Season 1:
Dena, gadis yang baru saja menginjak bangku sekolah menengah atas. Ia harus pasrah saat sang Papa mengirimnya ke perkampungan? ya, tepatnya kampung sang Kakek. Di sana ia akan bertemu dengan seorang pemuda yang terkenal di desanya. Terkenal bukan karena sifatnya yang kalem tapi nakal.
Diselingi kisah sang papa yang statusnya sebagai duda dipertemukan dengan seorang wanita yang juga sebagai karyawan di kantornya. Tidak disangka, putrinya lebih dahulu mengenal wanita itu. Dimulai dari perdebatan hingga berujung percintaan. Wira, sebagai papa Dena harus berjuang mendapatkan restu dari calon mertuanya. Statusnya sebagai duda yang menjadi permasalahan. Duda anak satu sedangkan sang wanita masih berstatus lajang.
Bagaimanakah Dena merajut kisah asmaranya dengan seorang pemuda dari kampung kakeknya?
𝗦𝗲𝗮𝘀𝗼𝗻 𝟮: (𝗠𝘆 𝗙𝗶𝗲𝗿𝗰𝗲 𝗕𝗼𝘀𝘀)
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Dena duduk berdampingan dengan Fairel sementara menunggu Dewi mengambilkan kotak P3K untuk mengobati luka Fairel maupun Dicky. Kedua pemuda itu sama-sama saling pandang, mereka tersenyum bersamaan dan bersamaan juga mereka meringis karena merasakan perih di bibir dan pipinya.
"Gak usah senyam-senyum sama Arel. Kalian saling naksir ya?" kelakar Risty membuat keduanya sontak melebarkan kedua bola matanya.
"Apaan dah! Cuman senyum emang gak boleh apa?" Dicky menyorot tajam ke arah Risty.
"Amit-amit. Kek gak ada cewek aja di dunia." balas Fairel bergidik.
Dewi datang sambil membawa kotak P3K lalu menyerahkan pada Dena. Gadis itu juga duduk di sofa single. "Emang ada apaan sih, kok bisa main tonjok-tonjokan. Rel?" tanya Dewi pada Fairel.
"Tau tuh si Tino. Dateng-dateng malah ngajakin duel." jawab Dicky tanpa diminta Dewi.
"Cuman gitu?"
"Merekanya aja yang suka nyari gara-gara. Sok jagoan. Sekalinya dilawan malah ngacir." sambung Fairel.
"Udah tau suka nyari gara-gara. Tapi, kenapa masih diladenin sihhh nihhh rasain!" Dena menekan kuat kapas yang sudah diberi alkohol di sudut bibir Fairel.
Sontak saja pemuda itu langsung meringis menahan perih yang teramat. "Awww awwhsss... sakit, Na. Pelan-pelan." gerutu pemuda itu tidak terima.
"Lo tuh udah bukan bocil lagi tau gak. Udah remaja beranjak dewasa. Harusnya lo bisa ngontrol emosi. Jangan terpengaruh sama omongannya." Dena yang cerewet. Sifatnya langsung berubah 180 derajat.
"Gak bisa tau gak sih. Gue tuh udah benci banget sama dia. Tiap di sekolah aja suka nyari gara-gara."
"Hahhhhh... ampun dah susah amad sih dinasehatin. Percuma gue ngomong panjang kali lebar." Dena hanya menghela nafas panjang. Sangat susah ngomong dengan orang yang keras kepala. Ibaratkan kata masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Seperti itu lah kira-kira.
"An, bantuin gue dong. Susah nih ngobatinnya gak nampak." ujar Dicky yang tampak kesulitan mengobati luka di wajahnya.
"Dih! Itu si Risty kan ada. Kenapa harus gue coba?" balas Anna sambil melirik Risty yang tampak santai duduk sambil melihat perdebatan di hadapannya.
"Gak mau. Dia kasar orangnya. Bukannya sembuh eh malah makin sakit nanti luka gue. Mending lo aja deh, An. Atau ga Dewi? Wi? Mau yah yah?"
