Rheyna Aurora adalah istri dari seorang pria yang cuek dan minim perhatian yang bernama Bagas Awangga.
Bagas bekerja sebagai Manager pada perusahaan milik sepupunya, Arlo Yudhistira adalah CEO perusahaan tersebut.
Arlo menaruh hati pada Rheyna sudah sejak lama….
Tak semudah itu hubungan Arlo dan Rheyna berjalan,karena Arlo adalah sepupu dari Bagas dan Arlo telah memiliki istri dan 2 orang putri…..
Akankah Rheyna ertahan dengan Bagas? Ataukah berpaling pada Arlo? Atau ada yang lain?
Selamat membaca dan selamat menikmati karya pertama saya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhecella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vano Ku I
Pagi ini aku melakukan aktifitasku seperti biasa, setelah Bagas berangkat ke kantor, aku yang telah menyiapkan susu untuk Vano, aku mengambilnya dari meja makan dan masuk ke kamar. Ketika aku membelai kepala Vano, aku terkejut karena Vano demam tinggi. Vano terbangun karena usapan tanganku, dan meminta gendong padaku. Aku menggendong Vano, dia bukan anak yang bertubuh gemuk, tetapi bukan juga bertubuh kurus, pertumbuhannya sangat baik. Aku menggendongnya dengan erat dan kemudian berjalan keluar dari kamar dan duduk di sofa di depan TV, kemudian aku menyodorkan susu yang sudah aku letakkan di dalam dot
"Dihabiskan ya sayang"
Hanya di jawab dengan anggukan kepala Vano
"Mana yang sakit nak?" tanyaku kemudian
Vano menunjuk kepalanya
"Owh Vano pusing ya?" tanyaku lagi tetapi tidak di jawab oleh Vano, dan dia tertidur kembali setelah susu dalam dotnya habis.
Mbak Sari ada di taman belakang rumah sedang membawa bak kecil untuk mengepel,
"Mbak Sari bisa minta tolong ambilkan penurun panas Vano yang ada di kotak obat ya?"
"Den Vano sakit non?" tanya mbak Sari
"Iya ini mbak tiba-tiba aja demam"
"Baik non sebentar saya ambilkan" kata mbak Sari menuju sebelah meja makan, tempat kotak obat di letakkan
"Ini non obatnya" kata mbak Sari sambil menyodorkan obat itu padaku
"Mbak bisa tolong tuangkan obatnya 2,5ml ya mbak" karena aku sedang memangku Vano dan tangan sebelah kananku di gunakan untuk menyangga kepala Vano
"Vano Sayanggggg..... bangun sebentar yuk nak minum vitaminnya bir kepalanya gak sakit lagi" kataku lembut pada Vano yang takut dengan kata obat
Vano mulai mengerjapkan matanya dan membuka mulutnya,kemudian mbak Sari yang berlutut di depanku menyuapkan obat itu pada Vano.
Aku kembali masuk ke kamar dan membaringkan Vano kembali, aku berpikir mungkin ini karena dehidrasi lagi,tapi aku ingat benar kalau Vano selalu makan dan minum dengan jumlah yang cukup, atau mungkin ini hanya karena Vano kelelahan setelah acara ulang tahunnya saja. 10 menit berlalu setelah meminum obatnya demam Vano mulai turun. Aku meninggalkan Vano di dalam kamar dan aku melakukan kegiatan memompa ASI ku di sofa depan TV. 30 menit waktuku untuk memompa ASI pada kedua p*y*d*r*ku secara bergantian. Meletakkan hasil pompa itu pada freezer, dan aku kembali ke kamar.
Vano tidur dengan gelisah, tak seperti biasanya tidurnya kali ini nampak tak nyaman. Aku kembali menghampirinya dan meletakkan telapak tanganku di dahinya dan ternyata panas lagi. Aku sangat khawatir dengan ke adaan Vano, sebab belum ada satu bulan Vano keluar dari rumah sakit, masa iya dia harus balik masuk kembali. Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Bagas.
"Pah Vano demam tinggi" setelah sambungan telepon terhubung aku langsung menyambar tanpa kata 'Halo"
"Kasi penurun panas aja dulu" kata Bagas enteng
"Sudah pah, tapi turunnya cuma sebentar dan sekarang naik lagi" jawabku memburu karena khawatir
"Ya udah bawa ke klinik aja nanti sore" kata Bagas masih dengan cueknya
"Iya deh aku bawa ke klinik nanti sore, kamu gak mau ikut nganterin pah?" tanyaku pada Bagas
"Aku usahakan pulang sore nanti kalau pekerjaanku sudah selesai"
"Iya pah, ya sudah kalau gitu" aku menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Bagas.
