NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Parfum di Kemeja Sutra

Mobil Mercedes-Benz S-Class hitam itu meluncur tanpa suara membelah kemacetan Jalan Sudirman. Di dalamnya, keheningan terasa lebih mencekik daripada asap knalpot di luar. Aku duduk di kursi belakang, tepat di samping Papa—Hendra Wardhana—yang sibuk dengan iPad-nya. Jarak fisik kami hanya beberapa sentimeter, tapi rasanya ada jurang menganga yang memisahkan kami.

Tanganku meremas saku blazer. Logam dingin anting imitasi milik Siska menusuk telapak tanganku. Rasa sakit kecil itu membantuku tetap sadar. Itu adalah jangkar yang menahanku agar tidak meledak dan meneriakkan tuduhan di wajah laki-laki paruh baya yang masih terlihat gagah di sampingku ini.

"Kamu mau magang di divisi mana?" Papa bertanya tanpa menoleh. Suaranya datar, tipe suara yang biasa ia gunakan untuk memecat karyawan atau memesan kopi.

Aku menelan ludah, menekan rasa mual yang naik ke kerongkongan. "Perencanaan, Pa. Sesuai jurusan kuliahku."

"Hmm. Nanti lapor ke Pak Burhan. Jangan mentang-mentang anak pemilik, kamu bisa datang siang. Disiplin itu nomor satu," ujarnya. Ironis. Dia bicara soal disiplin, sementara semalam dia menyelundupkan sahabat anaknya sendiri ke dalam mobil ini.

"Siska juga datang hari ini, kan?" pancingku pelan.

Jari Papa berhenti mengetuk layar iPad. Hanya sepersekian detik, tapi aku melihatnya. Dia tidak menoleh, tapi rahangnya mengeras. "Siska? Teman kamu yang miskin itu?"

Kata-kata itu keluar begitu tajam. Dulu, aku akan membelanya, mengatakan bahwa Siska adalah gadis pekerja keras yang hanya kurang beruntung. Sekarang, aku sadar itu hanya akting Papa. Cara dia merendahkan Siska adalah taktik kamuflase. Jika dia terlihat membenci Siska, siapa yang akan curiga mereka tidur bersama?

"Dia butuh kerjaan, Pa. Papa janji semalam," jawabku, berusaha terdengar seperti Alana yang naif dan manja.

"Suruh dia ke HRD. Kalau kompeten, ya diterima. Kalau tidak, saya tidak buka panti sosial."

Mobil berbelok masuk ke lobi Menara Wardhana. Satpam berseragam safari bergegas membukakan pintu, menunduk hormat sedalam mungkin. Papa melangkah keluar, jas Italianya yang mahal menangkap cahaya matahari pagi. Dia berjalan tegap, citra sempurna dari seorang penguasa properti Jakarta. Aku mengekor di belakangnya, merasa seperti penipu di kerajaanku sendiri.

Kami naik lift khusus eksekutif. Lantai 40. Kantor pusat Wardhana Group didesain minimalis dengan dominasi kaca dan marmer hitam. Dingin. Kaku. Tidak ada foto keluarga di meja resepsionis, hanya logo perusahaan yang terukir dari baja.

"Rini," panggil Papa pada sekretaris seniornya yang sudah bekerja sepuluh tahun untuknya. Wanita itu, Rini, segera berdiri, merapikan rok pensilnya.

"Ya, Pak Hendra?"

"Alana mulai magang hari ini. Antar dia ke ruangan Pak Burhan di lantai 38. Pastikan dia tidak mengganggu jadwal saya."

Aku tertegun. "Pa? Aku pikir aku bisa belajar di sini dulu. Lihat cara kerja Papa."

"Saya sibuk, Alana. Banyak meeting. Jangan manja." Dia masuk ke ruangannya dan membanting pintu. Bunyi 'klik' kunci otomatis terdengar jelas.

Mbak Rini tersenyum canggung padaku. "Mari, Non Alana. Saya antar ke bawah."

"Tunggu sebentar, Mbak. Aku mau minum dulu," elakku, berjalan menuju area pantri kecil di sudut ruangan yang terhubung dengan ruang tunggu tamu. Dari posisi ini, aku bisa melihat pintu masuk lift tanpa terlihat jelas.