Dewi yang namanya merasa terpanggil mendelikkan matanya. Apa-apaan namanya dibawa-bawa. Gadis itu tidak terima.
"Ngapa nama gue disebut-sebut?" selidik Dewi menatap keduanya horor.
"Tolongin obatin luka gue. Susah nih gak nampak." ujarnya sekali lagi.
"Ogah! Tuh ada Risty nganggur."
"Apaan nama gue disebut-sebut?" kini giliran Risty yang tidak terima namanya terpanggil.
"Tuh! Iky mau minta tolong diobatin lukanya. Gih!"
"Kok gue?"
"Ya itu. Dewi aja gak mau, apalagi gue." jawab Anna.
"Rafa tuh ada. Raf, jadwal lo kosong kan?" tanya Risty.
"Jadwal apaan? Kita kan libur sekolah, ngapain nanya-nanya jadwal pelajaran."
"Buset dah nih anak! Melenceng banget dari topik."
"Dengerin nih ya, Rafael. Si Iky mau minta tolong obatin lukanya. Lo mau gak nolongin dia?" tekan Anna.
"Sorry, gak mau gue." tolak Rafael mentah-mentah.
"Hahahaa... nasib dah lo, Ky. Gak ada yang mau. Mending lo bujuk dah tuh si Risty." celetuk Anna tertawa.
"Kalian pada ngeributin apaan sih?" seru Dena yang sudah selesai mengobati luka Fairel. Gadis itu merapikan kembali kotak P3K. Lalu menaruhnya di atas meja karena harus bergiliran gantian Dicky yang mengobati lukanya.
"Makasih, Na." ujar Fairel seraya tersenyum, membuat yang empu seketika dag dig dug ser jantungnya.
"Sama-sama, Rel. Jangan berantem lagi. Ini terakhir kalinya gue obatin luka di muka lo." balas Dena menyembunyikan rasa yang entahlah.
"Insya Allah."
"Tuh, Na. Mereka pada gak mau bantuin gue ngibatin luka gue." adu Dicky membuat Fairel jengah.
"Gue lagi baik nih. Jadi, sini biar gue ba--"
"Risty kan ada, Ky. Dena pasti capek abis ngobatin luka gue. Mana ini lebam-lebam lagi musti dikompres pake es batu." potong Fairel dengan cepat lalu merekomendasikan Risty untuk membantu Dicky.
"Ayo, Ri. Bantuin si Iky ngobatin lukanya. Emangnya lo gak kasian ya liat mukanya yang udah bonyok gitu? Mana lebih parah dari Arel lagi." bujuk Anna membantu.
"Ih! Kok gue sih. Mending kalian aja deh." tolak Risty.
"Apa apa? Gue mau ke belakang bentar ambil es batu buat ngompres mereka." kata Dewi yang ditatap oleh Risty.
" Iya. Gue juga mau ke belakang sekalian ambilin kompres buat Arel. Lo mau ikut gak, Rel?"
"Ikut, ikut. Biar Dewi gak capek nanti bolak-balik ke sini."
"Gue juga pamit ke belakang sekalian. Haus, mau nyegerin tenggorokan abis teriak. Lo mau bantuin gue buat minum gak, An?" tawar Rafael yang langsung disetujui oleh Anna.
Sontak mereka langsung meninggalkan ruang tamu, bertolak ke dapur dengan urusannya masing-masing. Membuat Risty tidak tega dan akhirnya terpaksa membantu Dicky mengobati lukanya.
kykny keluar dr judul ya,Thor...
🥰😊😊
Semangat tetap& Ttp semangat,Kak Thor!!!!💪💪🤺
udh dong mewek ya.
skrg bhgian ya plk dong thor
kok melo ya eps yg in
lain judl pun gak ap2 thor.
yg pnt arel sma dena
Disini aj laaa Ampe habis cerita Dena&Fairel..