Untuk sementara waktu aku hanya bisa mengompres dahi Vano dengan kain handuk yang telah aku letakkan di air.
***
Sore harinya karena menunggu Bagas yang tak juga pulang, akhirnya aku membawa Vano ke klinik dekat rumah seorang diri. Ku tidurkan Vano di kursi tengah, aku melajukan mobilku dengan hati-hati bercampur gelisah. Sesampainya di klinik aku langsung mendaftar dan mendapatkan nomor urut antrian 07. Setelah menunggu sekitar 45menit akhirnya giliran Vano untuk masuk keruang dokter.
"Selamat sore dokter" sapa ku sembari menganggukan kepala
"Sore, yang sakit siapa ini?" tanya dokter itu
"Anak saya ini dokter, dari taadi pagi demam, sudah saya berikan penurun panas tapi turun cuma sebentar gak sampai satu jam sudah demam lagi dan lemas juga dia dokter" jawabku menjelaskan
"Hemmm gitu, okey okey saya chek suhunya dulu ya bu" kata dokter yang menempelkan alat pengukur suhu pada dahi Vano
"Suhunya tinggi ini bu, bisa tolong di baringkan di tempat tidur situ bu putranya, chek dulu" kata dokter Donny memberikan arahan untuk meletakkan Vano di tempat tidur periksa (Aku tahu nama dokternya dari name tag yang ada di jas putih yang ia kenakan)
Aku meletakkan Vano pada tempat tidur itu, kemudian dokter Donny mulai memeriksa Vano, menggunakan stetoskop, kemudian menggunakan senter kecil untuk melihat apakah ada peradangan di tenggorokannya.
"Ini bukan radang sih bu karena tenggorokannya normal, saya beri resep dulu ya bu nanti kalau dalam tiga hari belum ada perubahan, ibu harus membawa putranya untuk melakukan tes di Laboratorium ya bu" kata dokter Donny sambil berjalan menuju meja kerjanya. Aku kembali menggendong Vano yang lemas karena demamnya, kemudian duduk di depan dokter Donny.
"Apa bukan dehidrasi ya dok? Sebab sekitar tiga minggu yang lalu anak saya sempat dirawat di Rumah Sakit karena dehidrasi dok" kataku bertanya
"Apa makan dan minum putranya porsinya berkurang bu?" tanya dokter Donny kemudian
"Tidak dokter, masih normal sih, cuma hari ini dia gak mau makan cuma mau minum saja dan saat saya tanya mana yang sakit dia nunjuk kepalanya dok" kataku menjelaskan
"Baik bu, saya berikan resep untuk menurunkan demamnya, ini penurun panasnya yang ibuprofen ya bu, bisa di minumkan empat jam sekali bu,tetapi jika tidak demam maka tidak usah diberikan lagi penurun demamnya"
"Baik dokter"
Dokter menuliskan beberapa jenis obat untuk Vano, dan aku menebus obatnya pada apotik yang ada didalam klinik tersebut. Setelah menerima obat, aku dan Vano kembali pulang kerumah. Saat di perjalanan pulang kami melewati tempat makan seperti tempat acara ulang tahun Vano dirayakan,
"Vano mau makan bubur disitu nak?" tanyaku pada Vano
Di jawab dengan anggukan dan mata yang berbinar walaupun badannya masih lemas. Aku membelokkan mobilku pada restoran yang disukai anak-anak ini, memarkirkan mobilku kemudian menggendong Vano turun. Aku memesan bubur untuk Vano, dan juga paket hot untukku yang lapar karena sedari pagi belum sempat sarapan dan makan siang. Aku menyuapi Vano yang sedang melihat anak-anak lain bermain di Play Groundnya, sedangkan dia hanya duduk di baby Chair saja,
"Besok kalau sudah sembuh kita main-main lagi ya, sekarang Vano makan yang banyak dulu biar cepat sembuh" kataku pada Vano yang nampak ingin bermain
Vano tak habis banyak, hanya enam suap saja dia sudah tidak mau menghabiskan makanannya. Kemudian aku cepat-cepat menghabiskan makanku agar aku bisa segera membawa Vano pulang dan segera memberikannya obat.
Bersambung
...Hai teman-teman readers yang baik hati dan tidak sombong 🤭,...
...Bagi like nya dong 😂...
...Terima kasih 😘...