Lima belas menit berlalu. Lift berdenting. Pintu terbuka.

Siska melangkah keluar.

Napasku tercekat. Bukan karena kehadirannya, tapi karena apa yang ia kenakan. Dia memakai blus sutra berwarna krem. Itu bajuku. Blus Zara yang 'hilang' dari lemariku dua minggu lalu. Siska bilang dia tidak melihatnya saat main ke rumah. Sekarang, kain itu membalut tubuhnya, dipadukan dengan rok hitam ketat yang jauh lebih pendek dari standar kantor profesional.

Dia tidak menuju meja resepsionis. Dia tidak bertanya di mana ruang HRD. Dengan langkah percaya diri, seolah dia pemilik gedung, Siska berjalan lurus menuju meja Mbak Rini.

"Pagi, Mbak. Saya Siska. Pak Hendra sudah menunggu," katanya. Suaranya lembut, tapi ada nada perintah yang halus di sana.

Mbak Rini mengernyit, menatap Siska dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jelas sekali Mbak Rini tidak menyukai apa yang dia lihat. "Oh, teman anaknya Pak Bos ya? Sudah ada janji? Bapak sedang tidak bisa diganggu."

"Sudah. Langsung masuk saja katanya," jawab Siska santai. Dia bahkan tidak menunggu konfirmasi.

Siska melenggang melewati meja sekretaris dan mengetuk pintu ruangan Papa dua kali, lalu langsung membukanya tanpa menunggu sahutan. Pintu itu, yang tadi tertutup rapat untuk putri kandungnya sendiri, kini terbuka lebar untuk Siska.

Aku melihat sekilas ke dalam sebelum pintu tertutup. Papa sedang berdiri di dekat jendela, memegang telepon. Begitu melihat Siska, dia langsung menutup teleponnya. Wajah dinginnya mencair menjadi senyum yang tidak pernah ia berikan padaku ataupun Mama.

Lalu pintu tertutup kembali.

Darahku mendidih. Aku keluar dari persembunyianku di pantri, membuat Mbak Rini terlonjak kaget.

"Non Alana? Saya pikir sudah turun..."

"Siapa perempuan itu, Mbak?" tanyaku, pura-pura bodoh. "Kok bisa langsung masuk?"

Mbak Rini tampak ragu, menoleh ke arah pintu ruangan bosnya yang tertutup rapat. Dia mendekat, suaranya berbisik. "Itu... katanya pelamar untuk posisi asisten pribadi tambahan. Tapi aneh, Non. HRD belum kirim CV-nya, tapi Bapak minta dia langsung interview user. Padahal Bapak paling anti interview staf junior."

"Asisten pribadi?" Aku tertawa hambar. "Papa kan sudah punya Mbak Rini."

"Yah... namanya juga bos, Non. Mungkin butuh yang lebih... fresh," kata Mbak Rini dengan nada sinis yang tak bisa disembunyikan. Rupanya, insting wanita lain pun bisa mencium ketidakberesan ini.

"Mbak Rini punya akses ke CCTV ruangan Papa?" tanyaku impulsif.

Mata Mbak Rini membelalak. "Non! Jangan macam-macam. CCTV ruangan Pak Hendra itu offline. Cuma dia yang bisa akses rekamannya. Itu protokol keamanan tingkat tinggi."

Tentu saja. Orang yang punya banyak rahasia pasti tidak ingin diawasi.

Aku duduk di sofa ruang tunggu, menolak pergi. "Aku tunggu di sini saja sampai dia keluar. Itu temanku, Mbak. Mau kasih semangat."

Mbak Rini kembali bekerja, meski sesekali melirikku dengan tatapan kasihan. Dia pasti tahu. Atau setidaknya menduga. Gosip di kantor ini bergerak lebih cepat dari lift.

Setengah jam kemudian, pintu ruangan terbuka. Siska keluar dengan wajah berseri-seri. Lipstiknya sedikit berantakan di sudut bibir—sangat tipis, orang awam mungkin tidak sadar, tapi aku memperhatikannya. Dia merapikan kerah blus sutranya—blusku—dengan gerakan gugup.

