Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bebas
Tiga hari kemudian ....
Pagi ini, Amira duduk di depan cermin besar. Riasannya sederhana, make up tipis yang hanya menegaskan garis wajahnya tanpa berlebihan. Rambutnya disanggul dalam cepol modern yang rapi. Beberapa helai halus dibiarkan jatuh lembut di sisi wajah.
Kebaya putih yang dikenakannya tampak sederhana, tanpa payet berkilau. Namun justru kesederhanaan itu membuatnya terlihat anggun.
Dia menatap bayangannya lama. Tak menyangka hari pernikahannya akan seperti ini. Dalam benaknya, hari pernikahannya adalah hari bahagia, di mana dia saling mencintai dengan pasangannya, dan disaksikan semua orang.
Namun, realita yang dia dapat sungguh berbeda. Memang benar, dia mencintai Dirga, tapi Amira tahu Dirga tak memiliki perasaan yang sama padanya.
Amira juga yakin, jika yang terjadi di antara mereka, bukan atas dasar ketertarikan. Namun, Dirga melakukannya, hanya karena khilaf akibat terbawa suasana.
Nyatanya, sejak hari itu, Dirga tak pernah berbicara apapun padanya, dan yang sibuk menyiapkan acara pernikahan mereka, justru Celine.
Memang benar dulu Celine yang meminta Amira untuk menikah dengan suaminya, tapi Amira pikir dia akan terluka jika dasar pernikahan itu, seperti yang terjadi antara dia dengan Dirga.
Amira pikir, Celine seharusnya menjadi pihak yang paling terluka setelah melihat kenyataan pahit antara dirinya dan Dirga. Namun, Celine justru tampak tegar, dan bersemangat.
Perasaan Amira berkecamuk, dadanya terasa sesak. Dalam benaknya, yang dia pikirkan juga bukan hanya sebatas Celine, dan Dirga, tapi juga ibunya.
Bayangan ibunya muncul dalam ingatan. Wajah pucat di ranjang rumah sakit. Tangan kurus yang menggenggam tangannya.
Air mata mulai menggenang. Amira mencoba meneguhkan hati, jika bukan karena bantuan Celine saat itu, ibunya mungkin sudah tak ada.
Amira tersenyum tipis pada bayangannya sendiri. Senyum yang lebih mirip kepasrahan, sekaligus menegarkan dirinya sendiri jika semua ini harus dia hadapi, sebagai bentuk menyelamatkan ibunya.
Amira menyentuh bibirnya pelan, mengingat malam yang mengubah segalanya. Bukan hanya tentang hasrat, tapi tentang keputusan yang kini tak bisa ditarik kembali.
Di saat itulah, pintu kamar terbuka perlahan. Amira yang masih duduk di depan cermin menegang sesaat.
"Amira, kamu udah siap?"
Celine masuk dengan gaun yang anggun, riasannya sempurna seperti biasa. Wajahnya tenang.
Dia berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Amira hingga bayangan mereka berdua bertemu dalam satu pantulan cermin.
Celine tersenyum manis.
“Gimana? Udah siap, kan?” tanyanya lembut.
“Kita keluar sekarang?”
Suara itu begitu tenang, seolah tak pernah ada luka. Amira perlahan mengangkat wajahnya, menatap Celine lewat cermin.
Dadanya kembali terasa sesak. Rasa bersalah itu seperti jarum-jarum kecil yang menusuk.
“Bu ....”
Suaranya hampir tak terdengar. Celine memiringkan kepala sedikit, tetap tersenyum.
“Iya?”
Amira menunduk lagi.
“Saya, minta maaf.”
Kalimat itu akhirnya keluar, meski terasa terlambat. Celine terdiam beberapa detik. Lalu, dia meletakkan tangannya di bahu Amira.
“Aku udah bilang, ini konsekuensi. Dan kamu tidak sendirian dalam kesalahan itu.”
Nada suaranya tidak menyalahkan. Lebih seperti seseorang yang sudah menerima kenyataan dan memilih berdamai dengan keadaan.
Amira memberanikan diri menatapnya langsung.
“Kenapa Ibu keliatan biasa aja?” tanya Amira.
Untuk pertama kalinya, senyum Celine berubah sedikit.
“Kamu pikir aku nggak sakit?” bisiknya lembut.
Tatapan matanya dalam.
