal setelah Sea berpamitan pergi ke kampus ia sama sekali tak memikirkan apa-apa. Pikirannya masih terbenam pada sentuhan lembut bibir Sea saat mengucapkan selamat pagi, aroma kopi instan yang mereka seduh bersama, dan janji mereka untuk pergi menjelajahi kota lama setelah Sea selesai kuliah sore ini. Ia bahkan tidak menyadari kapan nada dering yang sudah terlalu akrab itu mulai mengganggu ketenangan pagi yang indah.

Dengan gerakan lambat, Rayyan meraih ponsel dari sisi kasur. Nama Amara Wijaya muncul dengan jelas di layar, disertai foto wajahnya yang cantik namun selalu membuat Rayyan merasa tertekan. Ia menghela napas dalam-dalam, mencoba menekan rasa kesal yang langsung muncul di dalam dada sebelum menjawab.

"Hallo, ada apa sih Amara?" kesalnya terasa jelas dalam ucapan itu, bahkan sebelum ada suara dari ujung talian.

Padahal Amara belum bicara apa-apa. Ada jeda singkat yang penuh ketegangan sebelum suara Amara terdengar – lembut tapi dengan nada yang sudah Rayyan kenal sebagai tanda dia akan mulai mengeluarkan argumen yang sama berkali-kali.

"Rayyan... kamu tidak menjawab pesanku kemarin malam," ucapnya dengan nada yang terdengar khawatir, tapi bagi Rayyan, nada itu hanya seperti awal dari sebuah drama yang sudah terlalu sering diulang.

"Kamu dimana?" tanyanya khawatir di balik telepon, suara mulai sedikit bergetar seolah dia benar-benar khawatir padahal sudah tahu jawabannya.

Rayyan mendudukkan badan ke depan, mata masih menatap foto Sea di meja. Ia bisa membayangkan dengan jelas bagaimana suasana di kampus Universitas Negeri Yogyakarta saat ini – mahasiswa yang sibuk berjalan ke kelas, suara ceramah dosen yang terdengar dari dalam ruangan, dan Sea yang pasti sedang mencatat dengan seksama di buku catatannya yang selalu rapi.

Rayyan malas meladeni Amara, drama apa lagi yang akan diperankan Amara ini agar perjodohan tetap lanjut, padahal sudah terang-terangan usaha keluarga Rayyan membaik tanpa bantuan keluarga Amara Wijaya itu. Sudah setahun lebih sejak perusahaan konstruksi ayahnya berhasil bangkit dari jurang kehancuran, berkat kerja keras Rayyan dan timnya yang membidik proyek-proyek kecil namun menguntungkan di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tidak seperti yang keluarga Amara kira, kesuksesan itu tidak datang dari bantuan finansial mereka – melainkan dari dedikasi dan ide-ide baru yang mereka terapkan.

"Saya di Yogyakarta, Amara," jawab Rayyan dengan nada yang sejuk. "Sudah bilang berkali-kali kan, saya tinggal di sini sekarang dengan Sea. Kamu tidak perlu khawatir tentang saya."

"Bagaimana bisa saya tidak khawatir?" Suara Amara naik nada, jelas menunjukkan dia sedang marah. "Kamu tahu kan kalau keluarga kita sudah sepakat untuk menyelenggarakan pernikahan kita bulan depan? Ayahmu bahkan sudah memesan gedung pernikahan terbaik di Jakarta! Dan kamu malah memilih tinggal dengan wanita itu di kontrakan kumuh di Yogyakarta?"

Rayyan merasa darahnya mendidih. Kata "kumuh" yang digunakan Amara untuk menyebut tempat tinggal Sea membuatnya sangat marah. Kontrakan itu mungkin tidak sebesar rumah mewah mereka di Jakarta, tapi itu adalah tempat yang penuh dengan cinta dan kehangatan – sesuatu yang tidak pernah dia rasakan di rumahnya sendiri.