"Alana!" serunya kaget saat melihatku. Aktingnya luar biasa. Dia berlari kecil dan memelukku. "Ya ampun, kamu di sini? Bokap lo galak banget sumpah!"

Aku membiarkan dia memelukku. Hidungku menangkap aroma itu. Di balik parfum murah Siska yang beraroma vanila manis, tercium aroma lain yang maskulin. Sandalwood dan tembakau. Parfum Papa. Hermès Terre d'Hermès.

Aroma itu tidak akan menempel sekuat ini jika mereka hanya duduk berseberangan di meja kerja.

Aku melepaskan pelukannya perlahan. "Gimana hasilnya? Diterima?"

"Diterima!" pekiknya senang, memamerkan kartu akses sementara yang tergantung di lehernya. "Gila, gue jadi Junior Associate di tim Marketing. Katanya gue punya potensi. Gaji awalnya dua kali lipat dari ekspektasi gue, Lan!"

Junior Associate Marketing. Padahal Siska lulusan Sastra Inggris dengan IPK pas-pasan. Papa benar-benar tidak main-main dalam memanjakan mainannya.

"Selamat ya, Sis," kataku datar. Tanganku merogoh saku, menggenggam anting itu lagi. "Ngomong-ngomong, lo nemu anting lo nggak? Yang lo cari semalam?"

Wajah Siska berubah sedikit, matanya berkedip cepat. Tanda dia sedang memproses kebohongan. "Oh, itu! Udah ketemu kok. Jatuh di bawah kasur kosan. Kenapa?"

"Bagus deh," kataku sambil tersenyum miring. "Gue cuma khawatir. Soalnya anting itu kan khas banget."

Aku mengeluarkan tangan dari saku, tapi tidak menunjukkan anting itu. Belum waktunya. Kartu As tidak dibuang di putaran pertama.

"Eh, Lan, makan siang yuk? Gue traktir deh, kan udah dapet kerjaan," ajak Siska, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba kaku.

Sebelum aku menjawab, pintu ruangan Papa terbuka lagi. Hendra berdiri di sana, sudah mengenakan jasnya kembali dengan rapi. Dia melihat kami berdua.

"Rini, batalkan meeting dengan Pak Gunawan. Saya mau makan siang di luar. Site visit mendadak," perintah Papa.

Lalu matanya beralih ke Siska, seolah-olah baru menyadari keberadaannya lagi. "Kamu, anak baru. Ikut saya. Saya butuh notulen untuk tinjau lokasi."

Siska menoleh padaku dengan wajah pura-pura bingung. "Aduh, Lan. Maaf banget. Bos manggil. Namanya juga anak baru, nggak bisa nolak."

"Nggak apa-apa," jawabku. "Kerja yang bener."

Aku melihat mereka berjalan menuju lift. Papa masuk lebih dulu, Siska menyusul di belakang. Saat pintu lift hampir tertutup, aku melihat tangan Papa turun sedikit, menyentuh punggung bawah Siska. Gerakan yang sangat cepat dan intim, sebelum pintu logam itu memisahkan mereka dari pandanganku.

Aku berdiri terpaku di lobi lantai 40 yang dingin. Di tanganku, ponselku bergetar. Notifikasi dari aplikasi perbankan Mama yang kebetulan terhubung ke emailku karena aku yang membantunya mendaftar bulan lalu.

Transfer Berhasil: Rp 25.000.000 ke rekening Siska Amelia. Keterangan: Uang Muka Sewa Apartemen.

Apartemen. Papa bukan hanya memberi pekerjaan. Dia sedang membangun sarang untuk mereka.

Aku menatap Mbak Rini yang sedang pura-pura sibuk mengetik. Aku berjalan mendekati mejanya.

"Mbak Rini," panggilku pelan.

"Ya, Non?"

"Tolong cetak jadwal Papa sebulan terakhir. Lengkap dengan lokasi meeting di luar kantor. Aku mau... belajar manajemen waktu beliau."

Mbak Rini menatapku lama. Dia tahu ini bukan soal belajar. Dia menghela napas panjang, lalu jarinya menari di atas keyboard. "Saya kirim ke email Non Alana saja. Jangan bilang Bapak saya yang kasih."

"Terima kasih, Mbak."

Perang ini baru saja dimulai, dan aku tidak akan menjadi penonton lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!