“Aku cuma nggak mau terlihat hancur. Semua orang tahu, aku wanita kuat.”
Hening menggantung. Celine kemudian merapikan sedikit ujung kebaya Amira.
“Kamu cantik hari ini,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar tulus, dan justru itu yang membuat hati Amira semakin perih.
Di cermin, dua perempuan itu berdiri berdampingan. Satu adalah istri pertama. Satu lagi akan segera menjadi istri kedua.
“Sudah waktunya, yuk kita ke depan," kata Celine akhirnya.
Tangan Celine meraih tangan Amira, dan bersama-sama, mereka melangkah keluar menuju takdir yang mereka pilih, atau mungkin yang sudah direncanakan sejak awal.
Tangan Amira terasa dingin dalam genggaman Celine. Langkahnya ringan, tapi hatinya berat.
Di ruang tamu, beberapa orang sudah duduk bersila. Seorang pemuka agama, dan dua saksi menunggu dengan wajah serius. Suasana hening, jauh dari kesan pernikahan yang semestinya penuh bahagia.
Di ujung ruangan, Dirga duduk. Mengenakan kemeja putih dan jas sederhana.
Namun wajahnya, kaku. Rahangnya menegang. Tatapannya lurus ke depan, bukan pada Amira yang baru saja keluar. Bukan pula pada Celine.
Lebih seperti seseorang yang sedang menerima keputusan, bukan merayakannya. Amira bisa merasakan kengganan itu, bukan kebencian, tapi keterpaksaan.
Amira tahu, Dirga tidak punya banyak pilihan. Atau lebih tepatnya, dia tidak punya pilihan sama sekali, selain menjalani konsekuensi.
Celine melepaskan tangan Amira perlahan.
“Duduklah,” bisiknya lembut.
Amira berjalan pelan dan duduk di samping, dipisahkan oleh jarak sesuai tata cara. Akad nikah siri itu berlangsung sederhana, tanpa dekorasi mewah.
Tanpa keluarga besar. Tanpa senyum yang merekah. Hanya suara penghulu yang memecah keheningan.
Dirga menghela napas panjang. Saat tiba waktunya mengucap ijab kabul, suaranya terdengar tegas, tapi datar, seolah tidak ada semangat.
Satu tarikan napas. Lalu kalimat itu terucap, dan sahutan pun terdengar.
"Sah."
Saksi mengangguk. Pemuka agama menyatakan pernikahan itu sah secara agama, dan dalam satu tarikan waktu, status Amira berubah. Kini dia adalah istri, istri kedua.
Amira menunduk, air matanya jatuh membasahi pipi. Entah karena haru, takut, atau kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat dia miliki. Dirga tak langsung menoleh padanya, entah apa yang dia pikirkan, atau dia rasakan, Amira tak tahu, dan tak ingin menerka.
Di sudut ruangan, sedikit menjauh dari lingkar akad, Celine berdiri dengan anggun.
Tangannya terlipat rapi di depan perut, wajahnya tenang. Bahkan, tersenyum, tatapannya mengarah pada Dirga dan Amira yang baru saja dinyatakan sah.
Celine menyaksikan semuanya tanpa satu pun getaran di wajahnya. Tanpa air mata. Tanpa luka yang terlihat.
Jika ada yang memperhatikan, mereka mungkin akan mengira dia perempuan paling tegar di ruangan tersebut. Namun di balik senyum tipisnya, bukan kepedihan yang mendominasi. Melainkan kelegaan.
Tatapannya kembali pada Dirga. Pria yang dulu dia cintai sepenuh hati. Namun, perasaan di hatinya kini terasa hambar padanya. Entah mengapa, seiring berjalannya waktu, Celine merasa bosan pada pernikahan yang dia jalani, dan lebih tertarik pada pekerjaan, serta kebahagiaan dirinya sendiri.
Senyum Celine melebar sedikit. Bukan senyum kemenangan. Melainkan senyum seseorang yang akhirnya memindahkan beban di pundaknya kepada orang lain.
Pernikahan itu mungkin mengikat dua orang. Namun bagi Celine, itulah jalan pintu keluar baginya, dan tak seorang pun di ruangan itu benar-benar menyadari, bahwa perempuan yang terlihat paling tegar hari ini adalah satu-satunya yang benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan.
Celine menghela napas panjang. Lalu, hampir tanpa suara, dia bergumam lirih, “Sekarang aku bebas."
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..