"Jangan pernah menyebut kontrakan Sea sebagai kumuh lagi, Amara," kata Rayyan dengan suara yang rendah tapi penuh dengan ancaman. "Tempat itu jauh lebih baik daripada rumahmu yang besar tapi dingin itu. Selain itu, Sea bukan 'wanita itu' – dia adalah kekasih saya, dan saya mencintainya dengan seluruh hati saya."

Ada jeda panjang di ujung talian, hanya diselingi dengan suara tangisan Amara yang mulai terdengar. "Aku tidak percaya ini... kamu benar-benar bisa memilih wanita biasa dari kampus ketimbang aku, yang sudah mencintaimu sejak kita kecil! Keluarga kita sudah merencanakan segalanya – dari rumah baru sampai rencana bisnis kita bersama!"

Rayyan menutup matanya sejenak, mencoba mengendalikan emosinya. Ia mengenal Amara sejak masa kanak-kanak – mereka sering bermain bersama saat kedua keluarga bertemu untuk membahas bisnis. Tapi rasa sayang yang pernah dia rasakan untuknya sudah hilang lama sekali, digantikan oleh rasa tidak nyaman karena tekanan untuk menikah dengannya.

"Kita tidak pernah cocok, Amara," ucap Rayyan dengan lebih tenang. "Kamu ingin hidup mewah di Jakarta dengan semua kemewahan yang bisa kamu dapatkan, sementara saya lebih suka hidup sederhana di Yogyakarta dan membangun bisnis saya sendiri. Cinta tidak bisa dipaksakan hanya karena kesepakatan keluarga. Kamu harus mengerti itu."

"Kalau kamu tidak kembali ke Jakarta minggu depan untuk menghadiri rapat keluarga," ucap Amara dengan suara yang sudah tidak lagi menangis tapi penuh dengan ancaman, "ayahmu akan mengambil alih semua proyekmu di Yogyakarta dan membekukan semua rekeningmu. Dia bilang kalau kamu memilih wanita itu daripada keluarga dan masa depanmu, kamu tidak layak menjadi ahli waris keluarga kita!"

Tanpa menunggu jawaban, Amara memotong telepon. Rayyan menjatuhkan ponselnya ke atas kasur, kedua tangan menyisir rambutnya dengan frustasi. Ia tahu bahwa ayahnya bisa melakukan apa saja untuk membuatnya kembali – termasuk mengambil alih proyek-proyek yang sudah dia bangun dengan susah payah selama setahun terakhir. Dan yang lebih menyakitkan adalah, jika itu terjadi, dia tidak akan bisa membantu keluarga Sea yang baru saja memulai usaha warung makanan dekat kontrakan mereka.

.

Suara kunci yang masuk ke dalam lubang pintu membuat Rayyan terkejut dari pemikirannya. Ia melihat Sea masuk dengan tangan kanannya membawa bungkusan plastik berisi makanan dan minuman, wajahnya masih terpampang senyum hangat meskipun sudah terlihat lelah setelah kuliah.

"Sudah makan belum?" Tanya Sea dengan senyumnya yang khas, menyilang kamar untuk menghampiri Rayyan dan menaruh bungkusan di atas meja. "Aku membeli nasi gudeg dari warung sana semoga kamu suka. Dan juga es cendol untuk kamu."

Rayyan melihat wajah kekasihnya yang penuh perhatian dan merasa rasa hangat menyebar di dalam dadanya. Sejak mereka resmi menjadi pasangan tiga bulan yang lalu, Sea selalu memperhatikan setiap kebutuhannya – dari makanan kesukaannya sampai saat-saat dia merasa sedih dan perlu ditemani.

"Belum," jawab Rayyan dengan suara yang lembut. Ia menarik Sea ke pangkuannya, memeluk pinggangnya dengan erat dan menyematkan wajahnya pada lehernya. "Terima kasih sudah membawakan makanan untukku, sayang."

Tak di jawab hanya anggukan kepala saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!